My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kembali pulang



"Rosse bertahan," kata Sofia dan Lisa.


"Sa, sakit. Seluruh, tubuhku sakit sekali. Uhuk!" Rosse sampai muntah darah akibat serangan tersebut.


"Rosse!" aku berlari menghampiri mereka lalu berjongkok di depan Rosse. "Bertahanlah Rosse, kita sebentar lagi akan pulang," bisikku padanya. "Sofia, apa kau sudah bisa melakukan teleportasi sekarang?"


"Beri aku waktu sedikit lagi."


"Semuanya berkumpul!"


"Onoval! Kenapa kau membatu mereka?" tanya Lucas begitu sadar selang beberapa detiknya.


"Hentikan semua ini kak. Jangan lukai teman-temanku lagi," kata Onoval berbelas kasihan.


"Onoval masih menganggap kami sebagai temannya," batinku. Aku mengangkat wajahku melihatnya.


"Kau masih menganggap mereka sebagai temanmu? Onoval, gadis itu merupakan seorang manusia serigala" tunjuk Lucas padaku. "Mahkluk yang paling kau benci! Bisa-bisanya kau membelanya. Aku melakukan semua ini juga untukmu."


"Tidak kak! Masih ada keraguan dalam hatiku kalau Rin adalah seorang manusia serigala. Jika ia memang makhluk tersebut, bukankah ia sudah berubah sendari tadi?"


Ternyata Onoval masih meragukan aku yang sebagai manusia serigala ini. Bagaimana aku memberitahukannya kalau aku memang manusia serigala? Kami akan menjadi musuh selamanya. Kulihat Aftur dan Paman Fang telah ada di belakang kami.


"Kau sudah melihatnya sendiri kalau gadis itu memiliki tanda klan Α (Alpha). Bukti apa lagi yang kau inginkan?"


"Tidak. Aku... Aku masih tidak bisa percaya."


"Jika putra mahkota dan pangeran tidak keberatan, aku bisa membantu membuktikan kalau Rin benar seorang manusia serigala," ujar Sindy yang berjalan mendekati ku.


"Apa yang mau kau lakukan Sindy?" tatapku tajam padanya. Aku harap ia tidak menggunakan mantra apapun untuk memaksaku melakukan perubahan.


"Karna terjebak dalam situasi yang cukup tidak menguntungkan bagimu, kau sepertinya melupakan sesuatu."


Muncul sangkar melayang dihadapan Sindy. Aku seketika tersentak lagi begitu mengetahui apa yang ada di dalam sangakar tersebut. Tidak! Bagaimana bisa aku melupakan dia.


"Angel! Apa yang kau lakukan padanya? Lepaskan dia!!"


"Baiklah. Aku akan melepaskannya dari kehidupan ini!" sebuah belati Sindy tembakan dan tepat menembus tubuh Angel.


"Tidak ! ! !"


Teriakku begitu melihat bulu putih itu kini bermandikan darah. Aku sungguh tidak percaya apa yang telah dilakukan Sindy. Berani sekali ia membunuh Angel. Aku akan membunuhmu! Tanpa memperdulikan seketiraku lagi, aku melompat ke arah Sindy hendak menerkamnya dalam wujud serigala. Karna terlalu kaget, Sindy tidak berhasil menghindar seutuhnya. Ia mendapat luka parah di bahu akibat cakaran dariku. Tidak sampai disitu aku kembali menyerangnya. Dinding perisai yang ia aktifkan dengan mudah aku hancurkan. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku. Ingin sekali kucabik-cabik tubuh Sindy itu.


"Wolf kecil! Sadarlah!!" teriak paman Fang menggema di kepalaku namun kuhiraukan.


"Rin!"


"Kakak!"


Teriak Sofia dan Lisa hampir bersamaan, namun itu masih belum cukup menyadarkan ku. Aku masih menyerang Sindy dengan brutal.


"Keyla! Lihat sekelilingmu!!"


Suara Sherina membuatku tersentak. Aku berhenti menyerang Sindy begitu aku sadar semua tatapan semua orang tertujukan padaku. Aku melangkah mundur perlahan. Aku sempat melirik Onoval yang terlihat sangat terkejut. Aku tidak bisa menatap wajah itu terlalu lama.


"Sekarang apa kau percaya adikku kalau dia memang seorang manusia serigala?" ujar Lucas.


"Ini..."


"Dan tidak hanya itu. Dia adalah gadis serigala yang diramalkan. Darah jantungnya merupakan obat penawar dari racun taring manusia serigala. Obat yang selama ini kau cari. Bunuh dia maka kekasih mu dapat kembali ke sisi mu," Lucas menyodorkan sebuah pedang pada Onoval yang diterima Onoval dengan tangan gemetar.


"Pilih dia yang sebagai manusia serigala atau kesumbuhan kekasihmu Natali? Pikirkan baik-baik adikku. Dengan membunuhnya dan mengambil darah jantungnya Natali bisa bersamamu lagi. Orang yang begitu kau cintai akan kembali padamu. Bunuh dia, hidupkan Natali," hasut Lucas.


"Bunuh dia, hidupkan Natali," Onoval mulai terhasut perkataan Lucas. Ia mengangkat pedangnya ingin menebasku.


"Jangan harap dapat membunuh kakakku!" teriak Lisa menghadang Onoval di depanku. Bersamaan dengan itu, pedang yang ada di tangan Onoval terpental jauh. Lisa mengambil kesempatan ini menarik ku pergi. "Sekarang Sofia!!"


"Μαγεία τηλεμεταφοράς (Mageía tilemetaforás)"


Tepat setelah aku dan Lisa melompat ke dalam lingkaran sihir, partikel cahaya seketika membawa kami pergi dari arena Gladiator. Dalam sepersekian detik kami berpindah dari arena Gladiator ke ruangan tempat dimana simbol terleportasi terhubung.


"AAAAH......!"


Teriak kami bersamaan begitu kami terhempas ke lantai ruangan tersebut. Semua lilin padam seketika. Punggungku terasa sakit apa lagi ditambah Lisa yang jatuh di atasku. Satu persatu dari kami berusaha bangkit.


"Apa yang telah terjadi pada kalian semua," tanya mereka kebingungan begitu melihat keadaan kami yang kacau.


"Mitéra!" teriakku dan Lisa sambil memeluk Mitéra dengan erat. Air mata tidak henti-hentinya mengalir begitu aku dan Lisa masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan keluarga kami lagi.


"Rosse!" bibi Marry bergegas menghampiri Rosse yang tidak sadarkan diri dalam dekapan Sofia. "Apa yang terjadi padanya?" bibi Marry menarik putrinya dengan lembut ke pakuannya.


"Dia mendapat serangan dari Lucas," jelas Sofia.


"Lucas? Siapa dia?"


"Sofia, kau tidak apa-apa sayang?" kata bibi Tori yang baru datang bersama suaminya. Ia langsung memeluk putrinya dan menciumnya berkali-kali.


"Aku baik ibu. Sstt..." Sofia memejamkan matanya disaat tangan ibunya tanpa sengaja menyenggol luka di pinggang nya.


"Kau terluka," lirik ibunya pada pinggang Sofia yang meneteskan darah sampai menggenang di lantai.


"Cuman luka gores," Sofia berusaha menghentikan pendarahan yang mengalir di lukannya yang terbuka. Mungkin akibat terhempas tadi lukanya kembali mengeluarkan darah.


"Luka gores apa? Luka gores tidak akan mengeluarkan darah sebanyak ini," ujar paman Jaseph yang khawatir.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kalian? Kenapa kalian bisa berakhir seperti ini?" tanya Patéras yang berdiri di samping ayah.


"Kau juga Keyla. Sekujur tubuhmu penuh luka," kata Mitéra yang melirik tubuhku.


Aku tidak sanggup menjelaskannya. Aku kembali memeluk Mitéra, menyandarkan kepalaku di bahunya. "Maafkan aku," bisikku.


"Mr. Morgen ini kesalahanku karna telah gagal menjalankan tugas untuk menjaga mereka. Saya siap menerima hukuman," kata paman Fang yang masih dalam wujud serigala nya.


"Sudah, sudah. Ceritanya nanti saja. Lebih baik mengobati luka kalian. Aku akan memanggil Mr. Guttman untuk memintanya melakukan memeriksa pada kalian semua," kata ayah.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε