
Mrs. Anderson berjalan menuju telpon rumah, ia menekan beberapa tombol nomor disana dan menghubungi seseorang. Dari percakapan yang terdengar sepertinya ia menelpon suaminya. Ia sempat bertanya padaku dimana letak tubuh Brenda. Aku menjelaskan apa yang aku lihat di tempat kecelakan. Selesai memberi kabar pada suaminya kami berangkat menuju lokasi kejadian. Selama perjalanan aku hanya diam. Lamunanku tinggi melayang di awan. Aku memikirkan, apa yang akan terjadi nantinya?
15 menit perjalanan akhirnya kami sampai. Terlihat disana sudah ada beberapa mobil polisi. Sepertinya mereka sudah memeriksa lokasi keberadaan mayat Brenda. Aku keluar dari mobil untuk menyaksikan semua yang terjadi. Tepat dipagar pembatas antara jalan dan jurang, aku melihat seorang pria berdiri disana. Ia terus menatap detik-detik pengevakuasian. Mrs. Anderson berlari kecil menghampiri pria itu dan langsung dipeluknya dengan air mata berlinang. Pria itu adalah Mr. Anderson suaminya.
Aku berdiri didepan mobil berjarak cukup jauh dari mereka. Aku menyaksikan pengevakuasian itu. Tubuh Brenda ditemukan 200 m dari titik jatuh mobil. Mayatnya benar-benar tersembunyi dan sulit dijangkau. Keadaannya sangat mengenaskan dan mulai membusuk. Aku memalikan muka karna tidak tahan melihatnya.
"Ini semua berkat dirimu," kata paman Fang yang berdiri disampingku.
"Entah mengapa aku takut sekali hari ini."
"Apa kali ini kau akan memberi tahu ibumu?"
"Tidak. Aku belum mau mati."
Mr. Dan Mrs. Anderson menghampiri kami. Walau air mata masih membasahi pipi Mrs. Anderson nam ia berusaha untuk tersenyum.
"Kami sangat berterima kasih padamu. Berkat dirimu jasad putri kami dapat ditemukan," kata Mr. Anderson.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin membantu. Lagi pula ini adalah keinginan dari Brenda sendiri."
"Sesuai janjiku padamu... Apa yang kau inginkan?"
"Itu tidak perlu. Aku hanya ingin minta maaf karna membentakmu tadi. Maaf aku tidak bermaksud tidak sopan padamu."
"Kau anak yang baik, tapi aku akan merasa bersalah jika aku tidak memberimu sesuatu."
"Jangan takut. Sebutkan apa saja yang kau inginkan, perhiasan, pakaian dan tas bermerek, smarphone model terbaru, atau apa yang disukai gadis remaja sekarang?" bujuk Mr. Anderson sambil memikirkan hadiah apa yang aku inginkan.
"Sayang dia dari keluarga Morger, aku rasa ia tidak kekurangan itu."
"Oh... Kalau begitu apa yang kau mau?"
Sebenarnya aku tidak suka orang memandangku dari harta kekayaan keluarga Morgen. "E... Begini saja, aku hanya ingin kalian tidak memberi tahu siapapun tentang kemampuanku ini dan tidak memberi tahu orang tuaku tentang masalah ini," kataku membuat raut wajah mereka bingung.
"Kami malah berencana mengajak keluargamu untuk makan malam bersama kami sebagai ucapan terima kasih," kata Mr. Anderson.
"Kenapa kau tidak mau memberi tahu orang tuamu? Meteka pasti sangat bangga memiliki putri sepertimu."
"Malah sebaliknya. Ibuku pasti membunuhku jika ia tahu aku terlibat dengan hantu. Ibuku sangat melarangku untuk melakukan hal ini dikarnakan sangat berbahaya. Aku perna hampir kehilangan nyawa akibat roh jahat. Jadi aku tidak bermaksud menolak kebaikan kalian. Sekali lagi maaf."
"Nona muda kami memang seperti ini, harap maklum," ucap paman Fang.
"Sangat disanyangkan," wajah Mrs. Anderson terlihat murung.
"Kau tahu kalau berurusan dengan alam lain sangat berbahaya tapi kau tetap membantu kami. Kalau memerlukan bantuan dimasa depan jangan sungkan untuk memberitahu kami."
"Terima kasih atas pegertiannya," aku melirik ke pohon. Aku melihat Brenda berdiri disana sedang menatap kami. "Mari ikut aku," aku menarik tangan Mrs. Anderson mendekat kearah Brenda. "Dia ada di depanmu," bisikku.
"Benarkah."
Aku memejamkan mataku, memfokuskan diri membagi sedikit energi dari gengaman tangaku ke tangan Mrs. Anderson. Rasa hangat mulai mengalir menyelimuti tangan kami. Aku meminjakan kekuatanku pada Mrs. Anderson agar ia dapat melihat putrinya. Tidak sampai semenit pemberian kekuatan sementara berhasil dilakukan. Mrs. Anderson terpaku tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang gadis berambut keriting berwarna hitam melayang tepat dihadapannya.
"Bre... Brenda."
Mrs. Anderson mencoba menyentuh putrinya namun tanganya tembus begitu saja. Ia tidak dapat membelai wajah Brenda lagi. Air mata kembali menetes. Aku juga tidak dapat menahan air mataku. Seorang ibu pasti sangat terpukul atas kehilangan anak semata wayangnya. Entah mengapa kakiku tiba-tiba lemas dan membuatku hampir terjatuh. Untung paman Fang berhasil menangkapku.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," mungkin karna peminjaman kekuatan tadi cukup menguras tenagaku.
Pamandangan yang mengharukan berlangsung sangat capat. Perlahan-lahan arwah brenda menghilang. Mrs. Anderson duduk terlutut sambil menangis melihat kepergian putrinya. Mr. Anderson mencoba menenangkan istrinya. Dalam keharuan itu tiba-tiba hpku berbunyi, saat aku lihat ternyata telpon dari ibuku. Aku segerah mengangkatnya.
"Kau ada dimana Sherina?!!!" Teriak ibuku. Aku menjauhkan hp itu dari telinga. Aku takut tidak bisa mendengar lagi akibat teriakan itu.
"Maaf ibu aku... Aku ada dirumah teman. Aku akan segera pulang dah..." buru-buru aku menutup telpon. "Ayok paman Fang kita pulang," dengan panik aku menarik tangan paman menuju mobil. "Kami pamit Mr. Anderson Mrs. Anderson. Maaf buru-buru."
"Tunggu," kata Mrs. Anderson membuatku menoleh. Ia berjalan mendekat ke arahku. Mrs. Anderson melepaskan liontinya dan memasakanya dileherku. "Aku harap kau tidak menolaknya. Ini adalah bentuk permintamaafan ku karna tidak percaya padamu. Dan aku pasti sangat menakutimu tadi, aku harap kau tidak kapok untuk berkunjung kapan-kapan."
"Terima kasih. Aku pamit dulu, semoga kalian sehat selalu."
Aku bergegas masuk ke mobil. Paman Fang melajukan mobilnya perlahan-lahan meningalkan tempat itu. Fidalam mobil aku hanya memperhatikan liontin itu. Sangat cantik. Liontin berbentuk lumba-lumba sedang memeluk kristal berwarna merah darah. Aku menyukainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku duduk bersilang dilantai. Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caranya memanggil arwah. Ibu lupa mengajariku dan akupun lupa juga untuk minta diajari. Menurut buku yang pernah aku baca diperpustakaan pada saat mencari buku tentang manusia serigala, aku juga menemukan buku tentang Necromancy. Benar kata Sofia, ilmu sihir Necromancy memiliki banyak mantra dan simbol lingkaran yang rumit. Untuk melakukan panggilan juga tidak sembarangan, arwah laki-laki dan perampuan mengunakan mantra dan simbol berbeda. Umur juga berpengaruh terhadap mantra, pelafalan harus pasih kalau tidak pemanggilan akan gagal. Sangat rumit.
Ada satu hal lagi yang paling penting. Walaupun berhasil melakukan panggilan, arwah yang sudah dipanggil harus diantar kembali ke alamnya menggunakan mantra berbeda. Jika tidak arwah itu akan terus bergentayangan tampa tujuanan dan bisa saja mencelakai orang lain. Ini bisa jadi bencana.
Aku teringat kata Sofia sore tadi bahwa kemampuanku ini lebih praktis dari ilmu sihir Necromancy. Dan lagi yang pernah ibu praktekan dulu sangat mudah. Ibu hanya duduk bersilang sambil memejamkan mata. Terlihat sangat sederhana, mungkin ibu hanya membayangkan siapa arwah yang ingin ia panggil.
Aku ingin mencobanya. Aku menutup mataku dan mulai fokus membayangkan Brenda, gadis kecil berambut keriting. Cukup lama aku melakukan ini. Tidak berhasil. Apa aku salah? Perlahan aku melihat sesuatu kelibat putih yang semakin membesar dan semakin jelas. Kelibatan itu membentuk bayangan seorang wanita tapi bukan Brenda. Aku segera membuka mataku, melihat siapa yang baru saja aku panggil. Aku harap bukan roh jahat. Seorang wanita parubaya berdiri di depanku.
"Siapa kau?" tanyaku pada arwah itu.
"Siapa aku? Kau tidak kenal?" kata arwah itu membuatku bingung.
"Apa kita pernah bertemu?"
"Ini aku, Margaret. Kau ingat?"
"Margaret?" aku mencoba mengingat-ingat nama itu. "Aku tidak kenal. Maaf ya sepertinya aku salah panggil. Sebaiknya kau pergi," pintaku pada arwah itu secara halus.
"Tapi kita punya janji," raut wajahnya berubah sedih. Bayangan putih yang mengelilinginya mulai menghitam
"Janji? Janji apa?" aku perlahan mundur. Gawat ingatanku belum pulih sepenuhnya. Apa yang telah aku janjikan pada hantu ini?
"Aku butuh tubuhmu!" kata Margaret tiba-tiba.
"Apa?!" aku sangat terkejut mendengarnya. "Aku... Aku tidak mau menyerahkan tubuhku. Maaf ya kau harus pergi!"
"Kita tidak punya banyak waktu, serakan tubuhmu sekarang juga!!" Margaret menyerangku mengunakan kukunya yang panjang dan hitam. Matanya kini merah menyalah.
Aku berhasil mengghindar. Ada kesempatan, aku hendak memanfaatkannya untuk mengusir hantu itu. Belum sempat aku menutup mata, Margaret menyerang lagi. Untung aku berdiri di depan lemari. Tanpa pikir panjang aku membuka pintu lemari, karna tidak bisa menghindar Margaret menghantam lemari itu. Dengan cepat aku segera menutupnya. Aku menempelkan secari kertas diantara kedua pintu lemari dan mengambar simbol pengikat.
Simbol ini termasuk salah satu hal yang perna aku pelajari dari ibuku. Simbol pengikat bertujuan untuk memerangkap arwah pada suatu benda. Simbol ini cukup simpel untuk dibuat namun hanya bertahan satu menit saja. Aku memanfaatkan waktu singkat ini untuk mengusirnya. Aku memejamkan mataku, bayangangan Margaret muncul dihadapanku. Aku mendorong sekuat tenaga bayangan itu sampai hilang dari pandanganku. Aku perlahan membuka mata. Teriakan dan geduran dari dalam lemari sudah menghilang. Untuk memastikan aku membuka pintu lemari, walau ada rasa takut kalau-kalau arwah Margaret masih ada disana. Tidak ada. Ia sudah pergi dari sini dan hanya menyisakan pakaianku yang acak-acakan.
"Fiuuuh....." aku menghebuskan nafas lega. Akhirnya dia pergi juga. Aku membaringkan tubuhku yang lelah dikasur dan perlahan mulai tertidur tanpa mematikan lampu.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε