My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pekerjaan paruwaktu



Jam 07.00 tepat alaram jam bekel disamping tempat tidur berbunyi. Aku meraba-raba mencoba mematikan jam tersebut. Sekali tepukan pelan alaram jam berhenti. Aku bangun sambil mengucek kedua mataku, kuregangkan tubuhku untuk mengumpulkan seluruh kesadaranku. Aku menarik tirai jendela yang mulai memantulkan cahaya matahari pagi. Langit kelabu menyambutku dengan sedikit warna biru. Sisa air hujan semalam masih menetes di dahan-dahan pohon. Langit sedikit mendung hari ini namum tidak menghentikan beberapa orang yang melakukan rutinitas pagi mereka.


Dikota kecil ini cukup ramai, banyak orang lalu lalang berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan. Sekedar joging santai bersama anjing peliharaan atau sendirian sambil mendengarkan musik. Ada juga beberapa sedang menikmati minuman hangat, duduk santai di depan rumah. Dikeramaian itu aku melihat Tobi, remaja yang menolongku semalam. Ia begitu ramah pada semua orang, saling menyapa satu sama lain dengan senyum terukir diwajahnya. Apa ia mau pergi berkerja? Aku melirik Rosse, ia masih tidur. Aku tidak mau membangunkannya. Aku pergi ke kamar mandi, mencuci mukaku dan gosok gigi lepas itu turun menuju halaman belakang. Aku sekilas melihat bibi Marry sedang menjemur pakaian disana.


Bibi Marry meminjamkanku salah satu sepedanya untuk aku gunakan berkeliling kompleks sambilan aku ingin mencari ATM terdekat. Beberapa kali aku berusaha membujuk bibi Marry agar ia memberitahu aku berapa no rekaningnya. Aku mengayunkan pelan pedal sepeda di sela-sela jalanan tidak terlalu padat kendaraan. 15 menit aku menyelusuri kota ini aku akhirnya menemukan ATM terdekat. Selesai aku melakukan transfer dan penarikan uang tunai aku pergi ke mini market yang ada disebrang jalan. Aku belanja beberapa kebutuhan sehari-hari dan bahan makanan yang aku ingin bibi Marry masakan, aku benar-benar merindukan masakannya. Aku sampai di rumah bibi Marry hampir jam 8 tepat.


"Dari mana saja kau? Bibi hampir berpikir kau mungkin saja tersesat," tanya bibi Marry yang berdiri di depan pintu. Ia membantuku membawa kantong belanjaan.


"Dari mini market. Aku tidak akan tersesat di kota kecil ini bibi," kataku sambil mengikutinya ke dapur.


"Oh... Ririn, apa saja yang kau beli ini? Banyak sekali," bibi meletakan semua barang itu di atas meja makan.


"Tidak ada, hanya perlengkapan sehari-hari dan bahan makanan. Oh iya, aku sudah mentransfer uangnya ke rekening bibi," aku menarik kursi dan duduk, sedangkan bibi Marry melanjukan masakannya.


"Hm... Bibi tidak tahu bagaimana caranya berterimah kasih padamu?"


"Mudah. Bibi harus membuatkan hidangan yang istimewah untukku," kataku dengan majahnya.


"Kau ini. Baiklah bibi nanti akan membuatkan masakan kesukaanmu, tapi sebelum itu kau sarapan dulu," bibi Marry meletakan sebuah piring berisi roti panggang dengan selai kacang.


Aku mulai memakan roti selai kacang itu. Hm... Rasanya enak sekali, roti yang dipanggang dengan kerenyahan sempurna dipadukan selai kacang gurih nan manis. "Walau cuman roti panggang tapi jika bibi Marry yang membuatnya aku sanggup untuk makan sepuluh porsi lagi."


"Kau terlalu memuji," bibi Marry meletakan satu roti panggang lagi ke dalam piringku.


Pagi menjelang siang menuju sore. Aku cuman membaringkan diriku di sofa sambil menonton tv dengan keadaan terbalik, kepalaku ada di lantai dan 2/3 tubuhku di atas sofa. Aku benar-benar bosan sampai-sampai aku melakukan kegiatan aneh ini. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghitung waktu. Ah...! Kenapa hari begitu lambat sekali?!! Dalam kebosanan aku teringat teman-temanku, Sofia, Nic, Evan, Kevin dan bahkan Perchye. Oh iya, Onoval juga. Apa kabar mereka semua? Mereka pasti sudah mengetahui berita itu. Apa mereka menyangkalnya atau malah mempercainya? Tidak tidak. Aku menggeleng cepat untuk menghalau pikiran aneh tersebut. Sofia pasti menyakinkan mereka kalau berita itu palsu dan yang aku tahu Nic, Evan dan Kevin tidak akan mudah percaya dengan hal supranatural seperti itu. Bagaimana dengan Perchye? Em... Tidak, entah mengapa aku sangat percaya kalau ia tidak akan termakan isu tersebut.


Sekarang tinggal Onoval, untuk orang yang satu ini aku sedikit khawatir. Aku belum mengenal sifat Onoval sepenuhnya. Terkadang ia humoris, bertingkah bodoh, atau sesekali sangat menjengkelkan, berpengetahuan luas dan sedikit misterius. Ia sering muncul di tempat tak terduga dan kemudian menghilang dengan cepat seperti waktu terakhir kali kami bertemu. Aku memandang jepit rambut merpati yang ia berikan hari itu. Aku baru menyadari kalau jepit rambut ini masih tersemat di rambutku saat aku mandi semalam. Ingin sekali aku menghubunginya dan menanyakan serta menyakinkan ia tentang isu itu, namun aku tidak punya hp lagi. Aku cuman bisa berharap ia menaruh sedikit kepercayaan untukku sampai aku menjelaskan langsung padanya.


Dalam lamunan masih di posisi yang sama aku tidak menyadari kehadiran bibi Marry. Ia duduk di sampingku sambil meletakan mangkuk kecil ke perutku. Rasa dingin dari mangkuk itu membuatku terkejut dan spontan aku bangkit membetulkan posisiku. Bibi Marry mengalikan mangkuk itu ke atas meja sambil cekikikan tertawa melihat tingkahku.


"Bibi...!"


"Hihi... Lagian juga kenapa kau melamun sambil terbalik seperti itu?"


"..." aku cuman diam dengan wajah cemberut.


"Mau salad buah?" bibi Marry menawarkan apa yang ada di mangkuk tadi.


Dengan wajah masih kesal aku merai mangkuk yang berisi salad buah tersebut dan mecicipinya. Em... Rasa buah manis dan segar ini seketika menghilangkan kekesalanku. Aku dengan cepat menghabiskannya.


"Makan pelan-pelan, tidak ada yang merebutnya darimu."


"Habisnya masakan bibi sangat enak sih."


Tiba-tiba aku mendengar suara pintu di buka. Hal itu membuatku menoleh yang di ikuti bibi Marry. Ternyata yang membuka pintu adalah Rosse, ia baru pulang sekolah. Tampa menyapa ia melangkah masuk menuju kamar.


"Rosse, kau pulang lebih awal?" tanya ibunya.


"Iya."


Lima menit kemudian Rosse turun dengan pakaian berbeda. Baju hitam putih polos dan celana hitam panjang, rambut ia kuncir kepang dengan pita ungu. Wajahnya ia beri make up tipis agar tampak lebih natural. Sedikit setuhan akhir, Rosse mengenakan jam tangan berwarna perak. Ia duduk disamping ibunya dan mengambil semangkuk salad buah yang tersedia di atas meja.


"Kau mau kemana Rosse?" tanyaku sedikit penasaran.


"Bukan urusanmu," jawab Rosse ketus.


"Biasanya setelah pulang sekolah Rosse berkerja paruwaktu di sebuah kafe tidak jauh dari sini," jelas bibi Marry.


"Kerja paruwaktu? Apa boleh aku ikut?" kataku bersemangat.


"Untuk apa kau ikut?" tanya Rosse tidak setuju.


"Karna aku bosan di rumah seharian tampa ada kegiatan."


"Cari saja kegiatan lain, jangan menggaguku!"


"Tidak apa Rosse jika Ririn bersikeras mau ikut. Ajak saja dia. Dari pada ia melakukan hal aneh," bujuk ibunya lembut namun ada kalimat sindiran untukku.


"Hal aneh? Tapi bu... Aku tidak ada waktu untuk mengawasi dia," tunjuk Rosse padaku.


"Aku bukan bocah berumur lima tahun untuk terus kau awasi."


"E...! Hm!" Rosse menggeretakan giginya kesal sambil berlalu pergi.


"Jika Rosse tidak menjawab artinys ia setuju," bisik bibi Marry.


"Benarkah? Tapi tidak terlihat seperti itu?"


"Sudahlah sebaiknya kau..."


Kriiiiiiing... Kriiiiiiing...


Tiba-tiba hp bibi Marry berbunyi. Mendengar hal itu membuat bibi tidak melanjutkan kalimatnya. Ia merai hpnya dan melihat siapa yang menelpon. Karna tidak ingin menggagu aku lekas pamit untuk menyusul Rosse. Aku juga tidak mau ketinggalan jauh dari Rosse, kalau tidak... Aku tak akan tahu Rosse berkerja paruwaktu dimana. Baru di depan pintu aku lihat Rosse sudah jauh, berkelang tiga rumah dari rumah ini. Aku segerah mengejarnya.


Selama perjalanan kami tidak berbicara sekatapun. Sunyi dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun ada yang tidak asing dengan jalur menuju tempat Rosse berkerja, sepertinya aku pernah lewat sini. Aku mencoba mengigat-ingat kapan aku perna melewati jalan ini. Saat ke mini market pagi tadi... bukan jalan ini yang aku lalui. 10 menit berjalan kaki akhirnya kami sampai. E?! Ini sungguh kebetulan. Aku tidak mengira kalau Rosse ternyata berkerja paruwaktu disini, di kedai Lotus. Pantas saja aku merasa perna melewati jalan itu.


Terlihat jelas dari jauh kedai itu sudah sangat ramai dipenuhi pengunjung. Di cuaca sedikit mendung berudara dingin begini memang enak menyerumput kopi panas dan cemilan manis. Untuk menghindari keramaian aku dan Rosse harus menggunakan pintu belakang. Kami melewati gang yang ada di samping kedai itu untuk sampai disana. Rosse membuka pintu yang segerah disambut hangat oleh seorang wanita. Wanita yang cantik, bertubuh tinggi dengan umur kuperkirakan antara 25-28 tahun. Rambut coklat bergelombang terkucir rapih. Ia mengunakan celemek berwarna biru muda kotak-kotak dan berhias renda berwarna pink. Disamping wanita tersebut ada seorang gadis yang serumuran dengan Lisa kukira, ia juga mengenakan celemek yang sama, mata biru terang terlihat menawan dari balik kacamata bulatnya, rambut hitam sebahu dikucir dua. Gadis itu terlihat sedikit pamalu.


"Ah... Rosse, kau datang lebih awal. Baguslah, kedai kecil kita benar-benar ramai sekali hari ini. Aku sangat butuh batuanmu. E?" wanita tersebut baru menyadari kehadirannku. "Siapa temanmu ini?"


"O... Dia..."


"Namaku Ririn, aku sepupu jauh Rosse dari desa," potongku sebelum Rosse memberitahu nama asliku.


"Ha...? Sejak kap..." belum sempat Rosse menyelesaikan kalimatnya aku dengan cepat menutup mulutnya.


"Jangan beritahu nama asliku," bisiku ditelinga Rosse. Aku melepaskan mulutnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Rosse juga berbisik.


"Apa kau mau semua orang tahu kalau gadis serigala ini bersembunyi di rumahmu?" masih berbisik.


"Hm, baiklah. Aku juga tidak mau ibu repot karnamu."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε