
Seketika langkah ku terhenti. Ku lirik dari arah belakangku Sofia, Lisa dan Rosse berjalan menghampiri. Aku tidak percaya ternyata mereka juga mau menghentikan ku. Jadi selama ini mereka telah tahu bahwa eksekusi paman Fang hari ini dan hanya aku yang tidak. Kenapa kalian semua menutupi hal ini dariku? Aku masih tidak percaya paman Fang adalah pengkhianat, tidak ada yang mendukungku sama sekali termasuk teman-temanku.
"Aku tidak percaya ini. Bahkan kalian juga."
"Maaf Rin. Aku terpaksa melakukan ini," kata Sofia dengan nada sedih.
"Kakak..."
Aku menatap redup ke Lisa lalu seketika menajam dan kurasakan perubah di mataku. "Cobalah berusaha menahan ku. Aku ingin lihat seberapa lama kalian bisa melakukannya!!"
"Gawat!"
"Sherina!" panggilku padanya. Cuman dia yang bisa mambantuku pergi dari sini.
"Baik."
Dalam sekejam jiwa kami bertukar. Dalam satu kali lompatan serta geraman tubuhku seketika berubah menjadi serigala putih dan berhasil mematahkan sihir dari Sofia. Dengan cepat Sherina membawaku pergi menuju altar tempat pengeksekusian. Aku tidak memperdulikan raut wajah mereka yang tercengang melihat perubahan wajudku. Sherina terus berlari dengan kecepatan yang ia miliki memasuki kawasan hutan. Tidak sampai semenit akhirnya kami sampai, tapi semuanya sudah terlambat. Sangat terlambat. Pengeksekusian telah selesai. Bahkan sebagian besar dari penonton pengeksekusian telah pulang. Di atas altar itu kulihat ayah, paman Alan, paman Jaseph dan para tertua klan Α (Alpha). Mereka berdiri disana dihadapan genangan darah yang sangat jelas pada hamparan salju putih.
Tidak! Paman Fang tidak mati! Aku masih tidak dapat menerima kenyataan ini. Orang yang begitu baik, selalu ada untukku, membantuku setiap aku memerlukan dan dalam kesusahan, kenapa... Kenapa harus berakhir sebagai pengkhiana dan dihukum mati. Katakan semua ini hanya mimpi!! Tolong... Bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Hiks... Hiks... Aku menangis mendekapkan wajahku di bulu putih nan lembut milik Sherina. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara ayah bergema di kepalaku begitu paniknya.
"Pulanglah Rin!! Sangat berbahaya disini!"
"Apa?" aku mengangkat wajahku dan baru menyadari tatapan semua orang terlihat begitu bergairah melihat Sherina.
"Keyla, sepertinya kita harus pergi dari sini. Ada yang tidak beres dengan mereka," saran Sherina. Ia terlihat telah melangkah mundur ketakutan begitu tatapan semua orang tertuju padanya.
"Ada apa ini?" aku benar-benar bingung dengan situasi yang berubah drastis ini. Sampai salah satu tetua berteriak...
"Semuanya lihat! Dia adalah putri serigala yang diramalkan! Tangkap dia!!" perintahnya pada semua orang.
"Lari Rin!!!" teriak ayah melalui telepati menyuruh kami pergi.
Seketika dengan cepat Sherina berlari kembali memasuki hutan. Semua orang yang ada tersisa di altar itu dalam sekejap berubah menjadi serigala lalu mengejar kami. Aku dan Sherina sangat kebingungan atas apa yang terjadi. Belum selesai aku berduka atas kehilangan paman Fang sekarang kami dihadapkan dengan situasi ini. Apa maksud salah satu tetua klan Α (Alpha) itu mengatakan kalau Sherina putri serigala yang diramalkan? Apa ini berhubungan dengan kenapa jati diriku sebagai manusia serigala dirahasiakan? Untuk sekarang lebih penting bagaimana cara menghindari dari kejaran mereka dan jangan sampai kami tertangkan.
"Bagaimana ini Keyla? Aku tidak bisa terus berlari seperti ini dan mereka semakin mendekat." ujar Sherina yang sepertinya sudah kelelahan.
"Cari tempat bersembunyi dan lakukan perubahan. Mereka tidak tahu kalau serigala putih yang mereka cari adalah aku," saranku.
"Ide bagus."
"Sherina! Awas di depan!!" pekikku.
Belum sempat Sherina mau mencari tempat bersembunyi, ia harus berhenti secara mendadak karna tepat di depan kami ada sebuah jurang dangkal dengan sungai berarus deras dibawahnya. Sherina terlalu kelelahan untuk melompati sungai tersebut. Nafasnya terengah-engah dan berat. Kami terjebak, suara langkah kaki para serigala yang mengejar kami semakin mendekat. Dalam ketegangan itu tiba-tiba muncul serigala hitam dihadapan kami.
"Ayah?!" kata kami serempak dengan nada sama.
"Bicaralah pada ayah, Keyla," ujar Sherina. Ia terlihat tidak sanggup berbicara pada ayah.
"Tidak mau! Ayah telah berbohong padaku! Ayah telah melanggar janjinya!" bentaku dalam tangis ku.
"Ayah akan menjelaskan semuanya setelah kembali ke rumah. Untuk sekarang kau harus pergi dari sini! Jangan sampai mereka menangkapmu. Ayah tidak mau kehilangan putri ayah," kata ayah dengan nada sedih.
"Tidak! Aku tidak mau mendengar penjelasan apapun."
"Keyla, aku tidak bisa bertahan. Maaf."
Sherina terlalu kelelahan sampai kehilangan kesadaran. Kontrol tubuh saat mengalami perubahan masih belum stabil. Jiwaku seketika ditarik paksa kembali masuk ke tubuhku. Seperti pertama kalinya, aku diserang rasa sakit yang teramat menusuk kepalaku. Rasa sakit kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Hal itu membuatku ikut kehilangan kesadaran selang beberapa detik kemudian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika aku terbangun, aku telah mendapati diriku terbaring di tempat tidur kamarku. Kulirik jendela dengan tirai kaca sedikit terbuka. Hari sudah berganti malam. Ingin rasanya aku terbangun dalam keadaan semua itu adalah mimpi. Paman Fang mengetuk pintu kamar ku dengan sapaan halus. Ia biasanya mengingatkanku beberapa hal atau sekedar membawakan sesuatu. Tapi aku tidak dapat mendengar suaranya lagi, tawanya atau raut wajah khawatir itu. Ia sudah pergi. Pergi untuk selamanya. Meninggalkanku yang percaya seutuhnya padanya. Aku menutup mataku, menangis dalam diam. Semua kenangan kebersamaanku dengan paman Fang hanya tinggal memori dalam hati.
Dalam sunyi nya malam, aku teringat perkataan tetua klan itu, yang mengatakan 'putri serigala dalam ramalan'. Ramalan apa yang ia maksud? Kenapa ia menunjuk Sherina sebagai putri serigala yang diramalkan? Apa karna tanda itu? Apa isi ramalan tersebut? Kenapa mereka mala menangkap kami? Semua pertanyaan itu kini memenuhi kepalaku. Aku beranjak dari tempat dan segera bergegas ke bawah. Aku ingin tahu semua secara keseluruhan. Jangan ada rahasia-rahasia lagi. Aku tidak mau mendengar alasan untuk menutupi kebenaran. Sudah cukup aku tidak memperdulikan hal semacam ini. Saatnya aku mengetahui apa itu dunia malam yang sebenarnya.
Aku mendapati mereka ada di ruang keluarga. Ayah, ibu, paman Alan dan bibi Emely. Mereka terlihat mendiskusikan sesuatu, sepertinya tentang masalah ramalan itu. Kebetulan sekali aku juga ini mempertanyakan soal ini. Mereka menoleh padaku begitu aku berjalan mendekat.
"Rin, kau sudah sadar. Syukurlah," ibu hendak mendekatiku tapi dengan cepat aku melangkah mundur membuat langkah ibu berhenti.
"Rin dengarkan penjelasan ayah. Soal eksekusi itu..."
"Tidak! Aku tidak mau mendengar alasan apapun tentang masalah itu. Aku tetap percaya paman Fang tidak bersalah dan ayah sudah melanggar janji ayah padaku. Aku datang kesini cuman sekedar ingin tahu tentang ramalan yang mereka maksud. Jelaskan padaku secara keseluruhan dan jangan ada satupun yang ditutup-tutupi lagi."
"Baiklah. Ratusan tahun yang lalu ditemukan sebuah prasasti batu berukir sebuah ramalan yang memprediksi masa depan. Dikatakan disana, akan ada putri serigala yang lahir dari klan manusia serigala kuno dengan ciri khusus di dahinya. Darah jantungnya merupakan penawar racun taring manusia serigala."
"Tanda di dahi?" potongku.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε