
"Selamat pagi semuanya."
"Pagi bu Maggie," jawab serentak semua murit yang ada di dalam kelas.
"Hari ini kita kedatangan murit baru. Silakan perkenalkan dirimu."
"Hai semuanya, kalian bisa memanggilku Rin. Aku harap kita bisa menjadi teman baik."
Ya benar, aku sekarang siswi baru disekolah ini. Jadi ini yang bibi Merry maksud kejutan, semalam. Aku menyapah mereka dengan senyum terpaksa. Ada rasa jengkel dalam benakku. Bukan karna aku tidak mau sekolah tapi kenapa bibi Marry harus mendadaniku seperti ini!! Baju kemeja berlengan pendek berhias pita polkadot berwarna pink, dipadukan rok mini senada dengan warna pita, kaos kaki putih panjang sampai lutut dan sepatu hitam berpita merah. Pakaian ini lebih parah dari serangam pelayan kemarin. Dan ditabah lagi, kenapa rambutku juga harus dikucir dua begini?! Aku seperti ingin pergi ke acara cosplay bukannya sekolah.
Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya kalau aku memakai pakaian di sekolahku. Bisa lebih dari seminggu aku di tertawakan. Namun disini sepertinya sama saja. Ha... Bibi memang keterlaluan. Ia mengangapku apa? Aku ini sudah SMA bibi bukan TK lagi. Secara kebetulan atau tidak aku satu kelas bersama Rosse. Ia segerah memalingkan muka saat aku meliriknya. Ia duduk di kursi paling belakang baris ketiga dari pintu.
"Wah... Gadis yang imut," kata siswi yang duduk disudut baris ke dua dari depan.
"Tersesat adik manis?" nada ejekan itu terdengar jelas dari siswa di barisan belakang.
"Asalnya dari mana?" tanya salah satu murit lainnya.
"Aku suka rambutmu," kata siswi di depanku.
"Imut sekali."
"Kau mau keacara kostum nona?"
"Minta no hpnya dong."
"..." dan banyak lagi pertanyaan yang mereka tanyakan padaku. Aku hanya menangapinya dengan tersenyum terpaksa. Ini benar-benar memalukan. Ingin sekali aku segerah berganti baju.
"Sudah sudah, kalian bisa kenalan lebih jauh saat jam istrirahat nanti. Ririn silakan duduk," ucap bu Maggie.
"Terima kasih bu Maggie," aku melangkah pergi mencari tempat kosong yang aku dapatkan di sudut barisan paling belakang dekat jendela.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kriiing... Kriiing...
Bell dibunyikan. Waktu istirahat tiba. Aku membereskan buku ku dan meletakannya dalam laci meja. Sebagian murit sudah meninggalkan ruang kelas yang kini menyisakan beberapa murit saja. Aku lihat Rosse sudah tidak ada di mejahnya. Aku bergegas beranjak keluar sebelum orang mengerumbuniku dan menanyakan hal aneh atau sekedar berkenalan. Aku pergi menuju toilet siswi. Aku tidak tahan lagi dengan penampilan ini. Aku melepaskan kedua kucirku dan membiarkan rambutku terurai, aku juga melepaskan pita polkadot ini dan baju aku keluarkan. Penampilanku sedikit acak-acakan, namun ini lebih baik dari pada sebelumnya. Baru hendak keluar dari toilet, aku tampa sengaja menabrak seorang siswi yang membuatnya jatuh terduduk.
"Dasar kau anak baru! Kau punya mata tidak?!!" bentak siswi itu padaku. Temannya membantunya berdiri.
"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja," ketika aku meneliti wajah siswi itu aku baru sadar kalau ia satu kelas denganku. Kalau tidak salah ia gadis yang duduk di depan dekat jendela.
"Kau baru sehari ada disini dan berani sekali mencari masalah denganku! Kau pikir kau itu siapa?!" tunjuk siswi itu ke wajahku sambil marah-marah.
Aku sedikit ngeri melihat kuku telunjuknya begitu dekat dengan mataku. "Aku kan sudah minta maaf. Lagi pula aku bukannya sengaja menabrakmu."
"Minta maaf? Kau pikir minta maaf saja sudah cukup?"
"Lalu, kau maunya apa?"
"Tentu saja kau harus menganti bajuku ini. Lihat bajuku kotor karnamu," siswi sombong itu memperlihatkan bagian baju putihnya yang sedikit berdebu.
Kenapa aku merasa perna melihat adegan ini? Tapi dimana ya? Aku mencoba mengingat-ingat. Em... Ah, iya. Waktu aku terjebak di gudang sekolah. Kejadian ini persis sama dengan Jenny yang minta ganti rugi kepada Linda karna tidak sengaja mengotori bajunya. Apa gadis di depanku ini ingin melakukan hal sama seperti yang dilakukan Jenny? Aku harap ia tidak berniat begitu sebab aku malas bermain dengannya.
"Itu cuman kotor sedikit, aku tidak mau menggatinya," aku melipat tanganku sambil memalingkan muka.
"Tidak ada satu orang pun di sekolah ini yang berani memalingkan muka padaku!"
"Termasuk guru?" kataku yang membuat gadis itu terlihat bertambah kesal.
"Anak baru itu terlalu berani," bisik siswi lain yang menyasikan pertengkaran kami.
"Iya, dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa," jawab temannya juga berbisik.
"Wajar sajakan dia anak baru di sekolah ini."
"Sungguh kasihan, baru masuk sehari sudah berurusan dengan Sindy."
"Aku ingat dulu juga ada anak baru yang perna memprovokasi Sindy. Anak baru itu berakhir dikeluarkan dari sekolah."
"Iya, aku perna dengar itu."
"Kalau aku jadi dia, aku akan berusaha untuk tidak membuat Sindy marah."
"Anak baru itu terlalu sial hari ini."
"Sepertinya gadis di depanku ini sangat berkuasa. Ia bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari sekolah jika ia tidak suka. Aku jadi ingin tahu latar belakangnya," batinku.
Gadis ini melirikku dari atas sampai bawah, lalu berkata. "Baiklah jika kau tidak mau mengganti bajuku. Sebagai gantinya, jepit rambut merpati yang ada di kepalamu itu serahkan padaku."
"Apa?! Kau mau jepit rambutku?" ada yang salah dengan otak gadis ini.
"Beterima kasihlah pada Sindy karna ia cuman mau jepit rambutmu. Kalau kau disuruh mengganti bajunya, aku rasa kau tidak akan sanggup," celoteh temannya ikut-ikutan.
"Sudahlah Lily, suasana hatiku sedang baik hari ini. Jangan menakuti dia. Dari penampilannya aku tahu kalau ia itu berasal dari desa. Ia tidak akan sanggup menggati bajuku yang mahal ini," kata Sindy dengan sombongnya.
Aku mengangkat sebelah alisku. "Kau gadis yang aneh ya."
"Apa!! Beraninya kau mengataiku aneh! Dengar ya, aku sudah berbaik hati padamu cuman mau jepit rambutmu itu tapi kau berani sekali mengejeku!" Sindy benar-benar marah mendengar itu.
"Dasar gadis kampung tidak tahu diri!" Lily juga ikut memarahiku.
"Kalian berdua tidak hanya aneh tapi juga bodoh. Kau bilang bajumu itu begitu mahal sampai aku tidak sanggup menggantinya, namun kau malah mau diganti dengan jepit rambutku ini. Harga jepit rambut ini sangat murah. Kalau dilihat dari penampilanmu yang glamor itu, kau ini berasal dari keluarga kaya kan? Apa tidak malu memakai aksesoris murah? Kau bisa ditertawakan loh," kalimat terakhir aku bisikan di telinga Sindy. Aku bisa mencium bau parfum yang menyengat dari tubuhnya.
"Siapa... Siapa bilang aku mau memakainya? Aku... Aku cuman ingin menghancurkanya di depan matamu!"
"Oh, bagaimana caranya kau menghancurkannya? Ah... Sudahlah, itu tidak penting. Sungguh sangat mumbazir jika kau mau merusak jepit rambutku. Lebih baik aku tidak memberikannya padaku," aku berlalu pergi melewatinya. Baru beberapa langkah tiba-tiba aku tidak bisa menggerakan tubuhku.
"Kau mau pergi kemana? Berbalik."
Entah mengapa tubuhku bergerak sendiri mengikuti kata-kata Sindy. Perasaan dikendalikan seperti ini sama persis saat aku terkena mantra pengikat Sofia, namun ini lebih lemah. Apa Sindy seorang penyihir? Aku tersenyum kecil. Aku tidak menyangkah ternyata ada seorang penyihir di sekolah ini. Sepertinya hari ini akan menjadi sedikit menarik.
"Aku bisa mendapatkan apa saja yang aku mau. Jika aku mengiginkan jepit rambutmu itu kau harus memberikannya padaku," Sindy berdiri begitu dekat denganku.
"Kau bisa mundur sedikit? Bau parfummu itu sangat menyakiti penciumanku. Aku hampir kesulitan bernafas tahu," kataku datar.
"Kau gadis kampung yang tidak tahu diri! Apa kau tahu parfumku ini adalah parfum edisi terbatas. Untuk mendapatkannya saja harus mengikuti pelelangan. Kau itu cukup beruntung dapat menciumnya."
"Benarkah? Aku harap tidak perna menciumnya lagi seumur hidupku," kataku. Sepertinya kali ini aku benar-benar membuat ia kesal sampai keubun-ubun.
"Kau...! Aku akan membuatmu membayar karna telah berani memprovokasiku!!"
"Rin!"
Belum sempat Sindy melakukan apapun padaku, terdengar suara memanggilku. Mendengar teriakan itu membuat Sindy menoleh. Aku juga ikut menoleh ketika namaku dipanggil. Kulihat Rosse berlari menghampiri kami. Ha? Kenapa dia? Rosse tidak perna berinisiatif memanggilku. Apa yang dia inginkan sekarang? Melihat Rosse semakin mendekat, Sindy membatalkan mantra pengikat yang ia tujukan padaku. Ia sepertinya cukup kesal karna Rosse muncul tiba-tiba. Aku bahkan bisa mendengar suara giginya menggeretak.
"Ada apa Rosse?" tanyaku padanya.
"Aku mencarimu kemana-mana, tahu!"
"Ayok pergi Lily. Aku tidak semangat bermain hari ini," Sindy berlalu pergi begitu saja dengan wajah cemberut. Tapi sebelum itu ia sempat berbisik padaku. "Kita lanjutkan lain waktu."
"Hei... Sindy tunggu aku," Lily berlalu mengejar temannya itu.
Rosse belum menjawabku tapi ia sudah melangkah pergi duluan. Apa tadi ia cuman mau menolongku? Aku berlari mengejarnya. "Rosse, tunggu!"
"Jangan mencari masalah dengan Sindy," tegas Rosse saat aku berhasil menyusulnya.
"Bukan salahku. Gadis aneh itu yang mencari masalah duluan."
"Sebaiknya kau menghindari dia jika bertemu dimasa depan. Aku tidak mau ibu repot karnamu."
"Ha... Baiklah, aku tidak akan mencari masalah dengannya. Tapi, jika ia tidak duluan mencari masalah denganku, aku tidak akan tinggal diam."
"Apa kau gila?!! Keluarga Welton adalah pemegang saham utama sekolah ini. Apa kau mau dikeluarkan?"
"Siapa keluarga Welton?" tanyaku tanpa ekspresi.
"Kenapa kau begitu bodoh? Keluarga Welton adalah keluarganya Sindy. Sindy Welton putri kedua dari keluarga Welton. Apa kau tidak tahu itu?"
"Tidak."
"Oh?! Kau tidak tahu."
"Aku saja baru mendengarnya darimu."
"Aku pikir keluarga Welton cukup terkenal di ibu kota."
"Aku tidak peduli dengan urusan seluk-beluk keluarga berpengaruh."
"Hm! Terserah kau saja. Yang penting aku sudah memperigatkanmu. Lagi pula, bukankah kau merahasiakan identitasmu? Kau tidak bisa menggunakan nama keluargamu jika kau tidak ingin ketahuan."
"Aku tidak perlu nama keluarga untuk bermain dengannya."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε