My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Masa lalu mereka



Rian menggulung lengan kemeja putihnya sampai sedikit lagi menyentuh bahu. "Kau dapat melihatnya?"


Aku melirik maksudnya. Dibawah penerangan sinar rembulan kulihat, tepat di lengan atas Rian terdapat bekas luka. Tiga garis dengan garis yang paling Tengah lebih panjang. Luka itu jelas bekas luka cakaran hewan, namun terlalu besar untuk hewan-hewan peliharaan seperti kucing atau anjing. Itu jauh lebih mirip cakaran hewan buas. Jadi Rian memang pernah bertemu dengan manusia serigala dan mendapat serangan.


"Bekas luka cakaran. Apa itu karna serangan manusia serigala tersebut?" tanyaku memastikan.


"Penglihatan manusia serigala memang tajam ya. Kau dapat melihat dengan jelas di kegelapan malam."


"Sinar bulan purnama cukup terang untuk aku dapat melihat itu," aku memalingkan muka dengan kesal dan sedikit malu.


"Mau mendengar cerita bagaimana aku mendapat kan luka ini?"


"Boleh. Tapi aku lebih penasaran lagi, kenapa kau memiliki liontin yang sama dengan kak Cia, dan kurasa Hanna juga memilikinya?"


"Itu karna kami bersaudara."


"E?! Mereka saudara kandungmu?"


"Tiri. Beda ibu."


"Ha? Bagaimana bisa? Hanna jauh lebih muda darimu. O, apa..." ada satu kemungkinan yang terlitas di pikiranku untuk menjelaskan semuanya.


"Perselingkuhan," kata itu keluar begitu saja dari mulut Rian. "Ayah kami adalah seorang kepala polisi di kota ini. Tapi, 23 tahun yang lalu ia adalah salah satu perwira polisi di ibu kota. Saat itulah ia bertemu dengan ibuku yang berkerja di restoran. Ayah hampir setiap hari makan siang disana dan juga mencari alasan untuk bertemu ibu. Hari demi hari berlalu. Cinta kasih mereka mulai terbentuk. Ibu sudah tahu kalau pria yang ia cintai sudah memiliki istri dan juga seorang putri. Namun kecintaannya pada laki-laki tampan dan uang membuat dirinya ingin merebut suami orang lain itu. Godaan demi godaan ibu luncurkan untuk memikat sang pujaan hati, sampai kecelakaan itu terjadi. Pegawai restoran tersebut hamil dan minta pertanggungjawaban. Sebagai seorang pria, ia tentu saja harus bertanggung jawab. Ia menikahi wanita tersebut tampa sepengetahuan keluarganya."


Rian berhenti sebentar. Raut wajahnya terlihat murung. Ia pasti sedih setelah mengetahui bahwa ibunya dulu telah merebut suami orang lain yang kini adalah ayahnya. Aku jadi mengerti apa yang telah dilalui kak Cia dan Hanna. Mereka pasti sangat terpukul ketika tahu ayah mereka memilik istri simpanan dan sudah mempunyai seorang putra. Bagaimana perasaan ibu mereka saat itu? Aku tak dapat membayangkan rasa sakit yang ia alami saat hatinya dihancukan berkeping-keping oleh orang yang ia cintai. Satu yang membuatku heran, kenapa hubungan persaudaraan mereka akur sekali? Tapi di dengar dari cerita Rian, sepertinya ibunya itu cuman mau menikah karna menginginkan kekayaan.


Rian menarik nafas panjang dan menghebuskannya perlahan, lalu ia melanjutkan. "Saat umurku tujuh tahun, ayah dipindah tugaskan keluar kota. Tentu saja saat itu keluarga kecilnya juga harus pindah. Ibuku yang merasa iri serta cemburu, tidak mau lagi dianggap sebagai istri simpanan dan bersikeras meminta pada ayah untuk tinggal dalam satu atap."


"Apa?! Ibumu mau tinggal dalam satu rumah? Dia tidak memikirkan perasaan seorang istri jikalau dia mengetahui suaminya memiliki wanita simpanan?"


"Ha... Aku terlalu kecil untuk memahami semuanya waktu itu. Yang pasti, entah bujukan apa yang ayah gunakan agar istri pertamanya mau menyetujuinya."


"Sungguh berat pasti rasanya ketika mengetahui suaminya membawa wanita lain untuk tinggal dalam satu rumah."


"Di sebuah rumah yang kami tinggali saat ini, pada hari itulah untuk pertama kalinya aku bertemu dengan kak Cia yang berumur 12 tahun dan bibi Celia, ibunya. Mereka menyambut kami di depan pintu rumah tersebut. Wanita cantik dengan mata sebab yang ditutupi riasan agar tidak terlalu tampak, berusaha menahan air matanya. Ia mengelus lembut kandungannya yang kini menginjak tujuh bulan, sedangkan tangan kanannya menggandeng putrinya."


"Ayahmu mengungkapkan semua itu saat istrinya sedang hamil? Aku tak habis pikir! Apa ia tidak mempunyai perasaan? " darahku naik seketika setelah mendengar itu.


"Keterlaluan bukan?"


"Acaman. Aku mengetahuinya dari kak Cia kecil. Iya bilang kalau ibunya diacam tidak akan diberi tujanggan apapun setelah bercerai. Bibi Celia memikirkan nasip anak-anaknya jika ia mengambil keputusan cerai. Ia lebih baik menahan rasa sakit itu dari pada membiarkan anak-anaknya menderita. Kak Cia kecil sangat membenciku dulu. Ia menuduhku kalau penyebab berubahnya sikap ayah pada mereka karna ulah ibuku. Aku tidak membalas sebab semua itu memang benar. Selama tinggal di bawah atap yang sama, aku melihat perbedaan besar antara ayah memperlakukan kami dan mereka. Ayah bersikap sangat lembut pada ibu. Sedangkan terhadap bibi Celia, kesalahan kecil saja bisa membuat ayah naik pita. Aku benar-benar kasihan melihat bibi Celia selalu dimarahi seperti itu."


Kulihat mata Rian sedikit berlinang saat bercerita. "Jika kak Cia sangat membencimu, lalu bagaimana ceritanya sifatnya berubah sekarang?"


"Tiga tahun kemudian, ayah mendapat kabar akan dipindahkan sementara ke kota lain selama satu tahun. Karna cuman sementara kami tidak ikut pindah, dan juga aku dan kak Cia masih harus sekolah. Tapi ibuku mala ikut serta bersama ayah. Aku dititipkan pada bibi Celia. Selama hari-hariku disini bibi Celia sangat baik padaku, walau ia tahu kalau aku ini adalah anak dari selingkuhan suaminya. Tapi ia memperlakukan ku sama seperti anaknya sendiri. Ia adalah sosok ibu yang sempurna. Untuk pertama kalinya aku mendapat kasih sayang yang sudah lama aku inginkan, dan itu kudapatkan dari dirinya.


Ibuku tidak terlalu memperdulikan perkembangan anaknya sendiri. Ia cuman berpikir kalau memberikan uang saja cukup untuk membuatku bahagia. Aku cuman mengunakan sebagian kecil dari uang yang ibu berikan setiap bulan untuk membeli keperluan pribadiku. Sisanya aku tabungkan untuk keperluan mendadak. Selama satu tahun itu hubungan aku dan kak Cia mulai membaik, walau sesekali kami bertengkar karna masalah sepele dan terkadang pertengkaran itu berakhir dengan kami mendapat hukuman."


"Kedengarannya bibi Celia ini iyalah sosok wanita berhati besar, tegar, bijaksana, lemah lembut dan perhatian."


"Memang. Sebagai ucapan terima kasih atas kebaikannya, aku mengunakan seluruh tabunganku untuk mendirikan tempat ini."


"Jadi, kedai ini adalah hasil dari tabunganmu?"


"Cuman sebagian. Sisanya berasal dari tabungan kak Cia dan Hanna. Kami menghadiahkan kedai ini pada bibi Celia tepat di hari ulang tahunnya. Dan untuk tema Lotus sendiri itu karna kesukaan bibi Celia terhadap bunga teratai. Dulu tidak seperti ini, kedai waktu itu masih sangat sederhana. Cuman ada beberapa meja dan kursi kayu untuk pelanggan, peralatan makan seadanya dan menu hidangan yang tidak perna berubah sampai sekarang. Selang beberapa waktu kedai ini mulai berkembang. Penjualan hidangan manis terutama Seven color lotus cake sangat diminati pembeli. Oh, iya. Untuk penamaan kue ini sendiri, angka tujuh melambangkan tanggal lahir bibi Celia dan warna pelangi adalah kesukaan Hanna."


"Apa aku boleh bertanya sedikit lancang?"


"Apa itu?"


"Aku cuman ingin tahu saja. Apa sebab meninggalnya bibi Celia?"


Rian terdiam sebentar. Ia menatap kosong jalanan sepi di bawah sana. Dengan suara pelan aku mendengar ia berkata. "Karna melindungi ku."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε