
Jelas bibi Marry berbohong. Aku sama sekali tidak mendengar TV menyala sebelum keluar kamar. Aku membiarkan itu. Berbagai hal memang tidak bisa dijelaskan kepada orang luar seperti aku ini, apalagi hal yang menyangkut tentang apapun itu sampai anak sendiri juga tidak tahu. Memang terkadang orang tua selalu menyimpan rahasia mereka rapat-rapat agar anak-anak mereka tidak tahu. Terdapat alasan mereka melakukannya dan itu terkadang untuk kebaikan anak-anak mereka.
"Kalau begitu bibi mau tidur dulu."
"Iya."
Bibi Marry kembali ke kamarnya dengan tergesa-gesa sampai melupakan surat yang ia sembunyikan. Karna keingintahuan yang besar, kenapa bibi Marry harus menangis diam-diam di kegelapan. Aku mengambil surat itu lalu membacanya. Aku terkejut setelah melihatnya. Ternyata itu adalah surat tagihan dari kartu kredit bibi Marry. Nominalnya yang tinggi dan bunga yang juga besar. Uang yang aku kirim waktu itu saja tidak cukup melunasi bunganya. Yang membuat aku tertegu adalah kalimat ancaman diakhir surat.
"Jika utang plus bunganya tidak dibayar lunas dalam jangka 3 hari, maka kami dari pihak bank akan menyita rumah anda!"
Aku terduduk lesuh di sofa meratapi kalimat terakhir tersebut. Hatiku tegetar setelah membacanya. Jadi ini alasan bibi Marry menangis. Kalau hutang ini tidak dilunasi maka rumah ini akan disita. Aku meletakan kembali surat itu ke tempatnya di posisi semula. Aku berjalan pelan menuju kamar sampai lupa tujuanku kenapa aku turun kebawa. Sekarang aku tidak bisa tidur karna memikirkan nasip bibi Marry dan Rosse. Kemana mereka akan tinggal kalau rumah ini disita?
Sebaiknya aku beritahu orang tuaku saja, mungkin mereka bisa bantu. Tapi hari sudah sangat larut. Mereka pasti sudah tertidur. Akan kuceritakan masalah bibi Marry ini pada ayah pagi hari saja. Namun aku tidak tahan menunggu sampai pagi. Ingin sekali malam ini juga aku memberitahu orang tuaku tentang masalah ini. Aku melirik Sofia yang tertidur pulas disampingku. Mungkin aku bisa meminjam hpnya untuk menelpon ibu. Aku mencari hp Sofia yang aku temukan di bawah bantalnya. Aku menyalakan hp Sofia, mencari no ibu dan langsung menelpon.
Tut... Tut...
Tidak ada jawaban. Aku terus berulang menelpon ibu namun tetap saja tidak diangkat. Sepertinya memang harus pagi nanti aku memberitahu mereka. Aku meletakan kembali hp Sofia disampingnya. Aku berusaha untuk tidur agar cepat menjelang pagi. Tapi percuma, mataku tidak mau terpejam sama sekali. Aku masih terpikiran dengan surat itu. Aku terus saja melamun dalam keheningan malam yang dingin, sampai akhirnya aku dapat tertidur sekitar dua jam kemudian.
Dengan keadaan mata masih terpejam aku mendengar samar-samar suara cekikikan. Siapa yang tertawa begitu lucu sepagi ini? Aku berusaha membuka mataku. Bayangan pertama kali aku lihat adalah Sofia dan Rosse yang tertawa ketika melihatku. Apa ada yang lucu di wajahku? Aku segera bangun dan mengucek mataku. Ada sesuatu yang berwarna hitam di telapak tanganku. Aku bergegas berlari mendekati cermin yang ada di lemari. Ternyata... Pantas saja mereka tertawa dengan lucunya. Wajahku mereka coret dengan spidol.
"Sofia! Rosse! Aku akan membalas kalian!!!"
"Hahaha..." tawa mereka menggema saat mereka berlari keluar.
Aku baru turun setelah membersikan wajahku. Benar-benar, pagi-pagi begini aku sudah dibuat kesal oleh mereka berdua. Sampai di dapur ku lirik mereka yang masih cekikikan satu sama lain. Aku menarik kursi di depan mereka dengan wajah cemberut.
"Ada apa Rin, kok cemberut begitu?" tanya bibi Marry ketika ia meletakan sarapan pagi diatas.
"Tidak ada bibi," kata sambil menunduk lesuh.
Perasaanku berubah seketika setelah melihat wajah bibi Marry. Aku kembali teringat tentang surat itu. Teringat bibi Marry yang menangis diam-diam dalam kegelapan. Bibi Marry sungguh hebat. Ia dapat menyembunyikan kesedihannya begitu dalam. Ia masih bisa tersenyum di depan putrinya. Aku melirik bibi Marry tampa mengangkat wajahku. Wajah yang tersenyum ketika mendengar Rosse bercerita, namun jauh dalam hatinya ia menangis. Mata itu... Mata itu pernah meneteskan mutiara. Seandainya Rosse yang melihat kejadian semalam bukan aku, mungkin wajahnya tidak akan seceria ini. Dan entah seperti apa suasana pagi ini.
"Selamat pagi semuanya!" teriak ibuku sambil menerobos masuk sampai dapur.
"Ukhuk..." hampir saja aku tersedak akibat di kejutkan oleh ibuku. "Ibu...!"
"Maaf maaf," ibu diam sebentar. Ia mendekatkan wajahnya untuk meneliti wajahku. "Ada apa denganmu? Kenapa mukamu murung begitu?"
"Tidak ada," aku segera memalingkan muka. Ibu memang bisa menebak perasaanku.
"Kau yakin? Ibu tahu..."
"Ibu, dimana ayah?" potongku mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ayahmu..."
"Pagi semuanya," ayah datang dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya. "Kami tadi sempat membeli sarapan tapi tidak tahu yang mana kesukaan kalian. Jadi kami beli semua jenis yang ada. Kalian bisa memilih yang kalian suka."
"Apa ini tidak kebanyakan? Siapa yang mau menghabiskan semua ini?" aku teperangak melihat semua makanan yang ayah beli.
"Hm, aku rasa kau benar."
"Sudah tidak apa-apa. Sebagian makanannya bisa disimpan untuk nanti," Bibi Marry menyimpan sebagian makanan itu di kulkas.
Selesai sarapan aku menceritakan semua masalah yang dialami bibi Marry, dan tentu saja tidak diketahui oleh mereka. Hanya ada aku, ibu dan ayah di halaman belakang. Sebenarnya aku cuman mau meminta ayah membantu bibi Marry melunasi hutang nya namun tidak disangka teryata orang tuaku mala setuju untuk meminta bibi Marry dan Rosse tinggal bersama kami. Tentu saja aku sangat senang akan hal ini. Tinggal keputusannya ada di bibi Marry. Mau atau tidak.
"Mrs. Hartley, kami sudah mendengar semua permasalahan yang kau alami. Kami berencana untuk... Apa Mrs. Hartley dan Rosse mau tinggal bersama kami? Saya harap Mrs. Hartley tidak menolak," kata ibuku dengan nada bujukan
Aku menajamkan pendengaran ku untuk mendengar percakapan mereka di dapur. Aku, Rosse dan Sofia saat ini sedang asik menonton TV di ruang tamu.
"Bagaimana ya... Saya bukannya menolak, tapi... Saya merasa tidak enak. Keluarga Morgen sudah terlalu banya membantu keluarga kecil kami, saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya," ucap bibi Marry membuatku lemas.
"Tidak apa Mrs. Hartley. Bagaimana kalau Mrs. Hartley berkerja di perpustakaan kota bersamaku? Mungkin dengan berkerja Mrs. Hartley berkenan tinggal bersama kami?" bujuk ibuku lagi.
"Untuk sekolah Rosse tidak perlu dipusingkan. Rosse bisa bersekolah di sekolah yang sama dengan Rin," sambung ayah.
"Em..." Bibi Marry hanya diam.
"Ayok dong bibi Marry katakan Iya," batinku.
Setelah berpikir sejenak akhirnya bibi Marry berkata dengan suara pelan. "Baiklah. Jika berkerja mungkin saya tidak keberatan."
"Hore...!!" spontan aku berteriak sambil mengangkat kedua tanganku. Menyadari hal itu aku cepat-cepat menutup mulutku menggunakan kedua tangan. Rosse dan Sofia yang terkejut mendengar teriakanku menoleh dengan tatapan heran.
"Kau kenapa Rin?" tanya Sofia.
"Teriak-teriak tidak jelas," kata Rosse yang kembali menonton TV.
"Tidak apa-apa. Cuman mendengar kabar gembira."
"Ternyata ada yang menguping pembicaraan kita," kata ayah menyindir.
"Hihihi... Tidak sengaja."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε