
Cinta tidak harus memiliki.
Cinta tidak harus mendapatkan.
Cinta butuh pengorbanan dan perjuangan.
Keesokan hari.
Rafael mengantarkan aku ke rumah. Hari sudah sore ketika kami tiba di rumah kontrakan.
"Minggu depan, luangkan waktumu. Kita akan adakan meet and greet para penulis baru di mall xxx." ujar Rafael di depan rumah. Aku mengangguk tanda setuju.
"Aku akan menjemputmu di rumah pukul 11. Acara pukul 14.00."
"Siap, bos."
Rafael tersenyum mendengar perkataanku. Diapun berkata, "Aku pulang, Vo. Jaga dirimu."
Lalu Rafael mencium dahiku. Mengelus kepalaku. So sweet.
Rafael pun pergi meninggalkanku. Tanpa aku sadari ada orang yang dari tadi memperhatikan kami dari jauh. Mobil mewah berwarna hitam menunggu kepulanganku. Ya. Bagas. Dia begitu marah, kesal melihat kejadian tadi. Api cemburu merasuki jiwanya.
"Dasar wanita tidak tahu diri!!" makinya di dalam mobil sambil mencengkram setir. "Akan ku balas kamu, Evolet Rebecca!"
.
.
.
.
.
.
Hari Senin, di kantor.
"Wuih, yang lagi senang. Ceritalah. Apa yang terjadi hari Jumat?"
" Tidak ada apa-apa, hanya menginap aja kita di villa dia."
"Apa? Keren, kamu sudah semakin dewasa ya, Evo!" Maureen terpesona mendengar ucapan tersebut.
"Terus? Terus? Apa yang kamu lakukan di villa?" tanya Maureen tambah penasaran. Aku hanya tersenyum menjawabnya. Itu membuat Maureen semakin penasaran. Untung saja Mbak Meli datang menghentikan itu semua,
"Vo, kamu dipanggil Pak Bagas," ujar Mbak Meli padaku.
"Ada apa ya mbak?"
Mbak Meli menggeleng. " Aku ngga tahu, tapi kayanya penting. Mukanya kelihatan serius, Vo."
Pasti karena Jumat kemarin aku ngga datang ke tempat dia.
Lalu aku pun menuju ke ruangan Bagas.
Tok, tok, tok.
Aku mengetok pintu,
Sekretaris Bagas yang membukakan pintu, lalu berkata, "Silahkan, Mbak Evo. Sudah ditunggu Bapak."
Setelah berkata itu, sekretaris Bagas menutup pintu.
"Dari mana kamu?" tanya Bagas dingin. " Aku menunggu seharian kamu tidak datang," ucapnya lagi.
BRAKK!
Bagas memukul meja dengan keras hingga tangannya biru. Aku terkejut. Semarah itukah dia?
"Jawab pertanyaaku, Evolet?!!!!" Suara Bagas semakin meninggi. Aku diam saja. Kalau nanti aku jawab, pasti dia akan tambah marah.
Karena aku tidak menjawab, Bagas menghampiriku. Dia mendekatiku, kemudian berkata, "JAWAB PERTANYAANKU!"
"Bukan urusanmu!" Entah ada keberanian dari mana aku menjawab, tetapi aku tidak berani menatap matanya.
"Bukan urusanku, katamu!!!" Bagas semakin marah. Matanya memerah begitu pula wajahnya. Dia menggertakan gignya. Bagas dengan kasar mengangkat wajahku, agar aku dapat menatap matanya.
"Kamu milikku. Aku sudah membelimu. Jadi apa yang aku minta, harus kamu turuti!"
"Membeliku? Tapi aku sudah membayar itu semua!" jawabku tak percaya mendengar perkataan Bagas.
"Membayar? Pakai tubuhmu itu maksudmu? Itu belum cukup!!!"
Bagas semakin marah, karena aku terus menentangnya. Bagas menjambak rambutku.
"Bagas, sakit." ringisku. Kemudian Bagas mencium bibirku dengan kasar. Dia mendorongku ke sofa yang ada di ruangannya. Bagas mengunci pintu, tetapi tidak mematikan CCTV.
"Hari ini, kamu akan menerima hukuman dari kebohonganmu."
"Bagas, jangaan. Jangan...," Air mataku mulai keluar.
Bagas melakukannya lagi. Dia memaksaku lagi berhubungan dengan dia.
.
.
.
"Jangan sekali lagi kamu membohongiku, Aku tidak suka. Apa kamu mengerti?" tanya Bagas setelah keinginan dia tersampaikan. Aku menangis. Aku membenci Bagas. Kenapa dia begitu kasar? Kenapa dia selalu menyakitiku.
"Hapus air matamu itu! Sekali lagi aku tahu kamu pergi bermalam dengan seorang lelaki, video hari ini akan tersebar luas," ancam Bagas.
Aku merapikan bajuku. Aku menghapus air mataku.
"Kalau kamu ingin jadi wanita seperti itu. Jadilah sedikit mahal. Tidak murahan seperti tadi malam kau bermalam dengan laki-laki itu,"maki Bagas.
Aku diam, tidak ingin memandang Bagas. Aku benar-benar terluka.
Bagas yang masih emosi, tidak puas memperlakukanku seperti tadi. Dia kemudian mengangkat wajahku dengan kasar," Apa kamu mengerti?"
Aku mengangguk dengan lemah.
"Segala baju dan perlengkapanmu malam ini harus pindah ke apartemenku."
"Tapi, Aku.... "
"Tidak ada kata tapi. Kamu harus pindah malam ini, atau kamu mau saya pecat dengan membayar perobatan dan pemakaman ibumu?"
Bagas jahat. Benar-benar jahat.
"Jadi apa jawabanmu, Evolet Rebecca?"
"Baik, Pak."
Aku benar-benar sudah kotor. Aku sudah tidak punya masa depan. Semua sudah direnggut oleh lelaki egois. Bagas Pratama.