
Jam 11.07 aku dan Rosse sampai di rumah. Bibi Marry menyambut kami ketika hendak membuka pintu. Ia bertanya, kenapa terlambat pulang kerja? Aku dan Rosse menjelaskan kalau kami semua pegawai toko mengadakan pesta kecik-kecilan, makanya sedikit terlambat pulang. Bibi Marry menerima penjelasan kami lalu lekas menyuruh kami tidur. Hari sudah larut malam dan besok masih harus bangun pagi untuk berangkat sekolah. Aku dan Rosse kembali ke kamar. Huam... Aku ngantuk sekali. Aku membarikan diriku di atas kasur empuk nan nyaman ini. Butuh beberapa detik saja untuk membuatku tertidur pulas.
Jam 03.00 dini hari aku terbangun karna suara ketukan dari kaca jendela. Ketukan pelan dengan tempo yang cukup lambat namun nyaring di telinga. Aku memperhatikan jendela tempat dimana suara itu berasal. Tirai jendela yang tadinya tertutup kini perlahan-lahan bergeser, seperti anda yang mengerakannya. Kecil kemungkinan digerakan oleh angin. Angin dari mana? Tirai itu ada di dalam kamar bukannya di luar. Aku terus memperhatikan jendela itu dengan keadaan masih berbaring.
Muncul sosok bayangan putih yang semakin jelas tampak di kaca jendela. Jelas sekali sosok tersebut adalah arwah seorang pria. Aku seketika memejamkan mata ketika arwah itu melirik kami. Oh, tidak. Sepertinya tatapan itu hanya di tujukan pada Rosse. Tatapan yang begitu sedih penuh kerinduan. Siapa dia? Aku merasa perna bertemu dengannya, tapi dimana? Aku membuka mataku perlahan untuk melihat sekali lagi dan memastikan siapa dia sebenarnya. Namun sayangnya arwah itu sudah menghilang.
Hanya ada satu kemungkinan yang terlintas di kepalaku. Arwah tadi iyalah ayah Rosse yang meninggal empat tahun lalu. Aku tidak terlalu tahu penyebab kematian Mr. Hartley. Cuman ayah, ibu, paman, bibi dan paman Fang yang menghadiri acara pemakaman tersebut. Waktu itu ibu melarangku untuk pergi ke pemakaman. Disana terlalu banyak arwah gentayangan dan aku masih belum terlalu mahir mengenalikan kekuatan Necromancy yang aku miliki. Semua arwah gentanyangan pasti memiliki masalah atau keperluan yang tertinggal dan ingin mereka selasaikan. Maka dari itu mereka masih berkeliaran di dunia ini.
Karna tidak dapat menyelesaikan urusan mereka sendiri, mereka akan meminta bantuan pada Necromancy yang memang memiliki kemampuan dapat melihat, berkomunikasi dan memanggil arwah-arwah tersebut. Arwah seseorang yang telah meninggal dapat melihat siapa orang yang memiliki kemampuan istimewah seperti kami ini. Sihir, kekuatan di luar nalar, makhluk malam dan sebagainya, memang saling berterikatan dengan dunia mereka. Dunia malam bisa dibilang sebagai penghubung antara dunia nyata dan alam roh.
Tidak semua arwah bersifat baik. Diantara mereka ada juga yang jahat. Contohnya, arwah pedendam. Arwah ini adalah salah satu dari sekian banyak jenis arwah yang ditakuti. Semakin besar dendam mereka maka semakin besar pula kekuatan supranatural yang mereka miliki. Sebagai seorang Necromancy harus senantiasa berhati-hati dalam membantu arwah-arwah ini. Salah sedikit saja nyawa bisa jadi taruhannya. Satu hal lagi yang sangat berbahaya. Jika keinginan dari arwah tersebut gagal tercapai maka mereka akan melampiaskannya pada si penolong. Arwah tidak peduli dengan hal lain lagi kecuali tujuannya kenapa masih ada di dunia ini.
Keinginan setiap arwah tidak selalu baik. Banyak diantara mereka memiliki tujuan jahat seperti balas dendam dengan menginginkan kematian seseorang. Tentu, keinginan ini tidak dapat dipenuhi. Untuk menangani kasus arwah pedendam, para Necromancy akan memaksa mereka meningalkan dunia ini dengan mengunakan mantra dan simbol lingkaran tertentu. Dibutuhkan lebih dari empat orang untuk melakukan ritual pengembalian tersebut. Sebab itu kami yang memiliki kemampuan ini biasanya menghindari tempat-tempat dengan kemungkinan ada arwah pendendam. Tempat itu seperti pemakaman, tempat kejadian kecelakaan yang menelan korban jiwa, tempat dimana seseorang perna melakukan bunuh diri dan rumah sakit. Kecuali, ada beberapa hal mendesak yang harus pergi ke tempat-tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi yang redup dengan langit kelabu ditemani angin dingin bertiup kencang. Aku memaksakan diriku untuk turun dari tempat tidur dengan keadaan mata masih terpejam. Huam... Beberapa kali aku menguap sebelum air dingin menyentuh wajahku. Aku menggunakan air dingin untuk menyegarkanku. Jauh lebih efektif dari pada langsung mandi air hangat. Selesai bersiap-siap aku lekas turun ke bawah menuju dapur. Disana sudah ada bibi Marry dan Rosse yang sedang menikmati sarapannya. Aku menyapa mereka. Bibi Marry balas menyapa sambil tersenyum. Sedangkan Rosse, ia melamun sambil memain sarapannya. Saat aku tanya kenapa, ia cuman bilang...
"Aku sudah selesai. Aku berangkat dulu," dengan wajah murung ia melangkah pergi.
"Hati-hati di jalan," kata ibunya yang tidak dihiraukan Rosse.
Ada apa dengannya? Semalam ia baik-baik saja. "Bibi, Rosse kenapa?"
"Tidak tahu. Sejak tadi ia murung terus. Mungkin karna hari ini adalah hari perigatan kematian ayahnya yang ke empat tahun," jelas bibi Marry.
"Oh... Jadi hari ini perigatan hari kematian Mr. Hartley. Wajar saja Rosse murung. Ia pasti sangat merindukan ayahnya," aku saja yang baru beberapa hari jauh dari keluargaku sudah sangat merindukan mereka. Apalagi Rosse yang sudah empat tahun lamanya.
"Sore nanti bibi mau mengajaknya pergi ke pemakaman ayahnya. Kau mau ikut?"
"Setelah kalian pulang sekolah kita berangkat bersama-sama. Ya sudah, Cepat habiskan sarapanmu, nanti terlambat."
"Iya," dengan cepat aku menghabiskan sarapanku lalu berajak pergi ke sekolah.
Sampai di sekolah, ruang kelas. Hari yang tadinya mendung kini telah menjatuhkan butiran air. Hujan cukup deras membasahi seisi kota dan sekitarnya. Aku tidak terlalu memperhatikan pelajaran hari ini. Pikiranku masih memikirkan tentang arwah ayah Rosse semalam. Begitu singkat aku melihatnya, namun aku jelas mengetahui perasaan kerinduan itu. Rosse juga sama. Ia terus-terusan murung seperti cuaca hari ini. Yang membedakannya cuman sang awan sudah menjatuhkan airnya agar langit cerah kembali. Akankah Rosse juga harus menjatukan air matanya agar bahagia kembali? Meluapkan semua emosi itu dalam tagisan.
Jam demi jam berlalu. Aku tidak menyapa Rosse apalagi mengajaknya bicara. Biarlah ia menghabiskan waktu hari ini untuk sendiri. Saat istirahat tiba kulihat ia tidak ke kantin. Ia masih duduk di kursinya sambil melamun kosong. Rosse tidak sarapan pagi ini sekarang tidak makan siang juga. Ha... Sebaiknya aku belikan sesuatu saja untuk ia dimakan. Nanti jadi sakit lagi kalau tidak makan. Aku ke kantin seorang diri. Aku membelikan ia roti manis dan air mineral.
"Ini makanlah," aku meletakan roti dan air mineral itu di atas mejanya. "Jangan sampai sakit nanti."
Rosse tidak berkata apapun, tapi ia juga tidak menolak pemberianku. Aku kembali ke mejaku sendiri. Aku juga tidak mengharap ia akan memberi jawaban. Sudah menerima pemberianku dan tidak menolaknya juga sudah bagus untukku. Aku membarikan kepalaku di atas meja dengan rasa bosan seketika menghampiri. Aku melirik Rosse yang sedang memakan rotinya. Raut wajahnya tidak berubah tapi ia sedikit tersenyum. Hm... Apa yang dipikirkannya? Apa ia merasa senang aku perhatian padanya?
.
.
.
.
.
.
ξκύαε