
"Huaaaahh........aah....... Ini semua salahku. Salahku. Hiks... Hiks... Seharusnya aku tidak lagi berada disini. Aku sudah mati sejak lama. Karna aku jiwa kakak menjadi menghilang. AAAH ! ! Aku benci diriku sendiri!"
Derek melepaskan pelukannya. Ia membelai lembut rambut Sherina lalu menatap dalam mata yang penuh air mata itu. "Jangan menyalahkan dirimu sayang. Ini sudah takdirnya. Kita tidak bisa mengubah itu. Andai ayah menyadari kondisinya lebih awal mungkin ia masih bisa selamat."
"Bi, bisa selamat? Maksud ayah?"
"Sebenarnya ayah dan Mr. Guttman telah menemukan cara untuk memulihkan jiwanya yang melemah. Caranya adalah memindahkan jiwa Keyla ke tubuh baru. Tapi kami terlambat memindahkan jiwanya ke tubuh barunya sebelum jiwanya menghilang di detik-detik terakhir."
Sherina tersentak mendengar itu. "Jadi, seandainya aku... Apa yang telah aku lakukan?" batinnya
"Keyla sepertinya sudah memiliki firasat akan hal ini. Ia bahkan meminta ayah membimbing serta menyemangatimu untuk menjalani hidup. Ia tahu kau akan merasa bersalah nantinya."
"Tidak!" potong Sherina. "Aku memang bersalah. Aku telah membunuh kakakku sendiri. Dengan tanganku sendiri aku menusuk nya menggunakan belati. Maafkan aku, kak. Maafkan aku. Hiks... Hiks..."
"Apa maksudmu, Sherina? Apa yang telah terjadi sebenarnya?" tanya Derek minta penjelasan dari putrinya.
"Aku menyerangnya di alam bawah sadar dengan sangat brutal tapi kakak tidak membalas ku dengan serius. Kesal akan hal itu aku seketika menggunakan belati untuk mengakhiri pertarungan kami. Dengan jiwanya yang semakin lemah tentunya ia tidak dapat menghindari seranganku. Hiks... Hiks... Belati tersebut berhasil menembus perutnya yang awalnya aku arahkan ke jantungnya. Disaat seperti itu saja ia masih peduli padaku," jelas Sherina yang tidak henti-hentinya menangis.
"Ja, jadi itu yang terjadi," Derek benar-benar tidak percaya atas apa yang ia dengar.
"Hukumlah aku dengan sangat berat, ayah. Aku pantas mendapatkannya. Aku telah membunuh pemilik asli dari tubuh yang aku tumpangi. Aku sungguh hanya parasit tak berguna yang membunuh inangnya."
"Katakan kalau semua itu tidak benar!"
Derek dan Sherina seketika menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya mereka mendapati Lisa sudah berdiri di depan pintu dengan air mata telah membasai pipinya.
"Lisa?! Ka, kami bisa jelaskan..."
"Jelaskan apalagi?!! Aku sudah mendengar semuanya! Kakak... Hiks... Hiks..." Lisa tak sanggup mengatakannya. Orang yang paling ia sayangi telah pergi dan tak kembali lagi. Ia terduduk lemas di lantai sambil menangis terseduh-seduh.
"Lisa... Maafkan aku," Sherina turun dari tempat tidur dan hendak menghampiri Lisa.
Kletar!!
Sebuah kaca rias pecah seketika. Lisa menatap tajam pada Sherina seraya mengangkat tangannya ke udara. Pecahan kaca yang tajam tersebut melesat cepat ke arah Sherina dan tepat berhenti sesenti lagi dari leher Sherina serta dibagian tubuh lainnya.
"Lisa, aku mohon jangan lakukan ini. Ini bukanlah cara terbaik. Jangan gegabah, nak," pinta Derek dengan sangat pada seorang adik yang baru saja kehilangan kakaknya itu.
"Tunggu apa lagi Lisa? Lakukanlah. Puaskan hatimu dan bunuhlah aku!" kata Sherina dengan air mata tidak henti-hentinya mengalir. Ia maju sampai pecahan kaca tersebut menyentuh kulitnya. Setetes darah mengalir pelan di lehernya.
Lisa menurunkan tangannya bersamaan dengan pecahan kaca itu jatuh ke lantai. Ia memalingkan muka dari Sherina. "Kakak ku pasti tidak menginginkan aku membunuh mu dan juga mengingat kau merupakan putri kandung dari Mr. Morgen. Tapi, jangan perna sesekali memperlihatkan ekspresi menjijikan itu di depan ku! Aku tidak sudi melihat wajah kakak ku sendiri terlihat menyedihkan seperti itu. Kau bukanlah kakak ku. Kau tidak akan bisa menggantikannya!!"
Lisa berlalu pergi menuju kamarnya sendiri setelah membanting pintu dengan sangat keras. Ia tidak memperdulikan Derek yang terus memanggilnya berulang kali. Hati Lisa terlalu sakit menerima kenyataan ini. Baru kurang lebih dua bulan ini Lisa merasakan kasih sayang seorang kakak yang begitu menyayangi nya. Kenapa hal ini terjadi pada Lisa? Apa salahnya sampai ia harus dihukum sedemikian rupa? Dalam tangisnya Lisa mengingat-ingat kembali momen kebersamaan ia bersama kakaknya.
"Hiks... Hiks... Kakak... Kenapa, kenapa kau meninggalkanku? Padahal kau sudah berjanji. Kenapa?!! Kenapa kau melanggar janji tersebut?!! Huaaaahh..........ahh....... Kakak pembohong!!"
Dengan sangat kesal Lisa melemparkan apa saja yang ada di dekat nya. Salah satu barang yang ia lempar tepat mengenai bingkai foto yang tergantung di dinding. Lisa turun dari kasurnya lalu menghampiri tempat foto yang terjatuh itu. Diraihnya foto tersebut. Sebuah foto keluarga disaat perayaan ulang tahun Keyla. Kenangan itu masih sangat segar diingatan Lisa. Didekapnya dengan sangat erat foto tersebut dalam pelukannya.
"Hiks... Hiks... Kakak. Apa salahku? Kenapa aku harus dihukum kehilangan orang yang aku sayangi? Baru sesaat aku merasakan kasih sayang mu tapi sekarang kau telah pergi dan tidak akan kembali lagi. Hiks... Hiks.... Aku mohon kembalilah, kak. Aku membutuhkan mu untuk menyisir rambutku lagi."
Disamping itu, kali ini Sherina yang terduduk di lantai diantara pecahan kaca.
"Padahal Keyla memintaku untuk menjaga adiknya, tapi apa yang telah aku lakukan? Pertemuan pertama kami saja aku sudah membuat Lisa begitu membenciku. Benar katanya, aku tidak mungkin bisa menggantikan Keyla. Kalau seperti ini lebih baik aku..."
Sherina memungut pecahan kaca di lantai dan hendak menggores pergelangan tangannya sendiri. Dengan cepat Derek menghentikan itu. Ia merebut pecahan kaca tersebut dari tangan Sherina lalu melemparkannya sejauh mungkin.
"Hentikan itu Sherina! Apa yang hendak kau lakukan? Jangan melakukan hal bodoh!"
"Jangan hentikan aku ayah. Biarkan aku menebus dosaku. Aku tak sanggup hidup dalam rasa bersalah seperti ini."
Sherina memungut pecahan kaca yang lain tapi sebelum itu terjadi, Derek sudah mengangkat tubuh Sherina dan memindahkannya ke sofa.
"Sherina, dengan cara ini tidak akan menyelesaikan apapun, malahan akan memperburuk keadaan."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kau cukup melakukan satu hal sayang. Tetaplah hidup."
"Tidak. Aku tak bisa. Aku tak akan bisa menggantikan Keyla."
"Pasti bisa. Ayah akan membantumu. Jangan hancurkan harapan Keyla. Jangan biarkan pergobanannya menjadi sia-sia. Apa yang ia lakukan ini demi kebahagian keluarga kita. Ia tidak mau melihat ibu, Patéras, Mitéra, adiknya dan teman-temannya merasa sedih. Coba pikirkan apa jadinya jika mereka melihatmu melakukan itu? Hati mereka akan sangat terluka sayang."
"Tapi..."
Derek mengusap air mata di pipi Sherina. "Awalnya ayah juga tak sanggup menerima kenyataan ini. Tapi, ayah harus kuat. Ayah punya tanggung jawab besar dari Keyla untuk memberimu semangat melanjutkan perjalanan hidupnya."
"Lalu, bagaimana dengan Lisa? Orang yang paling ia tidak inginkan mengetahui hal ini malahan orang yang pertama mengetahui kepergiannya."
"Ayah akan membujuknya untuk tidak memberitahu orang lain. Lisa pasti mengerti. Kau jangan khawatirkan dia. Lebih baik kau istirahat. Ayah harus menemui Lisa sebelum ia melakukan hal nekat sama sepertimu."
"Aku benar-benar telah menghancurkan hatinya."
"Lisa adalah gadis yang baik. Lambat laun dia akan menerimamu. Jangan bersedih lagi," Derek membelai rambut putrinya dengan lembut, setelah itu ia melangkah pergi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε