My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Selamat tinggal



"Dua kantung darah? Untuk apa itu? Dan lagi, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?" tanya Derek.


"Sebelum dimumikan, bayi ini terlebih dahulu dihilangkan semua darahnya. Jadi aku meminta asitenku membawakan darah dengan golongan darah sama dengan golongan darah Rin," jelas Mr. Guttman.


Mr. Guttman mulai mentransferkan darah tersebut ke tubuh bayi melalui selang dan jarum yang ditusukan ke pembuluh darah. Darah mengalir perlahan masuk ke tubuh bayi itu. Mr. Guttman memperhatikan setiap perubahan yang terjadi bayi tersebut. Apa darah tersebut cocok atau tidak? Setelah yakin ternyata darah tersebut cocok, Mr. Guttman lanjut melakukan pemeriksaan selanjutnya. Jika tubuh bayi ini memenuhi semua persyaratan untuk menjadi tubuh pengganti Rin, kemungkinan besar ia akan langsung melaksanakan pemindahan jiwa Rin ke tubuh bayi tersebut. Ia tidak mau menuda waktu lagi setelah melihat kondisi Rin yang mulai menurun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kenapa aku merasa gelisah dan risau?" kata Lisa disaat tak lama mereka berpisah dengan Cloey dan Zedna di lorong.


"Gelisah? Apa yang kau gelisakan? Apa ini soal Rin?" tanya Rosse.


"Mungkin. Aku merasa akan kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku."


"Jangan bicara seperti itu. Aku sudah mengenali Rin sejak ia masih kecil. Rin itu adalah orang yang kuat namun ceroboh."


"Iya. Sangking cerobohnya ia tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri demi melindungi orang lain," sambung Rosse.


"Itulah yang aku takutkan. Beberapa hari ini kulihat kondisi kakak semakin menurun. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Walau ia selalu menebar senyum pada semua orang tapi aku tahu kalau ia tidak dalam keadaan baik-baik saja," kekhawatiran semakin tampak jelas di wajah Lisa.


"Kau pikir kami juga percaya kalau ia selalu bilang 'baik-baik saja'? Setelah apa yang terjadi di pulau Vyden, keadaan Rin memang terlihat semakin menurun."


"Itulah yang aku bilang tadi. Ia terlalu memaksakan diri demi melindungi kita."


Melihat Lisa tertunduk sedih, Sofia berbalik dan berdiri dihadapan Lisa. "Kali ini kita berdo'a untuk kesembuhan Rin. Untuk kedepannya kita harus berlatih lebih giat agar bisa melindiginya."


"Baik. Aku akan terus berlatih sampai menjadi kuat untuk melindungi kakakku," ujar Lisa bertekat kuat.


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


Sherina masih terus menyerang ku tampa henti. Hamparan bunga rumput yang luas kini hancur berantakan akibat pertarungan kami. Nafasku mulai terasa berat. Ia sungguh tidak memberiku jeda untuk istirahat. Melawan Sherina memang melelahkan apalagi dengan jiwaku yang semakin melemah. Itu ditandai dengan seluruh bunga rumput di alam bawah sadar ku layu dan sebagian besarnya bahkan telah mati.


"Kenapa kau mau membunuhku, adikku sayang?" tanyaku padanya.


"Untuk merebut semua yang seharusnya menjadi milikku sejak dulu! Aku lah putri dari kediaman ini! Pewaris sah dari kekuatan manusia serigala, Sherina Α Morgen. Akulah pemimpin dari klan Α (Alpha) selanjutnya."


"Ini semakin aneh. Sherina tidak perna mengungkit soal ini. Pasti ada yang menghasutnya, tapi siapa? Tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke alam bawah sadar ku ini," pikirku.


"Kenapa kau tidak menyerang ku dengan serius, Keyla?!! Lawan aku dengan segenap kemampuanmu agar aku bisa dengan bangga menang dari mu!"


"Hosh... Hosh..."


Nafas semakin tersendat-sendat. Aku harus segera mencari tahu penyebabnya sebelum Sherina berhasil membunuhku. Namun belum sempat aku berpikir tiba-tiba Sherina menyerangku menggunakan belati.


"Woi, woi. Darimana kau mendapatkan belati itu?"


"Sindy yang telah memberikan belatih ini padaku padaku tadi malam! Dia juga lah yang memintaku untuk membunuh mu. Ia mengatakan, dengan membunuh mu maka aku dapat berkumpul bersama keluargaku lagi. Merasakan kasih sayang dan kehangatan yang selama ini aku dambahkan."


"Sial! Ternyata penyihir tengik itu dalangnya. Ia menyerang titik kelemahan Sherina. Tapi bagaimana bisa ia datang ke alam bawah sadar ku?" pikirku. "AAH!" teriakku begitu satu, dua, tiga sayatan berhasil mendarat di tangan, pipi serta pinggang ku. Aku mengambil ancang-ancang mundur dari Sherina.


"Ayok maju kak. Kuberi kau kesempatan menyerang ku duluan."


Aku tersenyum kecil padanya. "Sepertinya tidak ada pilihan lain. Jangan nangis saja nanti ya."


"Cih! Tidak akan."


Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk menyerang lawan yang ada di hadapanku. Maafkan aku Sherina. Kau mungkin akan merasakan sakit. Tapi aku yakin kau pasti dapat bangkit kembali. Aku melesat cepat ke arahnya, siap menyerang. Sherina sudah bersiap menerima serangan dariku dan...


Untung aku masih sempat menghindari belati tersebut menusuk ke jantungku. Belati itu cuman menembus bagian perutku dan kurasa melukai organ hati serta lambung ku.


"Tertangkap, juga kau."


Aku meremas kupu-kupu yang sendari tadi terbang di belakang Sherina. Kupu-kupu tersebut lenyap seketika dan akhirnya menghilang. Aku harap tebakanku benar. Cuman kupu-kupu itulah yang janggal dari tempat ini selain sebuah belati di tangan Sherina. Aku lihat satu bulir air mata mengalir di ujung mata Sherina. Apa dengan begini aku berhasil menyadarkannya?


"Jika, kau ingin membunuhku, jangan tusuk, dibagian jantung. Itu, akan menyebabkan kau ikut tiada," bisiku sebelum aku jatuh tersungkur ke tanah.


"Ti, tidak. A, apa yang telah aku lakukan," dengan air mata membasahi pipinya, Sherina menarikku dalam memeluk. "Kakak!!! Maafkan aku. Hiks... Hiks... Aku sungguh bodoh dengan mudah terhasut oleh kata-kata Sindy."


"Jangan bersedih, Sherina..."


"Ssuttt... Kakak harus bertahan. Aku akan pikirkan cara..."


"Ini bukan salahmu," potongku.


"Tentu ini salahku. Seharusnya aku langsung menyerang Sindy semalam, dengan begitu kakak tidak akan jadi seperti ini. Hiks..."


"Maaf, telah merahasiakan, hal ini darimu. Stt... Sebenarnya, hidupku, memang sudah tidak lama lagi."


"Apa maksud kakak?" Sherina sedikit terkejut mendengarnya.


"Bunga rumput yang layu, adalah pertanda, dari jiwaku yang melemah. Dua jiwa, tidak dapat hidup, dalam satu tubuh yang sama. Salah satu dari kita, harus menghilang."


"Apa?! Kenapa kakak tidak memberitahu ku dari awal?"


"Aku, tidak mau, melihatmu sedih seperti ini, adikku sayang," dengan tanganku yang sudah tampak transparan, aku membelai lembut wajah Sherina.


Sherina menggegam erat tanganku yang menempel di pipinya. "Jika aku tahu dari awal, maka aku akan mengalah. Aku memang sudah seharusnya mati sejak aku bayi. Berkat dirimu aku masih diberi kesempatan untuk dapat melihat kedua orang tuaku lagi."


"Tidak. Kau jantung tubuh ini, jika kau yang pergi, maka tubuh ini akan mati. Kepergianku, merupakan pilihan terbaik. Dengan begitu, keluarga kita, tidak akan merasa kehilangan. Jalani hidup ini, dengan bahagia. Bukankah itu, yang kau inginkan."


Sherina menggeleng. "Aku tidak mau jika itu harus kehilangan dirimu."


"Terima kasih, untuk tahun-tahun, yang begitu bermakna dalam hidupku. Jantungmu, membuatku dapat hidup sampai sekarang, merasakan kehangatan dan kasih sayang sebuah keluarga, yang begitu melimpah, sampai aku tak dapat membendungnya lagi. Tidak kah, kau teringin merasakan hal yang sama?" tubuhku perlahan menghilang bersamaan dengan partikel cahaya keemasan yang terbang ke udara. "Sampaikan permintaan maaf ku pada ayah. Jaga mereka untukku... Terutama... Lisa."


"Kakak... ! ! !" teriak Sherina di iringi dengan tangisnya yang pecah. "Hiks... Hiks... Aku mohon kembali! Kenapa kau meninggalkanku? Meninggalkan kami semua. Hiks... Hiks... Huaaaahh.........aah........"


Dalam tangisnya itu ia mendapati sebuah rangkaian bunga tepat dihadapannya. Ia menggapai rangkaian bunga tersebut.


"Ini rangkaian bunga yang kubuat untuknya. Aku ingat betul kalau aku belum menyelesaikannya. Hiks... Hiks..." didekapnya erat rangkaian bunga tersebut sambil terus menangis terseduh-seduh.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε