
Hai, hai! Bagaimana kabar kalian? Bulan ini MOY akan segera tamat. Tetap setia ya. Minta like dan votenya ya karena MOY mau tamat. Hehehehe. Selamat membaca.
*****
Rumah Rafael.
Bastian mengangkat tubuh Rafael. Dia membaringkan Rafael ke tempat tidur.
“Terima kasih, Nak telah membawa Rafael ke sini,” ucap Mama Rafael. Maureen duduk di sebelah Rafael.
“Semoga Rafael kembali kuat. Mike dan Nay butuh dia,” ujar Maureen.
Evo setuju dengan kata – kata Maureen. Sekarang tidak ada lagi Dina, Rafael jadi orang tua tunggal untuk kedua anaknya.
“Tante, kami harus balik. Besok aku dan Bastian akan datang lagi menjenguk Rafael,” pamit Evo.
“Terima kasih telah membantu kami, Vo,” ujar Mama Rafael.
“Kalian memang sahabat terbaik, Dina. Sampai detik terakhir pun Dina hanya ingin bertemu dengan kalian,” ucap Mama Dina. Beliau masih ingat dengan jelas, ketika Dokter Dion keluar dari ruang ICU untuk memanggil Maureen dan Evo.
“Dina hanya minta kami menjaga Mike dan Nay seperti anak kami sendiri, Tan. Kami akan memenuhi permintaan Dina itu,” terang Maureen.
“Benar Maureen bilang, Tan. Mulai sekarang Mike dan Nay adalah tanggung jawab kami berdua,” tegas Evo.
Mama Dina terharu dengan kesungguhan dua sahabat Dina itu.
“Maureen, apa kamu ikut pulang dengan kami?” tanya Evo.
“Tidak. Aku akan pulang nanti. Aku harus memastikan Rafael baik – baik saja,” jawab Maureen. Perempuan itu ingat ucapan Dina, selain menjaga anaknya, Dina juga meminta untuk menjaga Rafael.
“Kami pulang duluan ya, Din. Kabari aku kalau terjadi sesuatu pada Rafael, aku kasihan pada Bastian yang sejak kemarin mengurusi pemakaman Dina. Dia tampak lelah.”
“Ya, Vo. Aku akan mengabari,” kata Maureen.
Evo membalikkan badannya, lalu mengajak Bastian untuk pulang bersamanya.
*****
Beberapa hari kemudian.
Dea datang mengunjungi calon mertuanya. Dia sangat cemas dengan keadaannya saat ini. Beberapa hari yang lalu Bagas memintanya untuk membatalkan pernikahan mereka. Dea mencari waktu untuk berbicara dengan Bu Lina tanpa adanya Bagas.
“Selamat siang, Tan,” sapa Dea.
Melihat Dea datang, Bu Lina tampak senang. Bu Lina yang tadinya sibuk merapikan barang – barang untuk pernikahan mereka, menghentikan kegiatannya.
Bu Lina mencium pipi kanan dan kiri calon menantunya itu. Bu Lina memperhatikan wajah Dea. Wanita itu tampak begitu tidak bahagia. Bu Lina mengajak Dea untuk duduk di ruang tamu.
“Di mana, Om, Tan?” tanya Dea.
“Suamiku pergi untuk memberikan undangan kepada beberapa kerabat, tadinya aku ingin menemani tapi karena kamu mau datang makanya tidak jadi,” jawab Bu Lina.
Dea bernapas lega, dia bisa leluasa bercerita pada Bu Lina.
“Ada apa, Dea? Wajahmu tampak tidak bahagia, padahal dua hari lagi kamu akan menikah dengan Bagas,” ungkap Bu Lina.
Air mata Dea tiba – tiba keluar padahal dia belum bicara apapun pada mertuanya itu. Melihat itu Bu Lina panik, dia mengambil tissue dan memberikannya pada Dea.
“Katakan, Nak!” ucap Bu Lina.
“Bagas, Tan, Bagas.”
“Bagas ingin membatalkan pernikahan kami,” jujur Dea, air matanya tambah deras mengalir.
“Apa? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Bukankah hubungan Bagas dan Evo sudah buruk?” kata Bu Lina tidak percaya.
“Bagas mengakui, Tan, kalau dia mencintai Evo. Dia tidak bisa melupakan Evo,” terang Dea.
Mendengar pengakuan dari calon menantunya itu Bu Lina mulai emosi. Lagi – lagi Evo menjadi penghalang bagi keluarganya. Bu Lina berdiri, kemudian mengutuk dalam hati agar Evo tidak bahagia.
“Seharusnya aku membunuhnya lebih awal,” kata Bu Lina jahat. Wanita tua itu sedang berpikir keras untuk melakukan hal itu. Mengakhiri hidup Evo.
“Aku takut, Tan! Aku takut kalau Bagas akan benar – benar membatalkan pernikahan kami,” aku Dea. Wajah Bagas saat itu sangat serius mengucapkan pembatalan pernikahan mereka. Di matanya terlihat betapa Bagas tidak dapat melupakan Evo, dan sangat mencintai Evo, tapi Dea tidak rela. Dea tidak mau. Sudah banyak pengorbanan yang dia lakukan bersama Bu Lina.
Bu Lina kembali duduk, dia melihat Dea menunduk sedih. Bu Lina mengangkat wajah Dea, lalu tersenyum padanya. “Jangan khawatir. Selama Tante masih hidup, Bagas tidak akan membatalkan pernikahan kalian. Tante janji.”
“Benarkah, Tan?” kata Dea berharap lebih pada Bu Lina. Mama dari Bagas itu mengangguk. Dia memastikan bahwa menantu yang pantas untuk Bagas hanya Dea, bukan Evo.
“Saya tidak mau gagal, karena sudah banyak pengorbanan yang saya lakukan untuk menyatukan kalian berdua. Dari pembakaran gedung, memecat Bagas, hingga memberikan fitnah pada Evo. Saya tidak mau semua gagal,” sumpah Bu Lina.
Dea memeluk Bu Lina, dia senang Bu Lina masih memihak pada dirinya, tapi tanpa mereka sadari Charlotte mendengar semua obrolan Dea dan Mamanya. Dia sangat kaget karena semua kejahatan yang terjadi pada Evo itu akibat dari ulah Mamanya.
Setelah selesai mencurahkan isi hatinya, Dea pergi pamit pulang untuk menyelesaikan beberapa hal untuk pernikahannya lusa. Melihat Dea sudah pergi, Charlotte keluar.
“Charlotte?” Bu Lina terkejut. “Sejak kapan kamu ada di sana? Mama pikir kamu pergi dengan Evan.”
“Sejak Mama mengungkapkan kalau Mama adalah biang keladi segala penderitaan Mbak Evo,” ungkap Charlotte.
Bu Lina kaget mendengar pengakuan dari mulut anak perempuannya itu. Dia tidak menyangka kalau semua terbongkar hari ini, apalagi terbongkar pada anak gadisnya.
“Tidak, tidak. Kamu salah dengar. Itu tidak benar, Nak,” kata Bu Lina gelagapan.
“Aku tidak menyangka, Ma. Mama sangat jahat. Jahat!” tuduh Charlotte.
“Ya! Mama jahat! Tapi Mama melakukan ini demi keluarga kita! Demi Bagas! Evo tidak pantas untuk keluarga kita,” jerit Bu Lina.
“Tapi tidak begitu caranya, Ma! Mama menghancurkan hidup seseorang! Mama nyaris mengakhiri hidup Mas Bagas!” kata Charlotte marah.
Bu Lina membalikkan badan, lalu menghampiri anak perempuannya itu. Dia melihat Charlotte dengan tatapan tajam, dan memegang pundak Charlotte.
“Ini demi keluarga kita, Char! Kamu akan merasakan apa yang Mama rasakan ketika kamu mempunyai anak nanti. Kamu tidak tahu betapa berat Mama harus memperjuangkan perjodohan ini. Ini demi keluarga, demi perusahaan, dan demi Bagas. Bagaimana kamu bisa bilang kalau Mama jahat?” teriak Bu Lina pada Charlotte.
Air mata Charlotte keluar, baginya Bu Lina sudah sangat keterlaluan. Mbak Evo adalah manusia yang baik. Dia sangat mencintai Bagas, tapi karena Mbak Evo miskin, orang tua mereka tidak setuju dengan hubungan itu.
“Mama melukaiku, mama sangat mengecewakanku. Mama akan menyesal dengan semua ini. Charlotte sangat kecewa padamu, Ma,” kata Charlotte mengutarakan isi hatinya. Dia melepaskan kedua tangan Bu Lina dari bahunya. Charlotte masuk kamar dan kembali menangis.
*****
Terima kasih telah setia membaca kisah MOY. Jangan lupa ya tekan like, dan berikan vote pada ceritaku. Di tunggu episode selanjutnya ya. Minta tolong banget dilike ya.
❤❤❤