
Kak Cia semakin tegang ketika ayah sudah berdiri di hadapannya. Ayah meminta untuk berbicara diluar saja. Hm, aku jadi penasaran. Apa yang mau ayah bicarakan pada kak Cia sampai-sampai tidak mau didengar oleh orang lain? Sementara itu aku memperkenakan Hanna pada ibuku yang ingin sekali bertemu dengannya. Bibi Marry juga mau bertemu dengan Hanna. Sedangkan Sofia dan Rosse mencari kesibukan dengan para pelagan.
"Ini dia sang koki dari semua hidangan manis, Hanna," kataku memperkenalkan Hanna pada ibu dan bibi Marry. Tubuhnya gemetar ketika aku menariknya mendekat.
"Ha... Hallo, Mrs. Morgen dan Mrs. Hartley. Sungguh kebanggaan dapat berjumpa dengan kalian, " sapah Hanna dengan wajah menunduk.
"Ternyata kau orangnya. Kau masih muda sudah memiliki bakat yang luar biasa dalam hal memasak. Kau sungguh hebat. Aku yakin suatu hari nanti kau pastu bisa menjadi koki yang terkenal," kata ibuku sambil menggegam erat kedua tangan Hanna.
"Iya. Rosse sering bercerita tentangmu. Ini pertamakalinya kita bertemu. Kau gadis yang berbakat," ujar bibi Marry.
"Te... Terima kasih Mrs. Morgen, Mrs. Hartley."
"Em... Hanna. Apa boleh aku..." kalimat ibu terputus-putus seperti mau... Mencurigakan.
Hanna mengangkat wajahnya dan menatap ibuku dengan ekspresi bingung. "Boleh... Apa?"
"Boleh aku mencubit pipimu?" tampa persetujuan Hanna lagi ibu mencubit pipinya dengan gemas.
"Mrs. Morgen..." Hanna pasra saja mendapat perlakuan itu dari ibuku.
"Ibu...! Kebiasaan burukmu tidak bisa ibu tahan apa?"
"Semua orang juga tidak bisa tahan kalau melihat gadis seimut ini."
"Hah... Ibu..." aku menepuk jidatku setelah mendengar jawabannya.
"Ibumu tudak berubah sama sekali," bibi Marry tidak tahu harus bilang apa lagi melihat ibuku seperti itu.
Aku izin pada bibi Marry untuk pergi membantu Sofia, Rosse dan yang lainnya di depan. Biasanya jam seperti inilah yang paling ramai. Di ruang utama kedai aku lihat Sofia dan Rian bertugas melayani pelanggan dari meja ke meja. Sedangkan Rosse membantu Tobi di dapur depan membuat kopi ataupun minuman lainnya dan makanan ringan. Tampa basa basi lagi aku mengikuti arus kerja mereka seperti hari-hari biasa aku kerja. Aku segera membereskan meja yang sudah digunakan pelanggan sebelumnya agar pelanggan yang akan datang dapat mengunakannya. Menyajikan pesanan jika ada yang memesan atau sekedar bersantai dulu jika tidak ada lagi yang dapat dikerjakan.
Tak lama kemudian ayah, ibu, bibi Marry, kak Cia dan Hanna kulihat berbicang di depan pintu dapur. Raut wajah kak Cia nampa tertunduk sedih. Ia beberapa kali berterima kasih pada ayah dan ibuku. Em, apa yang ayah katakan pada kak Cia sampai sikapnya berubah seperti itu? Lalu ayah, ibu dan bibi Marry menghampiri kami yang sedang berkumpul di depan dapur depan.
"Rin, Sofia, kalian masih mau disini atau ikut kami pulang ke hotel?" tanya ayah.
"Kami masih mau disini sampai kedai ditutup," jawabku.
"Aku nginap dirumah Rosse saja malam ini. Tidak apakan Mrs. Hartley?" kata Sofia sambil tersenyum pada bibi Marry.
"Tentu saja tidak. Jangankan semalam, sebulanpun boleh."
"Ya sudah kami pulang dulu. Setelah selesai kalian segeralah pulang. Jangan kemana-mana, mengerti?" ujar ibuku.
"Iya ibu."
Aku, Sofia dan Rosse mengantar mereka sampai mobil ayah hilang ditikungan. Kami kembali masuk ke kedai. Aku ingin bertanya pada kak Cia, apa yang ia dan ayah bicarakan tadi. Baru hendak bicara tiba-tiba kak Cia langsung memelukku dengan air mata berlinang. Diselah-selah isak tangisnya aku mendengar kak Cia berkata...
"Terima kasih."
"Kak Cia, ada apa ini? Terima kasih untuk apa?" tanyaku yang masih didekap erat kak Cia.
"Jadi Mr. Morgen menyumbangkan dana untuk kedai ini?" Tobi mengulangi kalimat kak Cia dengan nada bertanya yang dibalas anggukan.
"Bukan kah itu bagus? Kedai milik kak Cia sekarang mendapat dukungan dari keluarga Morgen," kata Rosse sambil menyenggol tubuhku dengan bahunya.
"Mungkin saja nanti kedai ini akan semakin ramai pengujung jika mereka tahu kalau keluarga Morgen telah menyumbangkan dana kesini," ujar Rian.
"Ide bagus. Bagaimana kalau aku bantu promosikan kedai ini ke media sosial? Kita bisa memberi keterangan 'Tempat dimana Miss. Morgen perna berkerja.' atau, 'Gadis serigala berkerja disini hanya sekedar untuk perlarian.' Kalian punya pendapat lain?" celoteh Sofia minta dihajar.
"Oh, bagaimana kalau... 'Tempat dimana gadis serigala itu menerkam temannya sendiri!'" aku menatap tajam pada Sofia sambil menirukan seekor hewan yang memperlihatkan cakarnya.
"Tidak, tidak. Tidak pakai keterangan juga tidak apa-apa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Huam... Beberapa kali aku menguap saat menaiki tangga menuju kamar. Aku ngantuk sekali. Tidak disangka kak Cia mala mengajak berpesta sampai hampir jam sebelas malam. Ia sangat terharu ketika mengetahui ayahku mau menyumbangkan dana untuk kedainya. Ternyata terdapat alasan untuk itu. Tobi bercerita padaku secara diam-diam kalau sebenarnya ayah kak Cia tidak terlalu peduli dengan kehidupan anak-anaknya.
Ayahnya terlalu sibuk dengan perkerjaan dan jarang pulang. Ibu Rian atau ibu tiri dari kak Cia dan Hanna hanya peduli dengan anaknya seorang. Apa lagi setelah tahu kalau kak Cia mendirika kedai ini. Ibu tirinya itu tidak lagi memberikan uang saku untuk mereka. Jadi mereka berdua hanya mengandalkan pendapatan dari kedai ini untuk bertahan hidup dan pengeluaran sekolah Hanna. Rian berkerja disini itu karna inisiatifnya untuk menolong saudaranya.
Ayah macam apa itu? Berkerja mencari nafka itu memang kewajibannya, tapi jangan sampai melupakan keluarga di rumah juga. Sesibuk-sibuknya perkerjaan apapun itu sempatkanlah waktu untuk keluarga. Apa ayah kak Cia, Hanna dan Rian tidak perna berpikir bagaimana tumbuh kembang anak-anaknya? Kak Cia dan Rian aku rasa masih bisa mengerti hal itu tapi bagi Hanna... Ia masih membutuhkan perhatian ayahnya, apalagi setelah kematian ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar jam satu dini hari aku terbangun dengan rasa haus ditenggorokanku. Aku turun dari tempat tidur melangka menuju dapur. Baru saja keluar dari pintu kulihat sekilas bibi Marry yang masih duduk disofa. Ia memegang secari kertas di tangan kanannya dan terdengar seperti menangis ditahan. Apa isi surat itu sampai membuat bibi Marry menanggis? Aku bergegas menuruni tangga menghampiri bibi Marry disana.
"Bibi belum tidur?" sapaku ketika melangkahkan kaki di anak tangga terakhir.
"Belum," dengan cepat bibi Marry menyelipkan kertas itu di bawah bantalan sofa dan mengelap air matanya. "Ap... Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau belum tidur?"
"Hanya turun untuk minum. Em... Bibi menanggis?" tanyaku hati-hati.
"Tidak. Bibi tidak menanggis. Bibi baru saja menonton film sedih, bibi terlalu terbawa suasana," jelas bibi Marry berbohong.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε