
"Maaf menggangu. Mungkin ini bisa menjelaskan semuanya," Mr. Li mendekati keluarga itu dengan keranjang bayi ditangannya. "Saya menemukan keranjang ini di kamar Rin. Em, maksud saya Miss. Morgen," Mr. Li terlalu terbiasa memanggil Miss. Morgen dengan namanya. "Maaf, seharusnya saya memberitahu hal ini dari awal. Beberapa hari lalu Miss. Morgen sepertinya sedang mencari keberadaan orang tua kandungnya, dan keranjang bayi itu ia dapat dari panti asuhan tempat ia diadopsi." jelas Mr. Li.
"Keranjan ini..." Zedna langsung mengambil keranjang bayi itu. Air matanya mulai mengalir ketika ia melihat semua isinya. Didekapnya selimut yang dulu ia gunakan untuk menyelimuti tubuh putri kecilnya itu. "Maafkan ibu Keyla! Huaaaa...aah..."
Carlos menarik istrinya dalam pelukannya untuk menenangkan hati yang penuh penyesalan. Ternyata benar putri keluarga Morgen adalah anak kandung mereka yang perna dititipkan di sebuah panti asuhan.
"Keyla..." Cloey tersentak mendengarnya. Keyla adalah nama asli Rin. "Untuk apa kau menanggis?"
"Apa?" pertanyaan itu membuat Zedna menoleh pada Cloey yang matanya sudah berlinang.
"Untuk putri yang telah kau telantarkan itu?" Cloey menggeleng dengan air mata membasahi pipinya. "Kau tidak pantas menangisinya! Ibu macam apa kau? Setega itu kau mentelantarkan darah dangingmu sendiri dalam kondisi terlemahnya! Oh... Rin putriku, kau harus kuat sayang," Cloey menutup wajahnya sambil menangis terseduh-seduh.
"Kami terpaksa. Keadaan kami sangat memprihatikan saat itu," Zedna mencoba menjelaskan sambil menangis.
"Kami sungguh tidak ada niat melakukannya. Hanya itu satu-satunya cara agar ia tidak menderita bersama kami," ujar Carlos ikut menjelaskan kondisi mereka.
"Tidak menderita? Apa kalian tahu? Itu adalah penderitaan terbesarnya ketika kalian memutuskan untuk mentelantarkannya ! ! Dalam kondisinya seperti itu tidak ada satupun keluarganya yang memberi semangat disaat-saat kritis!" Derek kali ini benar-benar emosi. Cloey menahan tangan suaminya agar tidak melakukan tindakan diluar dugaan.
"Kami tidak tahu kalau Keyla menderita penyakit jantung bawaan. Saat ia dilahirkan kondisinya baik-baik saja," kata Zedna dalam isak tangisnya.
"Keadaan kami saat itu sangat kacau. Perusahaan tempat aku berkerja mengalami kebangkrutan. Semua karyawan dipecat tanpa terkecuali. Beberapa minggu kemudian terjadi kebakaran yang menyebankan rumah dan semua barang kami hangus terbakar. Aset rumah, harta, benda dan surat-surat penting lainnya lenyap dalam kobaran api," Carlos berusaha menjelaskan situasi mereka pada waktu itu.
"Bagaimana dengan asuransi?" tanya Derek menahan amarah namun masih dalam tatapan membunuh.
"Semuanya sudah habis membayar hutang di bank, hanya tersisa sedikit untuk menghidupi kami beberapa hari kedepan. Aku juga berusaha untuk tidak melakukan itu. Aku sudah berkerja kesana kemari untuk menambah penghasilan suamiku, tapi itu masih tidak cukup. Kami sudah beberapa kali pindah kontrakan karna telat membayar dan terakhir kami diusir. Aku tidak tega melihat putri kecil kami kedinginan di udara malam yang hujan. Saat itulah aku melihat sebuah panti asuhan dan dengan pikiran gila aku meletakan bayiku di depan pintu panti asuhan tersebut. Aku hanya berharap dia tidak akan kedinginan lagi," jelas Zedna panjang lebar.
Cloey dan Derek terdiam. Mereka mulai mengerti tidakan suami istri ini menitipkan bayi mereka di panti asuhan. Jika mereka dalam posisi yang sama mungkin tidakan yang sama pula akan mereka lakukan.
"Apa sudah selesai... Pertengkaran kalian?" ujar Lisa yang sendari tadi diam. "Yang lalu biarlah berlalu, yang akan datang mari dihadapi. Sudah lama sekali aku mendambakan seorang saudara. Kini aku memilikinya, tapi kenapa kami dipertemukan dalam kondisi seperti ini? Kakak ku sedang berjuang di dalam sana antara hidup dan mati, tapi kalian mala bertengkar disini. Apa itu yang diingikan oleh kakak ku? Ia akan sangat sedih melihatnya."
"Lisa..." Zedna berjongkok di depan putrinya itu lalu ia menariknya dalam pelukannya. "Maaf, maafkan kami."
"Hiks... Hiks... Huaaaa.....aaaah....aah...! Hiks..." tangis Lisa mengisi lorong rumah sakit tersebut.
Keadaan sunyi. Diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Bendungan air mata sudah habis terkuras. Dokter belum kunjung keluar dari ruang operasi. Perasaan mereka campur aduk, tidak bisa dijelaskan. Zedna membelai lembut rambut Lisa yang tertidur di pangkuannya. Ia terlalu lelah sehabis menangis sampai-sampai tertidur. Derek sibuk membalas pesan untuk memberi tahu lokasi rumah sakit, letak kamar dan no berapa serta lantai berapa mereka ada sekarang pada keluarga lainnya yang sedang bersiap-siap datang berkunjung.
Tak lama dokter keluar dari ruang operasi. Sama seperti sebelumnya Cloey lah yang pertama kali bertanya.
"Bagaimana kondisi putri saya, dok?"
"Operasi berjalan sukses, namun..." dokter itu tertunduk. Ia terlihat tidak tega memberitahu apa yang terjadi pada seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.
"Namun apa? Katakan dok!" pinta Cloey dengan mata mulai berlinang.
"Pasien mengalami koma dan tidak bisa dipastikan kapan akan sadar. Saya permisi," dokter itu berlalu pergi.
Cloey terdiam diri mematung. Ia terduduk lemas dilantai dengan tatapan kosong. Air mata perlahan-lahan mengalir di pipinya. Ia tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Derek mendekap istrinya itu dalam pelukannya, namun Cloey tidak merespon sama sekali. Ia tetap diam. Sedangkan Zedna berusaha untuk tidak bersuara dalam tangisnya. Ia tidak mau membangunkan Lisa yang masih tertidur. Lisa akan sangat sedih jika mengetahui hal ini. Zedna sungguh sangat terluka hatinya. Baru beberapa menit ia bertemu dan mendengar suara dari putri pertama mereka setela sekian lama, tapi kenyataan mempertemukan mereka dalam kondisi seperti ini. Apakah ini sebuah hukuman yang harus mereka terima?
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
...(Huaaa... Aku terlalu terbawa perasaan menulis bagian ini)...