
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Keesokan harinya, di kantor Pratama.
Hari ini Bastian tidak ada di tempat, karena dia harus rapat dengan klien di luar. Tadinya Bastian juga mengajak Evo untuk ikut dengan dia, tapi Evo menolak karena hari ini Evo dan Maureen janjian untuk menjenguk Dina.
Evo bolak – balik membaca dokumen yang harus segera diserahkan kepada klien yang lain. Sebelum pergi Bastian meminta dirinya untuk membantu Bastian memeriksa dokumen tersebut dan menyerahkannya kepada salah satu klien.
Ternyata memeriksa sebuah dokumen itu memerlukan waktu yang cukup berat. Bastian dan Bagas memang hebat, Evo salut pada kedua pria itu. Seandainya Bastian benar memberikan semua saham pada Evo, dipastikan Evo akan menolaknya.
Evo menggaruk kepala, dia menghela napas panjang. Kepalanya mulai sakit membaca semua dokumen yang diberikan Bastian.
Evo menutup dokumen tersebut. Ada beberapa hal yang dia tidak mengerti. Evo yang biasanya hanya mengedit dan menulis novel, diberikan dokumen dengan bahasa pengusaha membuat dia mati kutu.
Perempuan itu mengambil handphone, mencoba menghubungi Bastian untuk menanyakan beberapa hal yang dia tidak ketahui. Sayangnya Bastian tidak menerima telepon tersebut.
“Pastian Bastian sedang sibuk. Mana dokumen ini penting sekali. Argh, apa yang harus aku lakukan?” kesal Evo.
Drt, drt, drt.
Handphone Evo berbunyi. Dia segera menerima telepon tersebut.
“Halo, Bas, akhirnya kamu menelepon balik! Ada beberapa dokumen yang aku tidak mengerti, Bas!” curhat Evo.
“Ternyata Bastian tidak ada ya, Vo. Bolehkah aku bermain ke ruanganmu?”
“Bagas? Kenapa kamu bisa tahu nomor teleponku?” tanya Evo. Seingat Evo dia tidak pernah memberikan nomornya pada Bagas.
“Mudah mencari nomormu.”
“Ah, aku lupa. Harusnya aku tidak bertanya seperti itu padamu,” kata Evo.
“Apa kamu sedang kesulitan? Tadi aku dengar kamu sedang bingung dengan dokumen. Dokumen apa? Mungkin aku bisa membantumu,” ucap Bagas.
“Tidak, tidak perlu. Aku akan menunggu Bastian saja,” tolak Evo. Perempuan itu malas berdebat dengan calon istri Bagas kalau dia tahu Bagas membantunya.
“Tenang saja, hari ini Dea tidak akan datang ke sini. Aku jamin,” kata Bagas seperti bisa membaca pikiranku.
Ya, Tuhan, maafkan hambaMu yang harus meminta tolong Bagas untuk membantuku. Semoga tidak akan ada masalah.
“Aku setuju, tapi kamu jangan beranggapan kalau aku….”
“Tenang saja, Vo. Aku tahu maksudmu,” ucap Bagas riang. Bagas sangat senang karena bisa berlama – lama dengan Evo. Pria itu menuju ke ruangan Bastian dengan suka cita.
*****
Rumah Sakit.
Rafael sedang membujuk Dina untuk makan. Dina sedang tidak nafsu makan. Dina rindu sekali dengan kedua anak kembarnya.
“Nanti kalau sudah sembuh kamu bisa mengendong mereka. Aku tahu kamu rindu dengan mereka, tapi rumah sakit tidak mengizinkan anak dibawah umur untuk ke sini sayang,” ujar Rafael sambil mengelus rambut istrinya.
Mata Dina tampak berkaca – kaca. Setiap Dina bertanya pada Rafael tentang sakitnya, Rafael mengalihkan pembicaraan. Dina yakin sakitnya tidak biasa.
“Fa, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?”
Pertanyaan apa yang belum aku jawab?” tanya Rafael kemudian menyuapi Dina, tapi dia menolak.
“Makan sedikit lagi ya,” pinta Rafael dengan memohon.
“Kamu jawab dulu pertanyaanku, aku pasti akan makan!” paksa Dina, “Sebenarnya aku sakit apa, Fa?”
Rafael kenal sekali dengan sifat istrinya itu. Dia akan terus mencari tahu dan mendesak Rafael untuk menjawab pertanyaannya.
“Begini saja, kamu habiskan makananya. Aku janji akan memberitahu kamu tentang sakit yang kamu derita. Bagaimana?” tawar Rafael. Paling tidak dia bisa mengulur waktu untuk mengisi keberanian menyatakan kebenaran.
“Jangan berdusta padaku.”
Setelah itu dengan lahap Dina makan. Dia tidak sabar untuk mengetahui sakitnya agar dia bisa mengikuti saran dokter untuk mengobati sakitnya. Dina ingin secepatnya bertemu dengan Mike dan Nay. Baru semalam saja Dina berpisah dengan keduanya, Dina sangat merindukannya.
“Habis. Jadi jawablah pertanyaanku,” tagih Dina pada Rafael.
Rafael merapikan peralatan makan Dina. Dia mencoba untuk menarik napas lalu berdoa supaya Dina menerima ini dengan lapang dada.
“Kata dokter kamu menderita sakit kanker, Din,” ungkap Rafael setelah didesak terus oleh Dina.
Mulut Dina terbuka, matanya berkaca – kaca. Perkataan Rafael seperti petir baginya.
“Apa yang kamu bilang, Fa? Aku tidak salah dengarkan?” tanya Dina kemudian air matanya mengalir ke pipinya.
Melihat Dina menangis, Rafael memeluk Dina dengan erat. Dia tidak kuat melihat wanita yang dicintainya menangis seperti itu.
“Kita berjuang ya sayang. Kita berjuang dan berdoa untuk menghadapi sakitmu ini. Kita harus menang!” ucap Rafael memberi semangat pada Dina.
Tangis Dina pecah seketika itu juga. Hatinya hancur mendengar kenyataan yang harus diterimanya. Baru saja dia melahirkan anak, tapi dia harus mendapatkan penyakit seperti ini. Dina memikirkan darah dagingnya, siapa yang akan mengurus mereka kalau dia meninggal? Bagi Dina penyakit ini sulit disembuhkan.
*****
Kantor Pratama, ruangan Bastian.
“Selesai. Apa ada lagi yang ingin kamu tanyakan?” ucap Bagas setelah selesai memberikan arahan kepada Evo.
“Terima kasih, Gas. Aku bingung sekali tadi.”
“Aku minta hadiah,” ujar Bagas.
“Hadiah? Hadiah apa?” tanya Evo bingung.
“Siang ini kamu harus traktir aku makan,” pinta Bagas.
“Huft, kenapa kamu tidak begitu ikhlas membantuku?” rungut Evo pada Bagas. Bagas hanya tertawa mendengar keluhanku.
“Maaf, hari ini aku tidak bisa makan siang denganmu. Aku sudah ada janji dengan Maureen untuk menjenguk Dina hari ini,” kataku.
Bagas menyelidiki mata Evo, dia melihat Evo tidak berbohong.
“Apa yang terjadi dengan Dina?” tanya Bagas.
“Kemarin Dina pingsan, aku dihubungi oleh Rafael kemarin.”
“Pingsan? Sakit apa dia?”
Evo merapikan sedikit demi sedikit dokumen yang ada di atas meja Bastian. Sebentar lagi waktu janjian Evo dengan Maureen.
“Aku tidak tahu. Itu sebabnya aku dan Maureen akan ke sana,” dusta Evo. Padahal tadi malam Rafael sudah memberitahu pada dirinya.
Evo berdiri lalu mengambil tasnya. Begitu melihat Evo berdiri, Bagaspun bangkit berdiri. Mereka berjalan menuju ke pintu, tanpa sengaja Evo tersandung kakinya sendiri. Bagas yang melihat Evo, menangkap tubuh Evo.
“Apa kamu baik – baik saja?” tanya Bagas.
Mata Evo yang tadinya terpejam karena ketakutan, lalu membukanya. Untung saja Bagas menangkap tubuhnya agar terjatuh. Beberapa saat mereka saling memandang. Bagas mencoba untuk mencium bibir Evo.
Ceklek
“Evo!! Ayo kita berangkat. Bastian juga sudah datang!” ajak Maureen membuka pintu. Seperti biasa Maureen masuk tanpa ketok pintu.
“Evo, Bagas? Apa yang kalian lakukan?”
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤