MOY (My Only You)

MOY (My Only You)
Rencana Jahat Bu Lina dan Pak Freddy



Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.


*****


Sebuah Kafe.


 


 


   Charlotte menaruh tasnya dengan sedikit membanting. Kekesalan memuncak di hatinya. Dia tidak menyangka Mamanya telah begitu kejam dengan Evo. Padahal Evo tidak pernah berbuat jahat kepada keluarganya.


 


 


  “Ada apa, Sayang?” tanya Evan melihat Charlotte menaruh tas di meja makan mereka dengan marah.


 


 


  Charlotte duduk dengan sebal, dia sangat kecewa telah dilahirkan di dunia dengan keluarga seperti itu. Mata Charlotte berkaca – kaca. Evan menyelidiki tingkah pacarnya sejak awal Charlotte datang. Evan memegang tangan Charlotte.


 


 


  “Kenapa?” tanya Evan lagi.


 


 


  Mendapatkan perlakuan yang lembut dari Evan, air mata Charlotte keluar. Dia tidak bisa memberitahu kepada Evan hal yang sebenarnya terjadi. Dia menarik napas, berusaha menenangkan dirinya.


 


 


  “Aku bertengkar dengan Mama. Aku bilang padanya kalau aku tidak mau kerja di kantor Pratama, tapi Mama tetap keras untuk memintaku kerja di sana,” dusta Chatlotte.


 


 


  Evan mendekatkan kursi dia dengan Charlotte, lalu mendekap Charlotte dalam pelukannya. Dia mengelus kepala Charlotte mencoba membuat pacarnya itu tenang.


 


 


  “Aku mengerti perasaanmu. Setelah Mas Bagas melaksanakan resepsi pernikahannya, keluargaku akan datang melamar kamu,”ucap Evan.


 


 


  Charlotte menengok dan sedikit mengangkat wajahnya untuk memandang Evan, “Benarkah kamu akan melakukan itu padaku?”


 


 


  “Apa aku pernah membohongi kamu?” tanya Evan.


 


 


  Charlotte menggeleng kepala menandakan bahwa Evan tidak pernah membohonginya. Dia tidak pernah ingkar janji juga pada Charlotte. Evan mengecup dahi Charlotte dengan mesra.


 


 


  “Terima kasih, Sayang, kamu telah memilihku menjadi istrimu,”kata Charlotte bahagia.


 


 


  “Aku yang harusnya berterima kasih, karena kamu mau menerimaku menjadi teman hidupmu,” ucap Evan lagi. Charlotte terharu mendengar perkataan Evan itu.


 


 


*****


Rumah Keluarga Pratama.


 


 


   “Ada apa? Mengapa kamu begitu panik?” tanya Pak Freddy. Baru saja Pak Freddy tiba di rumah setelah dia menyebarkan undangan buat sanak saudaranya. Dia melihat istrinya, Bu Lina begitu panik tidak karuan.


 


 


  “Bagaimana aku tidak panik? Bagas bertemu dengan Dea beberapa hari yang lalu, dan dia memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka!”


 


 


  Pikiran Pak Freddy menjadi suram. Ada saja tingkah Bagas yang membuat dia pusing. Lusa adalah pernikahan anaknya itu dengan Dea. Seharusnya Bagas tidak berkata seperti itu pada Dea.


 


 


  Pak Freddy yang tadinya masih berdiri, mencari tempat duduk. Kepalanya pusing mendengar cerita istrinya itu. Dia tidak mau kalau semuanya akan kembali gagal seperti waktu mereka menjodohkan Lisa waktu itu.


 


 


  “Apa kamu baik – baik saja, Sayang?” tanya Bu Lina. Dia melihat suaminya memegang kepala, tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan, tapi masih mampu duduk dengan tepat.


 


 


  “Aku tidak apa – apa,” katanya.


 


 


  Bu Lina memberikan sebuah cangkir berisi air putih kepada suaminya. Pak Freddy, sang suami menerimanya, kemudian meminum air tersebut.


 


 


  “Lalu apa yang dikatakan Dea?” ujar Pak Freddy mulai tenang.


 


 


  “Untung Dea tidak setuju dengan keputusan Pak Freddy. Pikiran Dea sangat bijak untuk hal ini,” puji Bu Lina.


 


 


  Pak Freddy menghela napas lega. Ternyata calon menantunya tidak terpengaruh dengan omongan anaknya.


 


 


  “Apa yang kamu takutkan lagi?”


 


 


  “Charlotte.” Ucap Bu Lina.


 


 


  Suami Bu Lina menilik ke arah istrinya, dia tidak paham dengan arah pembicaraan Bu Lina. Apa hubungan Charlotte dengan semua ini?


 


 


  “Charlotte mengetahui semua rencana kita tentang Evo,”jelas Bu Lina.


 


 


  Dengan tubuh bergetar, tangan yang berkeringat, dan mata yang terbelalak Pak Freddy terkejut mendengar berita itu. Kesalahan seperti ini harusnya tidak terjadi.


 


 


  “Ba… bagaimana dia ta… hu ten… tang hal itu?” Kengerian muncul dibenak Pak Freddy. Kedua tangannya digenggam dengan erat. Anak perempuannya tahu kebejatan kedua orang tua mereka.


 


 


  “Charlotte mendengar pembicaraan kami berdua. Aku kira dia sudah pergi bertemu dengan Evan, ternyata Charlotte masih di rumah,” kata Bu Lina menyesal.


 


 


  Pak Freddy berdiri, lalu dia mondar – mandir. Pria tua itu cemas, dan takut kegagalan pernikahan ini. Dia takut anak perempuannya membongkar semuanya pada Bagas.


 


 


  “Kita harus melakukan sesuatu pada Charlotte. Kita harus bicara padanya,” ucap Pak Freddy pada istrinya itu.


 


 


 


 


  “Kalau begitu hanya ada satu cara agar pernikahan ini tidak gagal,” kata Pak Freddy.


 


 


  Bu Lina berdiri, lalu menghampiri suaminya, dan berkata, “Apa itu?”


 


 


*****


Ruangan Bastian.


 


 


  Bastian memainkan pulpen di tangannya. Dia mengetuk – ketuk kakinya ke lantai. Pikiran Bastian jadi tidak karuan akibat perkataan kakak perempuannya itu.


 


 


  “Mbak Meli selalu asal bicara. Apa dia pikir mudah melamar seorang gadis?” keluh Bastian lagi. Bastian mengacak – acak rambutnya. Dia sangat bingung saat ini.


 


 


Tok, tok, tok.


 


 


   Setelah mengetuk pintu, Evo masuk ke ruangan Bastian. Dia sedikit merasa heran dengan wajah Bastian yang menunduk, dan rambut yang berantakan.


 


 


  “Ada apa denganmu?” tanya Evo khawatir.


 


 


  Ini karena dirimu.


 


 


  Bastian menggeleng kepala, Evo mengambil sisir dari dalam tasnya lalu menghampiri Bastian.


 


 


  “Apa yang kamu lakukan?” tanya Bastian.


 


 


  Evo menegakkan badan Bastian, lalu menyisir rambut kekasihnya itu. “Mengapa kamu begitu berantakan?”


 


 


  Bastian menikmati perlakuan manja yang diberikan oleh kekasihnya itu. Hembusan angin kenyamanan tercurah ke relung hatinya. Rasanya Bastian ingin menghentikan waktu, dia tidak mau semuanya berakhir.


 


 


  Evo membalikkan tubuh Bastian untuk menghadap ke arahnya. Evo tersenyum pada Bastian seraya berkata, “Ayo katakan padaku, kenapa kamu seperti ini?”


 


 


  “Apakah kalau aku tidak tampan, kamu akan meninggalkan aku?” tanya Bastian.


 


 


  “Apa menurutmu, aku mencintai kamu karena wajahmu?”


 


 


  “Aku rasa seperti itu,” jawab Bastian sambil tersenyum.


 


 


  “Baiklah, aku akan pergi meninggalkanmu kalau wajahmu tidak tampan lagi,” gerutu Evo.


 


 


   Evo memanyunkan bibirnya, dia kesal dengan jawaban Bastian, dia pergi meninggalkan Bastian, tapi ditahan oleh Bastian. Bastian membuat Evo untuk duduk dipangkuannya.


 


 


  “Apa yang kamu lakukan? Ini di kantor,” kata Evo resah. Dia takut kalau ada orang masuk dan melihat mereka berdua bermesraan.


 


 


  “Kalau kamu pergi meninggalkan aku, aku akan mengejarmu dan mendapatkanmu kembali,” sumpah Bastian.  “Sst, dengarkan. Mengapa aku merasa kau akan meninggalkan aku?”


 


 


  Evo menatap Bastian, dia memegang wajah laki – laki yang sangat dicintainya saat ini. “Aku tidak akan meninggalkanmu, Bas.”


 


 


  “Benarkah?”


 


 


  “Ya…, kecuali kalau kau yang meminta aku untuk pergi, maka aku akan pergi,” ujar Evo dengan tatapan kesungguhan.


 


 


  “Apa kamu berjanji?”


 


 


  Evo mengangguk mantap. Dia memberikan jari kelingkingnya, seperti yang biasa mereka lakukan dulu ketika berjanji satu sama lain.


 


 


  “Aku tidak mau berjanji dengan cara itu,” kata Bastian.


 


 


  “Lalu bagaimana caranya kita berjanji?” tanya Evo.


 


 


  Bastian tidak menjawab cara tersebut dengan kata – kata, tetapi Bastian mencium bibir Evo dengan lembut. “Aku mencintai kamu, Vo.”


 


 


 


 


*****


Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.


 


 


❤❤❤