
Musim dingin hampir tiba. Sinar matahari tanpak redup di langit kelabu. Hari ini aku mau membereskan lemariku. Ada berberapa pakaian, sepatu, syal, sarum tangan, kaos kaki, dan lainnya yang tidak aku pakai lagi. Aku berencana menyimpan semua barang itu diloteng atau mungkin aku akan sumbangkan saja nantinya. Aku meminta bantuan Rosse memilah barang-barang tersebut dengan catatan aku harus memberi salah satu barangku yang ia suka sebagai imbalan. Aku sih tidak keberatan sama sekali asalkan itu bukan barang kesayanganku.
Kurang lebih hampir dua jam kami membereskan semua isi lemari. Dan yang kami dapatkan satu kotak penuh barang-barang tak terpakai. Fiuuh... Ini cukup melelahkan. Merapikan dan menyusun seluruh barang yang ada. Kini lemariku memiliki cukup banyak ruang kosong. Rosse sudah memilih barang yang ia inginkan, sebuah sepatu hitam bertali putih sampai mata kaki dengan motif sakura disisi luar sepatu. Aku bahkan tidak ingat perna memiliki sepatu itu. Mungkin aku cuman perna memakainya sekali lalu melupakannya. Selain sepatu aku juga memberikan syal merah polos untuknya sebagai menyambut musim dingin nanti.
Aku dan Rosse pergi ke loteng untuk menyimpan semua barang ini. Aku memisahkan pakaian, syal, sarum tangan dan kaus kaki aku menyusunnya dalam lemari. Sedangkan untuk barang lainnya aku biarkan saja dalam kardus dan hanya kututup rapat menggunakan selotip, tak lupa kuberi tanda menggunakan spidol. Semua sudah beres. Kulihat Rosse berkeliling lalu ia melihat-lihat sebuah peti berukuran besar yang menarik perhatiannya.
Aku mendekatinya. "Sedang apa?"
"Aaah!!," teriaknya terkejut. "Bisa tidak kau jangan suka muncul tiba-tiba dibelakangku. Itu membuatku takut."
"Hihi... Kau sedang apa?" aku mengulangi pertanyaanku.
"Tidak ada. Ayok kembali."
"Tidak mau lihat apa isinya?"
"Memang boleh?"
"Tentu saja boleh."
Aku mengambil kunci yang tergantung di dinding tepat diatas peti itu. Aku membuka gembok besar berwarna hitam dan cukup tua. Kunci terbuka, aku mengangkat tutup peti ini yang ternyata sangat berat. Peti ini berisi barang-barangku semasa kecilku. Pakaian, mainan, boneka, topi rajut, sepatu, sarum tangan, pita-pita hiasan rambut dan banyak lagi. Aku iseng-iseng mencabanya salah satu barang yang tentunya tidak muat lagi.
"Hei, Rin. Ini apa?" Rosse menunjukan sebuah map plastik berwarna hijau dengan lembaran kertas di dalamnya.
"Tidak tahu. Coba buka," pintaku yang juga penasaran dengan isi dari map tersebut.
Rosse membuka map itu dan mengeluarkan lembaran kertasnya. Aku mendekat ke arah Rosse ikut mencari tahu isi dari kertas tersebut. Fakta mengejutkannya adalah itu hanya lembaran kosong, becanda. Isinya adalah data dari rumah sakit berseta foto seorang bayi. Bukan hanya satu tapi melainkan dua data rumah sakit dari dua bayi berbeda. Kedua bayi itu sepertinya pernah aku lihat sebelumnya. Em... Oh iya, aku ingat. Kedua bayi itu mirip dengan bayi yang ada di mimpiku tempo hari lalu. Aku mendapati nama bayi yang berambut pirang bernama Keyla dan bayi satunya bernama... Namaku? Apa yang terjadi? Dilihat dari umur bayi ini sekitar berumur satu tahun.
"Rin, apa kau mengetahui semua ini?" Rosse menunjukan lembaran kertas lainnya.
Aku dibuat tercengang dengan isi kertas itu. Itu adalah surat adopsi dari panti asuhan atas nama Keyla. "Aku tidak tahu."
"Tidak tahu? Em... Apa mungkin orang tuamu perna mengadopsi seorang bayi? Yang menjadi pertanyaan, kemana perginya bayi yang bernama Keyla ini?"
"Mungkin tidak di dunia ini lagi."
"Maksudmu?"
"Lihat ini."
Aku menunjukan lembaran terakhir dari dalam map tersebut. Kertas itu berisi surat penyetujuan pendonoran dan trasplatasi jantung. Aku dan Rosse terdiam sesaat saling menatap. Aku mengumpulkan seluruh kertas itu dan masukannya kembali dalam map. Aku membawa map itu berlari turun dari loteng, meninggalkan Rosse yang perteriak memanggilku. Aku harus tahu kebenarannya. Siapa yang mendonor dan mentrasplantasi siapa. Aku berlari mencari orang tuaku. Di kamar, ruang kerja, ruang tamu, ruang keluarga, perpustakaan, dapur, ruang makan, ruang bersantai, garasi, dan disetiap ruangan yang ada dirumah ini aku tidak menemukannya.
Kucari keluar. Taman depan, taman belakang, kebun, dirumah paman, bertanya pada semua orang yang aku temui dan akhirnya aku mendapati ayah dan ibu ada di pondok dekat danau buatan. Aku bergegas menghampiri mereka. Nafasku terengah-engah ketika sampai disana, sesak dan sangat sulit bernafas. Bagaimana tidak, hampir seluruh kediaman ini aku berlari hanya untuk mencari orang tuaku.
"Kau darimana Rin?" tanya ibu.
Aku tidak menjawab. Nafasku masih putus-putus dan sulit untuk berbicara. Aku melemparkan map yang kubawa tadi ke atas meja. Hal itu membuat ayah dan ibu menatapku bingung. Ayah hanya melihat sekilas map itu tanpa membukanya. Ibu yang penasaran mengambil dan dilihat lembar demi lembar kertas yang ada dalam map tersebut. Terlihat ibu tertunduk setela membacanya.
"Jadi kau sudah mengetahuinya?" kata ayah pelan.
"Tidak. Aku, tidak terkejut. Banyak alasan, yang... Tidak dapat dijelaskan, orang tua pada, anaknya," kataku dengan susah payah. "Aku... Hanya ingin tahu, siapa, yang mendonor dan, mentransplantasi siapa?"
"Nafasmu terdengar sangat sesak sekali, Rin. Kita bahas hal ini lain kali saja. Kita ke rumah sakit dulu ya?" kata ibu penuh kekhawatiran.
"Tidak! Aku mau... Sekarang!" tegasku memaksa.
"Rin..." ibu menatap sedih ke arahku.
"Apa kau sangat yakin ingin mengetahuinya?" tanya ayahku dengan serius.
"Sangat yakin. Aku, bisa menerima, apapun itu."
"Baiklah."
...Kilas balik 15 tahun yang lalu...
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Tidak............ ! ! ! ! Ini tidak mungkin! Dok, tolong selamatkan putriku. Kumohon... Hiks... Hiks..."
Rintih pilu memenuhi ruangan. Satu permohonan dari seorang ibu tidak dapat terwujud. Cloey, nama wanita itu hanya bisa menangis di samping putri kecilnya yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Derek sang suami mencoba menenangkan istrinya agar merelakan kepergian putri mereka. Ini adalah takdir yang tidak diinginkan oleh setiap orang tua. Dari kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba terdengar keriuhan dari luar. Cloey menyekat air matanya dan berjalan keluar tanpa sadar. Ia memberhentikan seorang suster dan bertanya.
"Ada ribut apa ya?"
"Ada seorang bayi yang mengalami kritis," jelas suster itu lalu ia berlalu pergi lagi dengan tergesa-gesa.
Penasaran dan seperti ada panggilan yang menariknya untuk melihat lebih dekat. Cloey tidak memperdulikan suaminya yang memanggil. Ia berjalan keruangan dimana bayi itu dirawat. Sampai disana ia melihat seorang wanita menangis di depan pintu. Cloey mengintip dari balik kaca kecil yang ada di pintu. Terlihat beberapa perawat sibuk memasang alat-alat kesehatan pada tubuh bayi yang tidak berdaya. Cloey bertanya-tanya pada wanita itu yang kini ia tahu namanya adalah Sera. Ia ingin untuk mencari tahu apa yang terjadi pada anak Sera. Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan.
"Mana orang tua bayi?" tanya dokter itu.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε