
Akhir pekan tiba. Aku, Sofia, Rosse dan Nic berencana untuk pergi ke tempat pelatihan yang tepat berada disebelah rumahku. Terdapat tiga cabang olahraga disini, memanah, berkuda dan menembak. Hampir setiap akhir pekan aku dan Sofia biasa berlatih disini, tapi kali ini kami mengajak Rosse dan Nic untuk menikmati berbagai kegiatan disini. Sebenarnya kami juga mengajak Evan dan Kevin namun mereka hari ini tidak bisa datang sebab ada acara bersama keluarga besar mereka.
Seperti biasa aku memilih cabang memanah. Rosse dan Sofia ingin berkuda. Sedangkan Nic, ia ingin mencoba berlatih menembak. Kami pergi ke tempat masing-masing. Sofia dan Rosse segera pergi ke kandang kuda untuk memilih kuda yang akan mereka tungangi. Karna hari ini pertama kalinya Rosse berkuda, ia akan mendapat bimbingan dari pelatih. Kalau Sofia... Jangan tanya. Ia sudah sangat ahli dalam hal ini. Tempat memanah dan menembak bersebelahan, jadi aku dan Nic pergi bersama-sama. Salah satu petugas disana memberiku sebuah busur dan beberapa anak panah setelah mendapat izin tentunya.
"Aku tidak menyangkah kau akan memilih panahan dari pada menembak," ujar Nic setelah ia menerima senjatanya.
"Tidak apa, kan? Lagi pula ini hanya untuk bersenang-senang," kataku saat aku mengantar Nic ke ruang latihan menembak. Untuk para pemula biasanya latihan menembak di lakukan dalam ruangan.
"Gerry?" panggil Nic pada seseorang yang baru saja selesai menembak.
"Nicole?! Kau... Kau juga ada disini?" balas pria itu dengan sedikit gugup.
"Tenyata kutu buku seperti dirimu juga bisa menembak?" kata Nic yang seketika merangkul leher Gerry.
"Gerry setiap minggu datang kesini. Wajar saja karna kakaknya salah satu pelatih disini," kataku sambil siap membidik target tembak. Setelah perhitungan yang matang aku melepaskan anak panahku. Anak panah melesat cepat dan akhirnya mendarat tepat ditengah-tengah target.
"Hei nona! Ini bukan tempat memanah. Kembali ke tempatmu," Nic menunjuk ke pintu keluar.
"Baiklah," aku melangkah pergi tapi sebelum itu aku berkata pada Gerry. "Gerry, bisa kau ajari anak baru itu? Sampai jumpa."
"Iya, sepertinya aku akan sangat merepotkanmu," kata Nic dengan senyum mengerikan. Gerry hanya gemetar ketakutan.
Area memanahku kali ini ada diluar ruangan. Cuaca hari ini cukup berangin. Sangat sulit mengenai target yang jaraknya 25 meter. Beberapa kali anak panahku melesat jauh dari target yang terbuat dari papan kayu itu. Hari ini yang terlalu berangin atau pendanganku yang kabur ya? Kepalaku sedikit pusing setelah berdiri terlalu lama dibawah matahari. Aku memutuskan untuk istirahat sebentar di kursi panjang yang tersedia di tempat teduh.
"Kak Rin!"
Aku seketika menoleh saat ada seseorang memanggilku. "Veena. Kau belajar memanah juga?"
Veena mengangguk dengan senyum diwajahnya. "Baru dua minggu ini.
"Oh iya Veena, aku dengar kau sudah mendapatkan tanda klammu ya?" bisikku padanya.
"Iya."
"Apa boleh aku melihatnya," aku menyatukan kedua tanganku memohon padanya.
"Tentu saja boleh."
Veena mengumpulkan seluruh uraian rambut keritingnya kesisi depan kiri. Tepat dibelakang leher sebelah kanan ada tato kecil berbentuk α. Eh... Apa ini tanda klan Α (Alpha)? Terlihat begitu simpel. Apa aku nanti akan mendapatkan tanda yang sama setelah perubahan keenam ku selesai? Em... Bagaimana bentuk tanda klan lain ya? Aku jadi penasaran.
"Oh... Jadi seperti itu tanda klan Α (Alpha)."
Veena membetulkan kembali uraian rambutnya sampai menutupi tanda klan tersebut. Letak tanda klan sedikit tersembunyi. Pantas saja aku tidak perna melihat tanda itu pada ayah dan bibi. Eh, Tunggu. Ayah tidak memiliki tanda itu dibelakang lehernya. Apa letak tanda klan ayah berbeda?
"Sekarang kau telah resmi menjadi manusia serigala dari klan Α (Alpha). Apa kau tidak mengikuti pelatihan lagi setelah dilantik?"
"Masih ada satu kegiatan lagi yang harus kami ikuti."
"Oh, apa itu?" tanyaku penasaran.
"Pelatihan bertahan hidup."
"Pelatihan bertahan hidup?" aku mengulang kalimatnya dengan nada bertanya.
Aku sangat terkejut mendengarnya. "Apa itu tidak berlebihan meninggalkan anak-anak di dalam hutan selama sepuluh hari? Terutama kau masih berumur 13 tahun. Apa kalian pergi dengan tangan kosong?"
"Semuanya tidak seperti yang kak Rin pikirkan. Kami tentu saja didampingi pelatih masing-masing. Di pelatihan bertahan hidup ini kami akan berkerja dalam kelompok tim."
"Haha... Aku kira sendiri-sendirian."
"Kalau ingin jadi prajurit klan, baru sendiri-sendirian. Mereka tidak akan diberi bekal apapun selama pelatihan bertahan hidup. Sedangkan kami ini jauh lebih mirip seperti permainan. Kami akan diberi bekal selama seminggu dan untuk tiga hari berikutnya harus berjuang sendiri. Dalam pelatihan ini kami juga diberi tugas merebut tanda nama perserta lain. Bagi yang tanda namanya berhasil dicuri lawan maka perserta tersebut akan gagal dalam pelatihan dan segera dikeluarkan," jelas Veena.
"Kalau misalnya kalian berhasil bertahan tapi tidak mendapat tanda nama lawan, apa masih diangap lulus?"
"Tidak. Jika ingin lulus dalam pelatihan ini setiap orang harus memiliki paling tidak satu tanda nama lawan."
"Menegangkan juga. Selain harus bertahan dalam hutan, kalian juga mau tidak mau harus bertarung untuk merebutkan tanda nama tersebut."
"Yang lebih parah lagi, saat kami bertarung merebukan tanda nama itu, para pelatih yang mendampingi kami tidak diperbolehkan ikut campur. Tugas mereka hanya mengawasi keselamatan kami."
"Kejam sekali," tapi kalau tidak seperti itu sama saja dengan bohong. Para perserta tidak akan ada yang mengunakan kekuatan penuh mereka untuk berusaha merebut tanda nama itu, dan juga perserta yang mendapat pendamping hebat sangat diuntungkan dalam hal ini. Setelah mendengar penjelasan Veena tentang pelatihan bertahan hidup aku merasa ingin ikut dalam pelatihan tersebut. Sepertinya menyenangkan. Namun sayangnya aku tidak bisa bergabung.
"Bagaimana dengan perserta yang gagal, apa mereka harus ikut lagi di pelatihan bertahan hidup berikutnya?"
"Itu diharuskan sampai mereka lulus dari pelatihan tersebut," Veena tiba-tiba tertunduk lesuh. "Sebenarnya... Aku sedikit gugup mengikuti pelatihan ini. Bagaimana jika aku gagal?"
"Kenapa harus gugup? Bukan kah kau bilang sendiri kalau gagal akan mengikuti pelatihan lagi. Kau tidak akan dihukum saat gagal, bukan?"
"Tidak. Tapi aku merasa tidak enak saja melihat teman-teman yang lain berhasil tapi aku malah gagal."
"Gagal dalam suatu hal bukanlah akhir. Dari penjelasanmu tadi sepertinya yang pasti gagal setengah dari perseta pelatihan. Jika kau gagal kau tidak sendirian, kan?"
"Apa yang kak Rin katakan benar. Kenapa aku harus gugup. Kalau aku gagal aku juga tidak sendirian," kata Veena kembali bersemangat.
"Iya, tapi kau juga harus berjuang untuk lulus. Jangan mentang-mentang ada teman kalau tidak lulus kau jadi malas berusaha."
"Itu tidak akan terjadi. Aku pasti bisa lulus di pelatihan bertahan hidup nanti."
"Itu baru benar."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε