
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Setelah kejadian dikoridor tadi kini Rosse mulai akrab denganku. Ia tidak sedingin sebelumnya ketika aku ajak berbincang. Ia sudah mau menanggapi dan juga sedikit bercerita atau menjawab diselah-selah aku bertanya. Aku jadi heran, bagaimana bisa kejadian yang menegangkan dapat membuat hati Rosse sedikit terbuka? Tapi aku tidak terlalu memperdulikan itu. Bukankah sekarang kejadian tadi memiliki hikma yang baik bagi kami.
Pulang sekolah seperti biasa aku dan Rosse pergi berkerja. Hari yang cerah dengan pelanggan tidak seramai kemarin. Perkerjaan hari ini terbilang cukup santai, namun masih belum dapat dipastikan malam nanti. Apa akan menjadi lebih ramai dari sekarang? Tidak apa ramai, aku juga menyukainya. Paling... Kami akan kelelahan seperti malam kemarin. Hari ketiga berkerja, aku sudah mulai terbiasa. Aku membereskan piring dan cangkir kotor yang berserakan diatas meja lalu membawanya ke dapur belakang. Melayani pelanggan yang mamanggil untuk memesan.
Ada satu kejanggalan yang sedikit membuatku bertanya-tanya. Setelah jam tujuh, tiba-tiba kak Cia berencana menutup kedainya lebih awal. Saat aku tanya kenapa, ia hanya menjawab ada urusan yang mau ia selesaikan. Entah mengapa ada pirasat tidak enak dalam benakku. Tobi, Rian dan Hanna juga terlihat berbeda dari biasanya. Mereka bersikaf acu tak acu padaku, cuman kak Cia dan Rosse saja yang tidak begitu. Apa yang berusaha mereka sembunyikan dariku? Dan apa kaitannya denganku? Kenapa mereka bersikap seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku sendari tadi tapi aku usahakan untuk tidak terlalu memikirkannya.
Saat hendak beres-beres untuk menutup kedai, Tobi menyodorkan kopi latte pada kami. Tanpa kecurigaan aku menerima kopi itu dengan aku yang mendapat giliran terakhir. Aku menyerumput kopi tersebut ketika kulihat yang lain begitu menikmatinya. Em... Kopi panas memang sangat pas dikalah malam di musim seperti ini. Baru dua kali serumputan tiba-tiba kepalaku pusing. Rasa sakit menyerang seperti ditusuk-tusuk jarum. Pandanganku mulai berputar dan akhirnya menghilang. Aku jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di lantai kedai ini. Hal terakhir yang aku lihat mereka tersenyum padaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku membuka mataku perlahan setelah efek obat bius yang mereka berikan menghilang. Aku meyadari diriku telah terikat dikursi dengan keadaan tangan ada dibelakang. Seluruh lampu di kedai ini dimatikan kecuali lampu kecil yang tepat berada di atas kepalaku. Aku melirik ke sekeliling, ruang gelap ini masih ruang kedai dimana aku pingsan sebelumnya. Aku berusaha melepaskan ikatan tali yang melilit pergelangan tanganku. Sangat sulit! Ikatan ini kuat sekali. Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku secara penuh. Kemungkinan efek obat bius itu masih tersisa sedikit.
"Kau sudah sadar Rin?" muncul dari kegelapan kak Cia menghampiriku. "Atau... Aku harus memanggilmu Miss. Morgen."
Aku sangat tersentak mendengarnya. Apa kak Cia sudah mengetahui identitasku? "A... Apa yang kak Cia bicarakan? Aku... Aku bukan Miss. Morgen. Apa yang terjadi? Kenapa aku terikat disini?"
"Kau tidak perlu berpura-pura lagi. Rosse sudah menceritakan semuanya pada kami," kata Tobi muncul dari sisi kananku.
"Rosse?"
"Maaf Sherina. Aku butuh dana lebih," sekarang Rosse muncul dari sisi kiriku.
Apa?! Aku... Aku tidak menyangkah, ternyata memang benar Rosse yang memberitahu mereka. Jadi selama ini... Perubahan sikapnya siang itu.... Apa bagian dari rencananya? Lalu, yang lain... Rasa kedekatan seorang teman yang mereka berikan. Canda tawa selama dua hari sebelumnya. Apa semua itu bohong?!! Aku masih tidak percaya apa yang terjadi. Semua yang mereka lakukan selama ini hanya untuk menjebakku dalam rencana mereka. Hatiku hancur. Kepercayaan ku diinjak-injak oleh mereka seperti rumput di tanah. Kenapa kalian tega melakukan ini?
"Aku benar-benar tidak percaya Rosse! Kau... Kau tega melakukan ini semua. Dan lagi, apa maksudmu dana lebih?" tanyaku meminta penjelasan dari Rosse dengan tatapan marah.
"Kau tidak sepintar yang aku kira," tiba-tiba Rian muncul di belakangku yang membuatku meliriknya. "Menurutmu bagaimana? Sekelompok orang menyandra gadis dari keluarga kaya. Kemungkinan terbesar itulah yang terjadi."
"Kalian mau minta tebusan dari keluargaku? Itu tidak akan terjadi!!" bentakku pada mereka.
"Kenapa kau berpikir kalau itu tidak akan terjadi? Apa orang tuamu tidak mau menebusmu? Tidak mungkin kan. Aku dengar kalau keluarga Morgen itu sangat kaya. Jika kami meminta beberapa ribu dolar... Aku rasa mereka tidak keberatan, demi putri mereka satu-satunya," ucap kak Cia sambil tersenyum menyerigai.
"Tidak. Bukan itu. Aku cuman berpikir rencana kalian akan gagal karna aku bisa melarikan diri dari tempat ini sebelum kalian meminta tebusan itu," aku mencoba mengalikan waktu agar aku bisa melepaskan ikatan ini.
"Kau percaya diri sekali dapat kabur dari sini?" Rian berpindan mendekati kak Cia. "Kau tidak akan bisa membuka simpul yang aku buat secara khusus itu."
Aku hanya menatap tajam pada mereka satu-persatu. Memang benar aku cukup kesulitan melonggarkan ikatan ini. Cuman ada satu cara yaitu mengulur waktu lebih lama agar aku bisa mengumpulkan kekuatanku untuk memutuskan tali ini.
"Aku memang sangat percaya diri. Sebaliknya kalian, apa sudah merasa takut? Karna jaring yang kalian tebar ternyata berlubang."
"Semua orang kaya itu sama saja ya? Mulut mereka terlalu sombong, padahal ujung belati sudah mengarah ke leher," kata Rosse membalas.
"Cih! dasar kau Rosse," gerutuku kesal.
"Kau mamang benar Rosse. Jikalau memang ia berhasil melepaskan diri, kita jauh lebih unggul darinya yang cuman seorang diri," ucap Tobi.
Aku baru menyadari ternyata selama ini ia bersembunyi dibelakang kakaknya. Wajahnya terlihat jelas sangat ketakutan. Ia sendari tadi terus menggegam erat liontin kalungnya. Inilah yang membuatku tidak habis pikir. Bisa-bisanya gadis sepolos Hanna mau ikut-ikutan dalam aksi penculikan rendahan ini.
"Ada apa Hanna?" tanya kak Cia begitu lembut.
"A... Aku lihat di internet kalau... Miss. Morgen itu adalah seorang manusia serigala."
"Ah, aku perna dengar kabar itu," tatapan kak Cia yang ia tujukan padaku seperti ada maksud tertentu.
"Hei, bagaimana kalau kita buktikan saja?" saran Rian.
"Ide bagus," Rosse begitu cepat langsung menyetujuinya.
"Apa... Apa yang ingin kalian lakukan?" aku harus segerah pergi dari sini sebelum mereka melakukan hal-hal aneh padaku.
"Aku pernah dengar kalau manusia serigala itu tidak tahan dengan benda yang terbuat dari perak," kata Tobi.
"Iya. Kulit mereka akan terbakar jika bersentuhan dengan perak," sambung Rian membenarkan.
"Kebetulan sekali. Aku punya liontin perak," kak Cia melepaskan liontinya yang berbentuk belati kecil tidak lebih besar dari telunjuk.
"Belati itu terlalu kecil. Sini, biar aku sulap menjadi besar."
Kak Cia menyerahkan liontin itu pada Rian. Dengan menggunakan beberapa trik, entah bagaimana tiba-tiba liontin itu berubah menjadi besar seukuran pisau biasa. Aku begidik ngeri melihat belati yang begitu mengkilap memantulkan cahaya lampu. Walau belati itu tumpul di kedua sisinya tapi benda itu tetap saja perak yang dapat melukaiku. Aku tidak bisa diam saja seperti ini. Jika benda itu sampai mengenai ku, mereka akan tahu identitas ku sebagai manusia serigala. Aku tidak mau membuat masalah yang sebelumnya bertambah buruk.
Rian berjalan mendekat sambil memain-mainkan belati itu ditangannya. "Em... Aku harus membuat goresan dimana ya? Apa di wajah cantikmu ini saja?"
"Tidak Rian. Aku mohon jangan lakukan itu," aku mencoba memohon padanya.
"Tidak apa-apa Rin. Kami cuman mau membuktikan apa benar kau itu seorang manusia serigala?" Rian semakin mendekatkan belati itu ke pipiku. "Kau tidak seharusnya takut bukan?"
"Menjauh lah dariku ! ! !" teriakku lantang.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε