
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.
*****
Semua barang sudah di masukkan ke dalam truk.
"Selamat tinggal apartemen kesayanganku. Semoga kita bertemu lagi," pamit Bagas. Mendengar ucapan Bagas hatiku menjadi sedih.
"Kamu yang sabar ya," ucapku. Aku mengelus punggung Bagas.
"Ayo, kita pulang ke rumah kita yang baru. Nanti terlampau malam, kasihan teman - teman kita," ajak Bagas. Aku dan Bagas pun melangkah ke luar apartemen dan mendatangi teman - temanku.
*****
Rumah Kontrakan.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Kami sudah selesai merapikan semua barang. Bagas memesankan makanan untuk kami semua.
"Saatnya kita makan!!" ucap Bagas sambil membawa 3 kotak pizza yang dia pesan.
Kami semua menyerbu makanan tersebut. Kami begitu lahap makan karena sudah lapar dan lelah merapikan segala barang.
"Guys, terima kasih ya sudah bantu aku dan Bagas," ucap aku pada mereka.
"Benar kata, Evo. Terima kasih telah dengan suka rela datang ke sini membantu kami," ujar Bagas juga.
"Sama - sama, Vo. Kitakan sudah seperti saudara," ujar Dina.
"Benar sekali kata DIna. Jadi kamu dan Bagas jangan sungkan," kata Maurren.
Hari ini aku sungguh bahagia melihat mereka berkumpul di rumahku. Mereka selalu membantu dan menolong aku ketika aku sedang susah.
"Ayo, kita foto dulu," ajak aku kemudian mengambil kamera punya Bagas.
"Satu, dua, dan senyum!"
Kamipun tersenyum lalu kamera memotret kami. Hari ini aku bahagia sekali.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan besok?" tanya Indra.
"Iya benar kata Indra, apa yang mau kamu kerjakan besok?" ucap Maureen.
"Aku bantu Evo dulu merapikan beberapa barang yang belum kelar hari ini. Lalu rencananya aku akan cari kerja," jelas Bagas.
"Bagaimana kalau kamu bantu aku di kantor? Kebetulan minggu lalu manager keuanganku mengundurkan diri. Dia pindah ke Amerika. Aku bingung mencari penggantinya," Indra memberikan tawaran.
"Wah, sayang boleh juga tawaran, Indra. Kamu terima ya," bujuk aku.
"Iya, Gas. Lumayan buat isi waktu luang kamu, sambil kamu mencoba buka usaha," Mbak Meli beri pendapat.
"Nanti akan kupikirkan tawaranmu, Ndra. Beri aku waktu ya," pinta Bagas.
"Tidak masalah. Kalau kamu berminat langsung datang aja ke kantorku." kata Indra lagi.
"Jadi apa aku tidak perlu membuat surat lamaran kerja padamu?" tanya Bagas bercanda. Semua yang ada di ruangan tersebut tertawa mendengar candaan Bagas.
"Hahaha, kamu bisa saja. Tidak perlu, Bagas," Indra menanggapi.
"Hore, Bagas sudah punya pekerjaan!" senang Dina.
"Iya, memang Tuhan itu baik banget ya sama Bagas," ungkap Maureen.
"Kalau Bagas sudah punya pekerjaan dari Indra. Berarti aku boleh ya minta Evo bantu aku jadi editor di kantorku," ucap Rafael.
"Sayang, apa kamu serius?" tanya Dina tidak percaya.
"Aku sangat serius. Beberapa hari yang lalu salah satu editor di tempatku mengundurkan diri. Aku bingung mencari editor yang baik dan bagus. Kebetulan bertemu dengan Evo ya aku mau Evo membantuku," pinta Rafael.
"Wah, Maureen. Maafkan saya ya, tapi aku sudah duluan yang minta," ledek Rafael. Seluruh ruangan tertaea.
"Kalau aku kerja di tempatmu, bagaimana novelku nanti?" tanya aku bingung.
"Tidak masalah, masih bisa terbit," ucap Rafael.
"Aku akan coba pikirkan. Aku masih terus menulis novel. Aku jadi tertarik meneruskan karierku ini," jujurku.
"Evo, curang! Permintaan Rafael dibilang akan dipikirkan, kalau aku langsung kamu tolak mentah - mentah," sewot Maureen.
"Habis pemimpinnya bukan Bagas lagi. Aku tidak mau," candaku.
"Curang! Sebelum Bagas pensiun dinikan, aku juga minta tolong padamu. Ini tidak adil," ujar Maureen.
"Oh, ya? Apa kamu bilang? Aku tidak merasa sama sekali," ledek aku pada Maureen.
"Ya, ampun! Evo kamu jahat!" kesal Maureen padaku.
"Sabar ya, Maureen. Kamu benar-benar kurang beruntung," ledek Dina.
Kami semua tertawa lagi. Banyak obrolan yang tidak henti-hentinya kami bicarakan. Kami merasa ada suka cita dalam diri kami. Kami sudah merasa seperti keluarga sendiri. Tidak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam. Teman - temanku mulai pamit.
"Terima kasih untuk Pizzanya Evo. Kami pulang ya, Vo, dan Bagas," pamit Maureeen.
"Sama siapa kamu pulang, Mar? Mobilmu kan ada di kantor?" ujar aku.
"Gampang, nanti aku pesan taksi saja," ucap Maureen.
"Jangan. Aku akan mengantar kamu," tawar Indra.
"Eh, kamu serius? Jangan. Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan kamu," tolak Maureen.
"Sudah malam, Ren. Indra sudah menawarkan diri,jangan ditolak!" ucapku lagi.
"Iya, Maureen. Kamu sama Indra aja ya. Aku sama Rafael mau mengantar Mbak Meli, terus langsung pulang. Soalnya rumahku sama Mbak Meli kan searah beda sama kamu," jebak Dina.
"Aku tidak merasa keberatanku, Ran. Kitakan sekarang sahabat. Ayo kita pulang," ajak Indra lagi. Akhirnya Maureen mengangguk dan setuju.
"Aku pulang ya, Vo," pamit Dina juga.
"Selamat menempuh hidup di rumah baru, Gas," canda Mbak Meli.
"Tentu saja, Mel. Aku dengan senang hati akan tinggal di sini," jujur Bagas. Setelah berkata seperti itu Bagas menghantarkan yang lain ke depan.
"Mbak Meli," panggil aku mencegah kepergian Mbak Meli.
"Kenapa?" tanya Mbak Meli menghentikan langkahnya.
"Terima kasih telah membantu Bagas tadi di kantor," kataku kepada Mbak Meli.
"Hari ini aku gagal membantu. Bagas tidak mau dibantu olehku. Lagi pula ada seseorang yang mengutus aku ke sini," ujar Mbak Meli sambil tersenyum.
"Mengutus? Apa maksud, Mbak?" tanya aku pada Mbak Meli.
Mbak Meli memberikan kembali senyumannya padaku, dia melangkah keluar dari rumahku.
"Mbak, kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa maksud kamu, Mbak?" desak aku pada Mbak Meli.
"Rahasia akan membuat wanita menjadi wanita," ucap Mbak Meli.
Mendengar ucapan Mbak Meli membuat aku menjadi bingung. Apa maksud perkataan Mbak Meli? Siapa yang mengutus dia?
*****
Sebelum kalian membaca kelanjutan ceritanya, saya mohon bantuannya menekan jempol di bawah. Berikan dukungan kalian dengan like dan vote. dukungan kalian sangat berharga buat saya . Terima kasih telah menyayangi dan mencintai MOY.