
Hai, semua mohon dukungan tekan jempol di bawah, vote, bintang lima. Dukungan kalian sangat membuat saya tambah semangat. Terima kasih sudah mencintai MOY.
*****
" Dea? Apa yang kamu lakukan sepagi ini?" tanya Bagas tidak percaya. Mereka masih di depan pintu.
"Apakah aku tidak boleh masuk?" Dea tersenyum pada Bagas.
"Maaf, silahkan masuk," ajak Bagas.
Aku yang masih asyik memasak, belum tahu siapa yang datang. "Siapa yang datang, Bagas?"
Dea mendengar suaraku, kemudian berkata, "Sepertinya aku mengenal suara itu. Jadi kamu tinggal bareng dengan Evo?"
Bagas tersenyum. Dea dan Bagas menghampiriku ke dapur.
"Hai, Evo," sapa Dea. Aku terkejut melihat kehadiran wanita itu. Sepagi ini dia datang ke apartemen Bagas. Wanita ini benar-benar cantik dan feminim. Hari ini dia menggunakan baju terusan warna merah muda dan menggunakan bando yang begitu cantik. Benar - benar beda kelas.
"Hai, Dea. Apa kamu sudah sarapan?" tanyaku.
Dea mengangguk,"Kebetulan aku belum makan, terima kasih untuk ajakannya."
"Masakan Evo enak, De. Coba kamu cicip ya. Ayo ke ruang makan. Biarkan Evo yang menyiapkan sarapan kita," Bagas mengajak Dea ke ruang makan.
"Iya, silahkan ditunggu."
*Sial sekali Bagas, dikira aku pelayan ya. Aku harus menyiapkan makanan buat mereka,*ujarku dalam hari. Akupun menyiapkan makanan dengan perasaan kesal.
"Wah, masakan kamu benar- benar enak, Vo," puji Dea sambil makan dengan lahap.
"Terima kasih pujiannya, Dea," aku menjawab.
Bagas merangkulku,lalu dia memujiku, "Benarkan apa yang aku bilang? Calon istriku ini masaknya enak. Beda sama kamu yang tidak bisa masak."
Aku tersenyum mendengar pujian Bagas. Biasanya dia tidak pernah memuji masakanku.
"Apa karena itu kamu meninggalkanku? Tidak adil," Dea menggeruti. Meninggalkan Dea? Apa mereka pernah pacaran?
"Jangan membuat pernyataan seperti itu. Bukannya kamu yang meninggalkanku?"
"Ehm," aku memotong pembicaraan mereka. Benar-benar ada yang aneh diantara mereka. Bagas menyembunyikan sesuatu.
"Lihat karena pembicaraanmu Evo jadi cemburu padaku," kata Bagas tersenyum. Dea tertawa.
"Maafkan kami, Evo. Kami pernah main pacar- pacaran waktu kecil. Jangan diambil hati pembicaraan kami. Kami hanya bercanda," Dea menjelaskan sambil masih tertawa.
"Setiap kami bertemu, kami pasti akan bercanda seperti ini," jelas Bagas.
Dea mengangguk, ikut menyetujui omongan Bagas. "Apalagi kalau Bagas mau putus dengan pacar- pacarnya dulu. Aku yang selalu menjadi tumbalnya."
"Bagas memang playboy. Saat pertama kali bertemu dengan dia saja, dia mengobral namaku untuk putus dengan pacarnya," ceritaku mengingat pertama kali bertemu di kafe.
"Walau dia terkenal suka gonta- ganti pacar, tapi sepertinya dia sudah mendapatkan wanita yang menjadi pelabuhan hatinya dia. Namanya Evolet Rebecca. Benarkan Bagas?" tanya Dea kepada Bagas karena ingin menggodaku.
Mendengar ucapan Dea wajahku memerah karena malu. Sepertinya dugaanku salah tentang wanita ini. Dea, wanita yang baik.
"Betul. Aku hanya mencintai Evo saja," kata Bagas. Bagas memegang tanganku lalu tersenyum. Aku membalas senyuman Bagas.
Setelah selesai makan, aku merapikan perabotan yang kotor ke dapur. Aku mengangkat satu persatu perlangkapan makan itu.
"Bolehkah aku membantumu?" tanya Dea.
"Jangan. Tidak perlu, nanti tanganmu kotor," aku mencegah Dea, "Kamu berbincanglah dengan Bagas. Kaliankan sudah lama tidak bertemu." cegahku.
Satu jam kemudian aku bergabung dengan mereka. Sepertinya mereka begitu asyik dengan pembicaraan satu sama lain.
"Sepertinya kalian seru sekali," ucap aku setelah selesai merapikan piring dan gelas yang kotor.
"Aku dan Bagas mau ke kantor Pratama. Apa kamu mau ikut?" tanya Dea.
Bagas mengambil tas, dan sepatunya.
"Evo selalu tidak mau ikut kalau aku mengajaknya ke kantor," ujar Bagas.
Benar sekali perkataan Bagas. Aku lebih suka di rumah menyelesaikan tugasku. Tugas mengejar novelku.
"Kenapa?" tanya Dea bingung.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku, De," aku menjelaskan.
"Wow, ternyata kamu bekerja juga. Kerja di mana? " ujar Dea.
"Evo dulu kerja di kantor Pratama. Kemudian dia berhenti. Dulu dia editor handal di kantorku," jelas Bagas.
"Kamu memang luar biasa, Evo," puji Dea.
"Terima kasih atas pujiannya," kataku.
"Kami berangkat ya, Vo. Sampai ketemu nanti," pamit Bagas.
❣❣❣❣
Drrrt, Drrrt, Drtt.
Bunyi panggilan masuk di telepon genggamku. Aku melihat, siapa geranga yang meneleponku? Tertera namanya Maureen.
"Evoleet, aku kangennnn!"
"Maureen! Aku juga rindu padamu." ujarku. Aku menutup laptopku.
"Mengapa kamu tidak pernah datang ke kantor? Ayolah bekerja lagi di sini. Aku kerepotan sekali di sini tanpa kehadiranmu," curhat Maureen.
"Hahaha, kamu bisa saja. Sepertinya aku tidak bisa membantumu, tapi kita bisa bertemu hari ini. Sekedar minum kopi. Itu pun kalau kamu setuju."
"Setuju!" ujar Maureen gembira. Aku akan mengundang Dina untuk bergabung dengan kita." ide Maureen.
"Oke. Jadi jam berapa kita akan bertemu?" tanyaku.
"Jam 3 ya. Tempatnya akan kuhubungi lagi dirimu."
"Baik, aku akan menunggu kabarmu."
Aku menutup telepon. Kemudian menulis pesan singkat untuk Bagas.
Aku akan bertemu dengan Dina dan Maureen jam 3 nanti. Apa kamu mau ikut? Sudah lama kita tidak berkumpul dengan mereka.
Beberapa detik kemudian Bagas membalas pesanku.
Bersenang - senanglah, sepertinya aku akan pulang terlambat hari ini. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan. Maafkan aku. Supir akan menjemputmu nanti. Aku mencintaimu.
Bagas tidak bisa ikut dengan kami. Hatiku sedikit kecewa. Mungkin dia banyak pekerjaan. Lalu membalas pesan untuk Bagas.
Baiklah. Jangan lupa makan ya. Aku juga mencintaimu❤
Beberapa menit aku menunggu jawaban dari Bagas, dia tidak kunjung membalas. Sepertinya Bagas sangat sibuk. Aku memutuskan untuk merapikan apartemen, mandi kemudian berjumpa dengan sahabat - sahabatku.
❣❣❣
"Evoooooooo!" teriak Maureen senang melihat aku baru datang. Ternyata Maureen, dan Dina sudah datang lebih awal.
"Apakah aku datang terlambat?"
Dina menggeleng, lalu menjawab," Tidak, tidak. Kami yang datangnya lebih awal."
Maureen memeluk diriku," Aku rindu padamu, Vo."
Sekarang giliran Dina yang memelukku,"Betul, aku juga kangen dengan kamu, Vo."
Setelah acara pelukan selesai, aku duduk kemudian memesan makanan. Kami bertemu di salah satu kafe daerah Jakarta.
"Bagaimana keadaan orang yang menyelamatkanmu? Siapa namanya?" tanya Maureen agak lupa.
"Bastian, Ren," Dina yang menjawab.
"Kenapa kamu bisa tahu namanya?" tanya Maureen heran.
"Namanya juga Dina, gosip mana pun bisa aku ketahui," ucap Dina bangga. Kami bertiga tertawa. Hampir saja kami lupa kebiasaan sahabat kami itu.
"Puji Tuhan keadaan Bastian sudah baik. Dia sudah boleh pulang," jelas diriku. Aku kemudian meneguk es coklat yang sudah datang. Enaknya coklat ini.
Dina mengambil sepotong roti, lalu dia berkata," Aku terkejut kalau Bastian saudara Mbak Meli. Kenapa Mbak Meli tidak kenalkan pada kita ya? Akukan bisa tebar pesona sama Bastian."
"Hush! Jangan ngawur! Kamukan udah punya suami," Maureen menasehati.
"Maksudku sebelum aku menikah dengan Rafa," Dina memperbaiki ucapannya, dari pada nanti Maureen mengadu pada Rafa. Bahaya sekali.
"Aku belum cerita satu hal pada kalian." kataku. Dina dan Maureen langsung penasaran. Mereka langsung fokus padaku.
"Apa itu, Evo?" tanya mereka berbarengan.
"Nama Bastian. Nama panjang Bastian."
"Siapa nama panjangnya?" tanya Maureen penasaran. "Jangan bilang kalau dia namanya...."
"Ya. Pikiranmu benar Maureen. Karel. Nama panjang Bastian adalah Bastian Karel."
"Jadi dia benaran Karel?" tanya Maureen penasaran. "Apa akhirnya kamu menemukan cinta pertamamu?"
"Tunggu, tunggu, aku bingung dengan arah cerita kalian," ucap Dina.
Maureen memukul kepala Dina. Dina menjerit kesakitan.
"Kenapa aku dipukul?" tanya Dina sewot.
"Pelupamu itu masih belum sembuh juga ya. Karel itu cinta pertama Evo," jelas Maureen.
"Ya, maaf," sewot Dina. Dina meneruskan makannya.
Aku mengambil roti yang aku pesan lalu ikut makan. Roti bakar ini memang juara enaknya.
"Apa benar dia Karel? Pantas saja dia menyelamatkanmu kemarin." Maureen mengerti sekarang.
Aku menggeleng, setelah itu berkata "Aku belum menemukan kebenaran itu, Ren. Aku tidak tahu dia Karel cinta pertamaku atau bukan."
"Kenapa kamu tidak bertanya pada Bastian? Maksud aku tanya dulu Bastian sekolah ya di mana?" Dina berpendapat. Dina menggigit lagi roti dan memasukkan ke dalam mulutnya. Wah, coklatnya lemur di mulut. Enak banget.
"Benar kata Dina! Kamu kalau hal seperti ini pintar sekali!" puji Maureen. Dina tersenyum memperlihatkan giginya.
"Sudah Maureen, Dina. Aku langsung bertanya sejak pertemuan kami di Malaysia."
"Lalu? Apa jawabannya?" Maureen penasaran.
Aku meneguk air putih biar tidak dehidrasi, kemudian aku menjawab,"Dia tertawa, katanya pertanyaanku lucu dan tidak penting."
"Benar juga kata Bastian." ucap Maureen.
"Bagaimana kalau kamu tanya Mbak Meli? Pasti Mbak Meli bisa menjawab pertanyaan kamu," pendapat Dina lagi.
Aku menghela nafas. "Sepertinya itu tidak perlu. Aku tidak mau mencari Karel lagi."
"Apa itu artinya kamu menyerah, Vo?" tanya Maureen.
Aku mengeleng kepala. "Aku tidak mau mengecewakan Bagas yang sekarang begitu baik padaku. Karel hanya cinta monyet untukku. Aku tidak mau merusak kebahagiaan ini, Ren."
"Aku setuju! Pak Bagas sudah banyak perubahan. Aku yakin kalian ditakdirkan untuk bersama," kata Dina bersemangat.
"Ya, benar kata Dina. Lupakan Karel, mari kita menuju kebahagian kita!" kata Maureen juga.
"Kalian sendiri bagaimana? Apa kalian punya kabar baik untukku?" tanya aku penasaran.
"Aku hamil!" ucap Dina semangat sekali.
"Serius? Hebat sekali Rafael!" pujiku kemudian memeluk Dina.
"Selamat Dina sayang!" Maureen memeluk Dina juga.
"Terima kasih calon aunty." Dina menyambut pelukan kami.
"Bagaimana dengan kamu, Maureen? Apakah Indra sudah melamarmu?" tanyaku.
Maureen menggeleng kepala. Raut mukanya berubah sedih.
"Aku bertengkar dengannya. Seminggu yang lalu kami putus." cerita Maureen sedih. Mendengar cerita Maureen kamipun memeluk Maureen.
"Sabar ya, Maureen. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik darinya." ucap aku.
"Aku hanya mau sama dia, Vo," ucap Maureen dengan suara bergetar. Kami tahu dia sedang menahan tangis.
"Sudah, sudah. Jangan sedih. Kami berdoa untukmu," kata Dina masih memeluk Maureen.
"Terima kasih, Dina, Evo." kata Maureen. Aku benar - benar terkejut. Maureen dan Indra sudah pacaran lama sekali. Menurutku mereka pasangan yang romantis. Aku juga merasa mereka akan menjadi sepasang suami istri yang serasi. Ternyata tebakanku salah.
Kami pun mengobrol sampai lupa waktu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
"Tidak terasa ya sudah jam 9 malam. Pasti ibu hamil sudah kecapean," kataku.
"Jangan khawatir, Vo. Anakku ini ngidamnya pergi jalan - jalan. Kalau sehari tidak pergi, reaksinya muntah," jelas Dina.
"Sepertinya bukan anaknya yang seperti itu tapi memang kamunya yang doyan," candaku. Kami bertiga tertawa.
"Kalian pulang sama siapa?" tanyaku lagi.
"Aku dijemput Rafa. Dia sudah di depan katanya," Dina memberitahu.
"Aku bawa mobil. Apa kamu mau bareng, Vo?" tanya Maureen.
"Tidak, tidak. Supir Bagas sudah di depan juga," kataku memberitahu.
"Terima kasih untuk kebahagian hari ini, Maureen, Dina," ucapku kemudia memeluk mereka berdua. Kami pun pulang ke rumah masing - masing dengan perasaan penuh suka cita.
❣❣❣
Aku menelepon Bagas. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Halo, sayang," sapa Bagas diseberang telepon.
"Di mana kamu sekarang?" tanyaku.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak pulang hari ini. Orang tua Dea mengalami kecelakaan. Besok pagi aku akan cerita lagi padamu. Tidurlah jangan menunggu aku," cerita Bagas, lalu dia menutup teleponnya.
"Bagas? tunggu...."
Sebelum aku melanjutkan perkataanku Bagas sudah menutup telepon dariku.
Apa yang terjadi dengan orang tua Dea? Kenapa harus Bagas yang membantu Dea? Bukankah Dea orang kaya?
Aduh, aku harus berpikir positif. Bagas mau menjelaskan padaku. Harus positif.
Aku masuk ke kamar, menutup pintu. Lalu aku mematikan lampu. Semoga semua baik - baik saja.
*****
Terima kasih sudah membaca karyaku. Silahkan membaca episode selanjutnya.