My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pertemuan para tetua klan



...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...


"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa bergerak?" teriak salah satu anak buah Mr. Hope sambil berusaha melepaskan diri.


"Ini karna penyihir kecil itu. Ia mengunakan mantra pengikat pada kita," jelas Mr. Hope


"Bos mereka berhasil lolos," kata anak buahnya yang lain


"Semua ini salahmu! Aku menyuruhmu untuk menjaga mereka, tapi apa yang kau lakukan? Kau mala tidur!! Lihatlah bagaimana aku akan menghukumu nanti!" bentak Mr. Hope.


Butuh waktu lima menit bagi mereka untuk lepas dari mantra itu.


"Sekarang bagaimana bos?"


"Apa perlu kalian bertanya? Cari mereka!!" perintah Mr. Hope.


"Baik," jawab mereka kompak.


"Tunggu, tidak perlu dicari," tiba-tiba seseorang berjubah hitam muncul dari balik kegelapan.


"Tu... Tuan. Maaf, semua ini salahku karna tidak mengajari anak buah dengan baik. Mohon untuk mehukumku," Mr. Jope membukukkan badannya meminta maaf pada pria itu.


"Angkat kepalamu, aku akan menghukumu nanti. Lebih baik kau melakukan satu hal untukku," pria itu memberikan hp pada Mr. Hope.


"Anda ingin aku melakukan apa?" tanya Mr. Hope sambil menerima hp itu dengan kedua tangan.


"Aku telah merekam perubahan gadis itu. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."


"Baik saya mengerti."


"Sebaiknya begitu. Ingat jangan ada kesalahan lagi atau aku akan membunuhmu," pria itu berbalik dan seketika menghilang dalam kegelapan malam.


...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang pertama ΩΩΩΩ...


Hari semakin gelap. Cahaya matahari kini telah digantikan bulan. Udara semakin dingin terasa di kulit. Aku memperlambat lajuku ketika aku mendengar suara gemerata gigi Sofia menggigil karna dingin. Di ujung hutan jalan keluar ternyata adalah sebuah taman. Aku mengenali taman ini. Ini adalah tempat dimana aku dan Sofia perna bermain dulu saat masih kecil. Setelah melompati pagar pembatas setinggi dua meter yang memisahkan antara taman dan hutan, kami memutuskan untuk istirahat sebentar mengumpulkan nyawa.


Sofia turun dari punggungku dan menyadarkan dirinya di kursi taman. Aku kembali ke bentuk asal ku, pandanganku sedikit kabur namun aku berusaha untuk tetap terjaga. Aku membaringkat tubuhku di atas rerumput sambil memandang langit berbintang. Aku tidak dapat mengerakan kaki dan tanganku, semuanya terasa mati rasa. Nafas kami masih tersendat-sendat dibawah penerangan lampu taman. Aku melirik Sofia yang bersandar di bangku taman. Wajahnya terlihat sayub, nafasnya juga masih belum teratur.


Aku tidak terlalu memperhatikan ia ketika kami masih diruang bawah tanah pondok itu. Aku baru menyadari kalau lututnya terluka. Hanya goresan namun membuat hatiku sedih. Aku terlalu melibatkan Sofia dalam bahaya. Ia sahabatku yang baik dan pemberani. Tidak terlihat garis takut di wajahnya saat ia menyerang para penjahat itu. Entah mengapa tiba-tiba pikiranku kembali ketika dimana kami perna bertengkar dulu. Sebuah kesalahpahaman membuat kami menjauh. Aku sangat bersyukur karna semua itu telah berlalu membuat persahabatan manis kami kembali harmonis.


"Akhirnya kau bisa menguasai kemampuan mu Rin," kata Sofia memecah kesunyian malam.


"Tidak. Masih belum stabil," pandanganku beralih ke bulan yang masih belum sempurna.


"Cepat atau lambat kau pasti akan menguasainya," Sofia mengikutiku memandangi bulan. "Malam ini bulan terlihat cantik."


"Sofia, untuk hari ini aku sangat berterima kasih padamu," kataku tanpa melirik padanya.


"Ha? Apa yang kau bicarakan?"


"Aku berterima kasih karna kau mau membantuku sekaligus aku juga minta maaf," aku berhenti sebentar dan memandang sekilas Sofia, beberapa detik mata kami bertemu. Aku segera beralih pandang ke langit dan melanjutkan. "Maaf melibatkan mu dalam bahaya."


Sofia beranjak dari kursi taman dan beralih duduk disampingku. Ia mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Sofia tidak berbicara, hanya menatapku dengan mata besarnya itu.


"Kau bisa menjauh sedikit dariku? Aku kesulitan bernafas," kataku tampa ekspresi.


Sofia mengangkat kepalanya sambil tersenyum dan berkata. "Kenapa kau minta maaf? Kitakan teman sejak kecil sudah seharusnya aku membantumu."


"Hm..." aku hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.


"Sofia...! Rin...! Apa kalian baik-baik saja?"


Terdengar suara teriakan ibu dan bibi Tori memanggil kami. Mendengar itu membuat kami menoleh. Ku lihat dari kejauhan mereka berlari menghampiri, disana juga ada ayah dan paman Jaseph. Melihat mereka mendekat sontak aku langsung duduk. Karna bangun secara tiba-tiba aku merasakan sakit di kepala seperti ditusuk jarum-jarum. Aku mencengkram kuat rambutku dan sedikit membungkuk ke depan. Aku tidak bisa menahannya lagi dan akhirnya aku kembali terbaring di rumput tidak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...


Karna masalah semakin besar, Derek memutuskan untuk melakukan pertemuan dengan para tertua. Sebenarnya Derek enggan melakukanya. Ia tidak ingin melibatkan para tetua untuk masalah ini. Namun apalah daya, para tetualah yang memintanya sendiri untuk ikut membahas tentang kejadian serangan serigala tersebut disebabkan keterlibatan Sherina putri dari ketua klan itu sendiri.


Pertemuan kali ini hanya dihadiri empat tetua utama dan Derek sebagai ketua dari klan (Α) Alfa. Terjadi sedikit pertikaian saat membahas tentang masalah penyerangan serigala ini. Para tetua masih meragukan ketidak berlibatan Sherina, apa lagi setelah melihat video yang mulai tersebar di internet.


"Bagaimana ini? Masalah semakin buruk," ucap salah satu tetua.


"Dan semua itu mengarah pada putrimu," sambung tetua lain.


"Mohon tetua satu dan dua tenang. Mr. Li sedang menyelidiki dalang dari masalah ini dan saya juga telah berusaha menyakinkan masyarakat agar tidak tepengaruh oleh berita bohong yang tersebar di internet," jelas Derek menenangkan para tetua.


"Saya dengar kalau putrimu tidak ada dikediaman saat penyerangan kedua terjadi. Bisa kau jelaskan?" kata tetua ketiga.


"Itu memang benar saat kejadian Sherina tidak ada di rumah. Tapi waktu itu ia ada di rumah temannya Sofia, putri dari keluarga Livitt."


"Bukankah kalian mencari mereka kemarin? Kemana sebenarnya mereka pergi? Lalu bagaimana dengan video itu?" tanya tetua keempat.


"Putriku terlalu ceroboh. Ia berpikir untuk mencari bukti sendiri atas ketidak berlibatanya dalam masalah ini. Sebenarnya ia dan Sofia berhasil mendapatkan bukti itu tapi mereka tertangkap oleh anak buah Mr. Hope. Sofia mengunakan mantra api untuk melarikan diri namun mala mengakibatkan terbakarnya pondok tersebut. Kami sudah menuju lokasi pondok itu dan benar saja tidak ada yang tersisa. Semuanya telah hangus terbakar," Derek berheti sebentar menarik nafas dan melanjutkan. "Itulah penjelasan dari putri Mr. Livitt. Untuk masalah video kami kurang tahu, saya masih menyelidikinya. Tapi saya yakin kalau video itu adalah editing semata."


"Mr. Morgen tidak berusaha menutupi kenyataan kan?" tanya tetua ketiga membuat Derek sedikit tersentak.


"Maksud tetua ketiga?"


"Saya hanya memastikan, harap ketua klan jangan tersingung."


"Saya mengerti kekahwatiran para tetua sekalian. Beberapa bulan lagi Sherina akan menginjak umur 16 tahun, belum ada tanda-tanda kebangkitan kekuatan manusia serigala pada tubuhnya dan bahkan tidak ada aura manusia serigala sama sekali. Ia hanya mewarisi kekuatan dari istri saya," bohong Derek.


Semua ini ia lakukan demi kebaikan putrinya. Tapi untuk tidak adanya aura manusia serigala pada diri Sherina itu benar. Derek juga tidak mengetahui kenapa bisa seperti ini. Aura manusia serigala Sherina baru muncul saat ia berubah menjadi serigala. Ini juga termasuk alasan kenapa ia tidak mengetahui kalau Sherina adalah manusia serigala selama ini.


"Saya perna bertemu langsung dengan putrimu, dan itu benar. Ia tidak memiliki aura manusia serigala sama sekali. Aku cukup terkejut mendengar berita yang mengatakan kalau putrimu lah pelaku dari penyerangan ini," bela tetua pertama berpendapat.


"Kami masih menyelidikinya, kenapa Mr. Hope menargetkan putriku? Apa alasan ia melakukan itu?"


"Ketua klan tapi sebaiknya segerah memikirkan cara untuk menyakinkan masyarakat kalau serangan itu bukan diakibatkan oleh manusia serigala," kata tetua ketiga mengalikan pembicaraan.


"Iya, aku juga sudah meminta beberapa orang dari sekte bulan sabit untuk membantu dan membuktikan kalau serangan itu hanya berasal dari serigala liar biasa. Dengan begini kecurigaan masyarakat akan berkurang."


"Orang dari sekte pemburu monster juga sampai turun tangan tapi masih belum bisa menangkap satu ekor serigala liar. Apa kemampuan mereka menurun? Aku masih ingat dulu sebelum perdamaian terjadi. Mereka begitu kejamnya menangkap dan membunuh kaum kita," kata tetua keempat.


"Ini karna orang-orang Mr. Hope terlalu licik. Dan saya berpikir kalau orang-orang yang mendapat serangan itu masih anak buah Mr. Hope itu sendiri. Kami sudah menyebar beberapa orang untuk mengantisipasi penyerangan namun selalu saja kecolongan dan kami hanya mendapat sisa-sisanya saja, seolah-olah penyerangan itu sengaja dibuat-buat untuk disebarkan di internet."


"Lalu, apa ketua klan sudah memiliki cara untuk mengatasi masalah ini?" tanya tetua kedua.


"Beberapa hari lagi saya akan mengadakan konferensi pers untuk membahas masalah ini sampai tuntas. Saya rasa sampai disini dulu pertemuan kali ini."


"Iya. Kami tunggu kabar baik dari ketua," tetua kedua berdiri beranjak pergi di ikuti yang lain.


"Semoga konferensi persnya berjalan lancar," kata tetua ketiga.


"Terima kasih untuk pergertian para tetua sekalian."


"Kami pamit undur diri dulu. Sampai jumpa lagi," ucap tetua pertama yang terakhir meninggalakan ruangan itu.


"Sampai jumpa lagi. Hati-hati dijalan," Derek menyadarkan tubuhnya dikursi sambil menghela nafas panjang.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε