
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Kantor Pratama.
Evo tetap bersembunyi hingga kedua orang tersebut masuk ke dalam lift. Setelah mereka masuk, Evo bernapas lega. Dia keluar dari persembunyiannya.
Ternyata keputusan Evo tepat untuk tidak berbicara dengan Bagas. Perlahan namun pasti Evo ingin menyingkir dari Bagas dan keluarganya.
Evo melangkah ke depan lift. Dia menunggu lift terbuka lagi agar dia bisa kembali ke ruangan Bastian.
Lift pun terbuka.
“Terima kasih atas makan siangnya, Bas,” ucap Maureen sebelum keluar dari lift.
“Maureen? Bastian?”
“Wah, Evo!! Dari mana saja kamu?” tanya Maureen.
Bastian yang melihat Evo di luar lift, ke luar dari lift. Pintu lift pun tertutup.
“Kalian habis dari mana?” tanya Evo balik.
“Tadi aku mencarimu ke ruangan Bastian, tapi bosku ini bilang kamu pergi. Jadinya aku makan siang dengannya,” jelas Maureen.
Evo mengangguk mengerti. “Maaf, tadi aku pergi bertemu dengan kawan lama.”
“Pasti kamu lupa sama janji kita hari ini,” ucap Maureen lagi. Lagi – lagi Evo mengangguk. Karena tadi malam bermimpi tentang Karel, Evo harus ke SD Harapan Mulia, dan lupa dengan janjinya pada Maureen.
“Maaf ya, Maureen. Aku benar – benar lupa,” jujur Evo.
“Tidak masalah, sayang. Bisa diganti lain waktu ya.”
“Apa kamu udah makan siang?” tanya Bastian.
“Ya, sudah, tadi sambil menunggu aku makan terlebih dahulu.”
Maureen melihat jam tangannya, kemudian dia menepuk jidatnya.
“Kenapa?” tanya Evo.
“Aku hampir lupa. Hari ini aku ada rapat dengan klien. Aku tinggal kalian dulu ya. Aku takut dipecat sama bos baru,” ujar Maureen sambil mengedipkan mata.
Bastian tersenyum mendengar ucapan Maureen. Wanita itu pun pergi meninggalkan Bastian dan Maureen.
“Ayo balik ke ruangan,” ajak Bastian.
“Ya. Ayo.”
*****
Rumah Sakit.
Sejak tadi Rafael mondar – mandir di koridor rumah sakit. Dia begitu cemas karena Dina sedang diperiksa di ruangan UGD. Sudah hampir dua jam Rafael menunggu kabar dari dokter maupun perawat, tapi dia belum mendapatkannya.
“Sabar, Nak. Sebentar lagi pasti ada kabar untuk kita,” ucap Mama Rafael, Laura, pada anaknya itu.
“Aku cemas, Ma. Dina tidak pernah seperti ini sebelumnya,” ujar Rafael. Istrinya itu hanya memiliki sakit pada umumnya, yaitu maag.
Akhirnya setelah lama menunggu, dokter keluar dari UGD.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Rafael.
“Setelah banyak pemeriksaan selama beberapa jam ini, kami menemukan sel abnormal di dalam tubuh istri Bapak,” jelas Dokter.
“Apa maksudnya, Dok?” Rafael semakin cemas.
“Kemungkinan tumor, Pak.”
“Apa? Apa itu berbahaya, Dok?” ujar Rafael tidak percaya.
“Kami akan melakukan biopsi terhadap Dina untuk memastikan apakah sel tersebut merupakan tumor jinak atau tumor ganas.”
Rafael tidak paham dengan maksud dokter tersebut, kemudian dia bertanya lagi,”Apa bedanya Dok?”
“Tumor ganas merupakan kanker, Pak. Harus segera diadakan pengobatan agar sel tersebut tidak menyebar ke tubuh lainnya dan membuat penderita kehilangan nyawanya,” terang Dokter.
Perkataan Dokter membuat yang mendengar ngeri. Rafael menjadi takut. Ya, dia takut kehilangan istrinya itu.
“Tidak mungkin,” kata Rafael sambil meratapi takdirnya.
“Ya, Tuhan, anakku!” jerit Mama Dina.
“Tolong selamatkan istri saya, Dok,” pinta Rafael.
Dokter mengangguk lalu segera pergi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada Dina.
*****
Sore hari, kantor Pratama.
Evo dan Bastian sedang bersiap untuk pulang ke rumah mereka, tiba – tiba telepon Evo berbunyi. Evo melihat nama penelepon. Rafael yang menelepon dirinya. Evo pun segera meneruma telepon tersebut.
“Halo, Fa.”
“Vo, Dina masuk rumah sakit,” kata Rafael dengan suara lemas.
“Apa?” tanya Evo tidak percaya, “Apa yang terjadi padanya?”
“Siang tadi dia pingsan. Sampai sekarang dia belum bangun dari pingsannya,” cerita Rafael lagi dengan suara sedih.
“Sekarang kamu di mana, Fa?”
“Aku di rumah sakit,” jawab Rafael.
“Di mana rumah sakitnya? Aku dan Maureen akan segera ke sana,” kata Evo lagi. Evo tidak pernah mendengar Rafael begitu sedih. Dia merasa sangat yakin terjadi suatu yang buruk terhadap Dina.
“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” ucap Evo ketika dia sudah diberikan informasi alamat rumah sakit tersebut oleh Rafael.
“Ada apa?” tanya Bastian yang melihat muka Evo panik.
“Maukah kamu mengantarku ke rumah sakit?” tanya Evo balik.
“Tentu, tapi apa yang terjadi?”
“Aku akan menceritakannya di mobil. Untuk tidak membuang waktu, kamu bereskan saja barang kamu, aku akan ke tempat Maureen untuk mengajaknya ke rumah sakit. Kamu tunggu aku di lobby ya,” ujar Evo.
Evo masih melihat Bastian belum siap untuk pulang. Maka dia memutuskan untuk ke tempat Maureen mengajak sahabatnya itu untuk ke rumah sakit melihat keadaan Dina, sambil menunggu Bastian yang merapikan barang – barangnya.
“Oke,” jawab Bastian singkat.
Setelah mendengar jawaban dari Bastian, Evo segera berlari menuju ruangan Maureen. Sesampainya di lantai lima, Evo bertemu dengan Bagas. Pria itu berdiri menghalangi Evo untuk keluar dari lift.
“Minggir!”
“Aku akan pergi kalau kamu mau bicara sama aku,” kata Bagas.
“Aku tidak ada waktu untuk bicara padamu,” ketus Evo.
Bagas mundur satu langkah, membiarkan aku keluar dari lift, tapi setelah itu dia mencegah Evo kembali.
“Ayolah, Gas. Aku sedang buru – buru. Jangan seperti ini!” kata Evo agak kesal.
“Kenapa kamu jadi berubah?” tanya Bagas sedikit kecewa dengan sikap Evo yang berbeda. Dia tidak menyangka Evo akan menghindari dia terus seperti ini.
“Seharusnya kamu berpikir, mengapa aku berubah padamu? Ini bukan salahku, tapi salahmu!” kata Evo lagi.
Bagas mengepalkan tangannya. Dia mencoba menahan emosi.
“Aku? Salah? Bukankah yang terlebih dahulu tidak setia adalah kamu?” Bagas mulai peperangan.
Kali ini Evo tidak ingin berdebat dengan Bagas. Dia harus buru – buru bertemu dengan Maureen untuk mengajaknya ke rumah sakit.
“Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan, Gas. Kamu akan menikah, begitu juga aku. Lebih baik kamu melupakan kisah kita yang tidak mungkin bersatu!” kata Evo.
Evo mencoba menerobos Bagas, tapi Bastian malah menangkap tangan Evo lalu memeluk erat Evo.
“Bagas, lepaskan! Ini di tempat umum!” pinta Evo. Perempuan itu mencoba untuk melepaskan pelukan Bagas dari dirinya. Dia tidak mau menjadi bahan omongan orang lain, dan mempermalukan namanya sendiri.
“Berjanjilah padaku agar kita bisa bicara lagi, maka aku akan melepaskanmu,” ucap Bagas. Dengan terpaksa Evo menyetujui permintaan Bagas.
Sebelum Bagas melepaskan pelukan, pintu lift terbuka. Di sana ada Dea yang mau keluar dari lift. Barang Dea tertinggal di ruangan Bagas, makanya dia kembali. Melihat adegan pelukan di depan matanya, Dea terbakar api cemburu.
“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?” tanya Dea dengan nada tinggi.
Bagas segera melepaskan pelukannya. Evo menarik napas, masalah datang lagi.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤