My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Ingatan samar



Tiga hari berlalu. Aku kembali sekolah seperti biasa. Ibu sempat melarangku sekolah dan bahkan telah meminta cute satu minggu dari wali kelasku. Tapi aku tidak mau. Duduk di rumah seharian tampa bisa melakukan apapun sangatlah membosankan. Untuk makan saja ibu repot-repot membawahkannya ke kamarku. Aku malah tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidurku. Ini cukup berlebihan, aku hanya terluka dibagian perut bukan tangan atau kakiku. Ha... Aku tidak bisa membatah ibuku, tapi aku juga tidak mau terus-terusan berada ditempat tidur. Bisa-bisa kakiku mati rasa.


Teman-temanku sempat bertanya, kenapa aku izin beberapa hari sebelumnya? Aku tidak mungkin memberitahu mereka kejadian sebenarnya kan? Dan bahkan luka yang aku alamin, aku juga tidak memberitahu mereka. Aku mengalaskan kalau aku sakit, walau awalnya mereka tidak percaya. Tapi setelah melihat raut wajahku yang lebih pucat dari biasanya. Barulah mereka percaya kata-kataku. Alasan ini juga aku gunakan pada Perchye.


Aku sama sekali tidak ingat apapun yang terjadi setelah aku kehilangan kesadaran saat latihan. Entah bagaimana caranya, tiba-tiba aku sudah ada ditempat tidur dan mengalami luka ini. Ada ingatan samar yang menggaguku setelah siuman. Aku bermimpi kalau aku tenggelam disungai. Tubuhku terasa sangat lemas tampa tenaga, bahkan untuk mempertahankan kelopak mataku agar tetap terbuka saja sangat berat sekali. Air yang begitu dingin tidak terasa dikulitku. Aku hanya pasra. Apa ini akhirnya? Apa aku tidak bisa bertemu dengan ibuku lagi? Dalam kegelapan sungai aku melihat bayangan seseorang terjun berenang menghampiriku.


"Ayah, apa itu kau?"


Aku berusaha membuka mulutku, bertanya pada sosok itu. Aku rasa ia tidak bisa mendengarku. Saat tangannya menyentuh tubuhku dan mulai merangkulnya, ada perasaan familiar yang begitu kuat aku rasakan. Aku tahu kalau ia bukan ayahku. Dari ukuran tubuh aku bisa pastikan bahwa umurnya tidak jauh berbeda dariku. Wajahnya tidak bisa aku lihat dengan jelas. Ada ciri khas yang membuatku tidak bisa melupakannya. Mata merah menawan itu.


Di kegelapan sungai tersebut hanya mata merah itulah yang sangat jelas aku lihat. Warna mata paling indah yang pernah aku temui. Aku tidak yakin, apa ini memang mimpi? atau sebagian ingatanku yang hilang? Ibu bahkan tidak tidak cerita bagaimana aku mendapatkan luka ini. Ha... Sudahlah. Mungkin itu memang mimpi. Aku tidak perlu terlalu memikirkannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sherina..."


Terdengar suara memanggilku. Aku tidak dapat memastikan siapa yang barusan menyebut namaku. Ruangan ini hanya memiliki satu lampu kecil, dan itu tepat di atas kepalaku. Bau diruangan ini juga aneh, sedikit anyir serta lembab.


"Sherina..."


Suara itu terdengar lagi. Suara yang begitu parau memilukan hati berasal dari sudut ruangan tepat di depan ku. Aku menyipitkan mata agar dapat melihat siapa itu. Yang kulihat adalah sosok arwah seorang wanita. Tubuhnya tembus pandang. Ia mengenakan pakaian compang caping, kusam penuh debu.


"Siapa kau?" tanyaku hati-hati pada arwah itu.


Ia tidak menjawab, hanya terpaku disana. Tidak berlangsung lama, tiba-tiba wanita itu melesat cepat ke arahku. Sangat dekat sampai aura dingin yang terpancar darinya terasa menusuk hingga ke tulang. Mata hitam gelapnya benar-benar membuatku merinding. Aku tidak bisa kemana-mana, tepat di belakangku sudah ada tembok yang menghalangi.


"Serahkan tubuh! Aku butuh tubuhmu!" teriak melengking dari arwah itu memecah kesunyian.


Ia berusaha mengambil alih tubuhku. Tentu saja aku menolaknya. Tidak mungkin aku menyerahkan tubuhku begitu saja. Arwah itu menyerangku mengunakan kukunya yang tajam dan menghitam. Aku sekuat tenaga menghindar dari seranganya.


"Tidak!! Menjauhlah dariku!"


"Rin bangun," ibu menguncang tubuhku.


"Pergi!! Jangan ganggu aku! Pergi dari sini!" aku masih saja mengigau dan meronta-ronta.


"Rin sadarlah. Tidak ada yang menggagumu," guncang ibu semakin kuat mumbuatku sadar.


"Ha?! Apa? Apa yang terjadi?" aku linglung, mataku tidak berhenti melirik kesana kemari. Keringat dingin membasai seluruh tubuhku. Aku mengatur nafasku yang terputus-putus. Rasanya seperti baru selesai berlari ratusan meter. Aku berusaha duduk dibantu ibu. Luka yang ada di perutku masih terasa sakit saat aku bergerak. Ini cukup aneh? Aku sering mengalami luka kecil atau beberapa kali luka sedang, tapi semua luka itu sembuh dengan cepat dan malah tidak meninggalkan bekas. Namun luka ini... Sudah lebih dari seminggu, dan masih terasa sakit.


"Ada apa sayang. Kau mimpi buruk lagi?" tanya ibu sambil mengusap lembut kepalaku dan merapikan helaian rambut yang menutupi wajahku.


"Mimpi yang sama," jawabku sambil mengaguk. Nafasku masih tidak teratur.


"Sebaiknya kau mandi, siap-siap sekolah."


"Iya," aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Air dingin benar-benar menyejukan di pagi ini.


...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...


"Ada apa? Rin mimpi buruk lagi?" tegur suaminya.


"Ha... Ini sudah enam kalinya dalam minggu ini," kata Cloey masih lesuh.


"Mimpi yang sama?"


"Iya. Rin selalu mengigau sambil menyebut nama Margaret."


"Margaret? Namanya terdengar tidak asing," Derek mencoba mengingat-ingat nama itu.


"Aku juga merasa perna mendengar nama itu, tapi aku tidak ingat dimana."


"Ini pasti berhubungan dengan ingatan masa lalunya. Bagaimana kita ikuti saran Mr. Guttman untuk membawa Rin ke tempat itu? Mungkin bisa membantu mengembalikan ingatan Rin dan juga bisa menghentikan mimpi buruknya?"


"Apa ini akan berhasil?"


"Setidaknya dapat dicoba."


...ΩΩΩΩ Sudut pandan orang pertama ΩΩΩΩ...


Aku tidak tahu kalau ibu telah menelpon Mrs. Smith untuk meminta cuti beberapa hari. Aku baru tahu ketika ayah dan ibu berinisiatif mengatarku ke sekolah. Jalan yang ditempuh ayat tidak mengarah ke sekolah tapi malah mengarah ke luar kota. Tentu saja aku kebingungan. Saat aku bertanya, ibu menjelaskan kalau hari ini kami akan menginap di penginapan yang ada dikaki gunung. Hm... Ada acara apa sampai-sampai orang tuaku menyeretku ke gunung?


Butuh waktu hampi 2 ½ jam untuk sampai ditujuan. Lokasi penginapan ini terletak di kaki gunung, cukup terpencil dari kota setempat. Mobil meninggalkan kota. Rumah-rumahpun semakin berkurang jumlahnya, digantikan pepohonan. Disisi kiri dan kanan hanya ada pohon menjulang tinggi. Mobil yang lalu-lalang cuman satu atau dua saja melintasi kami. Dari balik jendela aku dapat melihat tupai-tupai melompat kesana kemari melalui dahan-dahan yang saling terhubung. Burung-burungpun tidak mau kalah. Mereka berkicau riah bersahut-sahutan mengikuti suara angin.


15 menit kami melalui hutan, akhirnya sampai juga ditujuan. Penginapan sederhana dua lantai plus loteng, dengan halaman luas. Mobil berhenti diparkiran. Aku keluar dengan rasa pegal akibat duduk terlalu lama. Aku membantu ibu mengeluarkan barang bawaan yang entah kapan disiapkan. Kami melangkah masuk ke bangunan yang terbuat dari kayu itu. interior dan eksterior klasik menyambut kami. Aula luas dengan lampu gantung yang menghiasi langit-langitnya menyala terang.


Penginapan ini dikelola oleh sepasang suami istri. Tidak ada pelayang lain yang terlihat selain mereka yang menyambut kami dengan ramah. Kedua orang itu sepertinya sudah lama saling kenal dengan keluargaku. Terlihat dari percakapan mereka yang asik. Aku hanya diam saja, tentu karna aku tidak ingat siapa kedua orang itu dan juga topik percakapan mereka tidak menarik perhatianku. Kami diajak berkeliling penginapan. Disisi kiri terdapat dapur dan juga ruang makan dengan meja bundar terpisah. Terdapat pemandian air panas tunggal maupun perorangan dibagian belakan penginapan. Disini juga disediakan perpustakaan yang ada di loteng sebelah kanan bangunan. Dan ruangan lainnya adalah kamar.


Penginapan ini tidak ramai pengunjung. Mungkin karna bukan hari libur jadi merek tidak menyediakan pelayan tambahan. Hanya ada beberapa orang yang menginap. Satu pria berumur sekitar 30 tahunan yang menempati kamar dilantai atas. Sepasang kekasih menempati kamar di lantai dua. Aku tidak tahu mereka sudah menikah atau belum? Aku rasa belum karna kamar mereka terpisah. Dan Satu keluarga kecil dengan anak mereka yang berumur 6 tahun. Gadis periang dan selalu ingin tahu.


Kamarku terletak dilantai dua menghadap langsung ke pegunungan. Aku bisa merasakan udara dingin yang turun dari puncak tinggi itu saat aku membuka jendela. Kamar orang tuaku tepat disebelah kamarku. Barang-barang yang sudah disiapkan ibu sebelumnya kubiarkan saja didalam koper, tidak aku susun. Aku terlalu malas untuk melakukannya. Aku membaringkan tubuhku di kasur lembut penginapan ini.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε