My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kesadaran Rosse



Di kamar mandi aku mencuci wajahku untuk menghilangkan kantuk. Perkataan Lisa masih menggagu pikiranku. Aku menggelengkan kepala dengan cepat untuk melupakannya. Aku keluar dari kamar mandi. Kulihat mereka duduk di sofa dengan semua makanan yang dihidangkan pelayan tadi. Belum ada satupun dari mereka yang makan. Mereka menungguku.


"Ayok cepat kita sarapan, kak. Nanti keburu dingin," panggil Lisa.


"Iya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kondisiku sudah agak mendingan setelah minum obat dan istirahat. Mia yang mengetahui kalau kami sudah pulang, dengan riangnya ia berlari menghampiriku dan seketika langsung memeluku erat. Aku sangat merindukannya, begitu juga dengan Mia. Dari pagi sampai siang ini ia terus saja berada di dekatku. Aku tidak dibiarkan hilang dari pandangannya. Aku memaklumi rasa takutnya kehilanganku karna Mia lah yang memberitahuku kalau sebenarnya hidupku tidak lama lagi. Disaat hendak pergi ke pulau Vyden, waktu itu lah Mia memperlihatkan detik-detik kematianku sendiri. Kilas cepat yang menampilkan diriku menghembuskan nafas terakhir. Tidak terlalu jelas dimana dan kapan kejadian tersebut terjadi.


"Oh, iya. Bagaimana keadaan Rosse?" tanyaku disela-sela kami mengurus barang-barang di ruangan teleportasi.


Semua barang ini adalah barang-barang penting yang sempat kami ke pulau Vyden seperti leptop, buku dan lainnya. Sofia telah mengirimnya kembali ke kediaman lebih dulu sebelum kami berangkat ke pesta.


"Dia masih belum siuman. Bagaimana kalau kita menjeguknya?" saran Sofia.


"Sekarang," kataku sambil berdiri.


Sofia dan Lisa ikut berdiri. Kami pergi ke kamar Rosse untuk melihat keadaannya. Sampai disana sudah ada bibi Marry. Ia menoleh pada kami ketika kami melangka masuk. Ia menanyakan keadaanku yang aku jawab 'sudah lebig baik'. Aku menatap sedih ke arah Rosse yang terbari di tempat tidur. Selang infus masih terpasang di tangannya. Aku merasa bersalah padanya dan juga pada bibi Marry. Aku tidak bisa menjaga putrinya dengan baik.


"Bagaimana keadaannya sekarang bibi Marry?" tanyaku. Aku duduk di samping tempat tidur Rosse.


"Menurut pemeriksaan dari Mr. Guttman, keadaan Rosse dalam kondisi baik. Namun sampai sekarang ia belum sadarkan diri," jelas bibi Marry. Ia tertunduk sedih. "Oh, iya. Kalian bisa jaga Rosse sebentar. Bibi baru ingat ingin menyerahkan dokumen perpustakaan pada Cloey."


"Bibi Marry tenang saja. Kami akan menjaganya," kata Lisa.


"Terima kasih. Bibi pergi dulu."


Bibi beranjak dari kursinya lalu melangka pergi. Tidak ada kegiatan yang kami lakukan. Lisa menyempatkan diri untuk berlatih Psikokinesis. Sofia sedikit mempraktekan ilmu sihirnya untuk melihat apa kekuatannya sudah pulih sepenuhnya atau belum. Ia di temani Mia. Sedangkan aku duduk saja memperhatikan Rosse. Aku harap ia segera membuka matanya agar aku bisa minta maaf padanya. Aku melirik jam dinding yang telah menunjukan jam 19.57. Sudah lebih dari satu jam kami disini. Bibi Merry belum kunjung kembali.


"Dimana aku?"


Aku tersentak mendengarnya. Aku lihat Rosse membuka matanya. Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya. "Rosse, akhirnya kau sadar juga."


"Rin," katanya masih lemah.


"Syukurlah kau sudah sadar Rosse," kata Sofia sambil menghampiri bersama Lisa.


"Kami semua sangat mengkhawatirkanmu."


"Kakak, aku tahu kalau kakak akan baik-baik saja," ujar Mia membuatku menoleh padanya.


"Sebaiknya kita panggil Tn. Guttman untuk memeriksa keadaan Rosse," kata Lisa.


"Aku akan memanggilnya."


Sofia bergegas keluar memanggil Mr. Guttman. Tak berselang lama Sofia kembali bersama Mr. Guttman. Mitéra dan bibi Emely juga datang tidak jauh dari mereka. Aku memberi ruang bagi Mr. Guttman untuk melakukan pemeriksaan pada Rosse. Lima menit kemudian, Mr. Guttman menyatakan kalau kondisi Rosse mulai membaik. Kami semua sangat senang mendengarnya.


Bibi Marry yang mendapat kabar atas kesadaran Rosse secepatnya datang ke kamar putrinya. Tak jauh dibelakangnya kulihat ibu. Dengan air mata telah membasahi pipinya, bibi Marry memeluk erat Rosse sambil mengucapkan banyak-banyak rasa syukur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah makan siang, kami sedikit dilandah kebosanan. Tenaga Rosse mulai perlahan pulih dari sebelumnya. Ia sudah duduk agar bisa lebih leluasa menanggapi kami.


"Aku sempat berpikir tidak akan melihat sinar matahari lagi."


Kata-kata Rosse mengingatkan ku dengan situasi yang perna aku alami. "Alah, Rosse. Kau jangan berbicara seperti itu."


"Iya. Kau harus yakin untuk terus bertahan hidup biarpun nyawamu sudah di ujung tanduk sekalipun," kata Lisa.


Aku meliriknya. "Menurutmu harus begitu?"


"Tentu saja. Kita tidak boleh putus asa dalam kondisi apapun. Jika kita tidak semangat untuk hidup, coba pikirkan orang-orang di sekitar kita. Orang yang selalu menyayangi dan tidak mau kehilangan kita seperti keluarga serta sahabat. Apa mereka mau melihat kita kehilangan semangat seperti itu. Mereka akan sangat sedih."


Bugk!


Satu hantaman mendarat di kepalaku. Aku mengusap kepalaku yang sakit sambil melirik ke si pelaku.


"Bisa tidak kau jangan selalu berkata yang aneh-aneh?!!" bentak Sofia yang masih mengepalkan tangannya.


"Aku cuman mengatakan seandainya! Kau tidak perlu memukulku!"


"Sudah seharusnya aku memukulmu! Pertanyaan mu itu memang aneh sekali. Kau pikir kami akan tertawa apa begitu merasa kehilangan?!! Dan juga kenapa kau selalu menggunakan dirimu sebagai contoh? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami lagi, kan?" tanya Sofia curiga.


"Memangnya apa lagi yang aku sembunyikan dari kalian dan apa gunanya juga?"


"Mungkin saja. Sebagian dari kata-katamu itu tidak bisa dipercaya begitu saja. Kau itu kan sangat pandai menyimpan rahasia."


"Hm," aku memalingkan muka dari Sofia.


"Aku minta kakak berjanji."


"Apa?" aku menoleh pada Lisa.


"Aku minta kakak berjanji untuk tidak meninggalkanku, meninggalkan kami semua," Lisa terlihat sangat serius.


"Lisa, apa yang kau katakan? Si, siapa yang mau meninggalkanmu? Aku tidak akan pergi kemana-mana."


"Kakak harus mengucapkan janji," mata Lisa terlihat berlinang.


Aku berjalan mendekatinya. Kubelai lebut pipinya dan menatap dalam mata cantik itu. "Kau jangan terlalu memikirkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutku. Anggaplah semua itu sebagai candaan semata. Aku tidak mau melihat wajah ini meneteskan air mata lagi. Aku tidak akan tenang dimanapun aku berada."


"Tuh kan, kakak bicara aneh lagi. Seolah-olah..."


"Ssutt..." dengan cepat aku meletakan telujuku di bibinya. "Pikiranmu yang terlalu jauh. Maksudku, aku tidak akan mungkin selalu mengikuti mu kemanapun, bukan?"


"Kalimat mu yang salah, Rin. Semua akan berpikiran seperti itu walaupun maksud yang ingin kau sampaikan berbeda," ujar Rosse.


"Aku ingin kakak tetap berjanji. Dengan begitu mungkin aku akan percaya kakak tidak akan perna meninggalkan ku."


"Baiklah. Aku berjanji pada adikku akan selalu ada disisi mu, menemanimu baik dalam suka maupun duka. Bagaimana menurutmu?"


"Kakak sudah berjanji. Jangan perna coba-coba untuk melanggarnya."


"Aku akan berusaha," batinku. "Tersenyumlah. Aku juga ingin kau berjanji akan selalu tersenyum, bukannya menangis."


"Selama kakak bersamaku aku akan selalu bahagia."


"Melihat kalian seperti ini benar-benar membuatku tidak percaya kalau dulunya kalian berdua selalu saja bertengkar," ujar Sofia.


"Jangan kan kau Sofia, aku juga tidak percaya," sambung Rosse.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε