
"Sejak kapan ayah sudah bisa berjalan?" pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan pertama kali ketika melihat ayah keluar dari mobil.
"Hari senin dokter sudah menyarankan ayah untuk berlatih berjalan. Sekarang sudah jauh lebih baik."
"Jadi, apa kau mau pulang bersama kami atau masih mau disini?" tanya ibuku kemudian setelah ia selesai dengan Rosse.
Aku melirik sekilas Rosse yang sendari tadi mengelus beberapa kali kedua pipinya. "Bisa kita habiskan akhir pekan di kota ini?" kataku dengan tatapan memohon.
"Baiklah. Pulanglah lebih awal, kami akan menunggumu di rumah Mrs. Hartley. Kita bisa makan malam diluar," elus lembut ibu dikepalaku.
"Kau mewarnai rambutmu?" tanya ayah setelah mengacak-acaknya.
"Tidak permanen. Cuman bertahan seminggu."
Ayah dan ibu melakah pergi meninggalkan kami bertiga. Aku hanya melihat mereka sampai bayangan mereka hilang dari balik pintu. Hah... Jadi semuanya sudah berakhir. Aku sekarang bisa kembali ke kehidupan biasaku lagi. Bagaimana kabar teman-temanku di sekolah? Sudah lama aku tidak bertemu mereka mulai sejak awal mula masalah ini muncul. Aku senang karna semuanya telah berakhir dengan baik. Namun ada rasa sedih juga menyelimuti hatiku. Aku terpaksa harus meninggalkan kota keci ini. Walau cuman sebentar tapi kota ini sudah memberi kenangan manis buatku.
Aku tidak dapat berkeja di kedai Lotus lagi. Kak Cia, Hanna, Tobi dan Rian, aku berterima kasih pada mereka. Karna merekalah aku dapat melupakan masalah itu untuk sesaat. Aku pasti menyempatkan waktu untuk berkunjung. Mungkin saja teman-temanku yang lain juga mau ikut. Sudahlah, lebih baik aku menikmati akhir pekan ini dengan jalan-jalan berkeliling kota.
"Kenapa kau masih ada disini?" kataku pada Sofia yang tidak kunjung pergi.
"Ayoklah Rin, aku merasa bosan kalau menunggumu pulang. Lebih baik aku disini."
"Tapi aku dan Rosse masih harus ke kelas. Masa iya kau juga mau ikut?"
"Alah... Boloslah satu pelajaran, lagi pula kau akan pindah lagi ke sekolah lamamu," bujuk Sofia.
"Kau mangajakku melakukan hal yang tidak benar. Terserah kau saja mau ikut atau tidak. Ayok Rosse kita kembali ke kelas," aku berlalu meninggalkan ruang kesenian bersama Rosse.
"Hei... Tunggu aku," Sofia berlari menyusul kami.
Kami bertiga turun satu lantai menuju kelas. Selama perjalan kami bergantian bercerita tentang masa-masa kecil dulu. Sofia jauh lebih berani dari pada aku waktu itu. Dia lah yang membuat aku mau bermain bersama Rosse. Tapi terkadang sifat pemalu ku masih saja ada. Aku bermain bersama Rosse hanya karna Sofia yang menarik ikut bermain. Sebab inilah aku tidak terlalu akrab dengannya. Aku terkadang sering menjaili Rosse agar mendapat perhatian dirinya. Sering kali kami bertengkar karna hal ini. Diingat-ingat lucu juga ya.
Sofia sempat bertanya kenapa aku memberi tahu Rosee kalau ia seorang penyihir. Tentu saja aku menjawab kalau di sekolah ini ada seorang gadis penyihir. Mendengar hal itu Sofia sangat tertarik untuk bertemu dengan penyihir itu. Dan secara sangat kebetulan kami bertemu dengan Sindy di lorong. Ia berjalan sendirin sambil memainkan rambutnya yang bergelombang terurai sampai punggung.
"Sungguh sial aku hari ini bertemu dengan gadis kampung ini lagi," ujar Sindy saat melihatku.
"Dia orangnya," bisik Sofia ditelinga.
"Iya."
"Dia terlihat seperti gadis sombong."
"Memang."
"Hei, kalian jangan berbuat macam-macam!" kata Rosse memperigatkan.
"Tenang saja. Tidak ada orang lain disini."
"Hei! Apa yang kalian bisikan?" Sindy melirik Sofia dari ujung rambut sampai kaki. "Siapa kau? Dari gaunmu... Itu adalah brand Amanecer."
"Oh, gaun ini hadiah dari temanku tahun lalu."
"Cuman hadiah," kata Sindy dengan tatapan sinis.
"Apa maksud tatapanmu itu?"
"Tidak ada. Aku tadi merasa aneh saja kenapa ada orang sepertimu mau bergaul dengan dua gadis miskin ini."
"Miskin?" Sofia menoleh ke arahku dan Rosse. "Yang kau maksud mereka?"
"Menurutmu begitu,"
Oho... Ini akan sangat menarik. Aku kenal betul tatapan dan senyum Sofia itu. Hanya saat ia yakin lebih unggul dari lawan barulah ekspresi itu muncul. Sindy kali ini dalam bahaya. Ia tidak tahu siapa yang baru saja ia provokasi. Aku harap setelah ini ia akan belajar menghormati dan jangan menilai seseorang dari penampilan.
"Kita kesampingkan dulu soal ini. Aku dengar kau itu adalah seorang penyihir. Bagaimana kalau kita bertarung saja?" setelah Sofia menjentikan jarinya muncul bola api di telapak tangannya. Ia melangkah tiga langkah mendekati Sindy.
"Hei, hei! Kalian mau menghancurkan sekolah?!!" bentak Rosse tidak menyetujuinya, namu dihiraukan mereka berdua.
"Tenyata kau seorang penyihir juga. Tidak heran gadis kampung itu bisa lepas dari mantraku waktu itu. Kau pasti mengajarinya."
"Tidak perlu bahas yang lain. Kau berani melawanku tidak?" Sofia sedikit memancing emosi Sindy.
"Siapa takut!" dengan tegas jawab Sindy.
"Rin, kenapa kau diam saja? Cepat hentikan temanmu itu!" pinta Rosse dengan nada khawatir.
"Tenang saja. Sofia tahu batasnya. Ia tidak akan melakukan hal bodoh."
"Bagaimana kalau ada siswa atau guru yang lewat nanti. Dua orang itu bisa saja melukai mereka," Rosse mengutarakan kekhawatirannya.
"Sofia! Gunakan dinding penghalang!" teriakku padanya.
"Baiklah. Ξόρκι φραγμού (Xórki fragmoú)" sambil melafalkan mantra Sofia meletakan sepuluh jarinya dilantai. Muncul kilatan cahaya biru berbentuk bulat diantara kaki Sofia yang kini menyebar sejauh 5 meter kemudian naik sampai langit-langit lorong ini. Kini kami berempat dikepung dinding transparan.
"Wow, apa itu?" kata Rosse sedikit terkejut. Ia berpengang erat pada lenganku ketika cahaya itu melaluinya.
"Itu disebut dinding penghalang. Orang luar tidak akan dapat melihat dan mendegar kita. Apapun yang kita lakukan di sini juga tidak akan melukai orang luar. Jadi kau bebas melakukan apapun," jelasku.
"Astaga, yang seperti ini juga ada."
"Kau hebat juga. Mantra penghalang adalah jenis mantra tingkat tinggi. Sepertinya aku mendapat lawan seimbang," ujar Sindy. Ia sudah bersiap untuk menyerang.
"Benarkah? Kita lihat saja nanti," Sofia juga mulai bersiap.
"Tunggu, tunggu. Kita juga ada dalam dinding penghalang ini. Kita bisa saja terkena serangan mereka!" kata Rosse padaku dengan raut penuh ketengangan.
"Aku rasa begitu. Kita berusaha menghindar saja," ujarku pada Rosse sambil tersenyum.
"Lihatlah kelakuan bodoh kalian bisa membuat kita terbunuh!!" Rosse menarik krah bajuku dengan kesal.
"ξόρκι φωτιάς (xórki fotiás)" Sindy melafalkan sebuah mantra lalu kemudian muncul bola api melayang di telapak tangannya. Ia melemparkan bola api itu untuk menyerang Sofia.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε