
"Rasakan itu, kak. Makanya jangan suka berpikiran yang aneh-aneh."
"Maaf ibu. Aduh, cubitan ibu sakit," aku mengusap pinggangku yang mendapat cubitan dari ibu. "Oh, iya. Aku kan gagal mendapatkan buah itu, bagaimana ibu..."
"Itu semua berkat Rosse. Ia menjadi budak darah putra mahkota hanya agar bisa mengambil ekstrak bunga ΖΩΗ (ZOI) pada waktu pesta di malam bulan purnama. Ia sengaja tidak memberitahu kita karna ia tahu kau pasti tidak mengizinkannya."
"Jadi itu sebabnya aku tidak melihat ia di pesta malam itu. Dia bersedia dibenci oleh kita demi bisa menyelinap untuk mendapatkan ekstrak bunga itu. Ia tahu konsekuensinya jika ketahuan tapi ia tetap melakukannya. Sedangkan aku... Aku mala tidak bisa melindunginya."
"Apa yang kakak bicarakan? Kakak selalu saja berkata 'tidak bisa melindungi' 'tidak bisa melindungi'. Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri atas luka yang kami alami! Kau tidak bisa menjaga kami semua dalam kekacauan itu. Kami ikut bersamamu untuk menolongmu bukan menjadi bebanmu. Jadi tolong kak. Jangan selalu bergerak sendiri di depan kami. Jangan senantiasa menjadi perisa. Kami juga ingin menjadi ujung tombakmu. Kami ingin maju bersamamu. Ingatlah, kakak tidak sendiri," air mata memenuhi pipinya. Ia sungguh bersungguh dengan setiap kata-katanya.
"Lisa..." aku menoleh padanya.
"Aku tidak mau mendengar alasan!" potongnya. "Berjanjilah kakak tidak akan memaksakan diri kakak lagi demi melindungi kami! Aku juga mau melindungi kakak dan tidak mau kehilangan mu."
Aku menghela nafas. "Hah... Baiklah, tapi setelah kau menurunkan barang-barangku."
"Apa?!" Lisa tersentak kaget, bersamaan dengan itu semua barang-barang kecil yang melayang di sekitar kami berjatuhan. "Aduh," sebuah botol alkohol untuk membersikan luka menimpa kepalanya.
"Psiko-kine-sis."
Mitéra teperangak begitu mengetahui Lisa bisa menggunakan kemampuan Psikokinesis. Ia sendari tadi telah berdiri di depan pintu kamar ku dan perlahan melangkah masuk. Di belakangnya ada seorang pelayan yang membawa meja beroda. Disana sudah ada beberapa hidangan menggugah selera namun entah mengapa tidak menarik perhatianku.
"Bagaimana bisa? Lisa kau..." kata Mitéra yang masih tidak percaya atas apa yang dilihatnya.
"Iya, Lisa. Tidak aku sangkah ternyata kau mewarisi kemampuan yang hilang," ujar Ibu. Ia membantuku duduk.
"Jadi buku Psikokinesis itu milik Mitéra," tanyaku padanya.
"Iya. Buku itu warisan dari nenek kalian, namun ia tidak bisa menggunakan kemampuan Psikokinesis. Jadi Ia berharap Mitéra bisa mempelajarinya. Aku sudah berusaha, tapi sepertinya aku sama sekali tidak mewarisi kemampuan tersebut," kata Mitéra sambil menata beberapa makanan di atas meja kecil yang sudah disiapkan ayah di depanku. Kemudian ia menyusun sisa piring dan mangkuk lainnya di meja dekat sofa.
"Asyik, sup iga bakar kesukaanku," kata Lisa riang begitu menghampiri sofa.
"Ini sangat langkah juga. Biasanya, jika seorang cucu tidak mewarisi kemampuan Psikokinesis maka kecil kemungkinan atau bahkan tidak mungkin sama sekali bagi keturunan selanjutnya dapat mengunakan kemampuan tersebut," jelas ayah.
"Karna itu Mitéra merahasiakan hal ini dari kami?" kata Lisa menebak sambil mengambil semangkuk sup dan mulai menikmatinya.
"Mitéra bahkan sudah lupa tentang buku itu sejak kebakaran dulu."
"Oh, iya kak. Bukankah kau membawa buku itu ke pulau Vyden. Kita tidak sempat membereskan barang-barang kita karna kita tidak menduga akan tertangkap. Jadi buku warisan turun-temurun itu tertinggal di asrama sekolah," ujar Lisa yang baru teringat hal ini.
"Jangan khawatir, aku dan Sofia sudah terpikirkan akan hal ini. Sebelum ke pesta, Sofia telah mengirimkan seluruh barang-barang kita kembali ke kediaman," kataku. Aku cuman mengaduk makananku dan mencicipinya sedikit. Rasanya sedikit berbeda dari biasanya atau karna aku demam.
"Oh, sebab itu kalian begitu lama turun," kata Lisa dengan mulut penuh.
"Makan pelan-pelan Lisa. Tidak akan ada yang merebutnya darimu," tegur Mitéra yang duduk disamping Lisa.
"Tentu ada, kakak selalu berebutan denganku," tunjuk Lisa padaku.
"Karna itu memang kenyataannya."
"Keyla, kau belum makan sup mu?" lirik Mitéra pada mangkuk sup ku yang masih penuh.
"Ini kumakan," aku menyerumput sesendok kaldu sup ku lalu kembali mengaduk dan memainkannya. Ini pertama kalinya aku tidak ada selera untuk makan. Mulutku serasa menolak setiap makanan yang hendak masuk. Aku mala lebih suka minum air putih saja.
"Sepertinya kau kehilangan nafsu makan," ayah meletakan tangannya di atas kepalaku dan mulai melakukan kebiasaannya, mengacak-acak rambutku. Aku sedikit merindukan itu.
"Kau harus makan, Rin. Agar bisa cepat sembuh," bujuk ibu.
"Baiklah, tapi kalian juga harus makan."
"Iya. Mitéra juga, kenapa tidak makan? Masih banyak makanan disini dan tidak mungkin kami dapat menghabiskan semuanya," kata Lisa.
"Kami sudah makan. Hidangan ini memang dibuat untuk kalian karna kami tahu kalau kalian pasti belum sempat makan malam, iya kan?" tanya Mitéra.
"Kalau di ingat-ingat kami sebenarnya sudah makan malam..."
"Kemarin. Malam kemarin. Iya, itulah yang aku ingat," potongku.
"Aku tidak tahu dengan kakak, tapi tepat tengah hari ada satu pegawal yang mengantarkan makanan ke sel kami. Makanan yang paling menjijikan, bahkan tikuspun enggan memakannya. Tentunya aku dan Sofia tidak menyentuhnya. Kami lempar makanan itu keluar melalui jeruji besi."
"Biarpun mereka menyajikan hidangan terlezat di dunia, bagaimana bisa kau memakannya jika tangan dan kakimu dirantai, bahkan untuk duduk saja aku tidak bisa. Walaupun begitu tentu saja aku juga tidak mau memakannya," aku menatap kosong bayanganku yang terpantul di kaldu sup. Mengingat semua itu kembali membuatku tidak dapat membayangkan kalau kami masih diberi kesempatan untuk dapat pulang.
Duar!
Aku dikejutkan dengan suara dentuman keras yang seketika membuat kami semua menoleh pada ayah. Kulihat meja laci yang terbuat dari kayu tepat di samping tempat tidurku sudah hancur. Lampu baca yang ada di atas nya juga ikut pecah berserta barang-barang lainnya yang tersimpan disana berhamburan.
"Maaf. Aku tahu kalian lelah, tapi aku tidak tahan lagi untuk menunggu sampai besok. Bisa ceritakan apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang kalian alami di pulau Vyden? Dan kenapa kalian bisa berakhir seperti ini?" tanya ayah memecah keheningan dari kami yang terkejut. Dari sorot matanya, ayah sepertinya sedang menahan amarah yang meluap-luap.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε