My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pertarungan itu tak berlangsung lama



"ξόρκι φωτιάς (xórki fotiás)" Sindy melafalkan sebuah mantra lalu kemudian muncul bola api melayang di telapak tangannya. Ia melemparkan bola api itu untuk menyerang Sofia.


"Ασπίδα τοίχου (Aspída toíchou)"


Tidak tinggal diam, dengan cepat Sofia membentuk perisai untuk menangkis serangan yang diluncurkan lawannya. Bola api itu menimbulkan ledakan ketika menghantam perisai milik Sofia. Ledakan tersebut tidak berdampak apa-apa pada perisai itu. Rosse bersembunyi dibelakangku dengan tubuh gemetar. Sepertinya ia sangat ketakutan.


"Lumayan," Sofia hanya tersenyum sinis.


"Jangan sombong!!!" dengan kesal Sindy memunculkan beberapa bola api lagi. Tapi belum sempat ia melemparkan itu...


"Ξόρκι κατάψυξης (Xórki katápsyxis)"


Pelafalan mantra Sofia jauh lebih cepat dari gerakan Sindy. Kini Sindy tidak bisa bergerak setelah terkena mantra pembeku yang diluncurkan Sofia. Sedikit catatan : Mantra pembeku dan Mantra pengikat adalah dua jenis mantra yang berbeda, walau memiliki dampak sama pada korbannya. Hanya saja Mantra pembeku memiliki jangkah waktu. Sebelum waktu yang ditentukan habis maka korbanya tidak akan dapat bebas dari mantra ini. Beda halnya dengan Mantra pengikat yang tidak memiliki jangkah waktu, tapi keunggulan mantra ini dapat mengontrol gerakan lawan sesuka hati.


"Hore...! Aku menang," Sofia melompat riang sambil meleparkan tinjunya ke atas. Berbarengan dengan itu dinding penghalang menghilang.


"Apa-apaan ini? Lepaskan aku!!" bentak Sindy. Bola api yang ia munculkan lenyap seketika saat ia terkena mantra itu.


"Tunggulah seperempat jam lagi, nanti lepas sendiri."


"E? Selesai begitu saja?" Rosse keluar dari persembunyiannya dengan wajah tampak kecewa.


"Kenapa? Apa kau merasa kecewa karna pertunjukannya telah berakhir? Padahal kau yang paling takut disini," sindirku.


"Diamlah! Aku tidak menyangkah kalau akhirnya seperti ini," Rosse membuang muka dengan ekspresi cemberut.


"Hihi... Mana mau aku menghabisakan tenagaku hanya untuk bermain dengan amatiran," ujar Sofia sengaja memanas-manasi Sindy.


"Siapa yang kau panggil amatiran?!! Aku adalah penyihir paling berbakat diantara orang seusiaku. Kau hanya beruntung saja hari ini. Lihat saja nanti, aku akan membalasmu!!" teriaknya, tidak terima atas kekalahannya.


"Kau memang berbakat Sindy tapi butuh 10 tahun lagi kau berlatih untuk mengalakanku. Ayok pergi. Kita tinggalkan saja burung yang terus berkicau ini," Sofia berbalik dan mengajak kami pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pulang sekolah, di depan pintu rumah. Ibu dan bibi Marry menyambut kami dengan bahagia. Ibu kembali memelukku dengan mesra, dan juga kembali mencubit pipi Rosse kemudian. Di dalam kulihat ayah duduk disofa sambil menonton TV. Ia menoleh ketika kami melangkah masuk. Wajah yang selama ini aku rindukan, kini ada di depanku. Aku sudah terlalu lama menekan perasaan ini. Tunggu. Kenapa ada perasaan aneh tiba-tiba menghampiriku? Perasaan melihat kerinduan ini seperti perna terjadi. Tapi kapan? Aku mencoba mengingat-ingat. Satu menit, dua menit, tiga menit, tidak ada. Aku tidak bisa mengingat apapun.


"Bagaimana menurutmu Rin? Rin! Sherina!" panggil ibu membuatku sadar dari lamunan.


"Ah... Iya, iya. Ada apa?" tanyaku setengah sadar.


"Apa yang kau lamunkan?"


"Tidak ada," jawabku dengan keadaan masih ling-lung


"Kau benar-benar tidak pandai berbohong," kata Rosse.


"Siapa yang berbohong? Aku tidak berbohong."


"Kalau begitu ayok pergi," ajak ayah pada semua orang.


"Pergi? Kemana?" tanyaku bingung yang masih berdiam diri. Memangnya apa yang mereka bicarakan tadi?


"Makanya jangan ngelamun," kata Sofia sambil menarikku keluar.


Ayah, ibu, bibi Marry dan Rosse masuk ke satu mobil berwarna hitan. Sedangkan aku dan Sofia tentu saja mengunakan mobilku sendiri. Aku mengikuti mobil ayah yang berjalan pelan di depan. Pikiranku masih dipunuhi pertanyaan, kemana tujuan kami sore ini? Em... Apa soal ibu mengajak makan diluar itu? Ah, mungkin saja iya. Perlahan kulihat mobil ayah berhenti, lantas aku juga menginjak rem. Mobil ayah tepat berhenti di... Kedai Lotus? Jadi mereka berencana makan malam disini. Kalau aku tahu dari awal aku tidak akan membawa mobil. Bersepeda saja sudah cukup.


"Kedai yang unik," kata ibuku setelah memperhatikan papan nama yang tepat terpasang di atas pintu masuk.


"Apa kita mau makan malam disini?" tanyaku ketika aku menghampiri mereka.


"Ibu dengar kau berkerja di kedai ini, bagaimana rasanya?"


"Satu kata. Menyenangkan"


"Saya juga belum perna melihat Rosse melayani pelangan. Saya jadi penasaran," ujar bibi Marry.


"Sebaiknya tidak usah!" kata aku dan Rosse bersamaan. Kami saling menoleh satu sama lain.


"Ini salahmu. Kenapa kau berkata 'menyenangkan'?" bisik Rosse menyalahkanku.


"Memang menyenangkan, cuman serangamnya saja yang membuat malu," jawabku sambil berbisik.


"Ini semua ide ibu. Kenapa menyarankan tempat ini."


"Aku tahu. Kita tidak perlu pakai seragamnya saja. Itu tidak akan jadi masalah, bukan?" kataku memberi saran.


"Ide bagus."


"Apa yang kalian berdua bisikan? Sepertinya menarik," kata ayah yang membuat kami berdua tersentak.


"Tidak, tidak ada," jawab kami bersamaan lagi.


"Gelagat kalian seperti sedang menyembunyikan sesuatu," ujar Sofia memperhatikan aku dan Rosse.


Kami semua memasuki kedai ini dengan aku dan Rosse yang terakhir sekali melakah masuk. Seperti biasa, kulihat Tobi sedang membuatkan beberapa kopi khas untuk para pelangan yang memesan di bagian dapur depan. Kalau Rian, ia sedang asik bermain trik sulap untuk mengoda para gadis di meja no 7. Rian segerah menoleh dan menghampiri ketika melihat kami masuk, setalah ia memberi satu kuntum bunga pada gadis itu.


"Rosse, Rin, kalian sudah datang. Dan me... Mereka..." saat Rian melihat ke arah ayah dan ibuku, seketika ia gugup.


"Orang tuaku," potongku sebelum Rian beteriak menyebutkan identitas keluargaku. "Kami cuman ingin makan malam dengan tenang."


"Ah, iya. Baiklah. Kami semua merasa terhormat atas kunjungan dari... E, silakan duduk," Rian mengantar kami menuju meja keluarga yang memang sedikit lebih besar dari meja lainnya.


"Wah... Kedai ini benar-benar cantik," puji ibuku sambil terus memperhatikan setiap ornamen kedai berbentuk bunga teratai.


"Jadi ayah, ibu dan bibi Marry mau pesan apa?" tanyaku pada mereka.


"Kenapa aku tidak menanyaiku juga?" protes Sofia.


"Tidak perlu. Semua yang disajikan pasti kau makan habis," kataku membuat yang lain tertawa kecil.


"Hm!" Sofia hanya mendengus kesal.


"Sajikan saja semua hidangan terbaik kalian hari ini," ucap ayahku.


"Baiklah. Ayok Rosse."


"Iya."


"E... Sebaiknya kalian berdua duduk saja. Biar aku yang mengambilkan semua pesanan," kata Rian mencoba menghalangi aku dan Rosse menuju dapur untuk mengambil pesanan.


"Tidak apa-apa Rian. Kami masih terhitung kerja hari ini," kata Rosse sambil menglakah melalui Rian dengan aku menyusulnya dari belakang.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε