My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Golongan darah



Aku membuka mataku perlahan ketika aku merasa ada usapan lembut membelai rambutku. Sepasang mata yang begitu indah menatapku penuh keibuan. Aku berusaha duduk dibantu olehnya. Tidak jauh disampingnya berdiri seorang pria. Mereka berdua orang tua Lisa atau juga bisa dibilang orang tuaku.


"Kau tidak apa-apa nak?" tanya ibu.


"Sherina kau menakutiku. Jika sakit sebaiknya di rumah saja jangan berkeliaran kemana-mana," kata Lisa yang baru datang dengan membawa segelas air putih. Ia meletakannya di atas meja samping tempat tidur.


"Aku tidak berkeliaran sembarangan. Aku sedang mencari orang tua... Sstt... Kandungku" tiba-tiba rasa sakit menusuk jantungku. Aku membungkukkan badanku ke depan dengan tangan kanan mencengkram erat bajuku.


"Apa yang terjadi nak? Wajahmu pucat sekali," ujar ibu terlihat sangat cemas. Ia menoleh pada suaminya. "Sayang kau bisa bawa mobilnya, kan? Ayok antar dia ke rumah sakit."


"Baiklah," jawabnya sambil hendak berlari keluar.


"Tidak! Aku baik-baik saja," kataku membuat langkahnya terhenti.


Aku berusaha menengakkan punggungku agar mereka tidak terlalu khawatir. Dengan susah payah kuatur nafasku berulang kali. Keringat mulai menetes di pelipisku. Aku menghargai tawaran baik mereka mau mengantarku ke rumah sakit tapi itu tidak mungkin juga. Salju semakin lebat turun dan pasti jalanan tidak bisa dilewati untuk saat ini.


"Tunggu, orang tua kandungmu? Aku baru tahu kalau kau itu anak angkat," ujar Lisa.


"Aku juga baru tahu seminggu yang lalu kalau aku itu anak angkat. Orang tua kandungku menitipkanku di panti asuhan ketika umurku belum genap satu tahun," jelasku sambil menahan sakit. "Saat umurku setahun aku dilarikan ke rumah sakit karna aku mengidap penyakit jantung bawaan dan harus mendapat transplantasi jantung sesegerah mungkin. Secara kebetulan dirumah sakit yang sama keluarga Morgen baru kehilangan putri mereka. Tidak diduga keluarga Morgen sepakat mendonorkan jantung putri mereka untukku, agar aku dapat bertahan hidup."


"Untuk apa kau mencari orang tua kandungmu? Mereka telah mentelantarkanmu. Sekarang kau dapat hidup bahagia bersama orang tua angkatmu yang selalu menyayangimu."


"Aku hanya ingin tahu, alasan mereka mentelantarkanku, sebelum... Aku... Pergi."


...Sudut padang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


Rin pingsan lagi kali ini dalam pelukan ibu kandungnya. Terjadi kepanikan di antara mereka bertiga. Ibunya yang akan aku beritahu namanya adalah Zedna French, berusaha menyadarakkan Rin dengan cara yang sama, membelai dan memanggil tapi itu sama sekali tidak membantu. Ayahnya yang bernama Carlos French merasa kebingunan, bagaimana cara membawah gadis ini ke rumah sakit dalam kondisi cuaca tidak menguntungkan.


"Lisa! Telpon orang tuanya," pinta Ayahnya pada putrinya.


"Baik."


Lisa berusaha secepat mungkin mencari no telpon Mrs. Morgen di layar hpnya dan segera menghubunginya. Tak lama telpon diangkat. Dengan nada panik Lisa menceritakan kondisi Rin pada Mrs. Morgen. Tampak terdengar jelas kepanikan dari balik telpon setelah mendengar kabar itu. Lisa menggirimkan alamat rumahnya. Kurang dari 30 menit akhirnya orang tua Rin sampai bersama ambulance serta dua mobil pembersi salju. Rin segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan selanjutnya.


Lisa bersikeras meminta orang tuanya ikut mengantar Rin ke rumah sakit. Lisa beralasan khawatir melihat kondisi Rin dan ingin memastikan keadaannya benar-benar baik saja. Orang tuanya tidak bisa menolak, apalagi melihat Lisa sampai menangis terseduh-seduh. Sebenarnya orang tuanya juga sangat khawatir, walau mereka masih belum mengerti apa yang terjadi. Mendengar cerita Rin sebelum pingsan tadi membuat mereka mengingat akan putri kecil mereka. Namun harus dipastikan kebenarannya dulu, karna Rin sangat berbeda dari ingatan mereka. Tapi apalah daya waktu dapat mengubah segalanya.


Sampai di rumah sakit, Rin segera mendapat penanganan medis. Semua alat kesehatan yang diperlukan dipasang untuk menolongnya. Dua keluarga itu hanya bisa menunggu di luar ruangan dengan selimut kecemasan masing-masing. Beberapa kemudian dokter keluar dan segera disambut wajah penuh pertanyaan. Tentu yang paling menantikan jawab adalan seorang ibu yang perna kehilangan putri tercintanya. Cloey langsung bertanya bagaimana kondisi anaknya.


"Kondisi pasien tidak baik. Kita harus mengambil tindakan operasi sesegera mungkin. Jantungnya lagi-lagi mengalami penolakan pada tubuhnya. Ini cukup aneh, sudah sekian lama kenapa ini baru terjadi sekarang," jelas dokter itu.


"Tapi bagaimana, kami belum mendapatkan pendonor darah yang cocok," kata Derek.


"Ambil darahku. Golongan darahku sama dengan Rin," kata Lisa membuat semua orang terkejut dan menoleh padanya.


"Baik nona. Mari ikut saya untuk pengujian," pinta dokter itu.


Lisa mengikuti dokter itu untuk melakukan pemeriksaan dan mengecek golongan darahnya. Ternyata benar, golongan darah Lisa sama dengan Rin. Operasi dapat dilakukan. Selama operasi berlangsung dibutuhkan waktu berjam-jam. Tidak ada percakapan diantara mereka. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Cloey mengambil tempat duduk disamping Lisa yang baru saja mendonorkan darahnya. Tubuhnya terlihat lemah karna menyumbangkan darahnya cukup banyak untuk Rin. Ia menolak beristirahat di ranjang rumah sakit. Ia mau menunggu Rin tepat di luar ruangan operasi.


Cloey sudah lama mengenal Lisa. Ia adalah salah satu pengunjung teraktif di perpustakaan kota tempat dimana Cloey berkerja. Lisa mendapat kartu masuk khusus dari perpustakaan karna telah menjadi pengunjung selama sebulan berturut-turut. Kartu masuk khusus ini dapat membuka ruang rahasia yang diperuntukan untuk pengunjung setia.


"Bagaimana kau bisa menebak kalau golongan darahmu sama dengan Rin?" tanya Cloey ingin tahu.


"Karna dia kakak kandungku," kata Lisa yang membuat semua orang lagi-lagi terkejut.


"Ka, kakakmu? Bicara yang jelas Lisa," ujar Zedna kebingungan. Seingatnya mereka tidak perna memberitahu Lisa kalau sebenarnya ia memiliki seorang kakak.


"Aku sudah tahu semuanya ibu. Aku memiliki seorang kakak perempuan. Kenapa kalian merahasiakan itu dariku?"


Mendengar kalimat itu dari putri mereka membuat Zedna dan Carlos saling pandang. Lalu Carlos berkata...


"Bagaimana kau yakin putri keluarga Morgen adalah kakak kandungmu?"


Lisa mengeluarkan dan memperlihatkan selembar foto yang ia pungut di atas salju tempat Rin pingsan sebelumnya. "Jelas ini foto ayah dan ibu, kan? Dan bayi yang kalian gendong itu bukan aku."


"Darimana kau mendapatkan foto ini?" tanya Zedna. Ia mengambil foto itu lalu mengusapnya. Hanya itu yang tersisa dari kenangan masalalu kelam keluarga kecil mereka.


"Aku menemukannya tergeletak disamping tubuh Rin ketika ia pingsan," jawab Lisa.


"Masih belum bisa dipastikan hanya pada selembar foto," kata Derek sedikit ragu.


"Iya. Aku juga tidak tahu Rin mendapat foto itu darimana," ujar Cloey ikut meragukan.


"Ia sempat bercerita bagaimana ia bisa diadopsi," kata Lisa pelan. Apa yang dikatakan keluarga Morgen benar. Ia tidak bisa memastikan kalau Rin adalah kakak kandungnya. Walau ia sekarang tahu sebenarnya ia memiliki seorang kakak.


"Maaf menggangu. Mungkin ini bisa menjelaskan semuanya."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε