
Pandanganku beralih ketika kulihat Tobi sudah jauh. Rumah sederhana dua lantai bercat putih susu dengan halaman depan cukup luas berhiaskan pot bunga. Bibiku satu ini memang memiliki hobi berkebun sejak dulu. Selain itu ada juga pohon besar dan tempat bersantai tepat di bawahnya. Aku melangkahkan kakiku memasuki halaman rumah. Sampai di depan pintu aku mengetuknya perlahan. Tidak ada jawaban. Ku ulangi lagi, namun sama saja. Aku mencoba mengintip melalui jendela, kulihat lampu ruang tamu sudah di matikan.
Apa mereka sudah tidur? Wajar juga sih karna ini sudah sangat larut. Lalu bagaimana sekarang? Aku mencoba satu kali lagi mengetuk pintu ini sambil memanggil nama bibi. Masih saja tidak ada jawaban. Aku sudah hampir putus asah ketika kulihat lampu tiba-tiba menyalah. Tidak lama kemudian pintu dibuka. Seorang wanita seumuran dengan ibuku berdiri tepat di hadapanku. Wajah yang aku rindukan masih seperti terakhir kali kami bertemu. Rambut hitam berkilaunya terkuncir rapih, mata hazel itu begitu lembut dari balik kacamatanya.
"Apa kabar bibi Marry? Maaf atas kedatanganku yang tiba-tiba di tengah malam seperti ini," sapaku pada bibi Marry yang masih mematung.
"Ri... Rin..." kata bibi Marry dengan bibir gemetar. Terlihat jelas dari raut wajahnya Ia benar-benar terkejut melihatku. "Ini benar kau, Ririn? Apa... Kenapa kau bisa ada disini?"
Panggilan Ririn ini sungguh sangat aku rindukan. Bibi Marry lah yang pertama kali mamanggilku dengan sebutan Ririn, sampai seluruh keluarga dan teman-temanku ikut-ikutan memanggilku Rin. "Iya bibi, ini aku..." belum selesai aku bicara bibi Marry langsung memeluk erat tubuhku, aku membalas pelukannya.
"Rambutmu basa? Apa kau kehujanan? Ayok masuk dulu," setelah melepaskan pelukannya bibi Marry menarikku masuk.
Bibi Marry mempersilakan aku duduk dulu, sementara itu ia permisi sebentar masuk ke kamarnya. Aku meneliti rumah ini, melihat ke sekeliling. Ruangan 4×4 m cukup menampung sofa berserta meja, lemari kecil dan tv diatasnya, dinding berhias beberapa foto keluarga, dan di sudut kanan ruangan terdapat tangga penghubung antara lantai atas dan bawah. Tak berapa lama Bibi Marry lembali dengan handuk di tangannya.
"Ini, keringkan dulu rambutmu, nanti masuk angin," Bibi Marry menyodorkan handuk tersebut padaku.
"Terima kasih bibi," aku menerima handuk itu dan langsung aku gunakan untuk mengerikan rambutku.
"Jadi... Kenapa kau tiba-tiba mampir kesini?" tanya bibi sambil duduk disampingku.
Aku terdiam sebentar dengan kepala menunduk. "E... Sebenarnya aku kabur dari rumah."
"Ha, kenapa? Apa kau bertengkar dengan keluargamu atau..." bibi Marry berhenti sebentar membuatku menoleh padanya. "Karna isu yang beredar belakangan ini?"
Aku tersentak mendengarnya. "Bibi tahu tentang isu itu?"
"Iya."
Aku tersenyum tipis. "Beritanya cepat menyebar ya."
"Ririn jadi ini alasannya kau kabur dari rumah. Tapi kau jangan khawatir bibi percaya padamu. Ririnku bukanlah makhluk malam yang seperti mereka pikirkan."
Ah, benar juga. Walau bibi Marry adalah pengasuhku sejak bayi namun ia tidak tahu identitas asli keluarga kami. Aku juga tidak perna memberitahu ia tentang hal ini. Aku takut kalau ia akan menjauhiku setelah tahu yang sebenarnya.
"Jika kau mau bibi bisa bersaksi untukmu," bibi Marry menggegam erat tanganku.
"Terima kasih, aku cuman ingin menginap disini beberapa hari. Bolehkan?"
"Tentu, tentu saja. Kau akan selalu diterima disini."
"Itu sudah cukup bagiku."
"Tapi Ririn, apa tidak apa kau melariakan diri seperti ini?"
"Maksud bibi?" tanyaku bingung.
"Aku tahu tuduhan itu berat bagimu, namun sebaiknya kau berusaha untuk melewatinya bukan menghindar. Kau harus bisa membuktikan kalau dirimu tidak bersalah."
Bibi benar, tidak seharusnya aku menghindar, tapi aku tidak tahu caranya melewati ini semua. Aku tidak bisa menyangkal kalau aku bukan manusia serigala. Video itu. Video itu adalah bukti kuat yang mereka miliki. Bagaimana aku menjelaskan pada masyarakat tampa mengungkap identitasku? Memikirkannya saja aku tidak bisa menahan air mataku. "Aku tidak tahu caranya bibi. Aku sudah berusaha mencari bukti ketidak berlibatan aku dalam masalah ini, namun aku malah memperburuk keadaan."
"Sudahlah, bibi mengerti perasaanmu. Terkadang menghindar juga pilihan terbaik, jangan terlalu membebani dirimu. Kau tinggallah beberapa hari disini untuk menenangkan pikiranmu."
"Sudah seharusnya orang tua melindungi anak mereka. Kami tidak bisa menyalahkanmu. Kau masih terlalu muda untuk menghadapi ini semua. Orang tuamu pasti memaklumi itu. Dengar ini baik-baik, bibi percaya kalau orang tuamu pasti sudah menemukan solusinya," hibur bibi menenangkanku.
"Maaf merepotkan bibi beberapa hari kedepan."
"Tidak merepotkan. Bibi senang dapat bertemu denganmu."
"Ibu kau berbicara dengan siapa?"
Terdengar suara dari atas membuat kami menoleh. Suara seorang gadis yang begitu familyar di telingaku. Ia berdiri tepat di depan pintu kamar lantai atas. Rambut panjang hitam lurusnya terurai sampai ke pingang, mata biru gelap itu menatapku penuh ke bingungan. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, ia sedikit berubah. Aura disekitarnya terasa begitu dingin. Ia adalah Rosselya putri satu-satunya bibi Marry. Aku kenal Rosse saat ia sering ikut ibunya berkerja di rumahku dulu. Umurku saat itu baru 5 tahun. Ibu sering menyuruhku untuk bermain dengannya, namun aku terlalu pemalu untuk kenal dengan orang baru. Selain Sofia aku tidak punya teman lain saat itu. Rosse dulu sangat ceria walau suka bermain sendiri, aku sering mengintipnya ketika ia bermain di taman atau sekedar berkeliling rumah. Aku mengagumi rambut hitam panjangnya itu, karna dia lah yang membuatku mempertahankan rambut panjangku.
"Rosse kau belum tidur?" tanya bibi Marry pada putrinya itu.
"Belum," Rosse melangkah turun menghampiri kami.
"Rosse kau ingat Ririn, putri dari keluarga Morgen tempat ibu berkerja dulu? mereka perna berkunjung tiga tahun lalu," kata bibi Marry memperkenalkanku.
"Ah, iya aku ingat. Tapi tiga tahun lalu saat mereka berkunjung aku ikut perkemahan musim panas."
"Benar juga, kalian berdua tidak sempat bertemu."
"Jadi kau Sherina Morgen," Rosse sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. "Gadis yang dirumorkan sebagai manusia serigala. Hei... Apa kau bisa berubah menjadi serigala sama seperti dalam video itu?"
"Aku bukan serigala," kataku sambil mengkerutkan dahi. aku berdiri membuat wajah kami lebih dekat lagi. Aku bisa merasakan hembusan nafas Rosse.
"Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan video itu?'
"E... Aku..."
"Rosse... Pertanyaan macam apa itu? Kau tahu sendirikan ibu sudah berkerja di kediaman keluarga Morgen kurang lebih 10 tahun. Ibu percaya kalau mereka bukanlah manusia serigala seperti yang dirumorkan. Bukankah kau dulu juga sering bermain di kediaman keluarga Morgen."
"Aku tidak peduli kalau mereka manusia serigala atau bukan. Lalu apa yang dilakukan nona muda ini berkunjung di rumah sederhana kami?" nada bicara Rosse sedikit mengejek.
"Ririn akan menginap beberapa hari disini."
"Apa?!!" teriak Rosse sangat terkejut. Aku dan bibi Marry jauh lebih terkejut lagi mendengar teriakannya. "Ibu ikut aku," Rosse menarik tangan ibunya menjauh dariku, mereka berjalan menuju dapur.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε