
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Dua hari kemudian.
Hari ini Bastian memutuskan untuk melamar Evo. Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk hari. Dia sudah memesan restoran beberapa hari yang lalu. Bastian ingin memberikan kesan yang tidak terlupakan untuk kekasih kesayangannya itu.
“Vo,” panggil Bastian.
Evo menghentikan ketikan novelnya di laptop, dia menengok ke atas. “Kenapa, Sayang?”
Bastian duduk di sebelah Evo, dia mengelus rambut Evo. Dia merasakan wangi rambut Evo yang begitu khas. Wangi lemon yang menyegarkan.
“Aku bosan makan malam di rumah. Maukah kamu menemaniku makan malam di luar?” ajak Bastian.
“Tentu saja. Kita sudah lama tidak makan di luar. Mau ke mana kita?”
“Nanti juga kamu akan tahu,” kata Bastian sambil tersenyum.
Evo menyipitkan matanya, dia menyelidiki Bastian. “Apa yang kamu rencanakan?”
Bastian mendelik, dia mencoba menjawab dengan sikap yang wajar,”Apa mengajak kekasih untuk makan malam seperti rencana berbahaya?”
Evo tertawa renyah, jawaban Bastian menggelikan dirinya.
“Kenapa tertawa?” tanya Bastian.
“Tidak, aku merasa kamu sangat humoris. Itu mengapa aku sangat mencintai kamu,” ungkap Evo. Dia meraih wajah Bastian, lalu mengecup pipi Bastian.
“Jangan menggodaku, aku tak akan tahan,” kata Bastian memperingatkan.
Evo menghentikan kelakuannya. Dia harus menahan diri, jangan sampai Bastian menganggapnya sebagai wanita murahan.
Bastian memperhatikan wajah Evo yang berubah. Dia merasakan kalau ucapan dirinya telah menyakiti Evo.
“Jangan berpikir jelek tentang aku. Aku tidak ingin menodai cinta kita, aku….”
Evo menaruh tangannya di bibir Bastian, “Sst, aku mengerti. Aku mencintaimu, Bas.”
“Aku juga sangat mencintai kamu. Aku akan melindungimu selalu,” janji Bastian, lalu memeluk Evo.
*****
Rumah Keluarga Pratama.
Keluarga Pratama akan melangsungkan pernikahan anak pertamanya dengan anak perempuan keluarga Hermawan. Segala persiapan sudah dilaksanakan sejak beberapa bulan yang lalu.
Bagas mencari adik perempuannya. Sejak tadi dia tidak melihat Charlotte di hotel.
“Di mana Charlotte, Mam?” tanya Bagas.
“Kemarin dia bilang sama Mama kalau Charlotte tidak ikut menginap di hotel, dia akan datang saat pemberkatan nanti,”jelas Bu Lina.
Bagas mengangguk mengerti, padahal saat ini dia sangat membutuhkan Charlotte. Bagas mencoba menelepon Charlotte.
“Nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan atau berada di luar jangkauan.”
Ponsel Charlotte tidak aktif. Tiba – tiba perasaan Bagas menjadi khawatir, tidak biasanya adik perempuannya itu tidak dapat dihubungi.
“Ma, apa Mama tidak ada nomor telepon Evan?” tanya Bagas.
“Sudahlah, Sayang. Jangan khawatirkan adikmu, dia pasti akan datang ke sini. Ayo persiapkan dirimu,” pinta Bu Lina.
“Baik, Ma.”
Bu Lina keluar dari kamar Bagas, kemudian menuju ke kamar dirinya. Dia mencari suaminya. Bu Lina merasa cemas karena Bagas mencari Charlotte sejak tadi.
“Pa, gawat!”
“Ada apa? Mengapa kamu begitu cemas?” tanya Pak Freddy melihat istirnya ketakutan.
(Apa yang terjadi dengan Charlotte? Mari kita flash back kejadian kemarin malam).
Charlotte kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih. Hati kecilnya menyatakan kalau dia harus mengatakan hal yang sebenarnya pada Bagas. Pernikahan ini tidak benar, mereka berdua tidak saling mencintai. Suatu hari nanti pernikahan ini akan berujung bencana buat keduanya.
Charlotte mencari Bagas ke kamarnya, tapi Bagas tidak ada di dalam kamar. Dia mencoba menghubungi ponsel Bagas, tapi sayang operator yang menjawab.
“Ke mana kamu, Mas? Disaat aku memerlukan kamu, malah kamu susah ditemui,” kata Charlotte. Dia memutar otaknya, mencoba mencari tahu keberadaan kakak lelakinya itu.
“Sayang, kenapa kamu baru datang?” ucap Bu Lina melihat anak gadisnya yang baru pulang dari luar.
“Di mana Mas Bagas, Ma?” tanya Charlotte.
“Mas kamukan sudah ke hotel duluan. Apa kamu lupa kalau Mas Bagas besok akan menikah dengan Dea?”
Charlotte menggeleng kepala, karena Charlotte mengingatnya dengan jelas, maka Charlotte ingin mencegahnya.
“Ini kamu minum dulu. Di luar sangat dingin, biar badan kamu hangat,” ujar Bu Lina. Dia memberikan secangkir teh manis hangat untuk anak perempuannya itu.
Charlotte duduk di ruang makan dengan membawa teh manis pemberian Mamanya. Setelah meminum teh manis tersebut, Charlotte berencana untuk menyusul Bagas ke hotel. Dia akan menghubungi Evan untuk mengantarkan dirinya.
Charlotte meminum teh manisnya. Dia merasakan sakit di kepalanya. Pandangan matanya kabur, dan Charlotte pingsan.
“Maafkan, Mama, Charlotte. Ini Mama lakukan demi keluarga kita,” ucap Bu Lina. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh anak perempuannya itu, maka dia mencegahnya.
“Pelayan! Pelayan!” panggil Bu Lina.
Mendengar panggilan dari majikannya, pelayan keluarga Pratama datang menuju ke tempat majikannya.
“Ya, Nyonya?”
“Bawa, Nona Charlotte ke kamarnya. Kalau Nona Charlotte bangun besok pagi, jangan buka pintunya sampai saya kembali besok,” perintah Bu Lina.
Pelayan itu mengangguk mengerti dengan segera mereka membawa Charlotte ke kamarnya. Bu Lina sudah bernapas lega sudah bisa merencanakan aksinya.
*****
Kembali ke cerita.
Charlotte membuka mata, lalu memegang kepalanya. Rasa sakit di kepala membuatnya tak mampu berdiri. Dia mencoba mengingat kejadian tadi malam. Ternyata Mamanya telah memberikan obat tidur untuknya.
“Mama sangat jahat. Benar – benar jahat!” ucap Charlotte kecewa.
Charlotte melihat jam wekernya, sudah jam 1 siang. Acara pemberkatan pernikahan Bagas dan Dea akan diadakan pukul 3 sore nanti. Sekuat tenaga Charlotte berdiri, dia menuju ke pintu kamarnya. Dia berusaha membuka pintu tersebut tetapi dia tidak dapat membukanya.
Charlotte mengetuk dengan keras pintu tersebut seraya memanggil pelayan rumahnya,”Pelayan! Pelayan! Tolong buka pintunya! Saya ke kunci di sini!”
Pelayan yang mendengar suara Nona Mudanya yang berteriak – teriak minta tolong menghampiri ke pintu kamarnya. Mereka tidak berani membuka pintu karena Bu Lina sudah memerintahkan mereka untuk tidak membukanya.
“Maaf, Nona. Maafkan kami, kami tidak berani membuka pintu karena perintah Nyonya untuk tidak membuka pintu kamar Nona,” ucap pelayan dengan ketakutan.
“Apa? Apa aku tidak salah mendengar? Mama berkata seperti itu?” tanya Charlotte tidak percaya. Dia menggigit bibirnya. Sedikit demi sedikit tenaganya bertambah. Charlotte mencari ponselnya, dia ingin menghubungi Evan kekasihnya untuk membantu dia keluar dari kamar itu.
Charlotte tidak dapat menemukan ponselnya di manapun. Charlotte curiga kalau ponselnya sudah diambil Mamanya. “Mama benar – benar sudah kehilangan akal sehatnya.”
Charlotte menuju ke gagang telepon kamarnya, dia mengangkat telepon tersebut. Lagi – lagi Charlotte harus kecewa karena telepon di kamarnya sudah diputus oleh Bu Lina.
“Bagaimana caranya aku membantumu, Mas?” ucap Charlotte putus asa.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Sesuai janji, hari ini sudah kreji up ya. Jangan lupa votenya biar semangaat aku, hahahahaa
❤❤❤