My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Aku sudah tidak tahan lagi melihatmu Sindy!



"Sudahlah, saya juga bukan orang yang tidak beperasaan. Saya tidak akan memperpanjang masalah ini," aku berlalu pergi sambil menarik tangan Rosse.


"Terima kasih atas kemurahan harinya, Miss. Morgen."


Aku tidak memperdulikan kata-kata terima kasihnya. Aku menarik Rosse menuju meja kami di ikuti ayah dan ibuku. Meja kami adalah meja yang paling besar diantara meja lainnya dan terdapat berada ditengah-tengah. Wajar saja kan, ada empat keluarga dalam satu meja ini. Keluarga Morgen, keluarga Dicaprio, keluarga Hartley dan keluarga Livitt. Semua orang kini diminta menempati meja masing-masing karna acara akan segera dimulai.


"Selamat malam kepada seluruh tamu undangan yang menyempatkan hadir pada malam ini..." ujar pembawa acara memulai acara.


Beberapa kata ia sampaikan tidak begitu menarik bagiku. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa bosan. Acara malam ini menjadi sangat membosankan. Ditambah lagi pertemuanku dengan Sindy tadi benar-benar mengganggu suasana hatiku. Aku masih kesal padanya. Ingin sekali menonjok wajahnya yang menjengkelkan itu. Aah...! Aku meremas apa saja yang aku pegang untuk melampiaskan amarahku. Hidangan yang disajikan pelayan tidak kucicipi sama sekali. Semuanya tidak menarik selerahku. Aku cuman memain-mainkannya saja.


"Rin, aku mau ke kamar mandi dulu," kata Rosse sambil menepuk punggung tanganku.


"Mau kutemani?"


"Tidak perlu. Cuman sebentar kok," Rosse berdiri lalu beranjak pergi.


"Cepatlah kembali," kataku sebelum ia pergi.


Kupandangi ia yang berjalan diantara meja-meja tamu sampai bayangannya hilang diantara pelayan. Lima menit, sepuluh menit, Rosse tidak kembali. Kemana dia? Katanya hanya sebentar. Aku minta izin pada ibu untuk mencari Rosse. Ada perasaan khawatir kalau-kalau Rosse dalam bahaya.


...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


Jangan salahkan aku Rosse. Salahkan dirimu karna aku tidak bisa menyentuh Miss. Morgen itu. Biarlah dendam hari ini aku lampiaskan padamu. Tenang saja, tidak akan ada orang yang akan membantumu.


"Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"


Ketika hendak kembali dari kamar mandi tiba-tiba Rosse tidak bisa menggerakan tubuhnya. Seketika ia sadar kalau itu ulah dari Sindy saat Sindy berjalan mendekat. Rosse tidak dapat berteriak, membuka mulut saja rasanya seperti terkunci. Mantra pengikat yang diarahkan Sindy juga membungkam mulut Rosse agar ia tidak dapat berbicara. Dan juga agar mempermudahkan Sindy membawah Rosse keluar tampa dicurigai oleh siapapun.


"Kenapa Rosse kau menatapku seperti itu?" tanya Sindy dengan senyuman. Sekarang mereka ada ditaman belakang yang jaraknya jauh dari keramaian acara. "Apa kau marah padaku? Tenang saja, tidak akan ada yang datang menyelamatkanmu. Jangan kau pikir kalau kau ada di kediaman keluarga Morgen aku tidak bisa menyentuhmu," Sindy mengitari Rosse lalu berbisik diteliganya. "Kau itu tidak lebih dari sekedar kerikil dikediaman ini."


Kalimat itu membuat pandangan Rosse meredup. Walau keluarga Morgen memperlakukan keluarganya dengan sangat baik tapi tetap saja, siapa dia? Ia bukanlah bagian dari kediaman ini. Keluarganya hidup disini karna belas kasihan keluarga Morgen. Ia sadar itu.


"Kenapa? Apa kau sempat berpikir kalau kau itu merupakan nona dari kediaman? Hahaha... Lucu sekali," Sindy tertawa dengan lantang sambil melangkah sedikit menjauh dari Rosse. "Sadarlah Rosse, bahkan pelayan disinipun tidak akan ada yang memperdulikanmu walaupun aku membunuhmu."


Sindy mengangkat telapak tangannya ke atas. Seketika perlahan tubuh Rosse melayang di udara. Tiba-tiba muncul kilatan listrik menyengat Rosse. Hal itu membuat Rosse berteriak kesakitan.


"Aaaaaah.........!!!!"


"Berteriaklah Rosse. Berteriaklah sekecang-kencangnya. Rasakan rasa sakit itu. Kalau bukan karna kau aku tidak akan di permalukan dalam perjamuan malam ini. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan saja Miss. Morgen itu karna aku tidak bisa menyentuhnya. Jadi terima saja nasibmu."


"Sindy! Beraninya kau!!!"


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


"Sindy! Beraninya kau!!!"


Aku melesat cepat ke arah Sindy dan langsung menendangnya. Hal hasil Sindy terpental jauh lalu tersungkur ke tanah. Mantra yang ia tujuhkan pada Rosse hilang seketika. Dengan sigap aku menangkap Rosse sebelum ia terjatuh. Tubuhnya kini sangat lemah. Ia berusah melihatku dengan mata setengah terpejam. Rasa sakit akibat segatan listrik itu pasti masih ia dirasakannya.


"Maaf, maafkan aku Rosse. Aku terlambat menyelamatkanmu," kataku merasa bersalah karna tidak cepat datang menyelamatkannya.


"Rin? Apa yang kau lakukan disini?"


"Omong kosong apa yang kau bicarakan? Tentu saja aku datang untukmu. Sudahlah, istirahat saja disini," aku membaringkan Rosse direrumputan. "Biar aku yang mengurus gadis sialan itu," tatap tajam kutujukan pada Sindy.


"Rin," Rosse menahan tanganku dengan tatapan khawatir.


"Tenang saja. Aku akan berusaha untuk tidak berubah."


"Matamu sudah berubah."


"Jangan khawatir."


"Aaau... Apa yang terjadi?" rintihnya.


"Apa yang terjadi? Aku rasa kau lah yang harus menceritakannya padaku. Apa yang kau lakukan pada Rosse?"


"Rin? E... Maksudku Miss. Morgen. Bagaimana bisa kau ada disini?" kata Sindy yang terkejut atas kehadiranku.


"Kau tidak perlu tahu. Jawab saja pertanyaanku," kataku dengan dingin


"Dengar ya aku tidak memiliki masalah denganmu. Lagi pula dia hanyalah kalangan bawah. Kenapa kau begitu membelanya?"


"Apa itu jawabanmu?," aku melepaskan satu persatu sepatu hak tinggiku lalu meleparkannya kesembarang arah. "Kalau begitu bersiaplah."


"Apa?!"


Aku melesat cepat ke arah Sindy dan langsung meyerangnya. Sindy temundur cukup jauh karna seranganku. Ia beruntung bisa dengan cepat membentuk dinding perisai disekitarnya. Jadi ia tidak mengalami luka. Tidak apa. Ini masih belum berakhir.


"Kenapa kau tiba-tiba menyerangku? Apa karna untuk gadis rendahan itu?!!"


"Gadis rendahan? Lalu kau itu apa?"


"Ayoklah derajatku lebih tinggi darinya."


"Derajat? Kenapa kau berpikir derajatmu lebih tinggi darinya? Kau itu bahkan tidak pantas membawakan sepatunya!"


"Kenapa kau begitu membelanya? Ia tidak pantas untuk kau belain!" oceh Sindy membuatku semakin muak.


"Biarpun kau menyakiti seekor semut dikediaman ini tanpa alasan. Aku tetap akan menghajarmu. Tapi kau mala menyakiti Rosse, temanku. Tentu saja kau harus membayarnya!!"


Aku kembali menyerang Sindy. Tapi yang tidak aku duga ia berhasil mengeluarkan mantra yang dapat membentuk cambuk api. Ia mengayunkan cambuk itu ke arah padaku. Menyadari hal tak terduga, dengan sigap aku menghidar mundur. Ujung cambuk itu berhasil menyetuh kulit lenganku. Sedikit darah mengalir di lenganku.


"Hm, menarik," Aku hanya tersenyum.


"Aku tidak akan sungkan lagi biarpun kau itu Miss. Morgen. Kau benar-benar telah merehmekanku. Apa kau lupa kalau aku seorang penyihir? Kau tidak akan bisa menang dariku," terlihat ia sangat bahagia bisa menjadi penyihir amatiran.


"Masih belum bisa dipastikan."


Aku menjulurkan tanganku menatangnya. Sepertinya itu berhasil. Ia sangat marah. Ia mengayunkan cambuknya membabi buta. Aku hanya menghidarinya saja. Aku bahkan tidak menggunakan kekuatan lebih untuk menghidari serangannya itu. Ayunan cambuknya lemah sekali.


"Hah! Mau sampai kapan kau menghidar? Kau tidak akan bisa lolos dari cambuk apiku. Sekarang teman penyihirmu itu tidak ada disini. Apa yang kau harapkan dapat menang dariku?"


"Memang sulit melawanmu yang pertarung jarak jauh. Tapi mengalahkanmu aku tidak perlu meminta bantuan Sofia," sudah cukup menghindar beberapa kali kini aku berhasil menangkap ujung cambuknya.


"Dasar bodoh! Berani sekali kau menangkap ujung cambukku. Itu bisa membuatmu terbakar sampai jadi abu!"


"Benarkah?" aku menarik cambuknya dengan kuat sampai ia terpental.


"Aaah...!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε