
...Sudut pandang orang pertama...
...Kembali ke masa sekarang...
...ΩΩΩΩ...
"Itu berarti bibi juga salah satu kelinci percobaan mereka," kata ku menyimpulkan.
"Bisa dibilang begitu," jawab bibi Emely.
"Sungguh organisasi yang kejam. Untunglah mereka semua telah dimusnahkan," kata Rosse sambil melipat tangannya di dada.
"Mereka memang kejam. Setelah kejadian itu, aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Mr. Dicaprio sempat bertanya bagaimana aku bisa berakhir di tangan mereka. Yang aku ingat saat itu setelah memasuki hutan cukup dalam aku melihat sekelibat cahaya senter. Aku berusaha mencari tahu siapa mereka itu, tapi aku tidak menemukan siapa-siapa. Sampai aku kelelahan dan pingsan. Begitu aku bangun, aku telah mendapati diriku terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan ku dalam ruangan putih.
Ada tiga orang masuk ke ruangan tempatku berada. Salah satu dari mereka menyuntikkan cairan aneh berwarna hijau ke dalam kantung infusku. Keadaanku masih belum sadar sepenuhnya saat itu. Karna memang tenagaku belum pulih. Aku dengan lemahnya melihat benda itu mengalir masuk ke dalam tubuhku. Tiba-tiba aku merasa hawa yang sangat panas menyelimutiku. Jantungku berdebar dua kali lipat dari biasanya. Rasa sakit seketika menyerang kepala lalu menjalar ke seluruh tubuh. Aku mengeram kesakitan begitu saat tulang-tulangku terasa bergeser. Pandanganku perlahan menggelap dan akhirnya hilang sepenuhnya, sampai aku mendengar suara kakak memanggil."
"Saat itulah ayah memanggil bibi untuk mengajak pulang. Ikatan persaudaraan memang sangat kuat," aku meraih tangan Lisa menggegamnya dalam tanganku.
Bibi Emely tersenyum. "Aku tertidur lebih dari seminggu setelah meninggalkan tempat tersebut. Tapi begitu aku terbangun, aku kehilangan indra pendengaran ku."
"Apa!!!" kata kami serempak karna terkejut dan tidak percaya.
"Ke, kenapa aku tidak pe, pernah tahu soal itu?" tanyaku terbata-bata.
"Memang kau perna bertanya?" bibi Emely menyelipkan helaian rambutnya di telinga memperlihatkan alat bantu pendengaran yang tersemat di telinganya. "Aku menggunakan alat ini untuk membantu mendengar kembali. Tapi pendengaran ku tidak setajam dulu lagi. Bagi manusia serigala indra pendengaran sangatlah penting. Dengan menggunakan pendengaran kita bisa mengetahui keberadaan musuh walau kita tidak melihat mereka. Dan satu hal lagi, aku kesulitan mendapati keturunan. Kehadiran Mia sungguh anugarah untukku."
"Kemana Mr. Dicaprio? Kenapa kami tidak pernah bertemu dengannya? Dia itukan ayah dari paman Alan," tanya Sofia.
"Dia lekas pergi setelah mengantar kami kembali ke kediaman. Ia tidak menyukai tempat ini karna ia merasa sangat bersalah telah memisahkan Derek dari keluarganya selama bertahun-tahun. Ia hanya pernah datang di hari pernikahan kami. Itupun cuman sekedar mengucapkan selamat. Saat ini ia sedang mengejar impiannya keliling dunia. Ia sering mengirimkan beberapa foto-fotonya di berbagai tempat terkenal di penjuru dunia ini. Percaya atau tidak, ia berkeliling dunia menggunakan mobil silver yang digunakan waktu menyelamatkan kami dulu. Aku sungguh sangat terkejut melihat mobil itu masih bisa berjalan sampai sekarang."
"Lalu setelah kalian kembali ke kediaman. Apa yang terjadi?" tanyaku semakin ingin tahu kelanjutannya.
"Mr. Li segera memberitahu ibu tentang kepulanganku yang tidak ada kabar setelah setengah bulan menghilang. Ibu sangat senang mendengarnya, ditambah lagi begitu ia mengetahui kalau putranya masih hidup. Ibu menangis terharu sambil mencium, memeluk kami dengan sangat erat seperti tidak mau melepaskan kami selamanya. Ia sangat-sangat bersyukur karna putra-putrinya dapat kembali dengan selamat. Ibu bahkan mengadakan pesta besar-besaran menyambut kepulangan kami dengan dihadiri seluruh anggota klan Α (Alpha). Ia begitu bahagianya sampai-sampai mabuk dalam acara pesta yang meria itu."
"Nenek bisa minum alkohol?" kataku sedikit kaget.
"Tentu saja bisa. Nenekmu bisa minum 10 gelas anggur tahun 81 dan itupun masih tidak membuat wajahnya merah sedikitpun."
"Kalau 10 gelas saja tidak mabuk, lantas berapa gelas yang diminumnya pada pesta itu?" tanya Lisa.
"Mereka mencium bau anggur saja sudah mulai mabuk. Mau menyuruh mereka minum... Sebaiknya tidak usah," ujarku.
"Hah..." bibi Emely menghela nafas panjang. Ia menyadarkan tubuhnya di sofa sambil melihat langit-langit kamar. "Bukankah hari itu terdengar sangat bahagia? Dunia malam mulai berjalan ke arah perdamaian, kakak ku telah pulang kembali ke rumah dan klan Α (Alpha) juga memulai bangkit dari keterpurukan. Tapi sayangnya semua kebahagian itu tak berlangsung lama disaat klan Β (Beta) dengan bodohnya menyerang kediaman. Mereka tidak terima ibu menarik pasukan ditengah-tengah perang. He, pada hal mereka tidak tahu seberapa besar pengorbanan klan Α (Alpha) berikan dalam perang tersebut. Ayahku sampai tewas dalam perang yang dikenal kini dengan sebutan perang bulan purnama merah. Hiks... Apa itu masih kurang bagi mereka?" bibi Emely kembali menangis. Ia menyekat air mata setelah itu melanjutkan.
"Mereka menyerang dengan kekuatan penuh. Jumlah pasukan mereka jauh lebih banyak dari kami. Sungguh kami bukan tandingan bagi mereka. Untuk keselamatan, ibu melarangku, kakak, Cloey dan Alan ikut berperang melawan klan Β (Beta). Ia meminta kami berempat untuk bersembunyi di bangker bawah tanah. Kami tentu tidak terima itu. Tidak lagi aku biarkan salah satu keluargaku dalam bahaya. Mau bagaimanapun situasinya kami harus menghadapinya bersama. Dengan berat hati ibu menyetujui kami ikut menyerang klan Β (Beta). Pertahanan kediaman berhasil ditembus dengan mudah oleh musuh. Tapi kami tidak gentar. Tidak kami biarkan klan Β (Beta) berhasil menjatuhkan klan Α (Alpha). Peperangan sengitpun terjadi. Ibu memimpin pasukan di garis depan bersama kakak, Alan dan Tori. Karna aku mengalami masalah dengan pendengaran ku, aku terpaksa berada di barisan paling belakang bersama Cloey."
"Tunggu, ibu juga ikut dalam perang tersebut?" kataku.
"Ibu lah yang paling berjasa dalam perang ini. Kalau bukan karna ibumu, klan Α (Alpha) tidak akan mungkin dapat membalikkan keadaan. Selama perang berlangsung, sebenarnya Cloey sedang berkonsentrasi mengumpulkan kekuatannya, dan aku bertugas menjaga ibumu dari serangan musuh."
"Apa yang ingin bibi Cloey lakukan?" kali ini Sofia bertanya.
"Membangkitkan seluruh pasukan yang tewas dari pihak musuh."
"Kenapa harus dari pihak musuh? Bukankah itu sangat menguntungkan bagi mereka? Jumlah pasukan mereka jadi tidak berkurang sedikitpun," ujar Lisa.
"Salah satu kekuatan Necromancy adalah dapat membangkitkan orang yang telah meninggal, dengan cara menarik jiwa mereka kembali ke tubuhnya. Orang yang sudah meninggal yang di bangkitkan kembali ini telah kehilangan akal pikirannya. Ia tidak tahu lagi siapa dirinya atau bahkan rekan, keluarga dan teman-temannya. Mereka hanya menuruti perintah dari orang yang telah membangkitkannya. Mereka jauh lebih mirip seperti sebuah boneka dengan sang pengendali."
"Kekuatan yang hebat,"kata Rosse memuji. "Semakin banyak musuh yang tewas maka bertambah pula pasukan zombie yang membantu melawan."
"Karna kekuatan yang dimiliki Cloey membuat klan Β (Beta) mundur ketakutan," lirik bibi Emely pada ibu. "Cloey sangat berjasa dalam perang saat itu. Berkatnya klan Α (Alpha) dapat bertahan sampai sekarang."
"Setelah perang apa yang terjadi?" tanyaku belum puas mendengar cerita bibi Emely.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε