
Setelah beberapa saat, Rosse dan bibi Marry memutuskan untuk pulang. Hari juga mulai gelap. Matahari sudah tenggelam dibalik pepohonan menyisakan sinar keemasan di langit. Aku menyarankan untuk melalui jalan lain. Aku tidak mau bertemu dengan arwah anak laki-laki tadi. Rosse menanggapi permintaanku itu dengan keheranan tapi bibi Marry, ia mala menyetujuinya.
Sampai di rumah pukul 18.12. Huff... Perjalanan yang menakutkan. Aku menyadarkan diriku di sofa dengan lemas nya. Aku tidak mau pergi ke tempat mengerikan itu lagi. Jalur pulang yang kami lalui di pemakaman tadi ternyata jauh lebih menyeramkan. Aku benar-benar takut untuk melihat ke depan. Aku berpengangan erat pada baju bibi Marry dengan keadaan berjalan sambil menunduk. Sesekali aku memejamkan mataku ketika ada hantu merangkak melalui kami. Ternyata jalan yang kami lewati itu adalah pemakaman tua. Tempat itu sungguh membuatku merinding.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, setelah pulang kerja. Iya, pulang kerja. Rosse masing ingin pergi berkerja setelah pulang dari pemakaman. Ibunya sudah menyarankan sebaiknya ia ambil cutie saja hari ini tapi Rosse ngotot untuk tetap kerja. Kemungkinan Rosse hanya ingin mengalikan pikirannya dari kerinduan pada sang ayah. Berinteraksi dengan pelanggan akan membuat ia melupakan kesedihannya itu untuk sesaat. walau terkadang Rosse masih terlihat murung dan sering melamun. Aku, kak Cia, Hanna, Rian dan Tobi mencoba sesekali menghiburnya. Tingkah kocak dari Rian dan Tobi belum cukup untuk membuat Rosse tersenyum. Aku merasa kasihan melihat sikapnya seperti ini. Aku mengikutinya pergi menuju kamar. Kulihat ia telah membaringkan tubuhnya di tempat tidur membelakangiku. Aku tahu Rosse masih belum tertidur.
"Ada apa Rosse? Kau masih terlihat murung seharian ini. Kau bisa cerita sama aku."
"Bukan urusanmu," jawabnya tampa berbalik.
"Hah... Ya sudah, jika kau tidak mau bercerita."
Aku mengambil foto yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur. Kuperhatikan foto penuh keceriaan itu. Seorang ayah yang sedang tersenyum lebar mengendong putri kecilnya. Gadis kecil yang digendong di atas pundak ayahnya itu juga terlihat sangat bahagia. Foto ini bisa menjadi pelantara yang bagus untukku memanggil arwah Mr. Hartley. Mungkin dengan mempertemukan Rosse dan ayahnya bisa menghilangkan rasa rindu yang tepenam dalam hatinya. Seperti biasa saat melakukan panggilan aku akan duduk bersilang di lantai sambil memejamkan mata. Aku mendekap foto ini di dadaku sambil memfokuskan diri membayangkan wujud dari Mr. Hartley melalui foto ini.
Untuk melakukan panggilan pada suatu arwah, aku memang memerlukan pelantara agar mempermudahku memanggil arwah tersebut, dan juga supaya aku tidak salah memanggil. Pelantara biasanya adalah suatu benda yang berhubungan langsung dengan sang arwah. Semakin dekat benda tersebut dengan arwah semakin baik pula. Seperti benda kesayangan atau benda yang selalu di gunakannya semasa hidup. Tapi bagiku foto ini sudah cukup. Tanpa pelantara benda aku memang sedikit kesulitan. Seperti saat aku melakukan pemanggilan arwah Brenda dulu, aku mala memanggil arwah Margaret. Aku lupa untuk mengunakan kalung pemberian ibunya Brenda sebagai pelantaranya. Lain halnya ketika aku memanggil Liz. Aku sudah terbiasa memanggilnya jadi aku tidak perlu mengunakan pelantara apapun lagi.
Tidak berlangsung lama muncul bayangan putih di depanku. Aku membuka mataku. Kulihat Mr. Hartley melayang di hadapanku berdiam diri. Aku cuman memberi senyuman dan sedikit menundukan kepalaku memberi hormat. Aku berdiri menghadap Rosse yang masih berbaring. Aku meletakan tangganku ke pundaknya dan kembali memejamkan mata. Aku mencoba meminjamkan sedikit kekuatanku pada Rosse agar ia bisa bertemu dengan ayahnya. Peminjaman kekuatan ini tidaklah mudah. Tenangaku sedikit terkuras habis melakukannya. Aku membuka mataku ketika sudah selesai melakukan pemberian kekuatan sementara. Aku terduduk lemas di tempat tidur sambil mengatur nafasku. Entah mengapa tiba-tiba dada kiriku terasa sakit sekali. Sebelum ini tidak pernah terjadi.
"Rosse..."
Panggil arwah itu membuat Rosse menoleh dan sontak bangun dari tempat tidur. Rosse teperangak melihat siapa yang ada di depan matanya. Wajah pucat dan hanya bayangan kabut putih saja, tapi Rosse tahu betul bahwa itu adalah ayahnya. Ia mendekati arwah itu dan mencoba untuk menyentuh wajah sang ayah. Air mata Rosse tak tertahan lagi, mengalir di pelupuk matanya ketika tangan mungil nan ramping itu menembus wajah ayahnya. Mr. Hartley juga tak kuasa menahan kesediahan yang sudah terpendap empat tahun lamanya. Aku yang melihat adegan itu ikut meneteskan air mata.
"Ayah... Hiks... Hiks... Huaaah...! Ayah...! Aku rindu ayah. Hiks... Hiks..." tangis Rosse pecah pada malam ini. Ia meluapkan semua yang ada dalam hatinya.
"Jangan menangis sayang..." tangan Mr. Hartley tertahan dipipi putrinya. Ingin sekali rasanya ia menyusap air mata tersebut. Tidak! Ia tidak hanya ingin mengusapnya. Ia ingin memeluk, membelai dan mencium penuh kasih sayang pada putrinya itu, seperti masa hidupnya dulu. Namun Ia tahu kalau dirinya tidak mungkin dapat melakukannya lagi. "Sudahlah sayang jangan menangis lagi, nanti ayah juga ikut sedih melihatnya."
"Aku sangat merindukan ayah. Hiks... Hiks..."
"Ayah juga sangat merindukanmu dan juga ibumu. Tapi, hei... Apa kau mau hadiah?" hibur Mr. Hartley menenangkan putrinya.
"Aku... Tidak mau hadiah. Aku mau ayah... Hiks... Hiks..."
"Yakin tidak mau? Ayah sudah lama menyiapkannya loh."
"Baiklak jika ayah bilang begitu, tapi hadiahnya tetap dapatkan?" Rosse mengusap air matanya dan mulai bersikap manja.
Untuk pertama kalinya aku melihat Rosse ber sikap seperti ini. Biasanya ia gadis yang dingin, cuek, atau hanya sesekali tersenyum tipis. Namun sekarang, ia tersenyum lebar seperti anak-anak yang menantikan kado ulang tahunnya. Aku turut bahagia atas dirinya. Dalam momen seperti inilah aku merasa bangah memiliki kemampuan ini. Perlahan-lahan pandanganku memudar.
"Hadiahnya ada di dalam laci lemari di kamar ibumu. Sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan sudut emas. Untuk kuncinya ada terselip di dalam buku harian ayah. Tanya ibumu, pasti ia yang menyimpan buku harian itu," berangsur-angsur arwah Mr. Hartley menghilang.
"Tunggu, ayah! Apa ayah tidak mau bertemu ibu? Ibu juga pasti sangat merindukan ayah."
"Tidak, ayah tidak akan sanggup meninggalkan dunia ini jika ayah bertemu dengan ibumu. Ingatlah untuk tetap bahagia. Ayah selalu ada disisimu," berbarengan dengan kata terakhir arwah Mr. Hartley menghilang di udara.
"Ayah...! Hiks... Hiks... Selamat tinggal."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ini bagian tersedih sejauh ini, menurutku. Bagaimana dengan kalian?
Nikmati terus ceritanya ya.