
"Hihi... Becanda," kak Cia beranjak pergi sambil tertawa kecil meninggalkan kami.
Ini jauh lebih baik. "Ha, mari kita bersihkan tempat ini. Sstt...?!"
Ketika hendak bangun, tiba-tiba siku ku menyentuh sesuatu yang panas dan membakar. Sontak aku menarik siku ku bersamaan dengan refleksku menyipitkan sebelah mata menahan sakit. Aku melirik apa yang baru saja menyentuh kulitku. Ternyata itu adalah liontin perak milik kak Cia yang ia gantung di salah satu kelopak Lotus hiasan kepala kursi. Aku menutupi siku yang terluka mengunakan telapak tangan untuk menghindari kalau yang lain melihatnya.
"Kau kenapa?" tanya Rosse keheranan melihat reaksiku yang singkat tadi.
"Apanya yang apa?" tanyaku balik.
"Terserah lah," Rosse berjalan menjauh dengan wajah datar khasnya.
"Fiuh... Untung ia tidak menyadarinya," batinku.
Kami mulai membereskan seluruh kekacawan ini, dan tentu saja aku dan Rian yang bertanggung jawab menyusun kembali meja serta kursi yang berserakan. Tobi juga ikut membantu kami karna ia juga terlibat dalam porak-porandah tempat ini. Kak Cia dan Rosse bertugas mengumpulkan pita-pita dan balon yang berserakan. Sedangkan Hanna, ia tidak disuruh melakukan apapun sebab ia mungkin saja sudah lelah telah menyiapkan semua hidangan tadi. Walau kulihat ia masih bersemangat melempar-lemparkan balon ke udara. Hanna terlihat seperti gadis kecil yang bahagia memainkan mainannya. Jiwa anak-anaknya yang selama ini ia pendam karna sedikit malu untuk memperlihatkannya, meluap semua di malam ini.
Senyum bahagia tepancar dari wajah imutnya itu. Aku mengerti perasaan Hanna. Ia jelas terlihat menekankan perasaannya sendiri agar ia terlihat jauh lebih dewasa dari usianya. Dan aku rasa penekanan itu sudah ia lakukan sejak anak-anak. Bukan tampa alasan dan sebab, ia melakukan itu. Ia cuman tidak mau menyusahkan orang lain seperti kakak atau keluarganya untuk menuruti semua keinginannya saat ia masih kecil. Mungkin saja pada massa itu ia menginginkan sesuatu yang sama seperti dimilik teman-teman seusianya. Tapi, sebab dalam kondisi tertentu ia tidak mau meminta itu. Masa lalu apa yang dialami gadis imut ini sampai ia harus memendam keinginannya untuk memiliki sesuatu namun tidak mau menyusahkan orang lain? Dan juga ia berusaha tetap bahagia dengan apa yang ia miliki selama ini.
Hampir selesai kami membereskan tempat ini. Kulihat tidak ada satupun barang yang rusak. Hanya ada beberapa barang yang lepas dan harus diperbaiki seperti semula. Aku terus saja melamun saat menyusun secara terbalik kursi di atas meja. Pikiranku melayang entah kemana meninggalkan tempatnya. Ketika aku sedang merapikan beberapa kursi di meja terakhir, tiba-tiba aku dikagetkan dengan kehadiran Rian yang menyodorkan plester luka padaku.
"Siku mu terluka. Pakai ini," katanya lembut.
"Oh," aku melirik siku ku yang terluka. "Haha... Aku tidak menyadarinya. Pasti karna saat bertarung dengan Tobi tadi," aku pura-pura tidak mengetahuinya.
Rian tidak berbicara, ia hanya menatapku dengan senyum kecil di wajahnya. Rian berjalan mendekat, sangat dekat sampai aku dapat merasakan nafasnya yang hangat. Ia membungkukan badannya dan mendekatkan bibirnya ke arah telingaku. Aku tidak dapat menghindarinya karna di belakangku ada meja yang menghalangi. Kedua tangannya juga ia sadarkan ke meja di sisi kanan dan kiriku, membuat aku benar-benar terkunci.
Lalu ia berbisik. "Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi, Miss. Morgen. Aku sudah melihatnya sendiri dengan jelas kalau siku mu terluka karna liontin perak milik kak Cia kan? Gadis serigala."
Aku tersentak mendengarnya, berbarengan dengan itu seperti ada aliran panas yang seketika naik dalam tubuhku. Rian mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke mataku tampa merubah posisi kami. Aku balik menatap matanya. Mata coklat manis itu seperti menunggu penjelasan dariku. Aku merasa sudah tertangkap basa atas apa yang aku perbuat. Apa yang diinginkannya? Apa ia mau aku mengakui semua itu? Bagaimana kalau ia memberitahu yang lain soal ini? Aku mencoba berpikir, mencari alasan untuk menyangkal penglihatannya itu.
"Aku... Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Rian. Mana... Mana mungkin perak dapat membakar kulit. Kau pasti salah lihat."
"Aku memilik liontin perak yang sama dengan milik kak Cia," Rian mengeluarkan liontin tersebut dari balik krah bajunya. "Kau bisa menyentuhnya sendiri. Kita buktikan, penglihatanku yang salah atau kau memang berusaha menyangkalnya."
Aku memalingkan muka, tidak mampu menjawab perkataan Rian. Aku merasa sedikit kesal saat terpojok seperti ini. Terlebih lagi aku tidak dapat membalasnya. Aku harus bagaimana? Rahasia yang seharusnya aku jaga ternyata terbongkar disini. Dan itu terjadi karna ketidak hati-hatianku.
"Ikut aku," katanya kemudian.
Aku berdiri tepat di pinggir atap bangunan yang hanya terpisahkan tembok setinggi pinggang dengan jalan raya di bawahnya. Nuansa kota kecil di malam hari sangat damai. Titik-titik terang menghiasi secara acak beberapa gedung dan rumah-rumah. Jalan pun tidak luput dari sinar penerangan itu. Dari atas sini aku dapat melihat hampir keseluruhan kota. Tepat di arah jam sebelas, aku lihat ada gedung besar berlantai empat tampa ada satupun lampu yang menyala di gedung tersebut. Itu adalah bangunan sekolah, tempat dimana Rosse mencari pengetahuan dan juga aku yang baru dua hari ini.
"Kau mengajakku ke atas cuman mau memperlihatkan pemandangan ini?" tanyaku tampa memalingkan muka dari bulan purnama yang memukau.
"Dasar manusia serigala, kau bahkan tidak mau berkedip ketika melihat bulan purnama," ujarnya. Ia memandang jauh ke depan.
"Tidak perlu menjadi serigala. Semua orang pasti takjub jika disuguhkan dengan pemandangan seindah ini," aku menundukkan kepalaku berbalik menolah pada Rian.
Mendengar itu ia menoleh padaku. "Kau masih berusaha tidak mau mengakuinya? Tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapapun."
"Tidak ada alasan kau mau aku mengaku atau tidak."
"Sebenarnya... Dulu aku perna bertemu langsung dengan manusia serigala. Namun pertemuanku itu, dia dalam wujud perubahannya," dari nada bicaranya Rian terdengar sangat serius.
"Benarkah?"
"Iya. Lebih tepatnya aku diserang oleh manusia serigala itu."
"?!" aku sangat terkejut mendengarnya. Jika memang Rian pernah diserang manusia serigala, bukankah seharusnya ia takut, benci, marah atau tidak mau melihatku saat ia tahu kalau aku salah satu dari makhluk yang perna membuatnya trauma? Tapi kenapa sikapnya masih seperti ini?
.
.
.
.
.
.
ξκύαε