My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kepergian



Hari Natal tiba. Untuk menyambutnya sekolah mengadakan pentas lakon drama. Dan seperti yang kita tahu penerang utama wanita dalam pentas ini adalah Lisa. Awalnya Lisa sama sekali tidak ingin ikut dalam pentas ini. Latihan terakhir saja ia tidak hadir lagi. Ia teringat dengan perkataan Rin yang berharap dapat melihatnya tampil diatas panggung. Tapi Rin saja masih terbaring koma di rumah sakit. Pihak sekolah mala langsung turun tangan membujuk Lisa agar ia mau tampil karna tidak ada pemeran lain yang dapat menggantikannya. Pertunjukan tidak dapat berjalan jika tidak ada pemeran utama wanitanya. Dengan terpaksa ia menjalankan tanggung jawabnya. Lakon yang ia mainkan tidak sepenuh hati. Jiwanya sama sekali tidak jatuh dalam cerita. Sesuatu hal yang sangat ia sukai menjadi hal yang membosankan. Sebagian pikirannya ada dirumah sakit. Bahkan sebelum berangkat saja ia sempat menangis di samping ranjang kakaknya.


"Kumohon bangun kak. Bukankah hari ini kau ingin melihatku bermain diatas panggung? Kenapa kau masih belum membuka mata mu? Aku merindukan pertengkaran kita. Hiks... Hiks..."


"Miss. French kita harus berangkat sekarang, kalau tidak kau akan terlambat," kata Mr. Li menunggunya di depan pintu.


"Jangan bersedih sayang. Suatu hari nanti kakak mu pasti dapat melihat pertunjukan mu. Kita berangkat ya. Semua temanmu disekolah kini sangat menantikan sang ratu pentas drama beraksi diatas panggung. Kau tidak ingin mereka kecewa, kan?" bujuk ibunya.


"Tak apa Lisa. Rin pasti sangat bahagia jika kau hadir di pentas itu. Kalian berangkatlah, aku akan menjaga Rin," kata Cloey ikut membujuk Lisa.


Dengan berat hati Lisa berjalan keluar dari kamar kakak nya. Diliriknya terus sampai bayangan pintu itu menghilang belokan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua bulan berlalu. Keadaan masih sama. Rin masih belum sadarkan diri dari tidur panjangnya. Teman dan keluarga silih berganti berkunjung. Harapan di kunci kuat dalam pikiran dan hati. Perchye hampir setiap hari datang. Ia akan duduk disamping Rin sampai matahari terbenam. Sedangkan Onoval biasanya datang setiap akhir pekan tiba. Dan tentunya kedatangan mereka selalu di pantau langsung oleh Mr. Li. Ya setidaknya jangan sampai mereka berdua bertemu dengan Derek dan Emely.


Penempatan waktu yang sempurna memungkinkan mereka tidak bertemu. Perchye akan datang setelah pulang sekolah sampai matahari terbenam. Derek biasanya dalam jam-jam seperti itu masih di kantor. Sedangkan Emely tidak bisa sering-sering datang. Ia harus menjaga Mia dan paling datang saat libur tiba. Perchye tidak bisa datang diakhir pekan. Ia masih harus mengikuti pelatihan manusia serigala muda. Sebagai calon pemimpin klan latihan Perchye dua kali lipat lebih berat dari yang lain, dan seminggu terakhir ini ia baru saja mengikuti pelatihan bertahan hidup. Untuk Onoval Mr. Li menyarankan ia menekan aurahnya agar tidak ada yang tahu dan menyadari siapa dia sebenarnya. Walau Onoval masih tidak mengerti sama sekali tapi ia tidak bisa mengetahui alasannya.


Seperti biasa Derek dan Carlos datang setelah matahari terbenam. Sebenarnya Carlos sudah diangkat menjadi wakil Derek diperusaan setelah melakukan tes yang panjang. Cloey dan Zedna silih berganti menjanga Rin. Mereka sudah salih terbuka satu sama lain dan terlihat sangat akrab. Dalam kesempatan yang ada mereka akan melakukan kegiatan kesukaan bersama, seperti memasak. Lisa, Sofia dan Rosse juga telan menjadi teman baik. Sekarang ini mereka tengah asik berbincang diruang tunggu. Ketenangan itu tiba-tiba hancur saat sesuatu yang tidak dinginkan terjadi.


Tit... Tit... Tit... Tiiiiiiiiiiiit..............


Garis hijau di monitor mulai menujukan garis panjang tiada henti. Hal itu menandakan detak jantung pasien telah menghilang. Derek yang pertama kali menyadari bergegas berlari keluar mencari dokter agar dapat dengan cepat menolongnya. Semua orang dalam ruangan itu panik termasuk Rosse, Sofia dan Lisa yang segera menghampiri. Cloey dan Zedna terus mamanggil nama putri mereka. Tidak ada jawaban. Air mata mulai mengalir tiada henti-hentinya. Rasa tidak percaya terus diulang-ulang dalam pikiran. Harapan yang di pendam hancur seketika.


Dokter yang dipanggil dengan cepat datang bersama perawat. Semua orang dipersilakan keluar dari ruang pasien. Mereka pergi ke ruang tunggu di sebelah sambil melihat keajaiban yang mungkin akan terjadi. Dokter menyiapkan alat AED untuk memicu detak jantung pasien. Hanya ini pertolongan pertama apabila pasien mengalami henti detak jantung mendadak. Beberapa menit kemudian terlihat dokter menghentikan upaya penggunaan alat AED. Ia terlihat menggelengkan kepala kepada perawat. Semua orang mengerti apa yang terjadi, Rin tidak dapat tertolong. Semua alat kesehatan dilepaskan satu persatu. Dokter menghampiri mereka dengan wajah tak berdaya.


"Maafkan kami. Kami tidak dapat menolongnya."


"T I D A K . . . . . ! ! ! ! !" teriak Cloey tidak terima. "Anakku tidak mati!"


"Saya turut berduka cita. Mohon relakan kepergian putri anda."


"Tidak....!! Kenapa penderitaan ini terulang kembali padaku!"


Cloey berlari menghampiri Rin yang semua alat kesehatannya sudah di lepas. Cloey menangis sejadi-jadinya sambil memeluk putrinya yang sudah tak bernyawa. Zedna Pingsan karna shock setelah mendengar kabar itu. Ia segera di bawa ke ruang lain untuk mendapat pertolongan. Lisa, Rosse dan Sofia tak kuasa menahan tangis atas kepergian sahabat mereka. Yang paling kehilangan adalah Sofia. Sendari kecil mereka sudah tumbuh bersama. Bermain, canda, tertawa, sedih, sakit, pertengkaran telah mereka lewati sampai sekarang. Hukuman ini terlalu berat bagi mereka semua. Sosok yang dinantikan telah pergi.


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Hah?! Kau mengagetkanku," aku sedikit terkejut dengan kehadiran Sherina yang tiba-tiba berdiri di samping ku.


"Hei, aku bertanya padamu."


"Ayoklah jangan sedingin itu. Ini pertama kalinya kau berbicara padaku. Waktu terakhir kita bertemu kau hanya diam saja dan menatapku seperti ingin memakan ku."


"..." ia hanya diam tanpa ekspresi.


"Aku mau tanya, kau kan sudah mati sejak bayi tapi kenapa jiwamu masih tumbuh layaknya jiwa yang hidup? Bukankah roh tidak bisa tumbuh lagi setelah kematiannya?" tanyaku penasaran.


"Kau ini benar-benar bodoh atau apa?"


"Hah?" kata-kata Sherina membuatku tidak mengerti.


"Tubuhku memang sudah mati sejak bayi tapi jantungku tetap hidup dalam tubuhmu. Jiwaku hidup dan tumbuh bersamamu selama jantungku terus berdetak. Apa kau tidak merasakan hal itu?"


"Tidak."


"Oh, aku tahu. Ternyata karna kau aku tidak dapat mengendalikan kekuatan manusia serigala."


"Apa otakmu tertinggal setelah kematianmu?"


"Hihi... Becanda. Aku ngerti maksudmu kok."


"Hm!" Sherina mendengus kesal. "Kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kau ada disini?"


"Aku... Tidak tahu," kataku pelan sambil menunduk. "Aku cuman merasa kalau hidupku itu memang sudah berakhir."


"Kau menyia-nyiakan jantung yang aku berikan. Kau bahkan tidak mau berjuang untuk hidup. Lihat apa yang telah kau lakukan? Kau membuat mereka sedih," tunjuk Sherina pada semua orang yang menangis di samping jasad ku.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Terserah padamu. Aku malas mengurusimu," Sherina berbalik pergi.


"Hei... Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu."


Aku mengejar Sherina yang sudah jauh meninggalkanku. Tapi sebelum itu aku merasakan tatapan hangat menatapku yang membuat aku menoleh. Ternyata perasaan itu datang dari ibuku, Cloey. Ia melihatku sedih dengan air mata membasahi pipinya. Ibu menangis dalam pelukan ayah. Aku tersenyum padanya lalu berbalik mengejar Sherina.


"Sherina! Tunggu aku!"


"Ah! Menjauh lah dariku," ia mempercepat langkahnya.


"Ayoklah hanya kau lah yang aku kenal disini," aku terus mengejarnya.


"Bukankah kau banyak teman hantu? Pergi! Ganggu mereka saja."


"Tidak mau. Aku maunya menggagumu."


"Apa kau ingin mati?!!"


"Aku memang sudah mati. Kembali kesini dan jadilah kucing manis."


"Aku benci kucing!!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε


.


(Huaaah... aku janji tidak akan kapok menulis momen sedih lagi. Tidak! Aku terlalu emosianal.)