My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Mabuk sebelum acara



Ruang cukup besar menyambut mereka. Terdapat sofa berbentuk L berwarna abu-abu berserta meja kaca. Lemari berisi stick billiard tersusur rapi berjumlah empat buah. Dan tentu saja, meja billiard kayu Purple Wood atau Purpleheart. Itu dapat dikenali dari warna ungu di antara warna coklat tua tersebut, begitu mengkilap dibawah cahaya lampu. Kaki dan pinggiran meja berukir dengan alas hijau menawan. Meja billiard ini terlihat sangat mahal dan juga antik. Sungguh disayangkan kalau sebelumnya ruangan berserta isinya ini pernah ditutupi debu.


Permainan dimulai. Untuk menentukan siapa yang duluan memulai mereka mengunakan koin. Pertandingan begitu sengit baru diawal antara Alan dan Mr. Li. Skor mereka saling kejar-kejaran tidak berjauhan. Sampailah dipenetuhan bola hitam... Pertandingan pertama ini dimenangkan oleh Mr. Li. Hukuman Alan terima. Selanjutnya pertandingan Derek melawan Jaseph. Kemampuan mereka juga imbang, namun pemenangnya kali ini adalah Derek. Jaseph menerima hukumannya. Kini Mr. Li melawan Derek. Siapakah pemenangnya?


Setelah melempar koin, ternyata Mr. Li yang mulai duluan. Satu kali tembakan, lima bola berhasil masuk ke lubang. Ini cukup berbahaya bagi Derek. Satu kali kesalahan Mr. Li perbuat, Derek baru menembak. Ia berhasil memasukan bola enam kali berturut-turut. Pemenang masih belum bisa dipastikan sampai penentuan bola hitam, dan ternyata pemenangnya adalah... Mr. Li. Seperti perjanjian sebelumnya Derek menerima hukumannya. Pertandingan di mulai kembali. Ronde demi ronde berlalu. Mereka begitu menikmati waktu santai. Sampai, satu persatu dari mereka mabuk akibat anggur tahun 98 itu. Bagaimana tidak, hampir dua botol telah mereka habiskan.


"Ba... Bagaimana keadaan Ririn beberapa hari ini?" tanya Derek dalam keadaan setengah sadar sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia sudah tumbang saat pertama kali menerima hukuman.


"Ia... Baik-baik saja," jawab Mr. Li yang duduk di samping Derek. Ia juga tumbang saat pertama kali kalah melawan Jaseph.


Sebenarnya manusia serigala itu tidak mudah mabuk oleh alkohol. Daya tahan tubuh mereka jauh lebih kuat dari manusia biasa. Mereka sulit jatuh sakit akibat cuaca tak menentu atau karna suatu virus dan bakteri. Tapi lain halnya dengan dua manusia serigala satu ini. Mereka mungkin satu-satunya manusia serigala yang paling payah dalam hal minum alkohol. Entah karna tidak terbiasa atau ada alasan lain, yang pasti pemimpin klan dan tangan kanannya ini tidak mau diajak bersulang di depan umum. Jika memang terpaksa paling mereka akan pura-pura minum saja.


"Seperti yang... Cieguk! Mr. Morgen katakan. Saya sudah memastikan bahwa tidak ada yang tahu identitas Miss. Morgen."


"Bagus."


"Oh, iya. Miss. Morgen berkerja paru waktu di sebuah kedai kecil."


"Ha?! Gadis itu berkerja... Di kedai? Aku tidak percaya," ucap Alan dengan tetap berusaha berdiri, ia mengunakan stick billiard untuk menahan tubuhnya. Alkohol benar-benar membuat ia tidak bisa berdiri tegap.


"Mungkin ia sedang menyamar," kata Jaseph. Walau dalam keadaan mabuk, ia masih berusaha membidik bola billiard itu. Sering sekali bidikannya salah sasaran.


"Mr. Livitt berpikir kalau ia sedang menyamar? Yang saya lihat tidak. Miss. Morgen benar-benar berkerja dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan rela mencuci piring dan menyapu lantai," Mr. Li menerangkan apa yang ia lihat.


"Hahaha... Cieguk! Putriku memang tidak mirip seperti putri bangsawan. Ia bebas melakukan apa saja... Yang ia anggap benar!" teriak Derek lantang.


"Mr. Morgen sepertinya anda... Mabuk berat."


"Mr. Li, Mr. Li. Berhentilah bersikap formal. Kita sedang bersantai saat ini," Jaseph menghampiri dan duduk disamping Mr. Li sambil merangkul bahunya.


"Itu benar. Nikmati segelas lagi Mr. Li," Alan menuangkan anggur yang tersisa dan menyodorkannya pada Mr. Li.


"Tidak. Saya tidak sanggup lagi," Mr. Li mencoba menolak namun Alan memaksanya untuk minum.


Di depan pintu, sudah menunggu tiga orang perempuan dengan raut wajah kesal. Mereka bertiga menggeleng saat melihat apa yang terjadi pada suami-suami mereka dan kepalah pengurus rumah. Dengan keadaan sangat berantakan, keempat pria itu mabuk berat. Salah satu dari mereka yaitu Mr. Li sudah memuntahkan isi perutnya di belakang sofa. Claey, Tori dan Emely tidak menyangka, hilangnya suami mereka dari ruang kerja ternyata asik mabuk di ruang rahasia ini. Untung ada Liz yang membantu mereka mencari di setiap sudut ruangan yang tidak mereka ketahui.


"Apa jadinya kalau kita tidak menemukan mereka?" tanya Emely.


"Bukankah sudah dapat dipastikan kalau konferensi pers malam ini akan berantakan," kata Cloey mengatakan kemungkinan yang akan terjadi.


"Kalian cukup bersenang-senang ya?!!" kata Tori menghampiri sambil berkecak pinggang.


"E?!" Jaseph mengucek matanya ketika melihat istrinya sudah berdiri di depannya. "Hei teman-teman, sepertinya aku terlalu mabuk sampai membayangkan kalau istriku ada disini."


"Aku juga melihatnya," tunjuk Alan pada Emely yang juga menghampiri.


"Itu cuman imajinasi kalian. Mereka tidak mungkin menemukan tempat ini," Derek mengangkat wajahnya dan melihat Cloey sudah berdiri di depan matanya dengan tatapan marah. "Hehe... Untung ini cuman halusinasi. Kalau sayangku itu tahu... Tatapan itulah yang akan ia perlihatkan padaku," Derek mencubit pipi istrinya dengan gemas.


"Aaaa... Adududuuuh...!! Sakit, sakit, sakit!!" teriak Derek kesakitan.


Cloey melepaskannya sambil mendengus kesal. "Tori, bawah mereka berempat ke kolam pemandian!"


"Baiklah. Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"


Tori menggunakan mantra pengikat untuk menggiring keempat pria mabuk ini ke kolam pemandian. Sampai di lantai dasar, ruangan besar dengan pilar putih gading yang menghiasi. Karangan berbagai bunga terlihat cantik disetiap sudut dalam vasnya. Kolam pemandian luas tepat berada ditengah-tengah ruangan itu. Airnya memantulkan bayangan kaca warna-warni yang terdapat pada setiap jendela-jendela tinggi. Tampa perasaan, Tori menyuruh mereka terjun ke dalam kolam yang kedalamannya bervariasi. Hal hasil Derek, Alan, Jaseph dan Mr. Li basah kuyup oleh air dingin dalam kolam tersebut. Karna air sedingin es membuat mereka sedikit tersadar dari mabuk. Tori melepaskan mantra pengikatnya.


"Maa... Maaf... Kan, Kakaa... Mi," kata mereka serempak sambil menggigil kedinginan.


"Kalian berempat tahu kalau malam ini ada acara penting tapi masih berani-beraninya minum!! Terutama kau! Bukanya kau paling payah dalam soal minum?!" bentak Cloey meluapkan emosinya.


"Mrs. Morgen, ii... Ini salahku. Seharusnya saya melarang mereka, tapi... Saya mala ikut-ikutan." ujar Mr. Li merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan dirimu Mr. Li. Kami tahu kau pasti tidak berdaya jika dipaksa mereka bukan?" tebak Emely dengan benar.


"Paling yang memiliki ide buruk ini Jaseph dan Alan. Karna hanya pikiran merekalah yang sejalan," kata Tori sambil melirik biang keladi dari masalah ini.


"Sudahlah. Lebih baik keringkan tubuh kalian nanti masuk angin. Aku tidak mau salah satu dari kalian menghancurkan semua rencana malam ini," Cloey menyodorkan handuk pada suaminya sambil tersenyum manis.


Derek yang sendari tadi menunduk karna malu, kini mulai berani menatap mata lembut istrinya itu. Derek mengulurkan tangannya tapi bukannya untuk menerima handuk tersebut. Ia mala menarik tangan istrinya sampai istrinya itu nyemplung ke dalam kolam.


"Aaaa...!! Diiingin...!" teriak Cloey sambil menggigil. "Kau... See... Sengaja ya?!" Dengan kesal Cloey memukul-mukul suaminya itu.


"Hihi... Maaf, maaf. Memang sengaja," kata Derek membuat Cloey semakin kesal. Ia cuman bisa menangkis pukulan dari istrinya.


"Hahaha..."


Melihat kejadian itu membuat yang lain tertawa lucu. Namun, seperti yang dikatakan Tori tadi kalau pikiran Alan dan Jaseph itu sejalan. Dengan saling tersenyum jahil satu sama lain, mereka berdua juga menarik istri mereka untuk ikut merasakan air yang dingin ini. Dan tentu saja, reaksi Emely dan Tori sama persis dengan Cloey sebelumnya.


Setelah mengeringkan tubuh dan ganti baju dengan pakaian yang lebih hangat. Emely memberikan obat peredam mabuk pada Derek, Alan, Jaseph dan Mr. Li yang ia ambil dalam lemari obat. Setelah meminum itu mereka mulai tertidur lelap sampai terbangun jam lima sore. Efek dari obat itu cukup efektif menghilangkan rasa pusing dan mual akibat alkohol. Masih dua jam lagi sebelum konferensi pers dimulai. Derek memutuskan untuk bergerak lebih awal dari rencana, dan saran tersebut cepat disetujui oleh yang lain.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε