My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Membantu perubahan



"Demam mu sudah mulai turun. Aku akan buatkan bubur setelah itu kau minum obat ya," kata wanita itu lembut.


"Demam? Aku belum pernah demam sebelumnya," kata Emely masih dalam keadaan lemah.


Memang benar kalau sebenarnya manusia serigala itu tidak akan mudah terjangkiti penyakit, tapi dalam kondisi Emely saat ini tidak menutupi kemungkinan itu. Daya tahan tubuhnya melemah akibat kecelakaan.


"Siapa kau? Dan dimana ini?" tanya Emely.


"Namaku Cloey. Kau ada di kamarku sekarang. Kau mengalami kecelakaan dan menderita patah tulang pada kaki kananmu. Kau sudah tidak sadar lebih dari sehari serta menderita demam tinggi," kata Cloey menjelaskan kondisi Emely.


"Aku berterima kasih atas bantuanmu tapi aku harus mencari kakak ku," Emely hendak bangkit namun segera dicegat Cloey.


"Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Istirahatlah dulu."


"Tapi aku harus mencari kakak. Kediaman saat ini sangat membutuhkannya," rengek Emely.


"Memangnya siapa nama kakakmu? Kenapa kau tiba-tiba mencarinya?" tanya Cloey penasaran.


"Kakak ku hilang sejak kecil dan namanya..."


Kata-kata Emely terputus begitu seorang laki-laki membuka pintu kamar tersebut. Laki-laki bermata biru terang seolah-olah bercahaya dalam gelap di antara helaian rambut berwarna hitam miliknya. Emely sedikit kebingungan, kenapa ia tidak menyadari kehadiran laki-laki itu? Walau saat ini kondisi dirinya sedang menderita demam namun pendengarannya masih sangat tajam. Siapa laki-laki ini? Kenapa langkahnya begitu ringan sekali?


"Kau sudah kembali. Dimana yang lain?" tanya Cloey pada laki-laki itu.


"Mereka dibawah. Kau sudah sadar. Bagaimana keadaanmu?" kata laki-laki itu dingin sambil berjalan mendekat.


"Ia baru siuman dan demamnya mulai turun," jelas Cloey lalu ia menoleh pada gadis dan bertanya. "Oh, iya. Siapa namamu?"


"Emely," jawabnya singkat.


"Emely. Nama yang bagus. Aku perkenalkan ia, namanya Derek," kata Cloey memperkenalkan laki-laki yang kini berdiri di sampingnya


"Derek?!!" ulang Emely sedikit tersentak kaget.


"Iya. Kenapa?" tanya Cloey bingung melihat reaksi Emely.


"Nama mu sama persis dengan kakak ku yang hilang. Berapa umurmu saat ini? 18 tahun? Apa mungkin kau orang yang kucari."


Derek sedikit terkejut. Gadis yang tengah terbaring lemah ini dapat menebak umurnya dengan tepat. Tapi pikir Derek itu pasti hanya kebetulan semata. Tidak mungkin gadis kecil ini adiknya dan mengingat siapa ia sebenarnya.


"Jangan mengatakan hal aneh gadis kecil. Aku bukan kakak mu. Aku tidak memiliki satupun keluarga. Ada begitu banyak nama sama di dunia ini. Kau tidak bisa menemukan kakak mu hanya mengetahui namanya saja," kata Derek sambi berlalu pergi.


"Dia pria yang dingin."


"Aku harap kau tidak tersinggung dengan kata-katanya. Tapi ia ada benarnya juga. Kau tidak bisa mencari kakakmu hanya dengan mengandalkan nama saja."


"Apa ia memiliki tahi lalat merah di punggungnya? Dan mengenakan sebuah lion...tin" Emely kembali tertidur sebelum menyelesaikan kalimatnya.


"Iya. Dia memilikinya," Cloey membetulkan selimut Emely lalu melangkah pergi keluar membiarkan Emely istirahat kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu, kesehatan Emely semakin membaik. Ia sudah bisa berjalan kembali walau masih dalam keadaan pincang. Cedera di kaki kanannya cukup serius. Hal itu membuat proses penyembuhan lukanya menjadi lambat. Kecelakaan yang dialami Emely memang sangat parah. Bahkan mobil yang di kendarainya saat itu ringsek dan tidak ada kesempatan untuk dapat di perbaiki lagi. Setidaknya itu lah yang dicoba lakukan Mr. Dicaprio namun tidak ada hasil. Mobilnya benar-benar hancur. Sungguh keajaiban Emely dapat selamat dari kecelakaan tersebut.


Grrr....!


Emely sontak langsung bangun begitu mendengar suara geraman serigala yang berasal dari luar. Dengan keadaan kaki masih pincang Emely perlahan-lahan turun ke bawah dan berjalan keluar menuju halaman belakang yang cukup luas serta langsung terhubung dengan sebuah hutan. Memang tidak ada rumah lain selain rumah kayu tua itu. Jarak desa terdekat berjarak sekitar 500 meter dari sana. Begitu tiba di halaman belakang, Emely mendapati seekor serigala hitam yang menggeram ganas saat melihatnya dan seorang wanita tepat di samping serigala itu yang seketika menoleh.


"Emely?!" kata Cloey yang terkejut melihat kehadiran Emely.


"Se-ri-ga-la," kata Emely ketika menatap serigala itu dan tampa sadar mundur selangkah.


"Tunggu Emely, kau jangan takut. Dia tidak berbahaya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan," kata Cloey panik serta berusaha menyakinkan Emely dan berharap Emely tidak berteriak ketakutan atau sampai berlari dan memberitahu semua orang di desa. Akan sangat berbahaya jika mereka mengetahuinya.


"Derek, apa itu kau?" kata Emely kemudian yang membuat Cloey tersentak terdiam dan serigala itu menyeringai sambil membuang muka. Emely tersenyum. "Apa kau sedang mengalami tahapan terakhir dari perubahan mu?" tanya nya sambil berjalan mendekat.


"Darimana kau tahu?" tanya mereka bersamaan.


"Darimana aku tahu? Kalian pasti terkejut."


Sekali lompatan, dalam sekejap Emely berubah menjadi serigala abu-abu. Melihat itu mereka dibuat terkejut lagi. Tapi Emely sempat terjatuh karna kaki belakangnya yang masih terluka. Emely berusaha berdiri di bantu Cloey.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Cloey.


"Tidak apa-apa. Kaki ku masih sedikit sakit," kata Emely yang tidak di mengerti Cloey.


"Bagaimana kau bisa berubah secepat itu?" tanya Derek penasaran melihat perubahan manusia serigala yang begitu cepat. Sedangkan dirinya harus begitu lama saat melakukan perubahan.


"Mau aku ajari?" tanya Emely yang di balas anggukan. "Tapi kau harus berubah wujud terlebih dahulu."


"Aku tak tahu caranya. Biasanya aku langsung berubah begitu saja setelah selang beberapa menit atau paling tidak sejam. Tapi kali ini tidak seperti biasanya."


Emely merubah wujudnya kembali secepat ia berubah menjadi serigala. "Oh... Mungkin itu karna ini tahapan terakhirmu. Kau butuh waktu tiga hari untuk memulihkan tenaga, baru bisa dapat berubah kembali."


"Apa maksud mu? Kau mengatakan aku akan tetap seperti ini selama tiga hari ke depan, baru bisa berubah kembali."


"Tiga hari. Itu waktu yang cukup lama," ujar Cloey.


"Tidak sampai harus menunggu tiga hari juga, malam ini kau bisa berubah. Aku akan menyalurkan kekuatanku untuk membantumu berubah. Apa kau siap? Rasanya akan sedikit menyakitkan."


"Hah, rasa sakit seperti apa lagi yang belum aku rasakan," kata Derek yang tidak dipedulikan Emely.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε