My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Penjahat utama muncul



...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Dasar putri keluarga Morgen ! ! !" dengan geram Sindy melemparkan lampu baca yang ada kamarnya ke lantai sampai hancur. Terjadi sedikit percikan api dari bohlam lampu yang pecah. "Karna dia aku jadi dihukum ayah tidak boleh keluar kamar selamat lebih dari tiga bulan tampa internet, TV dan bahkan ayah menyihir kamarku agar aku tidak bisa menggunakan sihir sama sekali. AAAAAH........ ! ! ! Sungguh menyebalkan!!! Andai ia bukan berasal dari keluarga Morgen aku pasti telah mencabik-cabiknya untuk jadi makanan anjing."


"Apa benar yang kau katakan?" tiba-tiba muncul sosok berjubah hitam di balkon kamar Sindy.


"Siapa kau? Bagaimana bisa kau ada di kamarku?" dengan waspada Sindy bertanya.


"Tidak perlu pusingkan itu. Jawab saja pertanyaanku," pria berjubah itu berjalan mendekati Sindy.


"Tentu saja benar. Aku sangat membenci Rin. Ia telah mempermalukanku di depan umum dan juga membuatku menerima hukuman ini. Andai ia bukan berasal dari keluarga berpengaruh, aku pasti telah membunuhnya."


"Hahaha..." tawa pria itu menggema seram dalam kamar Sindy. "Biarpun ia bukan keluarga Morgen, dengan kekuatanmu itu kau tidak mungkin dapat membunuhnya, karna ia adalah seorang manusia serigala."


Sindy tersentak mendengarnya. "Manusia serigala? Pantas saja ia begitu kuat saat aku bertarung melawannya. Eh, tapi tunggu. Bukankah ia telah terbukti bukan manusia serigala dalam konferensi pers yang diadakan keluarga Morgen?"


"Semua itu cuman rekaan keluarga Morgen saja untuk menutupi jati diri putrinya."


"Apa maumu? Kenapa kau mengatakan semua ini padaku?"


"Karna kita memiliki tujuan yang sama. Aku juga menginginkan kematian putri keluarga Morgen."


"Oh... Dendam apa yang bisa timbul diantara kalian?"


"Apa kau perna dengar tentang ramalan kuno?" bisik pria itu yang sudah ada dibelakang Sindy.


Seketika Sindy menoleh namun pria itu telah hilang dan muncul kembali di depannya. "Seluruh dunia malam sudah mengetahui tentang ramalan kuno tersebut. Dikatakan akan ada putri serigala yang akan lahir dari klan manusia serigala kuno dengan ciri khusus di dahinya. Darah jantungnya merupakan penawar racun taring manusia serigala. Sebuah obat penawar yang paling didambakan oleh semua orang."


"Kau tahu cukup banyak, tapi apa kau tahu kalau sekarang putri serigala telah muncul."


"Tidak mungkin! Seluruh sekte dan klan manusia serigala telah mendata setiap bayi perempuan yang lahir dari klan kuno tersebut, tapi sudah lebih dari ratusan tahun putri serigala yang diramalkan tidak perna kunjung ada."


"Hanya ada dua klan kuno dari kaum manusia serigala, klan Α (Alpha) dan klan Β (Beta). Kau pikir kenapa klan Α (Alpha) menutup diri dari dunia malam?"


"Menurut rumor, klan Α (Alpha) sedang memulihkan kekuatan setelah pertarungan sengit mereka dengan klan Β (Beta)."


"Salah. Ketua klan Α (Alpha), Derek Morgen memutuskan menutup diri karna putrinya adalah putri serigala yang diramalkan."


"Maksudmu, Sherina Morgen itu adalah putri yang diramalkan?"


"Sebab itulah keluarga Morgen mati-matian melindungi identitas putri mereka bahkan dari klan sendiri."


"Kenapa kau menginginkan kematian putri keluarga Morgen?"


"Akan aku beritahu kau rahasia kecil."


Pria itu mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajah Sindy sampai Sindy dapat merasakan nafas yang dingin dari pria tersebut. Tatapan mata merah menyala pria itu membuat Sindy tidak bisa bergerak sama sekali.


"Bagaimana kau tahu itu palsu?" tanya Sindy yang hanya bisa menggerakkan bibirnya.


"Karna aku yang menyebarkannya. Ramalan yang asli berbunyi... 'Akan lahir seorang putri dari kaum manusia serigala klan tertua dengan simbol spesial di dahinya. Ia adalah kunci untuk menciptakan perdamaian antara dunia malam dan dunia manusia.' Kehadiran putri serigala ini akan merusak seluruh rencanaku untuk membangkitkan kejayaan kaum vampire di antara kedua dunia."


"Kau bilang mustahil bagiku untuk dapat mengalahkan Rin, lalu bagaimana caranya aku membunuhnya?"


"Jadi budak darahku, akan kuberi kekuatan tak terbatas padamu," belai lembut pria tersebut di leher putih Sindy dengan seringai taring di senyumnya.


"Baik. Apapun akan kulakukan agar dapat membalaskan dendam ini," dengan tatapan kosong Sindy menyetujuinya.


"Aku suka keberanian mu. Jangan takut, rasanya seperti gigitan semut."


Pria tersebut membuka mulutnya lebar-lebar lalu menancapkan taringnya di leher Sindy. Darah mengalir disana. Sindy hanya bisa memejamkan mata menahan sakit. Rasa dingin dan perih benar-benar menusuk tulangnya. Darahnya begitu terasa mengalir ketika pria itu mulai mengisapnya. Sangat lama, mau sampai kapan pria ini menghisap darahnya. Sindy sudah tidak tahan lagi dengan rasa perih di lehernya. Tubuhnya mulai melemah dan pandangannya perlahan-lahan kabur.


"Sstt... Dari mana kau tahu semua itu?" tanya Sindy dengan lemahnya sebelum kesadarannya hilang.


Pria itu menarik taringnya dari leher Sindy. "Aku memiliki mata-mata terpercaya yang aku selundupkan di dalam kediaman keluarga Morgen selama bertahun-tahun," ia membaringkan Sindy yang sudah pingsan ke tempat tidur. Bekas gigitan itu terlihat jelas dileher Sindy. Pria itu hanya tersenyum. "Tidurlah bonekaku."


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


Akhir pekan yang damai. Untuk pertama kalinya aku terbangun atas kehendakku sendiri. Ku lirik jam tanganku, jam menunjukan pukul 09.30. Sudah jam segini? Kenapa aku tidak mendengar seseorang berteriak memanggilku? Biasanya tepat jam delapan diakhir pekan ada saja yang membangunkan ku, tidak itu ibu, Mitéra, Rosse atau Lisa. Hari ini kenapa kediaman begitu sunyi sekali?


Aku turun dari tempat tidur berjalan menuju balkon kamar. Nuansa salju menyambut ku kesunyian memadat. Tidak ada siapapun diluar sana. Para pelayan yang selalu lalu lalang tidak menampakan wujudnya. Dalam kebingunang dan berusaha untuk tidak memperdulikannya aku melangkah turun ke bawah. Mungkin aku bisa mencaritahu apa yang terjadi. Di sepanjang lorong, aku tidak bertemu siapapun sampai aku menuju dapur. Masih tidak ada orang. Hm, kemana perginya mereka?


Kucoba cari ke setiap sudut ruangan di rumah tapi tetap saja tidak ada satupun orang bahkan Angel pun tidak kelihatan. Ia biasanya sudah pulang pagi-pagi begini. Aaah...! Kalian semua pergi kemana!! Bosan mencari di dalam rumah yang sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan, aku cari mereka keluar. Kukenakan jaket kulit dengan rumbai bulu di bagian krahnya, sepatu hitam musim dingin dan sarum tangan biru. Aku menyelusuri setiap jalan di taman yang sepih. Masih tidak aku temukan manusia di kediaman ini. Aku duduk di kursi taman yang dinggi untuk melepas lelah. Saat berkeliling tadi aku sambilan menelpon mereka namun tidak ada satupun yang aktif bahkan teman-temanku yang lain juga. Kalian pasti bercanda!


"Ingat-ingat dulu, mungkin ada yang kau lupakan," Sherina muncul lalu duduk disampingku.


"Aku kira kau juga ikut menghilang."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε