My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Manusia serigala muda



Udara yang sejub dan jauh dari kebisingan kota memang cocok untuk bersantai melepas lelah. Huaam... Aku mulai menguap. Rasa kantuk menghampiriku dengan cepat. Beberapa hari ini memang tidurku tidak nyenyak. Aku sering terbangun dini hari tampa alasan pasti. Setelah menengerkan Angel disudut ruangan, aku membaringkan tubuhku dikasur.


Kondisi Angel mulai membaik, ia sudah bisa mengerjakan sayapnya lagi. Walau untuk terbang belum bisa jarak jauh. Aku sengaja membawanya karna aku lebih tenang kalau aku sendiri yang merawatnya. Melihat Angel tertidur pulas dalam sangkar membuatku ingin tidur juga. Aku menutup mataku dan mulai tertidur tampa menganti seragam sekolahku.


Duar...!!!


Pintu dibanting dengan keras membuatku terbangun seketika, dan bahkan sampai terjatuh dari tempat tidur. Angel yang tertidur pulaspun ikut terbangun, sangkarnya bergoyang karna ia terkejut. Aku berusaha bangkit sambil memengangi perutku yang sakit akibat terjatuh tadi. Aku melihat ke arah pintu, siapa yang menerobos masuk kamarku. Seharusnya aku sudah menduga siapa dia. Aku hanya menatap kesal pada ibuku.


"Maaf, maaf ibu pasti mengejutkanmu," ibu melangkah masuk menghampiriku. "Habis kau di panggil-panggil tidak nyahut sih."


"Tapi tidak sampai banting pintu juga. Ada apa ibu memanggilku?"


"Ibu mau mengajak mu berendam air panas. Jangan menolak ya. Sepakat."


Aku belum memberi jawaban, ibu sudah menariku keluar. Ha... Tidak ada ruginya aku ikut berendam hari ini. Kolam air panas sungguh nikmat. Rasanya seperti direbus. E, maksudku rasanya seperti beban pikiranku ikut terbang bersamaan dengan uap air panas ini. Aku masih tidak tahu alasan apa orang tuaku tiba-tiba mengajaku liburan. Keseharian kami cuman bersantai menghabiskan waktu. Apa mereka hanya ingin melepas lelah? Ayah memang sibuk beberapa hari sebelumnya. Ia sering pulang larut malam. Perkerjaan di kantornya pasti menumpuk.


Akhir pekan lalu ayah perna mengajakku ke tempat latihan. Ya, itulah yang ia katakan saat aku bertanya, kemana? Tempat latihan berada di arah timur laut berjarak satu kilometer dari rumah. Tempat ini seperti sekolah. Ada bangunan memanjang bersekat-sekat terbagi menjadi beberapa ruangan. Halaman belakang dilengkapi area latihan yang lengkap. Berbagai macam pelatihan ada disini seperti latihan ketangkasan, kelincahan, kekuatan, kemampuan indra dan sebagainya, sesuai tahapan perubahan mereka.


Latihan diadakan seminggu sekali dan tepat hari ini. Mereka dibagi secara kelompok sesuai tingkatan perubahan. Satu kelompok itu ada satu guru yang bertanggung jawab sampai semua orang dalam kelompok itu lulus dan mendapatkan tanda klan mereka. Disana aku lihat bibi Emely sedang mengajari kelompok kecilnya yang berjumlah tiga orang. Dua laki-laki dan satu perempuan.


"Hei Rin, kemari," lambai bibi Emely ketika melihatku datang. Aku membalas lambaiannya.


"Bibimu sudah memanggil tuh, kau samperi dia. Ayah ada urusan sebentar. Jangan buat masalah," kata ayah sedikit mengancam.


"Memang aku orang yang suka buat masalah?"


"Selalu. Oh, iya. Sebaiknya jangan beritahu yang lain kalau kau adalah manusia serigala."


"Kenapa?" tanyaku sambil menaikan sebelah alis.


"Karna kemampuan mu ini masih dirahasiakan oleh keluarga. Tidak ada yang tahu selain keluarga kita." jelas ayah.


Kenapa harus dirahasiakan? Melihat ayah pergi aku berbalik dan segera menghampiri bibi Emely, dengan satu pertanyaan tadi yang masih melayang di kepalaku.


"Semuanya aku ingin memperkenalkan pada kalian keponakanku. Namanya Sherina," bibi memulai percakapan dengan memperkenalkan ku.


"Hai semuanya salam kenal. Kalian bisa memanggilku Rin."


"Hai aku Herry," pria berambut pirang ini memperkenalkan diri.


"Namaku Veena. Senang bertemu denganmu."


Gadis ini imut sekali. Aku tidak tahan ingin mencubit wajahnya. Bagaimana kalau ia dalam wujud serigala? Ah... Pasti imut.


"Kau bisa memanggilku Felix. Mrs. Dicaprio sering bercerita tentangmu."


"Aku harap bibiku tidak berlebihan," kataku dengan senyum manis.


"Ah, apa yang kau katakan Rin. Tentu saja aku tidak berlebihan," dari raut wajah bibi memang ada yang aneh. Kata-katanya tidak bisa dipercaya.


"Kau bercanda? Mrs. Dicaprio bercerita kau sangat hebat. Kau bisa berubah dalam hitungan detik hanya dalam sekali coba. Bukankah itu hebat? Kau adalah panutan ku," celoteh polos Veena. Matanya berbinar-binar melihatku.


Sudah kuduga. Seharusnya ayah memperingati bibi agar tidak membocorkan masalah ini, bukan aku. Aku melirik tajam pada bibi sambil tersenyum. "Bibi..."


"Apa? Aku tidak bohong kan? Kau memang..."


Aku segera menutup mulut bibi Emely sebelum ia mengatakan hal angel lagi. "Kalian jangan terlalu percaya dengan kata-kata bibiku ini. Ia mengatakan itu hanya agar kalian berlatih lebih giat. Aku sebenarnya tidak mewarisi kekuatan manusia serigala sama sekali."


"Ha?! Benarkah?" terlihat Veena sangat kecewa.


"Apa itu benar Mrs. Dicaprio berbohong?"


"Haha... Jangan percaya, jangan percaya. Oh, iya bibi. Ayah tadi bilang mau bertemu denganmu, ada sesuatu yang ingin disampaikan. Hal sangat penting, sebaiknya bibi temui dia sekarang," aku melepaskan tanganku dan mendorong bibi menjauh.


"Ada apa Rin? Aku tidak bohong."


"Tanyakan saja sama ayah."


"Baiklah, baiklah. Kalian ngobrollah sebentar. Aku akan kembali lagi nanti," akhirnya bibi melangkah pergi.


"Aku masih tidak percaya kalau Mrs. Dicaprio bohong," Veena masih terlihat sedih.


"Apa benar kau tidak mewarisi kemampuan manusia serigala sama sekali?" tanya Felix memastikan.


"Tentu saja. Kalau iya, aku sudah bergabung bersama kalian untuk latihan, bukan."


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Herry kemudian.


"Aku cuman iseng ingin lihat-lihat."


"Sangat disanyangkan kau bukan manusia serigala. Kalau tidak kau pasti sudah bergabung dengan kami."


Aku harap kebohongan ini benar. "Kalian sudah tahapan keberapa?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Kau tahu juga tentang tahap perubahan manusia serigala?!" kata Felix sedikit terkejut.


"Iya. Aku tahu dari buku yang aku temukan di perpustakaan."


"Wajar saja ia tahu. Ayahnya kan Mr. Morgen, manusia serigala terhebat yang aku ketahui. Dia adalah pahlawan di klan Alpa kita ini," sekarang mata Herry Yang berbinar-binar.


"Kau sepertinya penggemar ayahku."


"Tentu saja. Suatu hari nanti, aku pasti bisa sehebat Mr. Morgen," kata Herry sangat percaya diri.


"Kita sudah ditahap kelima tapi kau paling payah dalam kelompok kita," ejek Veena pada Herry yang seketika murung.


"Kalian sudah ditahap kelima?!" mereka satu tingkat di atas ku.


"Tidak. Aku ditahap keenam," potong Felix. "Tak lama lagi aku akan mendapatkan tanda klan manusia serigala baru dari klan Alfa."


"Bagaimana bisa? Kita masuk bersamaan hari itu. Kenapa tahapanmu lebih cepat dariku?" protes Herry.


"Mungkin kau terlalu payah," ejek Felix membuat Herry semakin kesal.


"Hahaha..." kami tertawa bersama-sama kecuali Herry yang cemberut. Ia memalingkan muka dengan kesalnya.


Kelompok bibi Emely memang tidak membosankan. Walau aku masih tidak tahu tentang tanda klan yang mereka maksud. Aku belum perna melihat seperti apa tanda klan Alpa itu. Ha... Sudahlah mungkin aku akan tahu saat aku sudah ditahap keenam nanti. Di waktu bersamaan tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang melintas cepat ke arahku. Refleks aku memiringkan kepala menghindarinya dengan raut wajah tidak berubah. Benda itu ternyata panah dart. Felix berhasil menangkapnya dengan tangan kosong.


"Siapa yang berani-beraninya melemparkan panah dart sembarangan seperti ini?! Kalau mengenai seseorang bagaimana?" bentak Veena kesal.


"Wah... Felix kau sangat hebat bisa menangkap panah itu dengan tangan kosong," aku tertarik pada Filix yang menangkap panah itu dari pada siapa yang melemparnya.


"Dari pada kau memujiku, lebih baik kau mencari tahu siapa yang melempar ini. Benda ini hampir saja mengenai kepalamu," sikap Felix seketika berubah dingin. Ia meremas panah dart itu sampai hancur.


"Ah...! Aku... Aku maksudku..." wajahnya seketika berubah menjadi tomat.


Hihi... Aku paling suka menggoda pria yang malu-malu. Aku menjauh darinya agar ia tidak salah tingkah lagi.


"Ternyata rumor itu benar. Miss. Morgen adalah manusia serigala yang jenius. Kau bisa menghindar panah dartku dengan cepat," suara itu muncul di belakangku. Lantas aku menoleh.


Seorang pria berumur lebih mudah dariku berjalan mendekat dengan sombongnya. "Siapa dia?" aku bertanya pada Veena.


"Dia adalah Ducan, salah satu murit termuda di pelatihan ini. Ia baru berumur 13 tahun dan sudah ditahap kelima," jelas Veena.


"E, kau juga termasuk murit termuda Veena."


"Ah, dari mana kau tahu."


"Wajah imutmu itu tidak bisa disembunyikan dariku," kali ini aku tidak tahan lagi ingin mencubit wajah Veena.


"Aduuuh... Sakit kak Rin," teriak Veena minta dilepaskan. aku melepaskannya.


Akhirnya lega juga.


"Ducan apa maksudmu menyerang seseorang mengunakan panah dart?" bentak Herry minta penjelasan.


"Aku hanya memastikan rumor itu."


"Kau tidak perlu membuktikan apapun. Aku bukan manusia serigala. Tadi itu hanya kebetulan saja," kataku agar ia tidak melakukan hal aneh-aneh lagi. Ini semua karna bibi Emely yang tidak bisa menjaga mulutnya.


"Aku tidak percaya!! Kau tadi bisa menghindari panah dartku dengan sangat mudah. Kau pasti sangat hebat. Aku ingin bertarung denganmu." ocel Ducan membuatku terkejut.


"Ha?! Aku tidak mau melawan anak kecil."


"Kenapa? Apa kau takut padaku?"


"Ducan jangan kelewatan! Ini sudah melanggar peraturan. Apa kau mau dikeluarkan dari pelatihan?" ancam Felix.


"Katakan saja kau takut padaku, aku tidak akan mempermasalahkannya lagi."


"Baiklah aku akan bertarung denganmu. Kalau kalah jangan nangis ya," aku melangkah pelan mendekat Ducan.


"Kak Rin apa yang kau lakukan? Ia sudah ditahap kelima, sedangkan kau..." Veena terlihat khawatir.


"Tenang saja aku punya jurus yang bisa mengajari bocah satu ini," kataku tampa menoleh.


"Ha! Jurus apa yang kau miliki untuk melawanku. Aku adalah seorang jenius disini. kau tidak akan bisa mengalahkanku..." Ducan terus saja mengoceh menyombongkan dirinya.


Aku mengambil kesempatan ini untuk mendekatinya. Serasa sudah cukup dekat, aku mempercepat langkahku. Ducan yang sendari tadi ngoceh tidak menyadari kalau aku sudah ada dibelakangnya. "Jurus jeweran maut!" aku menarik kedua telinga Ducan, hal itu membuat ia menjerit kesakitan.


"Aduuuh... Sakit!! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!!"


"Sesuai permintaanmu," aku melepaskannya dan sedikit mendorongnya ketanah.


Ia jatuh terduduk. Ducan mengusap kedua telinganya yang sakit dengan wajah cemberut menatapku. Matanya mulai berlinang. "Aku... Aku akan bembalasmu," ia bangkit dan berlari pergi.


"Aku tidak mengirah kau akan menjewer telinganya," kata Felix


"Ducan tidak akan berani berulah lagi. Ngomong-ngomong Rin, dari mana kah mempelajari jurus itu?"


"Kakak Rin memang hebat," senyum manis terukir di wajah Veena.


"Jangan pernah meremehkan lawan. Itu saja," aku mengelus lembut rambut Veena. Imutnya.


"Pelajaran yang berharga."


Tiba-tiba aku merasakan tusukan dingin di punggungku. Wajah Felix, Herry dan Veena berubah tegang. Mereka membungkuk memberi salam.


"Kami menghadap ketua klan," kata mereka serempak.


Aku menoleh melihat siapa yang memancarkan aura dingin itu. Tatapan tajam itu melirik ke arahku. "A... Ayah."


"Aku sudah katakan padamu untuk tidak membuat masalah. Tapi apa yang kau lakukan?" ayah langsung menjewer teleligaku. Kali ini telingaku yang sakit. "Kau mala menidas anak kecil disini."


"Ketua klan ini bukan salah Rin," Herry berusaha membelaku.


"Iya. Ini salah Ducan yang mencari masalah duluan," Veena juga ikut-ikutan.


"Mohon ketua klan tidak menghukumnya," Felix juga.


"Kalian terlalu berlebihan. Ayahku tidak akan membunuhku," kataku pada mereka sambil masih mengusap telingaku yang sakit.


"Kau cepat mendapat rekan setia," kali ini ayah mengacak-acak rambutku. "Kalian berlatihlah yang rajin. Aku tidak akan menghukumnya. Tapi ibunya mungkin saja," ayah menarik krah bajuhku dan menyeretku meninggalkan yang lain.


"Ayah apa ada cara yang lebih manusiawi?!!"


"Tidak ada."


"Sekarang aku tahi dari mana Rin mempelajari jurus itu," kata Herry yang masih bisa aku dengar.


"Kakak minggu depan datang lagi ya!!" teriak Venna sambil melambai padaku.


"Baiklah," balasku sambil melambai juga. "Eh... Ayah bisa lepaskan aku. Jika ibu tahu kau menarikku seperti ini, ia akan menghukummu juga loh."


Mendengar itu membuat ayah tersentak. Ia langsung melepaskan ku begitu saja. Hal hasil aku jatuh terguling di tanah. Ayah melangkah pergi tampah menoleh padaku. Aku segera berdiri dan menyusulnya.


"Dasar suami takut istri," kataku pelan.


"Apa katamu," lirik tajam ayah membuatku merinding.


"Ah, tidak ada."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε