My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Biarkan aku menghiburmu



"Iya, tanda itu muncul saat Sherina, putri kandung kami dilahirkan," sambung ibu.


"Teringat akan tentang ramalan tersebut, ayah memutuskan menutup kediaman dari dunia malam agar tidak ada satupun yang tahu tentang tanda cantik di dahi putri kami. Tapi mengingat Sherina telah tiada... Dan kini berganti kan dirimu. Kami tidak memperdulikan tentang ramalan itu lagi, sampai... Kau mewarisi bakat kami. Ketakutan di antara tetua dan klan Α (Alpha) muncul. Mereka takut kau tidak bisa mengendalikan kekuatan manusia serigala mengingat kau mendapat kekuatan ini bukan dari keturunan. Namun kekhawatiran kami lebih besar begitu mengetahui tanda tersebut ikut terwaris padamu," jelas ayah.


"Kenyataan sebenarnya tidak terwaris. Kekuatan manusia serigala dan tanda cantik itu ada pada jiwa Sherina yang masih hidup dalam diriku," batinku. Aku meletakan tangan kananku tepat di dada kiriku. Suara detak jantung terdengar jelas melalui telapak tanganku. "Jadi, darah jantung ini adalah obat penawar dari racun taring manusia serigala. Semacam obat penawar yang sangat diimpikan semua orang."


"Jangan takut, Rin. Kami semua pasti melindungi mu. Tidak akan kami biarkan mereka mengambil darah jantungmu," ujar bibi Emely.


"Ramalan itu pasti salah. Tidak mungkin darah jantung bisa menjadi obat penawar dari racun taring manusia serigala. Prasasti itu pasti buat oleh orang iseng, dan seluruh dunia malam mala mempercayainya," kata Paman Alan.


"Pernah tidak kalian berpikir darah dari manusia serigala bisa menyembuhkan luka pada orang lain?" tanyaku membuat mereka melirikku bingung.


"Daya sembuh manusia serigala memang cepat, tapi darahnya tidak dapat digunakan untuk menyembuhkan luka pada orang lain. Sudah ada penelitian tentang itu dan hasilnya nihil," jelas ayah.


"Begitu. Paman Alan, maaf," aku melesat cepat ke arah paman Alan lalu menggores tangannya mengunakan pisau buah yang kuambil di keranjang buah diatas meja.


"Auu!" teriak kecil paman Alan begitu pisau itu menggores tangannya.


Ekspresi yang lain begitu terkejut atas apa yang baru saja aku lakukan. Aku tidak memperdulikan mereka. Aku melukai diriku sendiri menggunakan pisau yang sama, kemudian kuteteskan darahku pada luka di tangan paman Alan. Selang beberapa detik, kusekat bekas darahku. Mereka semakin tercengang begitu melihat luka itu sembuh seketika tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu. Setelah kejadian pada malam itu aku lebih suka sendiri. Aku bahkan jarang berbicara dengan Sofia, Lisa dan Rosse atau Nic, Kevin dan Evan. Kutangapi tingkah konyol mereka yang sengaja dibuat untuk menghiburku dengan senyum tipis terpakasa. Terkadang aku lebih menyukai pergi ke alam bawah sadarku yang bagi orang melihatnya aku seperti sedang tertidur. Bersama Sherina berbaring diatas rumput hangat sambil menatap langit biru yang kini kurindukan. Setidaknya disini tidak ada kenanganku bersama paman Fang. Bukan seperti diluar sana, setiap sudut rumah pasti ada saja sesuatu yang mengingatkanku padanya. Dengan Sherina aku mau bercerita cukup lama dan terkadang sampai lupa waktu. Banyak hal yang kami bahas atau sekedar bermain diantara bunga-bunga rumput. Kegiatan itu cukup membantuku melupakan kesedihanku.


"Rin, ada masalah apa? Kenapa kau menjauh dariku?"


Perchye berhasil menarik tanganku begitu aku hendak melarikan diri darinya. Beberapa hari ini memang aku menghindari kontak mata dengan Perchye, tidak menjawab telponnya atau membalas pesannya, walau itu sangat menyakitkan untukku. Namun setiap kali aku melihatnya, itu mengingatkanku kalau ia berasal dari klan Β (Beta). Aku kini sangat membenci klan tersebut. Tapi dalam hati kecilku aku tidak bisa menyalahkan Perchye karna ia berasal dari klan Β (Beta). Ia tidak tahu sama sekali permasalahan ini dan tak bisa ikut menyalahkannya. Hatiku penuh kegelisahan.


"Lepaskan tanganku Perchye!"


"Tidak! Sebelum kau jelaskan semuanya. Beritahu aku kenapa sikapmu seketika berubah padaku? Apa aku ada salah padamu? Jika iya, aku minta maaf. Aku mohon Rin jangan seperti ini. Kau menyakiti hatiku," tatapan matanya membuatku tak berdaya.


"Tidak, kau tidak ada salah," kurapatkan bibirku sambil mengalikan padang mencoba menahan tangisku.


"Lalu kenapa?" kini pandangannya mencari mataku. "Aku dengar dari temanmu kau juga memperlakukan mereka dengan sama. Kau selalu murung seharian dan terlihat lebih suka menyendiri. Cerita padaku, mungkin aku bisa membantu."


"Aku... Aku tidak bisa cerita, maaf," aku masih tidak sanggup menatap wajahnya.


"Oke, jika memang kau tidak mau, aku juga tidak akan memaksa," wajah Perchye terlihat kecewa. "Tapi biarkan aku menghiburmu."


Aku mengangkat wajahku seketika pandangan kami bertemu. "Menghiburku?"


"Kau bisa bermain ice skating?" di elusnya lembut air mata yang berhasil lolos dari pelupuk mataku.


"Bisa," aku menunduk begitu telapak tangan yang lembut dan hangat menyentuh pipiku.


"Entahlah, aku..."


"Aku mohon jangan menolak."


"Baiklah," kataku pelan tanpa mengangkat wajahku. Ya sudah, aku juga tidak bisa menolak hitung-hitung menebus kesalahanku karna mengacukannya beberapa hari ini.


"Terima kasih. Aku akan mengajakmu kesana setelah pulang sekolah."


Ditariknya aku dalam pelukannya, dikecupnya sekali ubun-ubunku lalu dibelainya lembut rambutku. Aku seperti batang kayu mati. Ingin kubalas pelukannya namun tanganku terlalu berat untuk melakukan itu. Kubiarkan diriku dedekap mesra olehnya. Kehangatan ini, perasaan ini membuatku tidak bisa membenci Perchye biarpun ia berasal dari klan Β (Beta). Aku dapat merasakan detak jantungnya serirama dengan detak jantungku.


Pulang sekolah, seperti yang di janjikan. Perchye mengajakku bermain ice skating di danau Osma di pinggir kota, 15 menit perjalan mengunakan mobil dari sekolah. Mobilku kubiarkan Rosse yang membawanya pulang bersama Lisa. Perchye juga sempat mengajak mereka bergabung namun lekas ditolak dengan alasan tidak bisa bermain tapi aku tahu isi pikiran mereka, senyum bodoh itu memberitahu segalanya.


Danau yang tidak terlalu luas namun ramai pengunjung dari semua kalangan bermain ice skating. Melihat mereka menari di atas lapisan es itu membuatku tertarik mencobanya. Ada tempat penyewaan sepatu luncur di pingir danau, segera kami kesana menyewa masing-masing sepasang sepatu. Sudah lama sekali aku tidak bermain ice skating, apa aku masih mengingatnya? Pertama kali menginjakan kaki ku ke atas lapisan es aku merasa sedikit gugup. Aku berpegang di pagar pembatas, meluncur pelan membiasakan diriku berseimbang di atas es danau itu. Yang tidak aku sangka cuman Perchye berkali-kali jatuh. Baru berdiri sebentar saja ia sudah kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan posisi bermacam-macam.


"Kau perna berseluncur sebelumnya?" tanyaku sambil membantunya berdiri.


"Eh... Iya, aku perna tapi itu saat aku masih kecil."


"Apa kau bisa?"


"Iya. Em... Sebenarnya, tidak," katanya sambil tersenyum menampakan deretan gigi-gigi putihnya. Ia masih berusaha menyeimbakan diri dengan aku membantunya.


"Lalu kenapa mengajaku main ice skating kalau tidak bisa?" aku melepaskan pegangan tanganku perlahan. Baru sedetik Perchye bersiri, ia mala jatuh lagi.


"Aaa!" pekiknya begitu tubuhnya menghantam es. Ia mengusap kepalanya yang sakit. "Aku pikir kau akan menyukai."


"Mau berseluncur bersama?" aku kembali mengulurkan tanganku membantunya berdiri.


"Iya," wajah Perchye terlihat merah saat menerima uluran tanganku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε