My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Tahapan perubahan terakhir



Tanda-tanda perubahan telah aku rasakan sendari tadi dan semakin menyiksa. Baju hangat ku juga telah aku tanggalkan karna hawa panas. Kini aku cuman mengenakan baju kaos hijau daun tak berlengan dengan rok mini. Aku juga melepaskan jam tangganku dan sekarang itu ada pada Lisa. Udara dingin di sekitar ku benar-benar tidak terasa sama sekali di kulit ku. Yang ada hanya hawa panas menyelimuti sekujur tubuhku dan itu membuatku berkeringat. Sangking panasnya rasanya tubuhku seperti di bakar di atas apa yang membara. Aku tidak sanggup berdiri lagi. Aku terduduk terlutut dengan keringat menetes di pelipisku dan membasahi tubuhku. Bibik Emely seketika berjongkok di samping ku lalu mengelus kedua pundak ku.


"Bibi..." kataku dengan sulitnya. Aku memejamkan mataku menahan sakit.


"Tidak apa Rin. Kau pasti bisa."


"Sttt... Aku, tidak kuat lagi. Hoshh... Hoshh... ARRGHH...............! ! ! !"


Aku merasa seluruh tulang-tulangku bergeser perlahan dan itu menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat di sekujur tubuh. Aku semakin membungkukan tubuhku ke depan menahan sakit. Aku tidak bisa bisa membayangkan bagaimana Sherina menghadapi ini semua dari tahap awal sampai tahapan kelima. Aku yang mengalaminya pertama kali ini rasanya tidak tahan lagi dan berharap agar semua ini cepat berakhir. Pandanganku hampir hilang tapi aku harus bertahan. Kalau aku pingsan ditengah-tengah perubahan maka aku akan gagal.


"Bertahanlah Rin. Sedikit lagi, kau pasti bisa," ujar ayah memberi semangat.


"A... Ayah... Hoshh... Ssttt! Aku, benar-benar tidak, bisa bertahan lagi. Hosh... ARGHH............... ! ! !"


Raung ku sekali sebelum akhirnya aku tersengkur di atas salju. Aku sempat melirik mereka yang menatapku penuh kekhwatiran, terutama Mitéra. Aku mencoba tersenyum padanya sebelum pandanganku benar-benar menghilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku kembali merasakan udara dingin di musim salju ini. Aku membuka mataku perlahan dengan rasa sedikit pusing di kepala. Apa aku berhasil? Atau gagal? Setelah pandangan ku membaik, kulihat mereka semua sudah ada di sekelilingku. Tatapan mereka sama melihatku, seperti tidak percaya dan takjub. Ku alihkan pandanganku ke tanganku. Astaga! Aku berhasil. Sekarang aku memiliki sepasang kaki serigala. Aku menoleh kebelakang melihat sekujur tubuhku. Kini tubuhku telah berbalut helaian bulu putih yang menyatu dengan salju.


"Selamat sayang. Kau berhasil," kata ayah.


"Wow... Rin. Akhirnya tahapan perubahan mu selesai," ujar Sofia.


"Baguslah, setidaknya kau tidak akan kehilangan kendali lagi dan menyerang orang," sambung Rosse.


Aku melihat mereka turut senang, namun... Aku memalingkan muka ku ketika melihat Mitéra. Aku tidak sanggup menatap wajahnya. Apa dia mau menerima ku dalam wujudku seperti ini? Aku sesekali melirik padanya. Tanpa di duga Mitéra tiba-tiba memeluk erat tubuhku sambil mengelus lembut buluku. Aku sedikit terkejut dengan reaksinya.


"Kau cantik," bisiknya. Lalu ia melepaskan pelukannya. "Kau bisa berdiri?"


Aku merasa kebingungan. Bagaimana caranya berdiri? "Tidak. Aku tidak bisa. Aku tak tahu caranya," kataku yang tidak dimengerti oleh mereka. Aku melirik Sherina minta bantuannya.


["Itu mudah. Angkat kedua kaki depanmu lalu kaki belakang," jelasnya.]


Aku mencoba itu seperti apa yang di katakan Sherina, tapi aku mala tersungkur ke depan. "Ini sulit."


"Kenapa kakak tidak bisa berdiri? Bukannya ia sudah bisa dan bahkan sampai berlari, seperti waktu itu," kata Lisa kebingungan.


"Andai kau tahu kalau itu bukan aku," batinku.


"Ini pertama baginya. Wajar bukan ia belum bisa berdiri. Rin belum sempat berlatih kan," ujar bibi Emely.


"Dan juga kemampuan pengendaliannya belum stabil. Untuk perubahan hari ini, Rin sudah dapat mengendalikannya sepenuhnya," sambung ayah menjelaskan.


"Tidak apa. Aku akan mengajarimu."


"Bisa mendengar ku, Rin?" kata bibi Emely mengunakan telepati.


"Iya."


"Bagus. Aku akan mengajarimu berdiri. Ini mudah. Pertama-tama angkat kaki depanmu seperti ini..." bibi Emely mempraktekkannya padaku. Ia mengangkat kaki depannya dengan sangat mudah. "...kemudian angkat kaki belakangmu."


"Em..." aku mencoba apa yang bibi praktekan padaku. Kenapa aku yang mencobanya menjadi sangat sulit? Kaki ku gemetar karna belum terbiasa menyeimbangkan diri dengan berat badanku saat ini. Sering kali aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tumpukan salju. Tapi itu tidak membuatku berhenti mencoba.


["Hei, mau aku bantu?" tawar Sherina.]


["Tidak perlu. Aku ingin bisa melakukannya sendiri."]


Beberapa kali mencoba akhirnya aku berhasil, walau kaki ku masih sedikit gemetar tapi aku sudah bisa berdiri tegap dan mempertahankan keseimbangan tubuhku. Sekarang apa?


"Bagus Rin. Sekarang melangkah lah."


"Melangkah?"


Kini aku kebingungan antara kaki depan dan kaki belakangku. Aku mencoba dengan melangkahkan satu kaki depan tapi mala kaki belakangku tersandung kaki sendiri. Hal hasil aku terjatuh lagi dengan keadaan moncong duluan terbenam di salju.


"Benar-benar menjengkelkan," kataku setelah mengangkat wajahku dari tumpukan salju.


["Hahaha........" Sherina hanya tertawa dengan lucunya ketika melihatku.]


"Hati-hati Rin," ujar ibu.


Aku berusaha berdiri lagi, lalu mengibas-ngibaskan buluku yang kini di penuhi salju akibat sering terjatuh. Tapi sayangnya hal itu berdampak pada yang lain.


"Rin.....! !" bentak mereka bersamaan.


"Maaf."


"Ayok coba lagi. Kaki depan kanan, kaki belakang kiri," bibi Emely menunjukan caranya padaku. "Kaki depan kiri, kaki belakang kanan."


Aku melakukan apa yang bibi ajarkan. Aku masih sedikit kebingungan dan masih sering tersandung. Aku terus mencoba sampai lama kelamaan aku terbiasa. Aku mempercepat langkahku mengitari mereka. Terlihat semua orang senang begitu aku bisa melakukannya. Terasa mulai stabil aku mulai berlari dan melompat kesana kesini. Aku memberi isyarat pada mereka bahwa aku sudah bisa melakukannya. Tapi itu tak berlangsung lama. Karna terlalu senang atau memang tidak memperhatikan langkahku. Lagi-lagi aku terjatuh ke tumpukan salju yang lebih tebal. Hal itu menyebabkan seluruh tubuhku terbenam ke dalam tumpukan salju dan hanya menyisakan ekor dan kaki belakang saja. Semua orang tertawa melihatku kesulitan keluar dari tumpukan salju itu.


"Hahaha........ Makanya kak, jangan terlalu senang dulu," kata Lisa tertawa begitu lucunya.


Aku berusaha keluar dari tumpukan salju itu tapi aku cuman bisa mengeluarkan kepalaku saja dari sisi lainnya. Ku lirik tajam pada Lisa yang masih tertawa. Aku mengambil ancang-ancang dan dengan satu kali lompatan aku berhasil lolos dari tumpukan salju tersebut. Aku berlari menghampiri Lisa lalu melompat menodongnya dengan kaki depanku sampai ia terjungkal kebelakang. Seluruh tubuhnya kini tenggelam dalam salju.


"Haha... Keadaan berbalik sekarang."


"Rin.....!!" Lisa bangkit dari tumpukan salju sambil menatap kesal padaku. "E.... Rasakan ini!"