My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Penyambutan



Jam 16.33 Perchye datang dengan parsel besar buah-buahan dan bunga mawar sebanyak hari selama aku koma. Itu rangkaian bunga mawar yang besar. Dimana ia mendapat bunga mawar sebanyak itu di musim dingin ini? Wajahnya yang begitu kurindukan kini ada dihadapanku, sedang kesulitan membawa apa yang ada ditangannya. Di letakannya parsel buah-buah itu di atas meja disamping tempat tidur dan untuk bunga mawarnya ia serahkan padaku. Aku menerimanya.


"Aku sangat bahagia kau telah sadar kembali Rin. Setiap hari, setiap waktu aku selalu memikirkan mu, mengharapkan kesadaranmu. Terima kasih telah kembali," katanya sambil mencium punggung tanganku.


Tapi aku merasa sikap hari ini Perchye seperti ditahannya. Ada apa ini? Semua orang ada di ruang tunggu disebelah kecuali... Pandanganku tertujuh pada paman Fang yang duduk di sofa yang sedang sibuk dengan leptopnya. Apa mungkin Perchye takut dengan paman Fang? Ah, aku ingat Lisa perna cerita kalau paman Fang perna menyeret Perchye dan Onoval keluar ketika mereka pertama kali berkunjung. Aku lupa kalau sebenarnya paman Fang tahu siapa jati diri Perchye yang sebenarnya.


"Oh, iya Perchye. Apa kau perna bertemu dengan ayah dan bibiku?" tanyaku.


"Tidak. Mr. Li melarangku bertemu mereka," jawab Perchye pelan sambil melirik paman Fang.


"Syukurlah," aku menghembuskan nafas lega. Setidaknya ayah dan bibi tidak tahu siapa Perchye yang sebenarnya.


"Memangnya kenapa aku tidak boleh bertemu dengan ayah dan bibiku?"


Aah... Pertanyaan yang tidak aku harapkan. Aku melirik paman Fang minta bantuan tapi bukankah semakin mencurigakan kalau paman Fang nanti tidak mau memberi jawaban.


"Eh... Itu, itu karna..." aku berpikir mencari alasan yang masuk akal. Tatapan Perchye yang menanti jawaban membuatku semakin gugup. "Karna... Ayahku tidak suka aku dekat dengan seorang pria. Iya, iya karna itu. Kata ayahku lebih baik pentingkan sekolah dulu baru pacaran. Jika ayahku melihat kita dekat begini pasti aku tidak diperbolehkan lagi bertemu denganmu."


"Lalu bagaimana dengan bibimu?"


"Aah... Itu, itu karna bibiku tukang pengaduh," kataku dengan cepat mencari alasan sembarangan. Kulihat paman Fang menahan tawa mendengar alasan ku itu.


"Oh... Aku kira kenapa."


Cukup lama kami berbincang. Setiap ceritanya selalu menarik ditelingaku. Apalagi tentang ia yang baru saja kembali dari latihan bertahan hidup klan manusia serigala Β (Beta). Sebagai calon penerus klan latihannya jauh lebih berat dari peserta lain. Selama pelatihan bertahan hidup ia tidak diberi bekal apapun. Ia benar-benar harus berjuang dengan tangan kosong di dalam hutan belantara sambil menjalankan misi. Terdapat berbagai peralatan yang disebar dalam hutan tersebut tapi letak peralatan itu ada di daerah berbahaya. Pinggir jurang, sarang hewan buas, dasar sungai yang deras dan semakin berbahaya tempatnya semakin berguna juga alat yang di dapat. Tapi terkadang para perserta latihan lebih memilih merebut barang-barang tersebut dari peserta lainnya. Perkelahian memang mungkin tidak terelakan. Pelatihan bertahan hidup ini terkadang menelan korban jiwa. Karna memang tujuan dari pelatihan ini untuk membentuk prajurit manusia serigala yang tangguh dan juga kuat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu. Akhirnya aku sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, walau sebenarnya kondisiku sudah jauh lebih baik setelah lima hari sadar dari koma. Tapi dokter menyarankan menginap lagi beberapa hari untuk mematau kondisiku apa benar-benar sudah pulih kembali.


Rumah yang menjadi tempat berlindung ku dari kecil sampai sekarang masih seperti dulu. Yang membedakannya hanya rumah ini semakin ramai. Yang dulunya cuman aku sendiri bersama ayah dan ibu, sekarang aku memiliki dua keluarga yang menjadi satu, saudara, teman-temanku dan peliharaan tersanyangku Angel. Semuanya lebih dari kata sempurna. Mobil memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu masuk. Barisan pelayan seketika menyambut ku begitu aku keluar dari mobil.


"Selamat datang pulang ke rumah Miss. Morgen," sapa mereka serempak sambil membungkuk.


Apa-apa ini? Tidak seperti biasanya. Apa ini alasannya cuman ayah dan ibu yang menjemputmu pulang dari rumah sakit? Aku sangat menantikan apa yang ada di dalam. Bigitu pintu dibuka lebar tiba-tiba sebuah confetti diluncurkan ke arahku dan bersamaan dengan itu...


"Selamat datang pulang ke rumah Miss. Morgen."


Aku dikejutkan dengan sambutan mereka yang riang. Walau sederhana tapi semua orang yang pedulikan padaku berkumpul di sini. Patéras, Mitéra, Lisa, paman Alan, bibi Emely, Mia, bibi Marry, Rosse, paman Jaseph, bibi Tori, Sofia dan Jimmy. Mereka semua hadir menyambutku dengan senyuman. Tepat di dekat mereka ada meja makan dengan berbagai hidangan di atasnya. Ternyata mereka berencana membuat jamuan makan malam bersama. Tidak jauh dari mereka aku melihat paman Fang berdiri tepat disamping kado berukuran besar setinggi satu meter.


Dengan senang aku bergegas menghampiri paman Fang. Aku mengitari kotak kado tersebut sambil bertanya-tanya apa isinya. Penasaran, langsung kubuka saja. Isinya adalah sebuah boneka beruang raksasa. Waw... Sangat tidak terdunga. Aku melirik paman Fang dengan raut wajah datar. Semua orang tahu kalau aku tidak suka boneka beruang.


"Terima kasih paman Fang," kataku tanpa ekspresi.


"Ah... Maaf. Saya memberikan hadiah yang salah. Ini itu mu," sambil tersenyum paman Fang memberikan kotak kecil persegi yang terbuat dari kayu namun panjang.


Aku menerima itu dengan senang kembali. Aku langsung membukanya. Diletakan dalam balutan kain merah sebuah seruling yang terbuat dari kayu berukir begitu indah. Ini baru aku menyukainya. Aku mencoba memainkan suling tersebut, nada yang dihasilkan jauh lebih indah dari kebanyakan suling yang perna aku mainkan.


"Terima kasih paman Fang. Ini suling terbaik yang pernah aku mainkan."


"Aku turut senang kau menyukainya wolf kecil. Oh, iya Miss. French, bagaimana kalau kau saja yang mengambil boneka itu?" tunjuk paman Fang pada boneka beruang yang masih terduduk manis


"Sungguh? Aku boleh memilikinya?"


"Jika kau suka, tentu kau boleh memilikinya. Saya ingat belum memberimu hadiah selamat datang seperti Miss. Hartley."


"Wah... Terima kasih Mr. Li," dengan riang Lisa langsung memeluk boneka yang hampir setinggi tubuhnya itu bila diangkat.


"Sudah, sudah. Ayo makan bersama nanti hidangannya dingin lagi," ajak bibi Marry.


Kami menempati kursi masing-masing, disamping kananku ibu, samping kiriku Lisa, sebelah Lisa Mitéra dan Patéras lalu sebelahnya lagi Rosse dan bibi Marry. Disamping ibu ayah, dihadapanku bibi Emely yang di kirinya paman Alan dan sebelah kanannya Mia yang bersebelahan dengan Jimmy, lalu sebelah Jimmy berturut-turut bibi Tori, paman Jaseph, Sofia dan berhadapan jauh dengan ayah paman Fang. Mengerti?


.


.


.


.


.


.


ξκύαε