
"Benarkah?" aku menarik cambuknya dengan kuat sampai ia terpental.
"Aaah...!" Sindy menghantam tanah dengan sangat keras, tapi ia masih mencoba bangkit.
"Dengan api kecilmu itu mau membakarku? Menggelitikku saja tidak bisa," aku melempar cambuk itu ke tanah lalu menginjaknya.
"Ukhuk. Siapa kau sebenarnya?"
"Tidak penting siapa aku. Bagaimana kalau kita akhiri ini?"
"Aku tidak akan menyerah! ξόρκι φωτιάς (xórki fotiás)" muncul bola api sebesar bola basket ditelapak tangannya. Ia meleparkan bola api itu sekuat tenaga. "Rasakan ini."
"Apa hanya itu?" aku menendang bola api tersebut seperti bola sepak biasa.
Bala api tersebut melanyang kembali ketuannya. Sindy tidak bisa menghidar. Cara satu-satunya agar ia selamat hanyalah membentuk dinding perisai. Bolah api tersebut menghantam dinding perisai miliknya, namun itu tidak cukup kuat untuk melindungi Sindy sepenuhnya. Ia masih bisa merasakan serangannya sendiri.
"Aaaaaah.......!!!"
"Apa masih mau berlanjut atau kita akhiri saja?" Sindy tidak menjawab. Nafasnya kini terengah-engah. "Tidak menjawab? Dengar ya Sindy, kau masih berhutang kata maaf pada Rosse. Bagaimana kalau kau membayarnya dengan nyawamu?" senyumku sambil memperlihatkan taringku.
Kini aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi. Melihat Sindy rasanya ingin kucabik-cabik ia menjadi potongan kecil-kecil. Aku melangkah perlahan ke arahnya dengan sorot mata membunuh. Ia hanya berdiri terdiam menatap ngerih padaku. Tanpa aba-aba, lagi-lagi aku melesat cepat ke arahnya seperti seekor hewan buas menyerang mangsa.
Boom!
Muncul seorang laki-laki berhasil menahan tanganku yang kuku cakarku kini sesenti lagi dari leher Sindy. Seketika aku sadar. Aku segerah menarik tanganku dari cengkramannya. Aku memalingkan muka berharap ia tidak menyadari siapa aku sebenarnya. Kau beruntung hari ini Sindy. Kalau bukan karna laki-laki ini aku bisa pastikan kau hanyalah tinggal seonggok daging tidak berguna.
"Kakak?!" ujar Sindy ketika melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Dasar adik bodoh!! Apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau bertarung dengan Miss. Morgen? Apa kau mau keluarga kita lenyap?!" bentak laki-laki itu memarahi adiknya. "Eh... Maafkan atas kelakuan adik saya yang bodoh ini. Harap Miss. Morgen melepaskannya. Saya pastikan ia mendapat hukuman yang keras dari ayah saya."
Aku berbalik tidak menghiraukan ocehannya. "Kau pikir kata maaf saja cukup?"
"Oh, kalau begitu... Kami akan mengganti semua kerusakan yang telah adik saya perbuat."
"Apa kami terlihat seperti kekurangan uang?"
"Eh... Lalu apa yang bisa kami lakukan untuk menebus kesalahan ini?"
"Tidak ada," kataku membuat kakak Sindy bingung.
"Maksud anda?"
"Pergi saja dari sini. Jangan pernah muncul lagi dihadapanku. Kalau tidak... Aku tidak akan segan-segan menggunakan kekuatan keluargaku untuk menghancurkan kalian," lirikku tajam pada mereka. Aku dapat dengan jelas melihat tubuh Sindy yang gemetar.
"Terima kasih. Saya akan segera membawa adik saya pergi."
Aku mendekati Rosse lalu mengangkatnya. Rosse yang malang. Kulihat ada luka memar di punggung tangan kanannya. Aku menatapnya sedih. Seandainya aku datang lebih cepat atau aku tadi menemaninya ke kamar mandi, semua ini tidak ia alami.
"Apa temanmu terluka. Saya mempelajari sihir peyembuhan. Saya bisa mengobatinya," kata kakak Sindy itu menawarkan bantuan.
"Tidak perlu. Urus saja adik bodohmu itu."
Aku melangkah pergi meninggalkan kakak beradik itu. Tapi sebelum itu aku sempat mendengar.
"Gadis yang dingin. Semua ini salahmu Sindy. Kalau seperti ini bagaimana caranya aku mendekati putri keluarga Morgen. Aku bahkan sudah mengunakan aura pemikat untuk menarik perhatiannya, tapi semuanya hancur olehmu. Lihat saja, aku akan memberitahu ayah soal kejadian hari ini."
Dibelakan rumah, aku tidah segerah masuk. Akan jadi penuh pertanyaan jika seseorang melihatku membopong Rosse seperti ini. Aku melirik ke balkon kamar Rosse. Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat kesana. Dua kali pijakan kami mendarat dengan selamat di atas balkon kamar. Rosse sedikit berteriak dan merangkul erat leherku ketika aku melompat menuju balkon.
"Turunkan aku Rin," Rosse meronta minta diturunkan. Sepertinya tenaganya sudah mulai pulih.
"Baiklah," aku mengikuti keinginannya. Aku menurunkan Rosse secara hati-hati. Aku mencoba memutar knop pintu yang ternyata terkunci. "Kau selalu mengunci pintu balkonmu ya?"
"Tentu saja. Aku tidak perna melupakan itu. Lalu bagaimana caranya kita masuk?"
Aku melirik ke balkon kamarku. "Kita beruntung. Aku selalu lupa mengunci pintu balkon."
Aku menarik tangan Rosse lalu mengajaknya melompat ke balkon kamarku. Rosse berteriak karna terkejut atas apa yang aku lakukan. Tubuhnya terasa gemetar ketakutan.
"Maaf, maaf."
Aku memutar knop pintu kemudian melangkah masuk bersama Rosse. Rosse menyandarkan tubuhnya yang masih lemah di sofa. Aku mengambil kotak obat di lemari, membawahnya ke hadapan Rosse. Aku ingin mengobati luka di punggung tangannya. Sayangnya itu luka memar. Seandainya itu luka goresan atau sayatan, itu masih bisa disembukan dengan darahku. Aku mengoleskan salab di lukanya lalu membalutnya dengan perban.
"Kenapa kau sampai seperti ini membelaku? Padahal aku bukan siapa-siapa."
Pertanyaan aneh itu tiba-tiba meluncur dari bibi Rosse. Mendengar hal itu aku mengikat kuat perban yang membalut tangannya sampai Rosse merinti kesakitan.
"Au! Rin, sakit."
"Kenapa kau bisa berpikiran seperti ini? Apa karna ucapan Sindy?" Rosse tidak menjawab. Ia segera memalingkan muka. "Kau temanku Rosse. Apa perlu aku bertanya lagi ketika aku melihat temanku sendiri di siksa oleh gadis bodoh?"
"Bukankah lenganmu terluka?" katanya tanpa melirikku.
"Tidak perlu khawatir. Cuman luka kecil, sudah sembuh kok," aku mengambil tisu untuk membersikan bekas darah yang mengalir.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan dipintu kamar. Berbarengan dengan itu juga ada suara memanggil kami. Dari suaranya itu seperti Sofia. Aku mempersilakan ia masuk. Sofia membuka pintu lalu kemudian melangkah masuk menghampiri kami.
"Dari mana saja kalian? Apa kalian tahu, aku sudah berkeliling rumah ini sebanyak tiga kali hanya untuk mencari kalian. Semua orang menunggu kalian dibawah. Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa kalian kacau begini? Rin dimana sepatumu?" oceh Sofia dengan penuh pertanyaan.
"Sutt... Diam dulu Sofia, biar aku jelaskannya satu persatu," aku menjelaskan semuanya tentang apa yang kami alami.
"Apa?!! Berani sekali penyihir amatiran itu menyerang teman-temanku!!" Sofia sangat marah setelah mendengar ceritaku. Aku sampai harus menahannya agar ia tidak mencari ribut dengan Sindy. "Lepaskan aku Rin! Biar aku mencari perhitungan dengan bocah sialan itu!! Aku akan menghajarnya menjadi bubur!"
"Hehe... Emosi Sofia jauh lebih para darimu, Rin."
"Tenanglah Sofia. Apa kau berpikir kami dapat ditindas olehnya," aku masih berusaha menahan Sofia yang mulai mengamuk.
"Kalau kau memang tidak mungkin, tapi Rosse..." Sofia mengeluarkan sesuatu dan langsung mengenakan itu pada pergelangan tangan Rosse. "Seharusnya aku memberikan ini lebih awal."
"Oh... Apa ini?" Rosse memperhatikan gelang lonceng yang kini melingkar di pergelangan tangannya.
"Gelang yang cantik," kata saat melihat gelang itu.
"Itu bukan gelang biasa. Loncengnya akan berbunyi saat kau dalam bahaya, dan juga aku bisa tahu lokasimu dari gelang itu," jelas Sofia.
"Hebat. Hei Sofia, apa kau ada satu untukku?" tanyaku pada Sofia berharap.
"Untuk apa aku juga memberimu gelang itu? Kau tidak membutuhkannya. Tidak akan ada yang berani mencari masalah denganmu."
"Aah... Dasar kau pelit Sofia," kataku sambil cemberut.
"Sudah cukup. Lebih baik rapihkan penampilan kalian. Kita turun ke bawah. Semua orang sedang menunggu kita," ujar Sofia lalu ia memandang Rosse yang melalum memperhatikan gelang tersebut. "Ada apa Rosse? Apa kau tidak menyukai modelnya?"
"Aku sangat suka. Terima kasih Sofia," jawab Rosse dengan senyum manis.
Aku mencuci kaki ku, lalu mencari sepatu lain yang cocok dan kemudian merapikan rambutku yang acak-acakan. Aku biarkan rambut terurai saja tanpa hiasan rambut sama sekali. Sedangkan Rosse, aku pinjamkan gaun lain untuknya. Gaun yang ia kenakan kotor karna berbaring direrumputan tadi. Selesai memperbaiki penampilan, aku, Sofia dan Rosse turun kembali ke acara perjamuan. Sudah lebih setengah acara yang aku lewatkan. Ibu dan yang lain sempat bertanya kemana kami pergi tadi. Aku mencari alasan untuk menjawab pertanyaan itu. Kukatakan pada mereka kalau sebenarnya Rosse tiba-tiba sakit perut. Rosse mencubit pinggangku saat aku berkata demikian. Maaf Rosse, hanya itu yang terlintas dipikiranku.
Acara perjamuan malam ini terbilang berjalan cukup baik. Tidak ada lagi masalah yang terjadi setelah aku, Rosse dan Sofia kembali. Aku sempat melirik meja keluarga Welton, tempat itu kosong. Sepertinya keluarga Welton sudah pulang sebelum acara selesai. Apa kakak Sindy telah memberitahu orang tuanya atas perbuatan Sindy ditaman belakang? Aku rasa mungkin saja. Mr. Welton dan Mrs. Welton pasti sangat malu dan kesal memiliki putri seperti Sindy, karna usaha mereka untuk mendekati keluargaku dihancurkan oleh putri mereka sendiri. Sindy yang malang. Apa ia akan dihukum oleh ayahnya? Rasakan itu. Salah sendiri telah mengganggu orang-orang dikediaman.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε