My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Gadis vampire



"Hei...! Kau bisa mendengar ku?" teriakku memanggilnya.


Gadis itu berusaha melihat ke arahku. "Apa, ada seseorang, disana? Tolong, aku." katanya dengan lemah.


"Bertahanlah! Aku akan berusaha menyelamatkan mu! tapi bagaimana?"


Aku mengukur jarak ku dengan gadis itu, menimang-nimang kekuatan pohon itu sanggup kah menopang berat badanku. Aku mulai berjalan pelan di batang pohon tersebut memberanikan diri. Tepat di bawahku jurang gelap telah menanti. Aku berusaha menggapai jaring yang tersangkut di dahan pohon tersebut. Sedikit lagi aku berhasil mengapai jaring itu. Begitu jaring tersebut berhasil ku raih, aku menariknya perlahan-lahan sampai aku bisa mengangkat gadis itu. Tubuhnya telah lemah dan banyak luka gores. Aku membopong gadis tersebut kembali ke tempat aman.


Sedikit lagi sampai di bibir jurang tiba-tiba kesialan ku pada pohon terjadi. Kaki ku tergelincir yang membuatku kehilangan keseimbangan. Tanpa pikir panjang aku melemparkan tubuh gadis itu ke bibir jurang sebelum aku terjatuh. Ia mendarat dengan selamat walau mengalami rasa sakit begitu menghantam tanah. Aku berhasil mengapai salah satu dahan pohon tersebut yang membuatku tidak jatuh ke bawah namun aku mendapat goresan di lengan kiri ku. Luka yang cukup besar mulai mengalirkan darah. Aku mencoba mencari pegangan yang lebih kuat. Baru saja bergerak tiba-tiba dahan itu mala patah.


"Kudapatkan kau!" Onoval datang tepat waktu dan berhasil menggapai tanganku.


"Onoval."


"Bertahanlah," ia menarik ku naik kembali ke atas lalu membawaku menjauh dari pinggir jurang itu.


"Terima kasih. Itu tadi nyaris saja," kataku terduduk di tanah sambil mengatur nafas. Aku membantu melepaskan lilitan jaring yang menjebak gadis ini.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau mau mengulang kejadian saat liburan musim panas?" katanya sambil membantu ku menolong gadis tersebut.


Kami berhasil melepaskan seluruh jaring itu. Onoval membaringkan tubuh gadis itu di atas tanah. Ia terlihat sudah lemah sekali. Sudah berapa lama ia terjebak disana? Tapi, tunggu dulu. Seragam yang dikenakannya ini... Ia salah satu murit sekolah NorthVyden. Bagaimana bisa ia terjebak disana? Perlahan kulihat gadis itu membuka matanya dan tanpa diduga ia langsung saja menyerang ku sampai aku terjungkal ke belakang. Ia berusaha menjilati darahku. Ia seorang vampire! Aku berusaha agar ia tidak berhasil mendapatkan darahku dengan cara menjauhkan wajahnya dari lenganku yang terluka. Onoval segera membantu memisahkan kami. Ia memukul bagian belakang leher gadis itu yang membuatnya pingsan. Onoval mengangkatkan tubuh gadis tersebut yang jatuh di atas tubuhku. Aku benar-benar kaget atas apa yang baru saja terjadi. Aku tidak segera bangkit. Kubiarkan diriku terbaring di tanah menenangkan diri.


"Kau baik-baik saja? Lenganmu terluka."


"Ia seorang vampire. Kenapa ia tiba-tiba berubah agresif?" tanyaku.


"Karna darahmu. Vampire dalam kondisi lemah sangat rentan terhadap bau darah manusia. Mereka akan kehilangan kendali diri. Ia akan menyerang siapapun untuk mendapatkan darahnya. Sebaiknya balut dulu lukamu, jangan sampai ada vampire lain yang mencium bau darahmu saat kita kembali," Onoval melepaskan syal tipis yang menyelimuti lehernya. Ia melilitkan syal itu pada lenganku dan melumurkan tanah untuk menutupi bau darah yang mengalir.


"Sekali lagi terima kasih Onoval. Kau telah menyelamatkan hidupku."


"Ayok kembali."


Onoval membopong gadis itu. Kami berjalan menyelusuri hutan yang gelap. Onoval tidak bicara sepata katapun dari tadi. Ia berjalan di depanku terlihat tertunduk. Aku tidak masalah dengan kegelapan tapi aku cukup heran dengan Onoval. Ia bisa menuntunku kembali ke kastil dalam kegelapan hutan ini. Apa ia sudah terbiasa? Kesunyian di sekeliling kami sedikit membuatku takut.


"Aku tidak melihat yang lain. Apa mereka tidak ikut?" tanyaku memecah kesunyian.


"Tidak. Aku, menyuruh mereka menunggu kita di kastil."


"Oh..."


Keadaan kembali sunyi. Aku melirik wajah Onoval. Ia tampak kelelahan dengan nafas terdengar sesak. Entah mengapa aku merasa Onoval berbeda malam ini. Ia tidak seperti biasanya. Diam saja seperti berusaha menahan sesuatu keinginan yang bergejolak dalam dirinya atau hanya perasaanku saja.


"Harum sekali," aku tiba-tiba mendengar Onoval bergumang. "Tidak."


"Onoval, kita sudah sampai," kataku. Aku mencoba menghiraukan gumangan anehnya.


"Hah? Apa?" ia mengangkat wajahnya melihat ke depan. "Pintu masuk ada di sebelah kiri," tunjuk Onoval.


Aku mengikuti arah yang di tunjuknya. Sebuah pintu besi tua kulihat ada disana. Kami berjalan menuju pintu itu. Aku membukanya, cukup sulit tapi akhirnya terbuka. Sofia, Rosse dan Lisa menyambut kami di balik pintu.


Aku mengikuti arah yang di tunjuknya. Sebuah pintu besi tua kulihat ada disana. Kami berjalan menuju pintu itu. Aku membukanya, cukup sulit tapi akhirnya terbuka. Sofia, Rosse dan Lisa menyambut kami di balik pintu.


"Akhirnya kalian kembali," kata mereka sangat cemas.


"Siapa gadis ini?" sambung Rosse.


"Ada apa dengan tanganmu kak?" tanya Lisa begitu melihat tanganku.


"Cuman luka gores."


"Kita bawa dulu gadis ini ke ruang kesehatan. Nanti baru cerita di sana," kata Onoval memberi saran.


Kami menyetujui itu dan langsung pergi ke ruang kesehatan. Onoval membaringkan gadis itu tempat tidur lalu tiba-tiba keluar. Sikapnya semakin aneh setelah kembali. Sofia dan Rosse membantu mengobati luka pada gadis itu. Aku membersikan luka ku dan tanah yang menempel. Darahnya sudah berhenti mengalir tapi masih terasa perih. Lisa membantuku memperban luka ku akibat tergores dahan pohon. Cara Onoval cukup efektif menggunakan tanah untuk menutupi bau darah. Murit vampire disini yang tidak sengaja kami temui hanya sedikit bereaksi begitu mencium bau darahku yang bercampur tanah.


"Kalian sudah selesai?" tanya Onoval sambil menengok di balik pintu.


"Iya," jawab kami hampir berbarengan.


"Bagaimana keadaan gadis itu?" Onoval melangkah masuk dengan kantung plastik di tangannya.


"Ia belum sadarkan diri," jawab Sofia.


"Apa yang kau bawa?" tanya Rosse penasaran.


"Darah."


"Darah? Untuk apa?" tanya Sofia dengan sebelah alis terangkat.


"Untuk gadis ini."


"Gadis itu seorang vampire. Tadi ia sempat menyerangku setelah ditolong..."


"Menyerangmu?!" ujar Lisa kaget. "Apa sebab itu tangan kakak terluka?"


"Tidak. Luka ini akibat tergores dahan pohon bukan karna serangannya," jelas ku sebelum terjadi ke salah pahaman.


"Dia menyerang mu setelah ditolong? Tidak tahu terima kasih," kata Rosse salah paham.


"Itu bukan kehendaknya. Vampire dalam kondisi lemah memang akan hilang kendali untuk mendapatkan darah. Gadis ini menyerang Rin karna mencium bau darah Rin dari lukanya yang terbuka," jelas Onoval.


Gadis tersebut mulai sadar. Tapi sama seperti terakhir kalinya, ia melompat ke arahku dan menyerang ku lagi. Sorot mata tajam bercahaya merah menatapku seperti mangsa yang begitu lezat. Ia menggeram memperlihatkan taringnya yang haus akan darah. Sebisa mungkin aku menghindarinya. Onoval berusaha menahan gadis itu kemudian ia menyumpalkan kantung darah ke dalam mulut gadis tersebut. Perlahan-lahan gadis tersebut menenang. Pandangan matanya meredup begitu setiap tegukan darah itu mengalir dalam tenggorokannya. Kami menghembuskan nafas lega akibat kejadian barusan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε