My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Bianglala



"Kau... Kau yakin ingin masuk kesana?" kata-kata Perchye terdengar ia cukup takut. ia mundur selangkah.


"Tentu saja. Apa kau takut?" tanyaku menggodanya lagi.


"Ta... Takut? Siapa... Siapa yang takut? Yang benar saja. Aku adalah seorang pria sejati. Mana... Mana ada takut dengan beginian," ia diam sebentar. Ekspersinya sama sekali tidak sama dengan apa yang ia katakan. "Ayok masuk."


"E! Semangat sekali, sepertinya kau memiliki maksud lain?"


"Ayoklah. Bukankah kau yang ingin kesini?"


"Ha..."aku menghelang nafas.


Kami berdua masuk kepermainan rumah hantu ini. Dari dekorasi yang terlihat diluar sangat menyeramkan. Bagaimana dengan bagian dalamnya? Ruang gelap dengan cahaya minim menyambut kami. Lilin bertebar di berbagai sudut sebagai penerangan, jaring laba-laba memenuhi langit-langit dan dinding ruangan. Baru beberapa langka tiba-tiba pintu menutup dengan kerasnya. Hal itu membuat kami terkejut. Tidak ada jalan keluar lain selain menyelusuri lorong.


Boneka menyeramkan kami temui di sepanjang jalan yang kami lalui. Pekaian penuh darah sampai wajah, mata bersinar seolah-olah melirik kami tampa memalingkan pandangan. Suara-suara seram juga terdengar menamba suasana mencekam. Selain hantu-hantu dari mancanegara, Disini juga terdapat boneka berwujud monster-monster melegenda seperti Manananggal, Wendigo, Bubak, Allghoi khorkhoi, Tikbalang, Barghest, Medusa, Vampire, Zombie dan juga Manusia serigala.


Perwujudan manusia serigala sangat berbeda dari yang perna aku lihat dikehidupan nyata. Ayahku masih terlihat lucu dengan wujud serigalanya. Kalau disini manusia serigala digambarkan sebagai mosnter mengerikan bergigi tajam, tubuh besar penuh bulu dengan cakar kuat yang bisa merobek mangsanya. Aku menatap makhluk itu, aku tahu itu hanya boneka tapi aku merasa matanya baru saja berkedip. Tak disangka tiba-tiba boneka itu menoleh padaku dengan mulut mengagah, mata merahnya menatap tajam padaku.


"Aaaa...!!!" teriakku kaget dan hampir terjatuh.


"Kau tidak apa-apa?"


"Makhluk itu menoleh padaku," aku menujuk ke boneka manusia serigala tersebut.


"Itu hanya boneka. Paling ada mekanisme yang mengerakannya."


"Aku cuman kaget."


"Mereka terlalu berlebihan mendiskripsikan manusia serigala," kata Perchye pelan.


"Apa katamu?" aku jelas mendengar ia baru saja mengatakan sesuatu.


"Ah... Tidak ada. Ayok jalan."


Kami kembali menyelusuri rumah hantu ini mencari jalan keluar. Lorong kini berubah menjadi ruangan-ruangan kecil yang terhubung satu sama lain. Disetiap ruangan berisi berbagai macam bentuk penyiksaan. Mulai dari kursi listrik, terdapat boneka di atasnya yang bisa menjerit ketika kursi dinyalakan. Hukum pancung, gantung, penggal mengunakan pedang, dibakar hidup-hidup, mutilasi dan sebagainya.


Untung semuanya hanya boneka. Aku tidak dapat membayangkan kalau mereka adalah manusia sungguhan. Jeritan demi jeritan, teriakan dan tangisan terdengar jelas sangat memilukan. Darah menggenang dimana-mana. Aku merangkul tangan Perchye tampa sadar sepanjang jalan tadi. Walau aku sudah pernah melihat hantu tapi tidak semengerikan ini. Tidak ada percakapan diantara kami sampai Perchye menanyakan sesuatu.


"Rin apa kau percaya tentang makhluk malam?"


Aku tersentak saat mendengarnya. Kenapa ia tiba-tiba menanyakan ini? "E... Apa... Apa yang kau maksud hantu?"


"Iya, salah satu dari mereka."


"Aku pernah melihatnya."


"Benarkah?!"


"Iya, tapi hantu yang aku maksud hanya bayangan putih tidak seseram seperti yang ada disini."


"Bagaimana dengan yang lain? Kau tahukan... Seperti... Vampire atau manusia serigala tadi."


Aku terdiam sebentar. Perchye menanyakan soal ini... Apa jangan-jangan ia pernah melihat mereka? "Haha... Apa yang kau katakan. Merekakan hanya makhluk mitos," kataku sambil menepuk pendaknya. aku tidak bisa membayangkan kalau ia tahu salah satu monster itu ada disampingnya.


"Menurutmu demikian? Ha... Apa yang aku pikirkan."


"Itu benar, itu benar. Untuk apa memikirkan hal yang tidak ada. Dari pada memikirkan itu sebaiknya kita mencari jalan keluar. Disini cukup seram."


"Semuanya idemu."


"Hihi... Ayok pergi dari sini," ajakku karna sudah ketakutan.


"Aku sudah bilang untuk tidak masuk tapi kau maksa," sama takutnya.


"Aaaaaaaa.......!!!!" Teriakku kaget sampai-sampai tampa sadar menonjok pria itu. Terlihat ia sangat kesakitan setelah menerima seranganku. "Maaf...!" kataku sambil berlari menarik Perchye menjauh dari tempat itu. Setela cukup jauh kami berhenti sebentar mencari nafas.


"Aku tidak menduga reaksimu akan seperti tadi," ucap Perchye masih terengah-engah.


"Memang apa yang kau harapkan?"


"Ah... Tidak ada. Bukankah seorang gadis seharusnya tidak menonjok hantu?"


"Aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku kaget setengah mati."


"Kau harus minta maaf baik-baik, bukannya sambil lari," elus lembut Perchye di kepalaku.


Walau penerangannya minim, aku masih bisa melihat senyum manisnya "iya."


Satu jam kemudian, akhirnya kami berhasil menemukan jalan keluar. Aku tidak menyangka akan sesulit ini. Selain bertemu dengan hantu dan dikejar, ternyata rumah hantu ini juga terdapat labirin yang membingungkan, terutama ruang kaca. Kami hampir tersesat. Disana juga terdapat berbagai macam hantu menakutkan. Kali ini aku berusaha menahan diri untuk tidak memukul mereka. Kami kembali ke taman untuk istirahat.


"Huuu... Lelah sekali. Aku masih lebih menyukai Rollercoaster dari pada rumah hantu," Perchye menyandarkan tubuhnya di kursi taman.


"Aku tidak menyangka akan semenakutkan ini," aku mengambil tempat duduk disampingnya.


"Aku tidak mau kesana lagi."


"Hari mulai sore. Sekarang apa?"


"Bagaimana kalau kita naik bianglala itu?" tunjuk Perchye pada wahana yang terletak ditengah taman hiburan.


Tubuhku mulai begidik ngerih. Bagaimana tidak, tinggi bianglala itu setidaknya 70 meter. "Apa tidak ada yang lebih rendah?"


"Tidak apa-apa, ada aku. Bianglala tidak akan menggila seperti Rollercoaster."


"Kau mau balas dendam padaku."


"Kau berpikir berlebihan."


Aku memberanikan diri untuk menaiki wahana tertinggi yang ada di taman hiburan ini. Saat melangkah masuk tubuhku sudah gametar apalagi kalau wahananya bergerak naik. Kapsul yang berdiding kaca memungkinkan penumpang untuk melihat sekelili. Hanya ada aku dan Perchye dikasul ini. Aku menutup mataku ketika bianglala baru berada diketinggian 3 meter. Untung lantainya tidak transparan tapi aku masih dapat melihat kebawa dengan jelas dari sisi lainnya.


"Apa kau sangat takut ketinggian?"


"Aku tidak tahu apa ini bisa dibilang takut ketinggian atau tidak. Yang pasti, saat aku melihat ke bawah pandanganku berputar," jelasku tanpa membuka mata. Tanganku mencengkram kuat kursi wahana.


"Pegang tanganku," Perchye meraih tanganku. Sentuhan hangat dari tangannya membuatku tenang. Kini genggamanku beralih ke tangannya. "Sekarang buka matamu perlahan. Pemandangan diluar indah sekali," bisiknya di telingaku.


"Apa kau yakin?"


"Lihatlah sendiri."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε