
"Jadi itu sebabnya kalian bisa mendapatkan kemampuan yang luar biasa, karna kemampuan kalian di rekayasa secara genetik," ujar Mr. Guttman.
"Iya. Kami adalah sebagian kecil dari kelinci percobaan yang gagal namun dapat selamat dari tangan mereka."
"Gagal? Menurutku tidak. Kalian bisa dibilang sebagai eksperiment yang berhasil. Kalian sekarang dapat mengendalikan kekuatan kalian, bukan?"
"Aku bisa mengendalikan kekuatan ini berkat latihan ku selama ini, dan juga..." bibi Tori memperlihatkan cincin permata hitam di jarinya. "Permata di cincin ini adalah serpihan permata dari kalung milik Cloey."
"Kenapa warnanya berbeda? Milik ibu berwarna ungu tua, sedangkan punya bibi Tori berwarna hitam," tanyaku bingung.
"Permata itu dulunya bukan berwarna ungu maupun hitam tapi melainkan merah. Tidak tahu mengapa semakin berjalannya waktu perlahan-lahan warna permata itu memudar menjadi merah muda, ungu lalu mengelap menjadi ungu tua sampai sekarang. Serpihan ini aku dapat ketika kalung Cloey tanpa sengaja putus kemudian menghantam batu sampai permata nya retak. Begitu aku memumut kalung tersebut serpihan nya jatuh dan seketika berubah menjadi hitam. Selama aku menyimpan permata ini aku menyadari kalau kekuatan sihirku semakin mudah di kendalikan. Tanpa permata ini mungkin kekuatan sihirku akan sering lepas kendali," jelas bibi Tori.
"Em... Mungkin memang tidak untuk kalian tapi apa kalian sadari kalau hasil eksperiment itu menurun pada anak-anak kalian," kata Mr. Guttman membuat aku dan Sofia saling pandang. "Mereka merupakan objek penelitian yang diharapkan."
"Aku tahu itu. Sofia dan Jimmy memiliki kemampuan sihir yanh melebihi penyihir seusia mereka. Kemampuan mereka memang bisa dibilang menjadi objek yang diharapakan penelitian."
"Hah, ternyata itu alasannya kekuatan sihirku melebihi penyihir seusiaku," ujar Sofia sambil memandang kedua telapak tangannya.
"Setelah berhasil kabur dari tempat penelitian aneh itu, bagaimana bisa kalian semua berakhir disini? Aku yakin ayah tidak tahu sama sekali kalau dirinya adalah seorang putra dari ketua klan manusia serigala," lirik ku pada ayah.
"Ini semua berkat Emely. Dulunya aku sama sekali tidak mau mencari tahu siapa aku dan siapa keluargaku, karna aku sama sekali tidak mengenal mereka. Semasa kecilku sampai remaja aku tumbuh di laboratorium bersama beberapa manusia serigala lainnya. Kami di perlakukan layaknya hewan, ditempatkan dalam kandang terpisah dan setiap minggu mereka akan melakukan pemeriksaan dan uji coba. Sedakan saat bulan purnama mereka akan memberi suntikan yang berbeda-beda pada kami. Setiap kali mendapat suntikan itu tulangku rasanya seperti di remuk, hawa panas benar-benar menyelimuti tubuh dan rasa gatal di lengan serta di sekitar leher yang tak tertahankan."
"Apa itu seperti mengalami tahapan perubahan?" tanyaku.
"Memang kami dipaksa mengalami tahapan perubahan yang seharusnya belum terjadi."
"Maafkan kami kak, karna benar-benar terlambat menemukan mu," kata bibi Emely kemudian.
"Aku tidak memermasalakan itu lagi. Aku bisa mengerti kalau keadaan dunia malam masih belum seperti sekarang."
"Dunia malam memang tidak perna ada damai-damainya. Baru 20 tahun terakhir inilah kita bisa menikmati waktu dengan tenang, tidur nyenyak di malam hari tanpa perlu khawatir ada penyerangan diam-diam. dan masih bisa menikmati secangkir teh di pagi hari. Aku ingat dulu waktu umurku 5 tahun. Di tengah malam ibu membangunkan ku karna serangan mendadak dari kaum vampire. Dengan mata masih mengantuk kulihat ayah telah memimpin pasukan untuk mempertahankan kediaman. Ibu membawaku pergi ke bangker yang ada bawah tanah dan menitipkan ku pada seorang pengasuh. Melihat ibu pergi untuk membantu ayah membuatku merasa seperti tidak perna melihatnya lagi. Aku menangis sejadi-jadinya tidak mau ditinggalkan oleh ibu sampai aku lelah dan akhirnya tertidur. Paginya aku sangat bahagia begitu membuka mataku pandangan yang pertama kulihat adalah orang tuaku. Mereka berhasil menang dari serangan kaum vampire walau banyak kehilangan banyak rekan. Ayah juga saat itu mengalami luka yang cukup parah."
"Seharusnya mereka sadar bertapa enaknya perdamaian itu. Anak-anak tidak akan merasa ketakutan lagi kehilangan keluarga mereka. Ini mala dengan bodohnya klan Β (Beta) melakukan penyerangan. Aku tak habis pikir, apa yang ada dalam otak mereka itu," gerutu paman Jaseph.
"Klan Β (Beta) ya. Aku jadi teringat Perchye. Apa mungkin aku tanyakan saja padanya alasan kenapa klan Β (Beta) tiba-tiba menyerang klan Α (Alpha)? Tapi bagaimana caranya? Akan sangat curiga kalau aku langsung bertanya," aku memikirkan cara bagaimana bisa mendapat informasi dari Perchye. "Tidak! Apa yang aku pikirkan. Kalau aku memanfaatkan Perchye untuk mendapat informasi, bukankah ini termasuk curang? Tidak! Perchye adalah orang baik. Tidak mungkin aku memanfaatkannya," hatiku benar-benar gelisah.
["Lakukan saja. Untuk apa takut."]
Tiba-tiba akuendengar suara Sherina menggema dalam kepalaku. Aku melirik ke kanan dan ke kiri mencarinya namun tidak kutemukan. ["Sherina. Dimana kau?"]
["Aku masih dalam di alam bawah sadarmu. Aku baru bangun."]
["Iya, aku baik. Terima kasih. Berkatmu menyalurkan tenagamu waktu itu aku dapat menghabisi mereka semua."]
["Sudah seharusnya. Tapi apa maksud perkataanmu barusan? Kau memintaku menggali informasi musuh dari Perchye?"]
["Tidak apa juga, toh. Lihatlah apa yang klannya telah lakukan pada ibu. Mereka harus membayarnya."]
["Aku tahu Sherina, namun memanfaatkan ketidaktahuan Perchye untuk mendapat informasi, rasanya tidak benar. Aku mencintainya Sherina. Tidak mungkin aku melakukan itu."]
["Terserah apa mau mu tapi kau harap kau mempertimbangkan pendapatku. Aku tahu kalian saling mencintai Keyla, tapi ingatlah bahwa ia ada di pihak musuh kita. Cepat atau lambat ia akan tahu kalau kau adalah putri klan Α (Alpha). Sampai saat itu tiba, apa kau yakin ia masih mencintaimu?"]
Kalimat terakhir Sherina membuatku takut. Memang benar untuk sekarang Perchye belum mengetahui jati diriku tapi tidak menutup kemungkinan rahasia ini akan tembongkar suatu hari nanti. Bagaimana reaksi ia setelah mengetahuinya? Pertanyaan ini kini mengganggu ku.
["Pikirkan lah baik-baik Keyla. Huam....... Aku mau kembali tidur. Tenagaku belum pulih sepenuhnya."]
["Istirahatlah Sherina. Kau membutuhkannya."]
Mendengar Sherina menguap membuatku ikut mengantuk. Tenagaku juga sebenarnya belum pulih sepenuhnya. Ingin rasanya aku kembali tidur. Mataku sudah terasa berat. Ngatuk sekali. Aku memangku daguku dengan keadaan mata setengah terpejam. Mendengar cerita mereka tambah membuatku ngantuk sampai aku tidak bisa menahannya lagi. Aku kehilangan keseimbangan lalu terjungkal jatuh menimpah ayah yang kini duduk di lantai di depan ku. Hal itu menyebabkan kami berdua terguling dilantai. Semua orang terkejut melihat itu.
"Aduuuh......" rintih ayah kesakitan. "Rin kenapa kau tiba-tiba jatuh?"
"Ma, maaf. Aku ngatuk tadi. Ayah tidak apa-apa?" kataku seketika bangkit.
"Kau berat," kata ayah sambil berusaha duduk kembali.
"Ffuut... Hahaha......." tawa mereka semua bersamaan.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε