My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Tempat ini akan menjadi kenangan



Bibi Marry memanggil Rosse ke dapur. Dengan cepat Rosse mendengarkan perintah ibunya itu. Ia segerah berdiri menghampiri ibunya. Bibi Marry memberitahu Rosse semua tentang ajak kan Mr. Morgen dan Mrs. Morgen untuk tinggal di rumah mereka. Rosse tidak dapat berkata apa-apa. Antara senang, bingung dan tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar bercampur menjadi satu. Aku dapat membayangkan ekspresi Rosse disana. Ia pasti terdiam melongok dengan mata besarnya itu.


"Terima kasih banyak Mr. Morgen dan Mrs. Morgen. Saya baru tahu kalau rumah kami akan disita bank. Kalau tidak ada keluarga Morgen, kami tidak tahu harus kemana. Saya benar-benar berterima kasih," suara Rosse terdengar begitu sedih.


Sepakat keluarga kecil Hartley akan ikut pulang ke kediaman keluarga Morgen. Hari ini bibi Marry mulai mengurus beberapa dokumen untuk pindah rumah. Tentu saja hal itu dibantu orang tuaku agar prosesnya sedikit lebih cepat. Ayah memanggil paman Fang untuk mengurus surat pindah sekolah Rosse. Sedangkan aku, Sofia dan Rosse pergi ke kedai Lotus bukan hanya sekedar berpamitan tapi hari ini adalah hari terakhir aku dan Rosse berkerja. Ketika melewati jalan yang biasa kami lalui ternyata hari ini jalan tersebut ditutup karna ada perbaikan. Terpaksa kami mengambil jalan memutar untuk sampai di kedai Lotus.


Saat menunggu lampu merah, tiba-tiba hari seketika berubah gelap. Dari arah sebrang jalan aku lihat ada seorang pria membawa kantong belanjaan. Wajah berseri bahagia terpancar dari pria itu. Ia terlihat sangat senang sekali dapat pulang lebih awal dan membawakan sesuatu untuk keluarganya. Ketika hendak menyebrang jalan tampa diduga dari arah kanan muncul mobil dengan kecepatan tinggi. Terlambat menyadari ada seseorang yang menyebrang, kecelakaan tidak bisa terelakkan. Pria tersebut tertabrak sampai terpental cukup jauh lalu terhempas ke jalan dengan sangat keras. Keadaannya sangat mengenaskan. Aku menutup mataku tidak sanggup melihat kejadian itu naas itu. Pria tersebut meninggal ditempat disebabkan luka yang sangat para dibagian kepala. Kantong belanjaan yang ia bawah berhamburan memperlihatkan isinya. Enchiladas itu masih memperlihatkan uap panasnya diatas aspal jalan.


Tubuhku terasa melayang, ringan seperti hembusan angin. Bayangan di depanku kembali seperti semula. Aku memejamkan mataku sedikit lama lalu berkedip beberapa kali untuk menstabilkan pencahayaan. Seketika kakiku lemas, hampir saja aku terjatuh untung Sofia singap menahan ku agar tetap berdiri. Kepalaku sedikit pusing saat melihat semua darah itu.


"Apa yang kau lihat?" tanya Sofia yang tahu betul apa yang kualami kalau aku seperti ini.


"Kecelakaan."


Lampu hijau kini berubah merah. Semua kendaraan berhenti mempersilakan para pejalan kaki menyebrang jalan. Aku melirik Rosse yang berjalan di depanku. Wajahnya tenang namun tatapannya begitu berduka. Ia pasti sangat sedih saat melalui jalan ini. Disinilah tempat dimana ia kehilangan orang yang ia cintai. Sosok pelindung keluarganya perna tergeletak disini dengan sangat mengenaskan. Semua itu karna pengemudi ugal-ugalan yang membuat gadis di depanku ini kehilangan ayahnya.


Butuh waktu lima menit lebih lama untuk kami sampai di kedai Lotus. Tempat yang nantinya akan sangat aku rindukan. Saat tahu kabar Rosse juga akan pindah kak Cia dan yang lainnya begitu sedih. Artinya Rosse tidak akan berkerja disini lagi, dan kemungkinan jarang bisa berkumpul bersama lagi. Kak Cia, Hanna, Rian dan Tobi berencana menutup kedai sore ini untuk mengajak kami pergi ke danau. Danau tersebut terletak di sebuah taman berjarak 200 meter dari kedai Lotus. Sekitar jam 15.30 kami berangkat kesana dengan berjalan santai. Di tengah perjalan sesekali diantara mereka kecuali aku dan Sofia bertengur sapa dengan orang yang mereka kenal. Seperti langanan yang sering datang ke kedai, tetangga dan teman-teman mereka.


Danau biru tidak terlalu luas dengan pagar kayu yang mengelilingi begitu cantik memantulkan dedaunan yang kini telah berwarna selain hijau. Angin bertiup lembut menggugurkan dedaunan kuning keemasan, jingga sampai merah terang dari tangkainya. Musim gugur telah tiba. Tampa rasa lelah kami kembali berjalan diantara daun kering yang memenuhi jalan setapak mengitari danau ini. Aku berjalan di barisan paling belakang tepat di samping pagar kayu sambil memandang air danau. Airnya begitu jernih sampai menampakan apa yang ada di dasar.


Kami berhenti sebentar melepas lelah di kursi taman yang tersebar dimana-mana. Kursi ini tepat mengarah langsung ke danau. Selain kami banyak juga pengunjung taman bersantai atau sekedar berkeliling menikmati suasana. Selama perjalanan sampai kami duduk melepas lelah, secara bergantian mereka bercerita tentang apa saja. Aku sesekali menanggapi dan tersenyum pada mereka. Aku tidak terlalu memperhatikan arah obrolan ini. Aku cuman menikmati suasana soreh bersama teman-temanku. Sebagai penutup kami berfoto riang untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semalam kami bertiga bergadang menonton film horor tapi aku tidak tahu akhir dari film itu. Aku tertidur di pertengahan cerita. Sedangkan Sofia dan Rosse jangan tanya, mereka sudah tertidur sebelum film dimulai. Hasilnya kami bertiga tertidur disofa dengan posisi aku berada di tengah-tengah serta Sofia dan Rosse bersandar dibahuku.


Hari ini adalah hari berkemas. Aku dan Sofia membantu Rosse mengemasi barang-barangnya. Beberapa barang kecil disusun rapih dalam kardus dan jangan lupa untuk ditandai. Terdapat juga beberapa barang yang tidak terpakai lagi bibi Marry obralkan di halaman depan. Setelah selesai semuanya dikemas tampa ada satupun yang ketinggalan dan hasil penjualan juga didapat. Tepat waktu, sebuah truk putih berhenti tepat di depan rumah. Kami mendapatkan bantuan dari para tetangga untuk memindahkan barang berukuran besar masuk ke truk khusus pindah rumah itu.


Bibi Marry dan Rosse satu mobil dengan orang tuaku, sedangkan Sofia satu mobil denganku. Mobil ayah memimpin perjalanan diiringi mobilku lalu mobil truk itu. Kupandangi terus rumah dimana perna aku tinggali selama seminggu ini sampai hilang dari balik kaca spion. Walau hanya seminggu namun tempat itu memiliki banyak kenangan. Pandanganku kualihkan sekilas ke arah Sofia. Muncul niat jahat dalam pikiranku. Hihi... Saatnya pembalasan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε