
Aku membuka mata perlahan. Samar-samar langit-langit kamar menyambutku. Sinar matahari hangat menerpa sebelah wajahku. Aku melihat ke sekeliling. Bagaimana bisa aku ada disini? Di kamarku sendiri. Aku berusaha bangkit, terduduk di tempat tidur sambil memengangi kepalaku yang terasa sakit sekali namun dengan cepat menghilang. Aku turun dari tempat tidur, sesekali tanganku meraih sesuatu untuk berpegangan. Tenagaku belum pulih sepenuhnya. Aku berjalan menuju pintu kamar dan disaat aku memutar knop pintu...
"Apa?! terkunci. Hallo... Apa ada seseorang di luar? Ayah! Ibu!" teriakku memanggil. Tak lama kemudian ibu datang dan membuka pintu.
"Rin, kau sudah sadar? Syukurlah," peluk eret ibu. Ia menarikku untuk duduk di sofa. Dengan wajah penuh kekhawatiran ibu membelai lembut rambutku.
"Ibu dimana ayah?" tanyaku tergesa-gesa.
"Ayahmu di ruang kerja, masih ada urusan. Kenapa?"
"Ada yang ingin aku beritahu pada ayah," aku hendak pergi namun ibu menahan tanganku.
"Soal Mr. Hope," kata ibu membuatku menoleh.
"Ibu tahu?"
"Iya. Sofia sudah menceritakan semuanya."
"Kalau begitu ibu pasti percaya kalau aku bukan pelakunya. Semua serangan itu perbuatan Mr. Hope. Ia sengaja menjebakku untuk menghancurkan keluarga kita. Ia Ingin menyebarluaskan kalau keluarga kita adalah monster malam dan setelah itu ia mau menguasai seluruh harta benda rumah ini," jelasku dalam satu tarikan nafas.
"Berarti tujuannya ingin mendapat dukungan dari masyarakat, dan itulah yang terjadi sekarang," ibu memijit ringan dahi diantara matanya.
"Apa maksud ibu?" aku menaikan sebelah alisku.
"Pagi ini beredar lagi di situs internet..." ibu berdiri mengambil leptopku yang ada diatas meja belajar dan kembali duduk di sampingku. Jarinya mulai menari menekan tombol-tombol keyboard. "Berbeda dengan yang sebelumnya kali ini adalah video singkat."
Ibu memperlihatkan sebuah video padaku. Betapa terkejutnya aku setelah melihat video tersebut. Itu adalah rekaman saat aku berubah menjadi serigala di hutan pada waktu melarikan diri dari kejaran Mr. Hope. Kapan mereka merekanya? Aku sedikit beruntung karna keadaanya mini cahaya rekaman tersebut tidak terlalu jelas kalau gadis dalam video itu iyalah aku. Dasar para bajingan itu!! Tapi... Tunggu dulu. Setelah aku meneliti video ini lebih seksama ada yang aneh. Setahuku saat itu Sofia menggunakan mantra pengikat pada Mr. Hope dan anak buahnya. Kenapa di video mereka bisa bergerak? Dan juga aku tidak pernah menyerang mereka setelah melakukan perubahan? Ya aku ingat sekali hal itu walau ingatanku sedikit kacau saat aku berubah menjadi serigala.
"Wajahmu memang tidak tampak jelas namun karna video ini membuat semua masyarakan mejadi gempar."
"Tapi bu..." aku berusaha memberitahu ibu kalau video itu telah diedit namun ibu tidak memberiku kesepatan untuk menjelaskan.
"Mereka mulai membuat opini-opin tentang manusia serigala. Kau tahu sendirikan pandangan mereka tentang makhluk-makhluk malam?"
"Iya. Mereka terlalu melebih-lebihkan. Tapi..." belum selesai aku bicara ibu sudah memotong.
"Sebenarnya mereka tidak salah juga karna makhluk malam memang sangat ditakuti pada masa jayanya dulu,"
"...!" perkataan ibu kali ini membuatku terkejut. "Maksud ibu makhluk malam memang monster seperti yang dipercaya masyarakat?"
"Itu benar, tapi semua itu dulu sekarang berbeda. Dunia malam sudah berdamai dengan dunia manusia. Namun tidak menutup kemungkinan masih ada orang yang mengangap makhluk malam adalah makhluk kejam berdarah dingin. Untuk keamanan semua identitas makhluk malam dirahasiankan dari publik. Dan sekte pemburu monster bertugas menjaga keseimbangan dari kedua dunia ini."
"O, seperti sekte bulan sabit?" aku hampir lupa apa yang mau aku jelaskan tadi.
"Iya. Salah satunya."
"Oh, iya ibu. Masalah video ini itu adalah editan semata. Memang benar aku melakukan perubahan tapi aku ingat sekali kalau aku tidak menyerang mereka!" jelasku sebelum ibu memotong lagi.
"Sofia juga bilang begitu. Namun ayahmu sudah memeriksa video ini dan mengatakan tidak ada unsur editan di dalamnya."
"Tidak mungkin! Walau ingatanku sedikit pudar saat perubahan tapi aku yakin sekali kalau aku tidak menyerang mereka!" tekanku untuk meyakinkan ibu. Ibu hanya menaikan sebelah alisnya sambil melirikku. Aku tidak mengerti maksud ekspersi itu.
"Baiklah, ibu akan menyuruh ayahmu untuk memeriksa ulang video ini. Mungkin saja keahlian mereka dalam mengedit video sangat prepesional sampai-sampai ayahmu sedikit kesulitan mencari kejangalannya."
"Aku mengharapkan itu. Lalu bagaimana dengan komentarnya?" aku membaca beberapa komentar, kira-kira 52% komentar beropini buruk tentang manusia serigala, 35% tidak percaya dan mengagap video itu sebagai editing semata, 11% berada ditengah-tengah dan sisanya 2% hanyalah komentar menyimpang.
"Ayahmu masih berusaha menyakinkan masyarakan kalau video tersebut video bohongan."
"Kenapa tidak segera menangkap pelaku kejahatan dari pada beropini pada masyarakat?"
"Menangkap pelaku kejahatan memang penting tapi menyakinkan masyarakat juga penting. Ada sebagian orang yang tidak terikat dengan dunia malam atau sekte manapun namun mereka mengetahui tentang makhluk-makhluk ini. Merekalah yang harus diwaspadai."
"Tapi kenapa?" tanyaku bingung.
"Karna mereka bisa menjadi saksi."
"Saksi? Biarpun mereka berbicara, tanpa adanya bukti tidak akan ada orang yang percaya."
"Aku akan mengagapnya sebagai setingan."
"Lalu bagaimana kalau ada orang berkomentar ia perna melihat manusia serigala secara langsung?"
"Ya aku..."
"Bukan hanya satu atau dua orang, melainkan sepuluh, duapuluh, tigapuluh dan bisa lebih," ibu menekan kalimatnya.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu dengan kepala menuduk. Ibu benar, jika hanya ada satu atau dua orang itu masih tidak apa. Tapi jika lebih dari puluhan saksi maka sebagaian atau bahkan seluruh orang akan percaya atas kehadiran manusia serigala. Ini buruk, terlebih lagi semua opini bersifat negatif terhadap manusia serigala. Seberusaha kami untuk tidak dilihat oleh seseorang ketika melakukan perubahan tidak menjamin kecerobohan masih bisa terjadi. Apa lagi bagi kami yang masih dalam tahap perubahan. Tahap perubahan tidak dapat diprediksi dan bahkan bisa terjadi pada siang hari.
"Semakin banyak orang bersaksi maka semakin sulit membantah tuduhan tersebut. Masalah kali ini tidak sederhana yang kau pikirkan Rin."
"Aku mengerti ibu."
Aku merasa sedikit bersalah, karna aku Mr. Hope mendapatkan apa yang dia inginkan. Kenapa masyarakat sangat membenci manusia serigala? Memang benar kalau manusia serigala itu sangat ditakuti pada masanya. Tapi, apa kami tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua? Untuk membuktikan kalau kami bisa berubah dan hidup damai bersama manusia biasa. Kami tidak jauh berbeda dengan kalian. Kami juga memiliki perasaan, keluarga, rasa melindungi dan cinta. Aku harap suatu hari nanti kedua dunia ini benar-benar bisa hidup berdampingan tanpa ada rasa takut saat kehadiran kami diakui pada masyarakat.
"Kau jangan membebani dirimu karna masalah ini. Istirahatlah dengan baik, serahkan semuanya pada kami," belai lembut ibu dirambutku. Tangannya terhenti ketika pandangannya tertujuh pada leherku. "Rin dimana kalungmu?"
"Kalungku diambil oleh pria berjubah hitam itu."
"Pria berjubah hitam?"
"Iya."
"Sofia tidak cerita tentang pria ini."
"Karna Sofia terikat dibelakangku, wajar ia tidak tahu."
"Apa kau tahu siapa dia?"
"Tidak. Ia mengenakan topeng, aku tidak dapat melihat wajahnya."
"Apa ada ciri khusus pada dirinya?"
"Em... Ciri khusus?" aku berpikir sejenak mengingat-ingat. "Ada sedikit aura manusia serigala pada dirinya."
"...!!" ibu tersentak kaget setelah mendengarnya. Terlihat jelas dari raut wajah ibu sangat terkejut.
"O, iya. Ada tato kecil dipergelangan tangannya."
"Apa katamu!? Seperti apa tatonya?" kali ini suara ibu meninggi. Dari tatapannya ia sangat berharap aku segerah menjawab pertanyaan itu.
"Aku... Aku hanya melihatnya sekilas. Aku tidak tahu bentuk apa tato itu," jawabku spontan karna terkejut dengan reaksi ibu.
"Kecurigaan kami ternyata benar," kata ibu pelan. Ibu berbalik, mengalikan padangnya dariku. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu.
"Ibu..."
Ting! Ting! Ting! ...
.
.
.
.
.
.
ξκύαε