My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Menyenangkan bukan Sofia



Aku memotong mobil ayah. Serasa cukup jauh dari pandangan mereka aku menancap gas dengan kecepatan tinggi. Di jalan yang terbilang cukup sepih ini memudahkan ku untuk menambah kecepatan lagi. Sofia menjerit sejadi-jadinya mencaci-makiku sepanjang perjalanan. Mendengar itu aku mala melakukan manuper di beberapa tikungan yang membuat Sofia menjerit hebat. Salah satu tangannya berpegang erat pada kursi dan yang satunya di pintu mobil. Kami sampai di halaman rumah satu setengah jam lebih cepat. Kulihat Sofia gemetar ketakutan, giginya yang gemeretak dapat kudengar, serta tangannya masih mencengkram kuat kursi dan pintu mobil. Aku hanya tersenyum sambil melangkah keluar. Dengan tubuh masih gemetar Sofia keluar dan bergegas kepojokan untuk memuntahkan seluruh makan siangnya.


"He, masih mau ngerjain aku?" kataku pada Sofia yang masih muntah disana.


"Lihat saja nanti Sherina! Aku akan membalasmu!" Sofia mengangkat wajahnya, melirik tajam ke arahku.


Aku tidak memperdulikan dia. Baru berdiri di depan pintu tiba-tiba Angel terbang dan langsung hinggap dibahuku. Ia pasti menyadari kehadiranku yang sudah lama hilang dari pandanganya. Angel terlihat sangat baik, buluhnya begitu putih terawat dan tubuhnya sedikit lebih besar dari terakhir aku melihatnya. Angel memang sudah kulepas liarkan. Ia bebas pergi kemanapun ia suka. Namun setiap pagi angel akan hinggap di pagar balkon kamarku atau sesekali ia mengetuk kaca pintu untuk membangunkanku. Saat aku membuka pintu balkon ia akan terbang masuk kedalam kamar dan hinggap di pojokan yang sudah aku siapkan tempat untuknya bertengger. Ia akan tidur disana sampai sore menjelang.


Aku mengelus lembut bulunya dan sepertinya ia menyukainya. Siapa yang memberimu makan saat aku tidak ada? Apa paman Fang? Aku membiarkan Angel bertengger dibahuku. Aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah sambil memanggil seseorang yang aku rindukan. Aku tahu kalau ia pasti menungguku disini. Mia bergegas berlari menghampiriku saat ia mendengar suaraku memanggilnya. Wajah manis yang tersenyum itu membuatku ingin memeluknya erat. Kurentangkan kedua tanganku menyambutnya dengan hangat dalam dekapanku.


"Rin dimana ayah dan ibumu?" tanya bibi Emely ketika menghampiri kami. Disampingnya ada paman Alan, suaminya.


"Mereka masih dijalan. Aku dan Sofia... Oh, itu orangnya," aku menunjuk Sofia yang masuk dengan wajah pucat dan lemas. Ia membaringkan tubuhnya disofa.


"Sofia kau kenapa? Mabuk perjalanan? Tidak seperti biasanya," tanya bibi Emely yang heran melihat Sofia begitu.


"..." Sofia tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arahku.


"Rin..." lirik bibi Emely padaku.


"Eh, hihihi..."


"Kau ngebut dijalan lagi?" kali ini paman Alan berbicara.


"Tidak..." aku memalingkan muka sesekali melirik wajah paman Alan.


"Kau ini memang tukang buat ulah. Ha... Seminggu terakhir ini kediaman benar-benar sepih tampa kehadiranmu. Biasanya setiap pagi kami mendengar teriakanmu yang selalu kesiangan. Kami semua sedikit merindukan itu," kata paman Alan terdengar seperti ejekan di telingaku.


Hampir dua jam kami menunggu ayah, ibu, bibi Marry dan Rosse untuk sampai di rumah. Sambil menunggu Mia bercerita banyak tentang hari-harinya tampa kehadiranku. Ia begitu meringukanku sampai-sampai ia merengek untuk menjengukku ke rumah Mrs. Hartley. Tapi sekarang ia sudah meluapkan semuanya. Bibi Tori dan paman Jaseph juga datang setelah mengetahui aku sudah sampai dirumah. Ia cukup terkejut melihat kondisi putrinya yang terbaring lemas akibat muntah tadi. Namun sekarang kondisinya jauh lebih baik setelah mendapat minuman hangat yang dibawakan pelayan.


Mereka sempat bertanya padaku, bagaimana kodisiku disana? Aku menjawab tentu aku baik-baik saja. Tidak ada orang yang tahu bahwa aku adalah putri dari keluarga Morgen kecuali kak Cia, Hanna, Rian dan Tobi. Aku baru teringat dan langsung menanyakan hal ini pada bibi Tori. Aku merasa senang setelah mengetahui kalau Calsy diterima dan sudah berkerja di butik utama Vererossa sebagai penyihir layanan Black Ticket. Aku sudah menebak Calsy pasti dapat diterima di butik Vererossa utama.


Akhirnya mobil ayah dan mobil barang sampai juga. Kami semua menyambut mereka. Ayah, ibu, bibi Marry dan Rosse keluar secara bergantian. Rosse membawah kardus kecil ditangannya. Itu berisi barang-barang kesayangannya. Aku melambaikan tangan memanggil Rosse mendekat. Semua orang di rumah sudah tahu kalau keluarga kecil Hartley akan tinggal disini.


"Rumah ini tidak berubah sama sekali," ujar Rosse sambil melirik kesana kesini.


"Rumah ini warisan turun-temurun, memang tidak berubah. Hanya pernah sekali aula depan direnovasi kira-kira 20 tahun lalu," jelas ku sedikit. Aku menarik Rosse menuju kamar barunya.


"Kenapa? Apa pernah terjadi sesuatu sampai harus direnovasi?"


Sebenarnya aula depan pernah hancur, selain itu beberapa sisi rumah dan taman juga rusak akibat serangan. Kejadian itu adalah awal dari perang purnama merah. Aku kurang tahu detailnya, semua orang yang aku tanya tidak mau mengungkit kejadian itu lagi. Termasuk paman Fang yang biasa bercerita banyak padaku. Informasi singkat itu juga aku tahu dari paman Fang yang tidak sengaja keceplosan.


Aku membuka pintu kamar Rosse yang tepat disamping kamarku. Ruang luas menyambut kami dengan semua prabotan lengkap. Rosse melihat sekililing ruangan itu yang nantinya akan menjadi tempat pribadinya yang baru. Ia membaringkan tubuhnya di kasur dengan keadaan kaki masih menyentuh lantai. Rosse mengibas-ngibaskan tangannya di seprei untuk merasakan kenyamanan.


Aku duduk disampingnya lalu bertanya. "Bagaimana? Apa kau suka?"


"Sangat suka. Aku tidak pernah membayangkan untuk tinggal disini suatu hari nanti."


"Ini kunci kamarmu," aku menyodorkan sebuah kunci dengan hiasan bunga mawar. Kunci itu kudapat dari paman Fang dan untuk hiasannya aku sempat membelinya sebelum mereka datang tadi.


Rosse bangun terduduk disampingku. Ia menerima kunci itu. Di pandanginya terus gantungan bunga mawar tersebut sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba ia memeluk erat tubuhku sambil berbisik di telinga.


"Terima kasih untuk semuanya Sherina Morgen."


"Sama-sama Rosselya Hartley."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya. Setelah makan malam aku kembali ke kamarku. Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Kutatap langit-langit kamar penuh bintang. Tidak terasa, seperti baru kemarin saja aku menatap langit-langit kamar ini. Aku memiringkan kepalaku melirik cermin yang pernah aku pecahkan. Cermin tersebut sudah diganti dengan model yang berbeda dari sebelumnya. Hanya itu yang berubah dari kamar ini. Kualihkan pandanganku ke Angel yang tengah bertengger di dahan buatan. Ia baru saja selesai makan malam.


Aku teringat dengan kalung yang mau aku hadiahkan padanya. Aku mengambil kalung itu dan mencoba mengenakannya ke Angel. Permata merah itu begitu mencolok diantara bulu putihnya. Pertama kali ia memakai kalung itu, Angel sedikit merasa tidak nyaman. Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya dengan cepat. Namun lama-kelamaan ia mulai terbiasa dengan kalung itu. Aku senang karna Angel menyukai hadiah dariku. Kini aku dapat membedakan ia dengan burung hantu lainnya saat ia sedang terbang di luar.


Aku kembali membaringkan diriku di kasur dan mulai tertidur.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε